
"Ekhemmm.... Apa tidak bisa di lepas pegangan tangan nya?. Jika tidak aku akan membantu nya." Rasya benar-benar di liputi rasa cemburu, dengan mulai mendekati Yuda yang masih memegang tangan Adelia.
Yuda terperangah akan kata-kata Rasya, seperti tidak boleh berlama-lama memegang tangan Adelia. Yuda tahu sekarang bahwa Rasya juga kini sedang cemburu. Yuda sengaja pura-pura tidak mendengar, tangan nya ia tetapkan masih menggenggam tangan Adelia dengan seringaian muncul di bibirnya.
Sedangkan Adelia menelan ludah nya seperti tercekat, dan cepat-cepat melepaskan tangan nya yang di genggam Yuda. Yuda merasa kecewa akan Adelia yang begitu cepat melepaskan genggaman nya setelah mendengar ucapan Rasya.
Rasya tersenyum simpul. Melihat Adelia yang seperti di pergoki sedang berselingkuh.
"Hiss.... Jadi tegang gini sih. Kalian bisa gak bersikap biasa saja. Adelia baru saja sadar dari pingsan nya." Rara memecah keheningan yang tercipta.
Rasya hanya melengos saja. Dan kini duduk di sebelah Adelia. Rasya tepatnya duduk di ranjang yang Adelia tiduri. Adelia merasa gugup akan Jarak Rasya yang begitu dekat dengan nya. Terlihat jelas oleh Rasya kegugupan Adelia. Karena Wajah Adelia seperti menegang. Adelia dalam posisi bersandar di bahu Ranjang itu.
Yuda merasa geram melihat Rasya yang berani duduk sedekat itu dengan Adelia di hadapan nya.
"Kamu bisa gak duduk di tempat lain, jangan di sana?."
"Kenapa, Masalah?." Sahut Rasya.
"Tentu masalah. Kamu mengganggu ketenangan Adelia dengan jarak dekat seperti itu." Yuda mengatakan pendapat nya.
Rasya tersenyum seperti mengejek Yuda.
"Mungkin masalahnya ada di penglihatan anda. Adelia tidak mempersalahkan itu koq." Rasya benar-benar menunjukkan sifat kekanakan nya jika sedang cemburu.
"Lihat Adelia seperti tidak mau ada kamu di sana." Tunjuk Yuda ke arah Adelia.
Adelia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya merasa pusing mendengar dan melihat Yuda saling bersahutan dengan Rasya.
"Benarkah?." Rasya dengan menatap lekat wajah Adelia.
"Ini bukan karena tidak mau aku di sini, Tapi ini rasa gugup karena aku dekat dengan kamu. Iya gak?." Rasya dengan menarik-turun kan Alisnya menggoda Adelia.
Adelia benar-benar di buat malu. Pipinya jadi merah merona akan godaan Rasya.
Rasya tersenyum menatap pipi Adelia yang berubah merah itu.
Yuda pun tahu, Adelia itu gugup. Hanya dirinya ingin membuat suasana tidak terlalu tegang. Yuda pun melihat pipi merona Adelia karena godaan Rasya.
Apa Adelia masih mencintai mantan nya ini?.
Tentu Jangan!. Aku harus bisa mendapatkan Adelia.
*Yuda bergumam dalam hatinya memperhatikan Adelia dan Rasya.
Rara sungguh pusing di buatnya. Kelakuan Rasya dan Yuda yang seperti belum dewasa saja begitu pikirnya.
"Rasya..." Adelia kini menyapa Rasya yang tengah menatap lekat wajahnya. Adelia sudah tidak tahan menahan rasa gugup terus di tatap Rasya.
"Apa?." Rasya dengan lembut.
Adelia menggigit bibir bawahnya, beberapa bulan tidak bertemu Rasya seperti merasa canggung untuk sekedar mengobrol juga.
Kini Adelia mulai menatap ke arah Rara dan Yuda.
"Mohon beri aku waktu untuk berbicara berdua bersama Rasya."
Rara dan Yuda pun mengangguk. Lalu melangkah keluar ruangan itu.
Rara duduk di bangku tadi.
Sedangkan Yuda berdiri, seperti hendak ingin menguping dari balik pintu.
"Maafkan Aku Del. Yang tak bisa menjaga mu." Ucap Rasya dengan tiba-tiba memeluk Adelia.
__ADS_1
Adelia pun tidak menolak. Ia lingkarkan tangan nya di pinggang Rasya menjawab pelukan nya. Karena memang sedari tadi memang itulah yang Adelia inginkan.
