You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 196.


__ADS_3

Rasya berangkat bekerja dengan di antarkan Adelia ke teras rumah. Rasya mencium puncak kepala istrinya dengan lama. Mengusap perut istrinya, dan melabuhkan ciuman di sana.


"Aku berangkat, ya Sayang," ucap Rasya lalu menyambar bibir merah Adelia sekilas. Adelia yang di cium, menjadi merona. Karena menahan malu, takut ada kedua mertuanya melihat.


"Iya, Mas. Hati-hati," sahut Adelia dengan meraih tangan Rasya, lalu ia cium dengan takzim.


Rasya mengusap rambut Adelia dengan lembut, "Nanti pas ke makam, hati-hati ya Sayang ... kabari, aku!" ucapnya.


"Iya, Mas"


"Assalamualaikum," Rasya mengucapkan salam, lalu bergegas ke dalam mobil kesayangannya.


"Wa'alaikum salam," Adelia menjawab salam suaminya dengan masih memperhatikan Rasya yang masuk ke dalam mobil.


Dari pintu datang Hadi dan Ariyanti. Hadi menoleh kepada Adelia, "Papa, berangkat ya Del," pamitnya. Adelia hanya menjawab dengan mengangguk, dan mengulas senyum. Sementara Ariyanti, hanya tersenyum tipis saja kepada Adelia. Tanpa, Adelia jawab. Karena Adelia terus memperhatikan Rasya.


Setelah Rasya sudah melajukan mobilnya, dan keluar dari halaman rumah. Adelia kembali masuk ke dalam rumah. Ia akan bersiap-siap memakai baju serba panjang.


"Del, mau berangkat sekarang?" tanya Rara saat Adelia sudah keluar dari kamar dengan sudah memakai baju serba panjang, dan pashmina dengan sengaja Adelia selendangkan.


"Ayo Ra! tapi, pekerjaan mu sudah kelar, kan?" tanya Adelia. Dengan memasukkan ponsel miliknya ke dalam tas.


"Sudah. Aku juga sudah berpamitan sama tante Lia,"


"Mama di mana?"


"Sepertinya, tante Lia sedang mengobrol di telepon tadi. Tapi, gak tahu ngobrol sama siapa,"


"Oh, ya sudah. Kita lebih baik berangkat sekarang. Kalau kamu sudah pamit, aku tak perlu pamit deh, lagian takut ganggu Mama kalau beliau lagi ngobrol,"


"Iya, Del"


Adelia dan Rara pun keluar rumah. Dengan berjalan bersama. Keduanya berdiri di trotoar jalan, menunggu taksi yang lewat. Tidak menunggu lama. Taksi yang di tunggu datang. Adelia dan Rara pun masuk ke dalam taksi itu. Dengan menyebutkan alamat tujuannya.


Hingga beberapa menit. Taksi itu berhenti di alamat yang Rara sebutkan. Keduanya pun keluar, dengan langsung menghampiri tukang bunga, yang berada di depan gerbang pemakaman umum tersebut. Adelia membeli sekeranjang bunga yang sudah di sediakan sang penjual.


"Ayo, Del!" Rara menggandeng tangan Adelia dengan pelan. Kini keduanya masuk ke TPU itu dengan hati-hati. Rara masih mengingat nama ibu Adelia yang tertuliskan di batu nisan-nya.


"Ini Del, makam ibu kamu. Dan sebelahnya makam ayah kamu dan Adik kamu," Rara menunjukkan. Adelia mulai berjongkok. Ia menatap satu persatu nama nisan yang Rara tunjuk.


Dengan doa yang Adelia bisa. Ia lapalkan di dalam hati. Ia menangis sedih. Walau ingatannya belum saja pulih. Tapi, Adelia bisa merasakan betapa sedihnya harus di tinggalkan orang-orang tercinta.


Rara pun terenyuh. Apalagi dirinya yang tidak tahu dimana kedua orang tuanya. Karena sejak kecil berada di sebuah Panti Asuhan. Dan saat remaja ia memilih hidup bersama teman-teman yang berandalan di jalanan.

__ADS_1


"Auw ...," Adelia meringis sakit saat mencoba berdiri. Sebelumnya ia menaburkan bunga-bunga tersebut di makam sang ibu. Perutnya tiba-tiba kram. Mungkin karena Adelia kelamaan berjongkok.


"Del, kamu kenapa?" Rara yang sedang melamun terbuyarkan saat mendengar Adelia meringis.


"Perut aku, kram. Ra," ujar Adelia. Seraya tangannya memegang perut.


Rara pun menjadi panik. Ia mulai memapah Adelia untuk keluar dari area pemakaman. Dengan jalan yang sangat hati-hati, Rara memapah Adelia. Hingga di sebuah kursi pinggir jalan. Rara mendudukkan tubuh Adelia.


"Del, kamu tunggu dulu di sini ya! aku beli minum dulu," ujar Rara. Adelia hanya mengangguk. Dengan mencoba duduk senyamannya, agar perutnya tidak kembali kram.


