You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 250.


__ADS_3

Enam bulan kemudian...


Kebahagiaan Adelia dan Rasya bertambah dengan kehadiran Baby Daffa dan Baby Saffa. Tingkahnya yang lucu dan menggemaskan membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan tersenyum dan tertawa.


Seperti saat ini, Baby Daffa sedang terbaring di atas ranjang orang tuanya. Dengan tangan kaki yang selalu bergerak-gerak aktif. Melihat sang Bunda yang sedang menyusui adiknya Baby Saffa, ia tersenyum dan berceloteh tidak jelas.


Sang ayah yang baru saja pulang bekerja, langsung masuk ke dalam kamar dan di suguhkan oleh dua buah cintanya yang lucu serta menggemaskan itu. Kebetulan Rasya pulang sudah Magrib. Karena harus lembur terlebih dahulu.


"Assalamualaikum, kesayangan ayah semua" Rasya seraya mendekati Bunda dan dua bayinya.


"Wa'alaikum salam, Ayah Sayang" Adelia dengan menirukan suara anak-anak. Seraya tangannya terulur untuk menyalami dan mencium punggung tangan Rasya.


Rasya mencium kening Adelia dengan lama. Lalu beralih mencium Baby Saffa, dan Baby Daffa.


"Udah pada wangi kesayangan ayah," Rasya menggendong baby Daffa yang terbaring menatapnya. Baby Daffa berceloteh dengan bahasa bayinya membuat Rasya terkekeh.


"Mas, masih capek pastinya. Biarkan Baby Daffa berbaring saja," kata Adelia yang melihat suaminya belum istirahat sehabis pulang kerja. Adelia masih menyusui baby Saffa yang sepertinya akan tertidur.


Rasya menggeleng serta menyunggingkan senyumannya, "Sayang ... rasa lelahku hilang setelah melihat kalian bertiga. Kalian penyemangat. Dan saat bekerja membuat ingin cepat-cepat pulang saja," ucap Rasya yang kini pipinya sedang di belai oleh dua tangan mungil baby Daffa. Setiap bekerja ia selalu merindukan istri dan dua bayinya itu.


"Syukurlah ... kalau begitu, Mas" rasa lega yang Adelia rasakan saat mendengar Rasya mengatakan seperti itu. Serasa bahagia bertambah yang Adelia rasakan.


Baby Saffa sudah tertidur lalu oleh Adelia tidurkan di ranjang bayi, kini tinggal baby Daffa yang akan di susui. Adelia mengambil alih menggendong baby Daffa dari Rasya kemudian langsung menyusui baby Daffa di hadapan Rasya.


"Sayang ... memang Asi-nya masih banyak?" tanya Rasya yang ia tahu bahwa dua bayi kembarnya itu menyusu dengan kuat. Ia menelan saliva dengan kasar saat menatap gunung kembar pavoritnya yang kini di ambil alih oleh dua bayi kembarnya.


"Sepertinya banyak kok, Mas. Soalnya kalau mereka tertidur, aku selalu pompa. Dan selalu mendapatkan banyak Asi-nya. Makanya kalau malam aku kasih saja yang sudah di pompa," sahut Adelia.


Rasya manggut-manggut, lalu memeluk Adelia dari samping, membuat Baby Daffa menatap kepada dirinya dari bawah, "Terima kasih Sayang ... kamu sudah mau mengandung, melahirkan, dan menyusui anak-anakku," dengan tangannya mengelus lembut lengan kanan Adelia.


"Sama-sama Mas. Aku senang kok, mengandung, melahirkan, dan menyusuinya. Sehingga Aku merasa diriku sempurna menjadi perempuan yang sesungguhnya," Adelia dengan tersenyum menatap suaminya dari samping.


Rasya membalas senyuman istrinya dengan hangat. Ia bangga mempunyai istri seperti Adelia. Yang mau memberikan Asinya kepada bayinya. Bahkan di luaran sana, masih banyak wanita yang tidak menyusui dengan beralasan takut rusak badannya.


Rasya mengecup kening Adelia, "Mas, mandi dulu ya," ujarnya dan langsung melenggang ke arah kamar mandi. Adelia mengangguk. Lalu tidak lama, menidurkan baby Daffa di samping Baby Saffa yang di beri jarak dua buah bantal guling bayi di tengahnya.


Kemudian beralih melenggang ke arah lemari, memilihkan dan menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Setelah itu Adelia memilih duduk di atas sofa dengan memainkan ponselnya.


