
Rasya dan Adelia baru saja sampai di depan halaman rumah. Rasya mengernyitkan dahinya menatap ada mobil yang tidak ia kenali berada di depan rumahnya.
"Mobil siapa itu?" gumam Rasya. Namun, terdengar oleh Adelia. Sehingga Adelia sendiri menatap ke arah mobil yang tidak juga ia kenali.
Adelia lalu menatap suaminya, "Mas tidak tahu itu mobil siapa? mungkin itu salah satu mobil Tamunya Papa," ujar Adelia seraya membukakan seatbelt.
"Bisa juga," sahut Rasya langsung keluar dari mobil, dan membukakan pintu mobil samping untuk Adelia keluar.
Rasya menuntun Adelia berjalan ke arah pintu utama. Ia menggenggam jari jemari istri cantiknya seraya melangkah. Saat membuka pintu, mata Rasya langsung tertuju pada ruang tamu. Yang di mana ada Lia, Hadi, dan Keluarga Rony.
Ada perlu apa Keluarga Pak Rony datang kerumah malam ini? batin Rasya bertanya.
Rasya mengulas senyum tipis kepada keluarga itu. Lalu melenggang masuk dengan terus menggenggam tangan Adelia. Adelia tersenyum terlebih dahulu, sebelum ia di tuntun masuk ke area ruangan lainnya.
Rasya merasa enggan untuk bertutur sapa kepada mantan mertua dan mantan istrinya itu. Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar bersama istri cantiknya.
"Mas, kenapa tidak di sapa tadi tamunya?" celetuk Adelia seraya mendudukkan tubuhnya di sofa kamar.
Rasya ikut menyusul mendudukkan tubuhnya di samping Adelia. "Tidak, Sayang ....," sahut Rasya.
Bagaimana reaksi Adelia kalau tahu bahwa Ariyanti mantan istriku? lanjut Rasya berucap di dalam hati. Ia sebenarnya ingin tahu, bagaimana respon Adelia yang saat ini kehilangan ingatannya tahu, kalau Ariyanti adalah mantan istrinya. Rasya sudah membayangkan pasti Adelia cemburu, dan pasti cemburunya lebih parah dari cemburu saat Rasya berbincang dengan Desi. Hingga Rasya menyunggingkan senyum, setelah membayangkan hal tersebut.
"Loh Mas, kenapa senyum-senyum sendiri?" Adelia bertanya karena merasa aneh melihat Rasya yang sedang senyum-senyum sendiri.
Rasya menggeleng dengan sisa senyuman, "Tidak Sayang. Em ... jangan mandi lagi ya, tidak baik bumil mandi malam-malam!. Ganti baju saja, ya" seraya mengelus perut Adelia, ia berpesan.
"Iya Mas. Kalau Mas mau mandi?" tanya Adelia dengan berdiri dan melangkah menuju lemari.
"Ya, tapi setelah itu," sahut Rasya dengan tersenyum nakal.
Adelia menghentikan gerakan tangannya yang akan membuka pintu lemari, ia menatap Rasya dengan alis terpaut, "Setelah itu apa, Mas?" tanya Adelia yang tidak mengerti.
Rasya berdiri, dan melangkah mendekati Adelia. Kemudian ia memeluk Adelia dari belakang, "Aku mau mandi setelah, melahap mu" bisik Rasya.
Bisikan Rasya tepat pada telinga Adelia. Sehingga hembusan nafas Rasya menghembus pada bagian leher dan telinga. Seketika membuat kulit leher Adelia meremang. Merasakan mulai tumbuh gairah menerpa.
"Mas, geli ...," tukas Adelia. Rasya yang mulai mengecup ceruk leher Adelia, membuat ia kegelian. Di tambah tangan nakalnya kini meraba-raba di area sensitif milik Adelia. Membuat Adelia melenguh dan menggelinjang.
"Ayolah Sayang ... jangan buat suamimu tersiksa," bisik Rasya kembali di telinga Adelia.
__ADS_1
Adelia memejamkan kedua matanya, "Iya Mas tapi jangan terus berdiri juga," keluhnya.
Rasya tersenyum, tangannya kini terangkat untuk meraih tubuh Adelia. Rasya memangkunya, dan membaringkan Adelia di atas ranjang dengan lembut. Rasya mulai mengarahkan bibirnya untuk bertaut dengan bibir milik istrinya. Mence**p, dan melu**t dengan lembut. Setelah merasa tidak ada pasokan oksigen, ia melepaskannya.
"Eh, Sayang ... sebentar. Aku cek pintu dulu, takutnya lupa belum dikunci," Rasya beranjak dan melangkah menuju pintu. Dan benar saja pintunya belum terkunci. Untung saja dirinya ingat. Kalau sampai lupa, bisa berabe jadinya.
Setelah memastikan pintu terkunci, Rasya kembali merangkak ke atas ranjang. Mengungkung tubuh istrinya dengan memberikan cumbuan di bibir merah sang istri yang selalu menjadi candu bagi dirinya.
Setelah puas di area bibir, Rasya mulai bermain di area leher. Mengecup, dan melu**t serta memberikan tanda kissmark di leher putih Adelia. Sedangkan Adelia memilih memejamkan kedua matanya, menahan hasrat yang sudah memanas di sekujur tubuhnya.