Tak lama Rara datang dengan membawa dua buah botol air mineral. Yang satunya ia serahkan kepada Adelia, sebelumnya Rara membukakan segel botol tersebut.


"Minum dulu, Del"


Adelia langsung meraih botol minum tersebut, dan meneguknya hingga setengah.


"Terima kasih ya, Ra" ucap Adelia.


"Iya Del. Sudah. Nyamanin dulu duduknya,"


Sementara itu ada sebuah mobil yang melintasi area pemakaman. Mobil tersebut di kendarai oleh Tono. Tono sudah menjemput Hera, Alina , dan Lucky dari Bandara.


Mata Hera memandang ke arah jendela. Ia melihat wajah yang sangat ingin di temuinya itu terduduk di pinggir jalan. Mata Hera terus memicing hingga Adelia dan Rara terlewat.


Pak Tono pun, mengerem mendadak. Dan menurut, ia mundurkan laju mobilnya dengan perlahan.


"Mama ada apa sih? kok, nyuruh Pak Tono, mundurin mobilnya!" tanya Alina dengan wajah heran.


Hera masih menatap ke arah jendela. Dan kebetulan mobil Tono sudah hampir melintas di depan Adelia yang terduduk.


"Pak stop!," pekik Hera.


"Alina, Mama gak salah lihatkan, kalau itu Arumi!" tunjuk Hera pada Adelia yang sedang duduk di kursi pinggir jalan. Alina pun ikut melihat ke arah yang Hera tunjuk, begitupun Lucky.


Pak Tono hanya terdiam saja tidak mau menanggapi. Karena Albi sudah berpesan kepada dirinya agar tidak membuka suara, kalau tidak di tegur sapa.


"Iya Ma, itu Arumi," sahut Alina dan Lucky secara bersamaan.


"Ayo ajak pulang, Alina!"


Hera langsung membuka handle pintu mobil. Ia bergegas turun untuk menghampiri Adelia yang masih belum menyadari kehadiran Hera.


"Arumi," Hera memanggil Adelia seraya lebih mendekat.

__ADS_1


Deg ... Adelia melotot. Dan detak jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Ia tanpa menduga akan bertemu Hera, Mamanya Albi di sini. Tentu Adelia takut, kalau dirinya di ajak ke rumah Albi.


Hera memeluk Adelia, menghujani ciuman di pipi kiri dan kanannya. Sementara itu Rara masih menatap tidak mengerti. Karena ia tidak mengenali wanita paruh baya tersebut.


"Sayang kenapa kamu ada di sini? mana Albi?" tanya Hera dengan tangannya mengusap perut Adelia yang sudah buncit.


Adelia gelagapan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika mengatakan yang sesungguhnya. Adelia tidak mau sampai Hera tiba-tiba serangan jantung, karena mengetahui yang sebenarnya. Sehingga Adelia lebih mengkhawatirkan keadaan Hera.


Adelia pun teringat akan perkataan Arman saat di Mall untuk meminta bantuannya. Bahwa Hera akan datang hari ini.


"Mama baru datang?" tanya Adelia tanpa menjawab pertanyaan Hera.


"Iya Sayang. Mama di jemput Pak Tono," sahut Hera.


"Ayo sayang kita pulang!" ajak Hera kini.


Adelia memandang ke arah mobil. Yang ternyata di dalamnya Alina dan Lucky, yang sedang menatap ke arahnya dengan tersenyum. Kemudian Adelia melirik ke arah Rara yang sedang menatapnya dengan penuh tanya.


"Aku ajak, teman aku ke rumah ya, Ma!" Adelia ingin mengajak Rara ke kediaman Albi.


"Oh ia teman kamu?, ya sudah ayo ajak saja!"


Adelia pun menggandeng tangan Rara. Hera berjalan di depannya menuju mobil. Sementara itu Adelia berbisik kepada Rara.


"Ra, nanti aku jelasin ya!" bisiknya.


"Sekarang aku paham Del, aku ingat cerita Rasya, bahwa kamu di tolong dan di manfaatkan amnesiamu untuk menjadi istri pura-pura nya seseorang. Iya, kan?" Rara kembali berbisik. Adelia mengangguk menjawab.


Adelia dan Rara di persilahkan masuk oleh Hera di jok tengah. Alina dan Lucky berpindah ke tempat duduk yang paling belakang, sebelum Adelia dan Rara masuk. Sedangkan Hera kini duduk di samping Pak Tono.


"Saya harus laporan sama Tuan, kalau Nona Arumi ketemu," ucap Tono di dalam hati. Tangannya mengetik sebuah pesan kepada Albi.


Tuan ... saya sedang berada di perjalanan. Saya sudah menjemput Ibu Tuan. Tapi, saat di jalan kami bertemu Non Arumi. Ibu mengajak Non Arumi pulang, dan kini sedang berada di dalam mobil menuju rumah.


Begitulah pesan yang Tono ketik kepada Albi. Dan Tak lama Albi membalas.


Maksud kamu bagaimana? jawaban pesan dari Albi kepada Tono.


"Aduh, Tuan kok gak ngerti sih?" pekik Tono di dalam hati dengan mulai melajukan mobilnya.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2