"Kamu tidak perlu meminta maaf Sya..." Adelia di sela-sela pelukan Rasya.
"Apa kamu tahu siapa yang merencanakan itu semua?." Tanya Rasya Tangan nya yang mengusap-usap rambut Adelia yang tergerai indah.
Adelia terdiam terlebih dahulu. Lalu menggelengkan kepalanya. Adelia sengaja tidak mau memberitahukan Rasya, siapa yang sudah berencana tentang hal itu. Adelia tidak mau Rasya mengambil tindakan.
"Terus apa kamu mencurigai seseorang?." Tanya Rasya lagi.
Adelia menggeleng kembali. Dengan sengaja ia benamkan kepalanya ke dada Rasya. Rasya tersenyum melihat Adelia yang seperti itu.
"Aku tidak mau suudzon Sya. Sudah diam lah aku ingin seperti ini dulu." Adelia tidak mau Rasya banyak bertanya. Yang Adelia inginkan saat ini memeluk Rasya dengan erat.
Rasya pun terdiam. Ia pun mendekap erat Adelia di dada nya. Sungguh Rasya sangat merindukan gadis nya ini.
Yuda yang mengintip sungguh dada nya menjadi naik turun, karena melihat Adelia yang begitu erat memeluk Rasya. Yuda tidak mau berlama-lama membiarkan itu terjadi. Yuda masuk menerobos dan di ikuti Rara di belakangnya.
Rara melotot kaget karena di suguhkan pemandangan yang membuat dirinya malu sendiri.
"Ekhemmm...." Rara berdehem menetralkan suasana yang ada.
Dan deheman itu berhasil membuat sepasang yang tengah berpelukan melepaskan pelukan nya.
Adelia sungguh di buat kikuk, ia bersembunyi di balik lengan kekar Rasya.
Sedangkan Rasya bersikap biasa saja.
"Kalian tidak ketuk pintu dulu?." Tanya Rasya.
"Hemmm.... Tak sepantasnya seseorang yang sudah beristri memeluk gadis lain." Yuda mencibir Rasya.
Dan membuat Adelia merasa bersalah, ia lupa akan status Rasya saat ini.
"Lalu Cincin di jari mu tanda apa?." Sahut Yuda dengan melihat cincin yang masih melingkar di jari manis Rasya.
"Ah ya. Aku lupa melepasnya." Rasya dengan tenang melepas cincin itu, dan di masukkan nya ke dalam saku celananya.
Adelia kini menatap Yuda. Begitupun Yuda, membalas menatap lekat ke arah Adelia.
Apa Yuda cemburu melihat aku bersama Rasya?.
Adelia bergumam di dalam hatinya.
Del, hati ku sakit melihat kamu berpelukan dengan orang lain.
Walau aku sadar aku bukan siapa nya kamu.
Tapi mungkin karena rasa cinta ku pada mu, yang membuat sikapku menjadi begini.
Yuda pun berbicara di dalam hatinya dengan masih menatap lekat wajah Adelia.
Rasya memperhatikan antara Yuda dan Adelia. Ada rasa cemburu datang memburu ke seluruh tubuh Rasya. Ia kini menatap Tajam ke arah Yuda.
"Hei apa yang anda lihat?." Rasya seolah tidak tahu yang Yuda tatap.
"Aku sedang melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah." Yuda menjawab dengan tatapan nya tidak ia alihkan sama sekali.
Adelia langsung salah tingkah. Ia melempar tatapan nya ke arah Rara. Rara yang di tatap hanya menyunggingkan senyum nya kepada Adelia.
"Anda Tahu ciptaan Tuhan yang satu itu. Sudah ada yang memiliki." Rasya sungguh menimpali ucapan Yuda.
"Tidak. Bahkan Aku tidak tahu itu. Yang aku tahu dia sedang sendiri. Tunangan nya sebentar lagi akan menikahi gadis lain." Yuda tidak mau kalah.
__ADS_1
Rasya tertegun sebentar. Mencerna apa yang di ucapkan Yuda, bahwa tunangan Adelia akan menikahi gadis lain. Berarti Martin akan menikahi gadis lain. Rasya kini beralih menatap Adelia yang sedang termenung. Sungguh perkataan Yuda membuat Adelia mengingat sosok Martin.
"Apakah benar?." Tanya Rasya.
Namun tidak Ada jawaban dari Adelia.
