You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 129.


__ADS_3

Albi masih terdiam di atas sofa dengan menatap langit-langit kamar Adelia. Ia tengah melamun memikirkan dampak dari rencananya itu. Ia mengakui langkah yang di ambilnya sangat salah. Namun, ia tidak bisa menghentikannya, ia belum membawa Adelia ke hadapan Mama nya untuk membuktikan ucapannya saat itu. Ia tidak mau sampai Mamanya mengambil langkah menjodohkan dirinya.


Sementara itu Adelia yang sudah selesai mandi dan berganti baju, melangkah ke arah meja rias. Tapi tatapannya teralihkan ke arah sofa yang dimana Albi terduduk dengan melamun.


"Kenapa dia melamun?" gumam Adelia dengan meneruskan niatnya duduk di meja rias. Adelia mulai memakai skincare yang sudah berada di atas meja rias tersebut. Dengan mulai memakaikan toner pada wajahnya, setelah itu Adelia memakai serum pada langkah selanjutnya, dan yang terakhir Moisturizer(pelembab). Kemudian Adelia memoleskan lipstik pada bibirnya, sehingga bibir Adelia semakin terlihat menggoda. Saat Adelia tangannya bergerak ingin menyisir, tangan Adelia di pegang oleh Albi yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.


"Biar aku sisirkan!" kata Albi. Dengan mengambil alih sisir itu dari tangan Adelia.


Adelia hanya bisa menurut, dan memperhatikan wajah Albi dari arah cermin di depannya.


Aroma rambut dan tubuh Arumi sangat wangi. batin Albi.


Albi menyisir rambut Adelia dengan menghirup aroma wangi dari tubuh dan rambut Adelia yang baru saja habis mandi, hingga wangi itu sangat menusuk hidung Albi.


"Mas ...."


Sapa Adelia, membuat tangan Albi terhenti.


Arumi panggil aku Mas. Akhirnya... batin Albi senang.


"Apa?" sahut Albi.


"Sudah rapih Mas lihat!" ucap Adelia untuk Albi menghentikan sisiran rambutnya.


"Oh sudah ya," kata Albi dengan salah tingkah.


Adelia membalikkan badannya, dan kini Adelia berhadapan dengan Albi.


"Mas kenapa diam saja saat tadi? aku jadi kesal tahu," tanya Adelia mengungkit masalah di dapur.


"Em ... maaf, aku kebiasaan tidak banyak bicara!" jawab Albi apa adanya.


Maaf Arumi aku tidak suka kamu dekat dengan Arman. Batin Albi mengatakan yang sesungguhnya.


"Benarkah? maaf Mas, aku habis sakit jadi lupa kebiasaan Mas, dan semuanya," ucap Adelia dengan menunduk sedih.


"Tidak apa Arumi, aku yang Mohon maaf telah membuat kamu kesal!" kata Albi seraya mengusap bahu Adelia.


"Maaf, ya Mas!" Adelia mendongak menatap wajah Albi.


"Iya ...." kata Albi dengan menatap dalam mata indah milik Adelia.


Adelia kemudian berdiri untuk mendekati Albi. Namun, Albi malah melangkah mundur.


"Mas, ada apa? kok, Mas malah mundur?" tanya Adelia heran kepada Albi yang malah melangkah mundur saat di dekati. Padahal Adelia berniat ingin memeluknya.


"Eng-enggak. Gak ada apa-apa" jawab Albi terbata.


"Benar?" tanya Adelia memastikan dan maju kembali untuk meneruskan niatnya. Tapi, Saat Adelia baru sudah mau mendekati Albi, nada dering ponsel Albi berdering.


"Maaf Aku angkat dulu telepon," kata Albi seraya pergi keluar dari kamar Adelia.

__ADS_1


Seperginya Albi. Adelia menggerutu kesal dirinya ingin sekali memeluk suaminya itu.


"Padahal aku cuma mau meluk saja, kenapa susah?" gerutunya.


Adelia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia merasa mengantuk kembali, tapi melihat jam dinding baru saja pukul 6 sore. Adelia mengurungkan niat tidurnya, ia melangkah menuju sofa berniat menonton tv. Adelia menyaksikan sebuah film romantis. Ia tersenyum-senyum saat melihat adegan-adegan yang menurutnya sangat manis.


"Kok kaya Mas Albi, dia tadi mau menyisir rambut aku?" kata Adelia bermonolog.


Sementara itu Albi yang sudah menjawab teleponnya merasa kesal. Lagi-lagi Mamanya menanyakan tentang pacar, pasangan, dan calon istri.


"Nanti Albi akan datang dengan istri Albi, Ma ...."


Kata Albi mengatakan akan membawa istri kepada Mamanya.


"Gak salah dengar kan, Mama?" tanya Mama nya mengejek Albi di sebrang telepon.


"Enggak Ma. Albi serius. Maaf sebenarnya Albi selama ini sudah menikah, Ma."


"Serius?" tanya Mama Albi meyakinkan.


"Iya Albi serius. Dan Albi sudah menikah hampir enam bulan," kata Albi melancarkan aksi kebohongannya.