Tidak berselang lama Rasya keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang sebatas pinggang. Membuat Adelia merona dan menelan salivanya saat menatap dada bidang suaminya itu.


Enam bulan lamanya Adelia dan Rasya belum melakukan pergulatan panas. Membuat Adelia merasakan berdesir, dan meremang saat membayangkan bahwa dada suaminya itu selalu berada di atas tubuhnya dan selalu Adelia belai kala sedang merasakan kenikmatan yang tiada tara tersebut.


Adelia tersentak, saat melihat Rasya dengan santainya memakai ********** di hadapannya.


"Mas," Adelia dengan melotot melihat benda pusaka milik suaminya itu, dengan perlahan menunduk merasa malu karena sudah melihatnya.


"Ada apa Sayang?" tanya Rasya santai.

__ADS_1


"Em ... Mas mau makan malam sekarang?" tanya Adelia dengan menunduk.


"Iya. Mumpung Daffa sama Saffa udah tidur," Rasya kini menyisir rambutnya, lalu setelah itu mendekati Adelia dan duduk di sampingnya.


"Lihatin apa sih, dari tadi nunduk aja?" Rasya dengan mengikuti arah pandang Adelia ke lantai.


"Ah, eng-enggak Mas" jawab Adelia dengan gugup. Kini ia menatap suaminya itu yang sudah duduk di sampingnya dengan tersenyum kepadanya.


"Ya sudah, kita makan dulu!" ajak Rasya. Tangannya terulur untuk Adelia raih. Dan dengan senang hati Adelia menyambut uluran tangan suaminya itu dan Adelia genggam dengan erat.


Keduanya keluar kamar dengan saling menggenggam. Lalu menuju ruang makan dan sudah berkumpul orang tuanya begitu juga Serly dan Rara.


"Si kembar udah pada tidur?" tanya Hadi yang melihat Adelia dan Rasya ke ruang makan berdua.


"Iya, Pa. Baru saja" sahut Adelia dengan duduk di kursi yang sudah Rasya tarik lebih dahulu.


"Yang banyak Del, makannya!" titah Lia. "Si kembar itu kuat banget minum susunya," lanjut Lia.


"Iya, Ma" sahut Adelia dengan melayani Rasya mengambilkan makanan pada piringnya.


"Iya. Bahkan Ayahnya sampai tak bisa megang selalu saja di kuasai mereka," celetuk Rasya seketika langsung dapat protesan dari Mamanya.


"Sya ...," Lia dengan menatap tajam. Rasya terkekeh dengan cueknya.


Hadi hanya menggelengkan kepalanya, selalu ada tingkah putranya itu jika sudah berbicara dengan Mamanya.


"Maaf semuanya. . Adel duluan tidur ya," pamit Adelia yang merasa ngantuk saat ini.


"Iya, Nak. Lebih baik tidur. Mumpung si kembar tidur juga," sahut Lia sang mertua.


"Iya, Kak"


"Iya, Del"


Adelia langsung bergegas ke dalam kamarnya.


Sementara Rasya masih berada di dalam ruang kerjanya. Rasya yang kini menjalankan perusahaan Adelia, ia harus benar-benar ekstra teliti. Dan bersungguh-sungguh. Karena perusahaan Adelia bergerak dalam bidang kimia, dan tekstil. Sungguh di luar bidang ke ahlian Rasya, yang Rasya tekuni masa kuliahnya adalah bidang otomotif.


Tapi karena kecerdasan Rasya. Ia cepat tangkap dan mengerti tentang perusahaan yang kini ia pimpin. Setelah merasa selesai dengan berkas-berkas yang Rasya teliti. Ia keluar dan menguncinya. Kemudian masuk ke dalam kamar yang terletak di samping ruang kerjanya.


"Sayang sudah tidur?" tanya Rasya yang setelah membuka dan mengunci pintu.


Adelia tersenyum dengan berbaring di atas ranjang, "Belum, Mas" jawabnya.


Rasya lalu menatap ranjang bayi yang di mana bayi kembarnya sangat terlelap tidur. Setelah merasa puas menatap bayi kembarnya, Rasya merangkak naik ke atas ranjang. Dan masuk ke dalam selimut yang membungkus tubuh istrinya. Lalu merengkuh tubuh istrinya untuk masuk kedalam dekapannya.


"Bentar," Rasya meraba tubuh Adelia yang seperti terbalut baju berbahan tipis.

__ADS_1


"Apa Mas?" tanya Adelia yang berada di dalam dekapan Rasya dengan mengulum senyum.