Rasya mulai membuka kancing depan dress Adelia. Ia mencari gunung kembar yang tersembunyi. Setelah gunung kembar itu nampak. Dengan cepat ia lahap, dan menghisa**nya seperti bayi. Adelia sudah Meracau, dan mende*ah. Setiap sentuhan yang Rasya berikan, seakan membuat tubuh Adelia terbang melayang.
"Mas," suara Adelia sudah berubah parau.
"Apa, Sayang?" sahut Rasya dengan suara yang sama paraunya di penuhi kabut gairah.
Adelia menggigit bibir bawahnya. Rasya tersenyum seolah tahu, apa yang kini Adelia rasakan.
"Ok. Aku akan memulainya," ucap Rasya. Kemudian ia membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya, hingga berubah menjadi polos. Setelah itu tangannya membuka pakaian Adelia hingga sama polos seperti dirinya.
Rasya mulai menuntun benda pusaka miliknya untuk masuk ke dalam sarangnya. Dengan gerakan lembut, dan penuh kehati-hatian Rasya memacu gerakannya. Adelia yang sudah merasakan sensasi panas, mulai bersuara. De*ahan, dan racau*an keluar dari mulut Adelia dengan sendirinya. Membuat Rasya bersemangat untuk menempuh hingga titik kenik**tan.
Di tambah kedua tangannya bermain di gunung kembar, memainkan sesuka hatinya dengan lembut. Hingga selang beberapa menit, keduanya merasakan pada titik puncak. Keduanya sama-sama melenguh merasakan kelegaan sesuatu yang sudah mendesak keluar. Dengan cepat Rasya menuntaskan rasa yang mendesak itu.
Sedangkan Adelia hanya masih terpejam. Merasa enggan untuk membuka kedua matanya. Selang beberapa menit, Adelia membuka mata dan merasa ingin membersihkan area kepribadian miliknya.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Rasya ia menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, dengan bertelanjang dada. Kebawahnya ia tutupi dengan sebuah selimut.
"Aku ke kamar mandi Mas," jawab Adelia. Ia melangkah dengan tubuh polosnya.
Rasya berinisiatif memilihkan baju untuk Adelia. Ia membuka lemari dan memilih sebuah daster yang tinggi selutut beserta pakaian da**mnya juga. Setelah itu ia memakai pakaian yang tadi berserakan. Dan mengambil pakaian istrinya yang sama-sama berserakan. Lalu Rasya taruh pada ranjang khusus untuk baju kotor.
Tak lama Adelia keluar dengan sudah memakai handuk selutut. Ia tersenyum saat menatap pakaian yang sudah Rasya siapkan.
"Mas, gak mandi?" tanyanya.
"Mau. Tapi, aku bawa air minum dulu ya, ke dapur" ujar Rasya. Adelia hanya mengangguk memberikan jawaban.
Rasya keluar kamar, dan melenggang ke arah dapur. Saat berjalan Rasya masih menangkap suara kedua orang tuanya yang masih mengobrol dengan keluarga Rony.
__ADS_1
"Sebenarnya apa sih yang mereka obrolkan?" gumam Rasya seraya meraih beberapa botol air mineral. Kemudian ia teringat, bahwa istrinya belum meminum susu.
Rasya membuatkan susu untuk Adelia. Dan membawanya beserta air mineral yang sudah ia siapkan. Rasya kembali bergegas masuk ke dalam kamar. Dan meletakan air mineral beserta susu untuk istrinya di atas meja.
"Sayang ... minum dulu, dan setelah itu di minum susunya!!" titah Rasya.
"Iya Mas," sahut Adelia dengan mendekat ke arah sofa. Ia sudah memakai daster yang tadi Rasya siapkan.
"Aku mau mandi dulu ya," Rasya seraya mengecup kening Adelia dengan lama. Setelah itu ia melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Adelia mulai meminum air mineral, dan setelahnya ia meminum susu yang sudah Rasya buatkan.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Hingga Adelia melangkah dan menuju arah pintu.
"Mama?" sapa Adelia saat sudah membuka pintu.
Lia tersenyum, "Rasya mana?" tanyanya.
"Mas Rasya, lagi di kamar mandi, Ma."
"Ya sudah, nanti kalau Rasya sudah keluar dari kamar mandi. Sampaikan padanya, kalau Mama sama Papa menunggu di ruang tamu,"
"Baik Ma ...," sahut Adelia dengan tersenyum.
Lia mengelus perut Adelia terlebih dahulu, "Kalau gitu, Mama kembali ke depan ya," ucapnya.
Adelia mengangguk. Dan setelah Lia pergi, ia kembali menutup pintu kamarnya. Dan mendudukkan tubuhnya di sofa.
Rasya keluar dengan sudah memakai pakaian yang tadi ia kenakan. Dan duduk di sofa sebelah istrinya. Lalu merangkul bahu Adelia.
"Mas, tadi Mama ke sini. Katanya Mas di tunggu Mama sama Papa di ruang tamu," ujar Adelia menyampaikan apa yang tadi di ucapkan Lia.
Rasya mengernyitkan dahinya, "Untuk apa, ya?" sahut Rasya dengan bertanya.
"Mana aku tahu Mas, mungkin soal pekerjaan. Bukannya, tadi ada Sahabatnya Papa?"
Rasya terdiam. Lalu ia berdiri. "Ya sudah, aku temui Mama sama Papa dulu ya, kalau kamu sudah mengantuk. Tinggal tidur saja" ujarnya.
"Iya Mas," sahut Adelia.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....