Adelia masih terdiam mematung.
"Memang benar. Aku mengetahui semuanya." Yuda yang malah menjawab.
"Brengsek dia. Jika tahu dia akan menyakiti Adelia. Aku menyesal telah menyerahkan Adelia ku kepada nya." Sungut Rasya emosi.
Adelia kini menatap Rasya seperti mengatakan itu semua tidak seperti Rasya pikirkan.
"Rasya. Martin tidak seperti itu. Hanya......." Adelia menjeda ucapan nya. Adelia bingung untuk mengungkapkan yang sebenarnya.
"Martin setelah mendengar Adelia meninggal jatuh sakit hingga lama. Dan yang merawat nya adalah sepupunya. Jadi Martin akan menikahi sepupunya." Rara seperti tahu apa yang Adelia ingin sampaikan.
"Terus kenapa kalian menyembunyikan ini semua dari Martin?. Bahwa kalian ini masih hidup." Rasya yang memang belum paham yang sebenarnya.
"Sudah kamu tak perlu tahu. Ini semua rencana kita." Sahut Yuda.
"Justru aku perlu tahu. Adelia adalah merupakan hidup ku. Aku tidak bisa diam jika ada yang berani mengusik kehidupan Adelia." Rasya mengatakan nya dengan berkaca-kaca.
Lalu Rasya kini menoleh dan menatap Adelia.
Rasya mulai menggenggam tangan Adelia.
"Ketika aku mendengar kamu telah meninggal sungguh sangat sedih, seolah separuh jiwa ku ikut bersama mu. Aku tak bersemangat menjalani keseharian ku. Jangankan Setelah mendengar kamu telah tiada, sebelum nya pun aku seperti bukan diriku sendiri. Yang harus menikahi gadis yang tidak sama sekali aku cintai. Aku berubah menjadi diriku yang dingin. Hingga setelah aku pikir-pikir. Aku lebih baik mengakhiri rumah tangga yang tidak pernah aku inginkan itu, dan tak ku sangka orangtua nya menyetujuinya dengan mudah. Aku kembali untuk memperjuangkan cinta kita. Aku yakin bahwa kamu masih mencintaiku. Tolong jangan ada yang kamu tutupi semua nya dariku." Rasya mengungkapkan semuanya dengan panjang. Setelah itu Rasya mengecup tangan Adelia yang ia genggam.
Yuda naik pitam melihat semua yang di lakukan Rasya, dan mendengar apa yang dikatakan Rasya. Bahwa Rasya akan memperjuangkan cintanya kembali.
Yuda menarik kerah kemeja Rasya. Rasya melotot tidak mengerti akan Yuda lakukan. Baru saja Rasya ingin membuka mulutnya untuk bertanya, Kepalan bogem Yuda sudah mendarat di wajah tampan Rasya. Rasya pun tersungkur ke lantai.
"Rasya...." Teriak Adelia.
Namun Yuda seperti tidak mendengarkan. Ia terus mendekati Rasya, lalu ia daratkan lagi bogeman nya ke perut Rasya. Rasya meringis.
Rara menarik paksa Yuda yang sedang ingin memukul Rasya kembali. Dengan sekuat tenaga Rara berhasil menjauhkan Yuda dari Rasya.
"Yuda Elu kenapa?." Rara bertanya dengan tangan nya mencekal pergelangan Yuda.
Rasya bangun di bantu oleh Adelia. Adelia terpaksa melepas infusan nya, karena tidak tega melihat Rasya yang tergeletak kesakitan.
Adelia kini menoleh ke arah Yuda dengan tatapan tajam.
"Apa yang kamu lakukan Yuda?. Kamu menyerang Rasya."
"Aku tidak suka dia datang. Dia ingin mendekati kamu Del. Kamu seperti pelampiasan nya saja." Yuda dengan nafas terengah-engah.
Rasya mengerutkan dahinya, merasa heran akan ucapan Yuda kepada nya.
"Hei. Siapa yang akan membuat Adelia menjadi pelampiasan ku?. Anda orang baru. Jadi anda belum tahu tentang kita." Rasya dengan mengusap ujung bibir nya yang berdarah.
Yuda terdiam.
Adelia mengusap bibir Rasya seperti apa yang Rasya baru saja lakukan.
"Apa ini sakit?." Tanya nya.
Rasya menggeleng.
"Lebih sakit jika dirimu bersama orang lain." Tutur Rasya.
__ADS_1
...Bersambung....