Rasya yang penasaran. Ia menyingkapkan selimut, dan langsung terlihat jelas dan terpampang nyata tubuh Adelia yang terbalut lingerie berwarna merah yang begitu kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Rasya langsung menelan saling dan matanya langsung berkabut gairah.


"Sayang apa kamu--" belum juga ucapan Rasya selesai. Adelia dengan cepat menyambar bibir suaminya itu dengan lembut, dan melu*atnya. Rasya yang sudah berkabut gairah tentu membalas serangan bibir istrinya itu, bahkan lebih rakus hingga tanpa jeda.


Adelia yang merasa tidak bisa bernafas ia mendorong pelan dada suaminya, "Mas ... a-aku tak bisa ber-nafas," ucapnya dengan nafas terengah-engah.


Rasya terkekeh, "Maaf Sayang ... saking lamanya aku tidak menyerang bibirmu," ucapnya dengan membelai pipi Adelia.


Rasya kembali mengingat Adelia yang memakai lingerie, ia penasaran dengan apa maksud istrinya itu. "Sayang ... apa maksud kamu dengan memakai lingerie ini?" dengan tangan Rasya membelai punggung Adelia.


Adelia dengan menggigit bibirnya, gugup untuk mengutarakannya. Namun, setelahnya ia mengatakan apa maksudnya.


"Aku rindu kamu Mas," ujarnya dengan malu-malu.


Rasya yang tahu apa maksud ucapan Adelia tersenyum, namun ia ingin menggoda terlebih dahulu istrinya itu.


"Rindu apanya Sayang?"


"Rindu kamu,"


"Apa yang kamu rindukan dariku, bukannya kita setiap hari bersama?. Kecuali saat aku ke kantor," tutur Rasya yang membuat Adelia benar-benar malu jika mengatakan yang sebenarnya.


"Pokoknya aku rindu kamu, Mas" kini Adelia menempelkan tubuhnya. Membuat Adelia merasakan benda pusaka sang suami yang sudah berdiri tegak.


"Apa kamu rindu mendesah?" bisik Rasya karena tubuhnya dan tubuh sang istri sudah menempel.


Dengan wajah merona, Adelia mengangguk. Dan mendapatkan kekehan dari sang suami yang sedari tadi sengaja menggodanya.


"Mas, kamu malah ngetawain aku. Ya sudah. Kalau kamu sudah tidak mau menyentuhku, aku lebih baik tidur saja," Adelia dengan cepat membalikkan tubuhnya sehingga kini ia memunggungi suaminya.


Rasya terlonjak kaget. Kesempatan emasnya tidak mungkin ia tolak. Bahkan sudah lama ia pendam demi sang istri yang takutnya belum siap untuk di sentuh kembali. Rasya langsung memeluk Adelia dengan erat dari belakang. Hingga kepalanya berada di ceruk leher Adelia yang mulus.


"Sayang ... maaf. Aku hanya bercanda. Aku sengaja dari tadi menggodai kamu. Mas tentu senang sayang ... jika kamu sangat merindukan itu. Dan bahkan Mas, lebih jauh-jauh hari sudah merindukannya," bisik Rasya di balik ceruk leher Adelia. Hingga nafas hangat Rasya terasa membuat bulu-bulu halus Adelia berdiri dan meremang.


Adelia membalikkan badan. Dan langsung di sambut oleh bibir Rasya Menye*ap dan melu*at bibirnya dengan lembut. Lalu tangan Rasya mulai bermain di area dua gunung. Baru saja Rasya mere*masnya, tangisan baby Saffa menghentikan aksi tangan dan bibirnya. Adelia langsung bangun dan melihat apa yang membuat Baby Saffa menangis dengan kencang.


"Aduuh ... cantiknya bunda puff ya," Adelia dengan tersenyum membuka diapers Baby Saffa. Lalu tangisan Baby Saffa pun terhenti. Adelia dengan cekatan mengganti Diapersnya, dan menidurkan kembali baby Saffa.


Baru saja Adelia merangkak ke atas ranjang. Kini giliran Baby Daffa yang menangis. Seperti tadi Adelia meneliti, melihat diapers baby Daffa namun tidak puff. Dan ternyata baby Daffa sudah merasakan lapar kembali.


Adeliapun menyusui Baby Daffa. Membuat Rasya mendesah prustasi karena hasratnya yang sudah naik belum tersalurkan.


"Sepertinya harus pakai jasa Babysister deh ... agar Istriku tidak terlalu lelah merawat bayi kembar itu. Dan aku bisa mendesah dengan aman," batin Rasya dengan menatap istrinya yang sedang menyusui Baby Daffa.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2