
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Serly baru saja selesai dengan Mata Kuliah yang terakhir. Kini Serly sedang berjalan dengan Kikan untuk menuju gerbang Kampus.
Dari luar gerbang seseorang sudah melihat keberadaan Serly yang berjalan. Seseorang yang sedari tadi risau, dan yang ingin mendengar kepastian dari sang gadis. Seseorang itu yaitu Aldi. Aldi sengaja meluangkan waktunya untuk menjemput Serly. Dan sebelumnya menanyakan jadwal belajar kepada Kikan melalui pesan chat terlebih dahulu. Lalu Aldi juga, meminta waktu kepada Rasya atasan-nya, mengatakan bahwa dirinya pulang dahulu ke Apartemen untuk mengambil berkas yang tertinggal. Memang benar adanya. Namun, sekalian saja Aldi ingin berbicara dengan Serly serius hari ini.
Serly tertegun. Menatap Aldi yang berdiri di dekat mobilnya yang kini sedang menatap ke arahnya. Serly tidak sedikitpun berpikir, bahwa Aldi akan datang menjemputnya hari ini. Sehingga langkah Serly terhenti. Tentu Kikan hanya cengengesan. Karena ulahnya Aldi sekarang ada di Kampus. Aldi di beritahu saat bertanya jadwal terakhir mata kuliah mereka.
"Ser, sorry tadi bang Aldi nanya jadwal kita sampai jam berapa. Ya udah aku bilang sampai jam dua," kata Kikan yang seakan tahu bahwa Serly menanyakan tentang keberadaan Aldi yang tepat saat dirinya keluar Kelas.
Serly menoleh ke arah Kikan. Dengan anggukan kepala pelan sebagai tanda jawaban dari Serly.
"Ya udah ayo! kasihan bang Aldi nunggu!" Kikan dengan menarik lengan Serly dan berjalan cepat untuk menghampiri Aldi.
Kikan dan Serly kini sudah di hadapan Aldi. Aldi terus menatap ke arah Serly dengan tatapan yang tak biasa. Serly sendiri tidak mengerti akan arti dari tatapan yang Aldi berikan.
"Kak," sapa Serly dengan canggung.
Aldi langsung membukakan pintu mobil samping kemudi untuk Serly masuk tanpa menjawab sapaan Serly. Serly dengan ragu-ragu masuk ke dalam mobil Aldi. Kikan pun mengikuti masuk dan duduk di jok belakang.
Tanpa sepatah kata. Aldi langsung melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan Kampus. Sementara dari arah depan Cafe yang bersebrangan dengan Kampus. Dido beserta dua temannya menyaksikan kepergian Serly dengan Aldi.
"Bro. Siapa tuh yang ngejemput cewek lu?" tanya Oky yang ingin tahu.
"Iya Do. Siapa dia? pakai bukain pintu segala?" tambah Vandu yang ingin tahu juga.
Oky dan Vandu sudah di beritahu tentang hubungannya Dido dengan Serly. Kecuali tentang kejadian saat Serly dan Dido melakukan kekhilafan. Dido tidak menceritakannya. Dido hanya mengatakan bahwa dirinya sebentar lagi akan bertunangan. Mendengar itu semua kedua temannya tentu terkejut. Karena selama ini Dido belum pernah berpacaran. Walau banyak gadis yang menyatakan tentang perasaannya kepada Dido.
Dido hatinya merasa tidak tenang. Terlihat semburat merah di wajah Dido menandakan bahwa dirinya sedang menahan geram.
"Dia asisten pribadi kakaknya," jawab Dido apa adanya tanpa mengatakan bahwa Aldi adalah pacar Serly. Ya saat ini memang masih pacar Serly. Namun, Dido berharap Serly bisa memutuskan hubungan dengan Aldi sebelum acara pertunangan di laksanakan.
Vandu dan Oky hanya mengangguk tanda mengerti.
"Terus kalau sekarang lu gak jadi nganter itu cewek pulang. Lu mau apa?" tanya Vandu.
"Ya pulang lah. Mau kemana lagi," balas Dido ketus.
"Gak mau main basket atau apa gitu? seperti biasanya," timpal Oky.
Dido menggeleng. Mood-nya lagi tidak baik. Tidak mungkin memaksa kebiasaannya saat hatinya tidak menentu. Terbesit dalam pikiran Dido untuk mengikuti kemana mobil Aldi pergi. Dengan gerak cepat Dido melangkah menyebrangi jalan menuju parkiran untuk membawa mobilnya.