"Mama gak percaya. Sebelum kamu membawa wanita yang kamu maksud, dan bukti-bukti pernikahan mu. Bisa saja kamu, menyewa orang untuk mengelabui Mama, agar terhindar dari perjodohan," ucap Mama Albi.


Albi sudah menduga Mamanya tidak akan langsung percaya. Tapi Albi akan berusaha membuat Mamanya untuk mempercayainya.


"Albi serius Ma, mana mungkin Albi berani membogongi Mama. Bahkan istri Albi saat ini sudah hamil hampir sebulan," sahut Albi meyakinkan kembali.


Setelah panggilan itu mati, Albi langsung bernafas lega saat Mamanya sudah mempercayainya. Begitupun Kedua teman Albi, yang mendengar perbincangan Albi dan Mamanya pun ikut bernafas lega.


"Sekarang, Lu harus bersikap seolah-olah Lu benar-benar suami Arumi," titah Dirga.


"Tapi gue gak bisa! gue selalu merasa bersalah, saat di dekat Arumi" sahut Albi.


"Ya gue paham. Tapi kan, ini rencana kita buat memastikan Lu benar-benar udah nikah. Lu harus terlihat sangat mencintai Arumi, karena ini merupakan pilihan Lu, dan buktikan kehadapan Tante Hera bahwa Lu mencintai wanita pilihan Lu!" ujar Dirga.


"Menurut gue Lu harus mainin perasaan Lu. Ya walaupun, gue tahu sebenarnya, Lu udah jatuh cinta kan, sama Arumi?" kata Arman mulai menggoda Albi.


Albi dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Ah Elu gak nyadar. Tapi gue paham kok, mana yang kasihan, dan mana yang menyukai," celetuk Arman.


"Sok tahu Lu?!!" ketus Albi.


"Sudah mending sekarang Lu tidur, dan samperin Arumi!" titah Dirga.


"Gue tidur di kamarnya? berdua?" tanya Albi dengan melotot.


"Iyalah kan, ceritanya elu suaminya," ucap Arman enteng.


"Enggak-enggak. Gue gak mau" tolak Albi.

__ADS_1


"Berarti nanti Arumi akan mempertanyakan semuanya, Albian Syaputra? dia akan meragukan elu, ya walaupun dia lagi amnesia, dia tahu apa itu pernikahan. Yang tidak di ingatnya hanya seputar orang-orang dan kejadian sebelum amnesia," ujar Arman mengingatkan dan menjelaskan.


"Ya sudah gue samperin Arumi," kata Albi dan bangkit dari duduknya melangkah menuju kamar Adelia.


"Gitu dong." ucap Arman walaupun Albi sudah tidak bisa mendengarkan.


Sesampainya Albi di depan pintu kamar Adelia. Albi menghembuskan nafas terlebih dahulu.


Albi Lu jangan nervous!. Sekarang Lu sadar bahwa Lu sudah suka sama Arumi. Albi berbicara di dalam hatinya.


Saat tangan Albi baru terangkat ingin mengetuk pintu, Pintu sudah di buka oleh Adelia.


"Mas, padahal aku baru saja ingin keluar untuk menemui mu" ucap Adelia saat melihat Albi yang ingin hendak mengetuk pintu.


Albi tersenyum dan memegang tangan Adelia, lalu menuntun Adelia untuk masuk ke dalam kamar.


"Mau apa kamu menemui aku, hmm?" tanya nya dengan lembut.


"Aku ingin jalan-jalan Mas, aku bosan di kamar terus," ucap Adelia.


"Jalan-jalan?"


"Iya. Boleh ya? Yuk!" ucap Adelia membujuk Albi.


"Tapi kamu sedang hamil. Kamu jangan dulu banyak pergerakan!"


"Tapi Mas, aku ingin jalan-jalan." kekeh Adelia. Ia bahkan menekuk wajahnya merasa kesal kepada Albi.


"Iya Sebentar," kata Albi kemudian merogoh ponsel yang berada dalam saku celananya.


Albi berniat ingin mengetik pesan kepada Arman.


Arumi ingin jalan-jalan, bagaimana?.


Apa tidak akan ada orang yang mengenalinya?


Begitulah pesan Albi yang di kirimkan kepada Arman. Dan tak lama notifikasi pesan masuk berbunyi, dan merupakan pesan dari Arman.


Ajaklah!. Ini kota J, tidak mungkin ada yang mengenalinya.


Balasan pesan dari Arman seperti itu, mengijinkan Albi untuk membawa Adelia jalan-jalan. Mungkin pemikiran Arman karena Adelia di temukan di kota B, maka kemungkinan tidak akan ada yang mengenalinya saat berada di kota J.


...Bersambung....


**Aduuh Adelia akan jalan-jalan, apakah akan bertemu dengan Rasya suaminya?


Penasaran??


Pantengin terus episode selanjutnya!


Dan jangan lupa Like, comment, dan hadiah poinnya Readers!!. 😊😊**

__ADS_1


__ADS_2