"Buset tuh anak, tiba-tiba pergi gitu saja," cicit Oky yang heran dengan Dido.
__ADS_1
"Feeling gue sih, kayanya ya ... tuh anak mau ngikutin kemana ceweknya tuh pergi," timpal Vandu menebak dengan benar.
Oky langsung menepuk bahu Vandu. Membuat Vandu terjingkat kaget.
"Apaan?"
"Mending kita susul tuh anak. Gue takut terjadi apa-apa!"
Vandu mengangguk. Sejurus kemudian Oky dan Vandu langsung menyebrang jalan dan melangkah menuju parkiran.
"Ayo, Van ... tuh si Dido udah keluar dari gerbang kampus!" seru Oky yang melangkah lebih dulu sudah melihat mobil Dido keluar dari gerbang Kampus.
Sementara itu Dido dengan kemahirannya dalam menyetir. Melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Menyalip setiap ada kendaraan yang di depannya menghalangi. Hingga dengan terhalang tiga motor di depannya Dido bisa melihat mobil yang di kendarai Aldi.
Dido bisa bernafas lega saat melihat mobil Aldi terhenti di depan gerbang pagar rumah Kikan. Namun, Dido mengernyit saat melihat hanya Kikan yang turun. Dan membuat Dido yakin bahwa Serly masih berada di dalam mobil Aldi.
Dengan rasa yang membuncah di dada. Dido mencoba mendahului mobil Aldi, Saat mobil Aldi kembali melaju. Dan benar saja terlihat Serly masih duduk di samping Aldi. Kemudian Dido memelankan mobilnya agar mobil Aldi bisa melaju di depannya.
Dido tak perduli jika Aldi dan Serly mengenali mobilnya yang ia bawa mengikuti mobil yang di kendarai Aldi. Setelah memastikan mobil Aldi melaju di depan. Dido kembali berkonsentrasi untuk mengikuti kemana mobil Aldi pergi.
"Huh, ini 'kan arah ke rumah Serly?" gumam Dido saat tahu jalan yang kini di laluinya. Sedikit Dido merasa lega, jika Aldi tidak membawa Serly ke tempat lain.
Lagi-lagi kening Dido mengerut saat tebakan pikirannya yang tidak sesuai. Dido melihat mobil Aldi terhenti di depan taman komplek rumah Serly. Lalu terlihat Serly dan Aldi keluar. Melangkah menuju dalam taman.
Terlihat Aldi dan Serly duduk di sebuah bangku panjang. Dengan duduk miring namun berjauhan. Dan kebetulan sekali, di balik bangku tersebut ada pohon pinus yang besar dengan bangku di belakangnya. Sehingga Dido bisa duduk di sana, dengan bisa mendengar apa yang akan di bicarakan mereka berdua.
"Maaf, jika saya tidak memberitahu mu terlebih dahulu saat menjemput ke kampus," Aldi membuka suara meminta maaf atas kelancangannya menjemput Serly tanpa penyetujuan gadis tersebut.
"Tidak apa-apa kak," Serly menyahut dengan suara lembut.
Dido yang berusaha ingin mendengarkan, sangat serius untuk menyimak apalagi yang akan mereka berdua bicarakan.
"Ehem ...," Aldi berdehem terlebih dahulu menetralisirkan tenggorokannya yang tiba-tiba seakan tercekat, saat dirinya akan menanyakan perihal yang membuatnya berhadapan dengan Serly.
"Kak, apa kakak masih kerja? atau sudah pulang?" Serly bertanya. tentang Aldi yang bisa bersama dirinya di saat jam masih kerja.
Aldi menatap Serly dengan dalam, "Masih kerja," sahutnya datar.
Serly tentu melotot merasa tidak nyaman jika pria yang kini bersamanya masih memiliki jam pekerjaan.
"Terus kenapa kakak malah menemui aku jika masih kerja?"
__ADS_1
"Memang kenapa? apa tidak boleh?" suara datar Aldi seakan memberikan aura yang akan terjadi sesuatu di pendengaran Dido yang menguping.
Serly nyengir, "Ya boleh saja kak. Hanya aku tidak mau terjadi sesuatu sama kakak. Tentang pekerjaan kakak nantinya, setelah bertemu aku," Serly menghela nafas. "Apa kak Rasya tahu, kalau kakak sedang keluar dari area kantor?"
Aldi mengangguk, "Tentu. Saya tidak mungkin meninggalkan tempat kerja tanpa seijin kakak mu,"
Aldi menjeda sebentar. Kemudian ia mulai berbicara kembali kepada Serly dengan tatapan yang dalam.
"Serly, apa ada yang kamu sembunyikan dari saya?"
Serly menatap Aldi tidak paham, "Maksudnya apa ya kak?"
Aldi menghela nafasnya, "Apakah ada yang kamu sembunyikan dari saya?" pertanyaannya masih sama, namun nadanya terkesan mengintimidasi diri Serly.
Serly bergeming. Mencerna pertanyaan Aldi yang masih sama terlontar. Serly memutar otaknya, tentang apa yang di sembunyikan dirinya dari Aldi. Mengingat dirinya tidak menyembunyikan sesuatu dari Aldi. Serly menjawab dengan santai.
"Tidak ada kak. Aku tidak menyembunyikan apapun dari kakak," jawab Serly setelah beberapa detik memutar otaknya yang tidak mengingat sesuatu.
Aldi meraih sesuatu dari balik saku jasnya, kemudian di berikan kepada Serly.
"Tentang itu? apa kamu masih merasa tidak menyembunyikan sesuatu dari saya?" benda tersebut adalah undangan yang sudah di buat dari pihak Dido. Saat tadi dari perusahaan Tuan Malik, Aldi mendapatkan undangan tersebut untuk di sebarkan sesuai perintah Rasya.
Serly menatap sebuah undangan sederhana namun terlihat cantik. Sesaat matanya terbelalak membaca nama di kertas undangan tersebut. Yaitu nama dirinya dengan Dido. Undangan tersebut adalah undangan pertunangan. Serly tidak tahu pihak mana yang sudah mencetak undangan seperti itu tanpa sepengetahuan dirinya. Dan kenapa juga pertunangan dirinya dan Dido harus memakai undangan segala? Serly pikir acaranya akan di gelar sederhana dan di hadiri oleh keluarga dua pihak.
"Apa salah saya Serly?" suara Aldi mengembalikan kesadaran Serly yang berperang dengan pikirannya.
Serly menggigit bibir bawahnya, tanda ia gugup untuk menjawab. Dan Serly memilih berbicara di dalam hatinya seraya pandangannya hanya menunduk.
'Kak Aldi tidak punya salah apa-apa. Justru aku yang sangat bersalah dalam hal ini,'
"Apa kamu di desak oleh Papa mu? di jodohkan dengan pria itu?" Aldi memberikan pertanyaan yang membuat Serly bingung untuk menjelaskannya. Dari nada Aldi sepertinya sangat kecewa, dan marah dari menyebut nama Dido saja seakan enggan.
"Atau memang kamu tidak mencintai saya? dan kamu malah mencintai pria itu?" lagi-lagi Aldi bertanya. Membuat Serly semakin kelu lidahnya untuk bersuara mengatakan kata 'tidak' kepada Aldi.
"Serly jawab! apa kamu mendengarnya? atau jangan-jangan selama ini kamu hanya mempermainkan perasaan saya saja? agar saya merasa sebagai pria yang beruntung bisa mencintai dan di cintai?!" pekik Aldi dengan nada sedikit tinggi. Sepertinya Aldi terbawa emosi karena Serly yang sedari tadi hanya terdiam tanpa menjawab. Sehingga emosinya yang sedari tadi ia tahan, kini tersulut.
Serly tidak bisa membendung air matanya. Serly kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjawab semua ucapan Aldi. Ingin sekali Serly mengatakan bahwa pertunangan itu hasil dari sebuah kekhilafan antara dirinya dengan Dido. Bukan karena dirinya yang mencintai Dido.
Aldi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Terlihat dari dadanya yang naik turun. Tangannya, menyugarkan rambutnya dengan perasaan yang belum tenang.
Dido yang masih menguping menjadi tegang dan merasakan bagaimana perasaan Aldi.
__ADS_1
'Maaf bang Aldi. Bukan aku sengaja menghancurkan hubungan kalian. Namun, ada sesuatu yang harus aku tanggung jawab,' batin Dido.
...***...