
"Lalu tentang bukti yang kamu katakan, apa kamu yakin?." Martin menanyakan tentang bukti ia telah memperkosa Rima.
"Aku Yakin. Karena di dalam photo itu. Kamu bertelanjang bersama Rima." Bisik Adelia.
"Hahh..... " Martin menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Jadi ku mohon kamu harus tetap menikahi dia." Pinta Adelia.
Martin terdiam.
"Kenapa dia mengatakan nya kepada mu, apa kamu tahu alasan nya?." Tanya Martin kemudian.
"Iya dia sengaja tidak mengatakan nya pada mu karena takut kamu tidak percaya, karena pasti kamu tidak akan mengingatnya. Bahkan dia juga merahasiakan nya dari Tante Meli, pikirnya ia takut Tante Meli jadi marah dan kecewa sama kamu."Tutur Adelia, mengatakan apa yang di katakan Rima waktu itu.
"Benarkah?." Tanya Martin meyakinkan.
Adelia mengangguk.
"Aku bingung Del. Aku hanya ingin menikah dengan mu. Tapi kamu malah menyuruh aku untuk menikah dengan nya." Martin prustasi.
"Bukankah kamu akan menikahi aku juga tadi kamu bilang?." Adelia mengingatkan perkataan Martin beberapa menit yang lalu.
Kini Martin menatap Adelia dengan lekat.
"Apa kamu tidak masalah aku madu?." Tanya Martin.
"Tak masalah. Dari pada kamu menghindar dari pertanggung jawaban mu. Aku lebih memilih tidak menikah dengan mu. Aku tidak mau berbahagia di atas penderitaan orang lain." Adelia mengatakan ia siap berbagi suami.
"Apa kamu marah sama aku atas kejadian itu?." Martin ingin memastikan Adelia.
Adelia menatap Mata milik Martin, lalu membuang pandangan nya ke arah lain.
"Jujur aku marah. Bahkan kecewa sama kamu. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa aku lakukan hanya merelakan mu untuk Rima. Aku tidak mau sampai kamu lari dari tanggung jawab mu. Aku mohon.... Jika kamu benar-benar mencintai aku. Lakukan lah...!" Pinta Adelia.
"Apa hati mu sakit, jika kamu harus melihat aku dengan wanita lain?." Tanya Martin lagi.
"Tentu aku sakit. Tapi aku tidak mungkin membiarkan, wanita lain menderita karena ulah mu. Aku akan mencoba berusaha ikhlas." Adelia dengan mulai tersenyum.
Martin bingung. Ia juga tidak mau harus kehilangan Adelia. Tapi Adelia meminta untuk menikahi Rima. Martin juga tidak akan lari dari pertanggung jawaban nya. Mungkin lebih baik Martin akan menikahi kedua nya, bukan berarti Martin sengaja berniat beristri dua. Tapi Martin tidak mungkin hanya menikahi Rima yang harus ia tanggung jawab, Melainkan wanita yang sangat ia cintai Adalah Adelia.
Martin merasa Adelia memang benar-benar berhati baik, Ia peluk Adelia dengan Erat. Martin merasa beruntung memiliki Adelia sebagai kekasihnya, yang berwajah cantik, dan juga berhati baik.
Adelia juga membalas pelukan Martin dengan tidak kalah erat.
"Bagaimana jika sekarang kita temui Rima dan Tante Meli. Kita bicarakan baik-baik tentang apa keputusan mu." Pinta Adelia.
"Ya sudah. Ayo..." Martin pun menurut.
Adelia dan Martin pun pergi keluar menuju mobil Martin. Setelah keduanya masuk. Martin pun dengan cepat melajukan mobil nya menuju rumah yang di tinggali Tante Meli dan Rima.
Sesampainya di sana, Adelia dan Martin pun turun dari mobilnya. Terlihat Ada Indri dan Yuda yang sedang mengobrol dengan Rima di kursi teras depan. Ketiga nya begitu kaget setelah melihat Kedatangan Martin bersama Adelia. Martin menatap dingin ke arah ketiga nya. Beda dengan Adelia yang selalu tersenyum ramah bila bertemu dengan orang yang di kenal nya.
"Hai Del, Hai Martin." Sapa Rima.
"Aku ingin bicara dengan mu." Ucap Martin dingin dengan menggenggam tangan Adelia, lalu masuk ke dalam rumah dengan tangan nya masih menggenggam tangan Adelia.
Rima pun menurut dan ikut masuk dari belakang.
__ADS_1
Yuda dan Indri saling pandang. Lalu mencoba menempelkan kedua telinga mereka ke balik kaca untuk menguping.
Setelah di ruang Tengah Martin pun duduk di sofa, dengan Adelia yang berada di sebelahnya. Rima pun duduk.
Dari Lantai atas Tante Meli melihat ada Martin dan Adelia, ia pun langsung turun melangkah untuk menghampiri mereka.
"Martin, Adelia. kapan kalian datang?." Tanya Tante Meli setelah sampai.
"Baru saja Tante." Jawab Martin.
"Ya sudah Tante mau ambilkan minum untuk kalian." Tante Meli bergegas ingin melangkah menuju dapur.
"Tidak perlu tante. Lebih baik tante duduk di sini bersama kami. Ada yang ingin Martin sampaikan." Cegah Martin kepada Tante Meli.
Rima mendengar itu sudah berpikir bahwa Martin akan menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Teringat Akan ucapan Adelia, yang akan menyerahkan Martin pada dirinya.
Tante Meli pun duduk di Sofa di hadapan Martin dan Adelia.
"Ya sudah. Ayo sampaikan." Suruh Tante Meli.
"Begini Tante, Martin akan menikah dengan Adelia secepatnya." Ucap Martin mencoba memancing reaksi Rima akan seperti apa.
Dan Benar saja Martin melihat Mata Rima melotot seperti kaget. Sebenarnya Martin ragu akan dirinya yang telah melakukan hal apa yang di tuduhkan Rima.
Adelia pun sontak menatap Martin, karena rencana awalnya bukan akan berkata seperti itu.
"Ya Bagus dong. Tante senang mendengar nya. Lalu kapan?. Apakah sudah di tentukan tanggal nya?." Tanya Tante Meli antusias.
"Sudah Tante. Martin sudah mempersiapkan nya." Ucap Martin mantap.
"Syukurlah... Tante senang mendengarnya." Tante Meli dengan tersenyum.
"Tunggu.... Adel, apa kamu belum menceritakan nya kepada Martin?." Tanya Rima kepada Adelia.
"Aku......."
"Apa yang kamu rencana kan Rima?. Aku tahu taktik mu." Martin sudah menyela Adelia yang akan bicara kepada Rima.
"Ada apa Martin?. Rima?." Tante Meli yang kebingungan.
"Tunggu di sini Tante. Martin akan ke kamar dulu." Martin pun bergegas melangkah dengan cepat untuk menuju kamarnya.
Tak lama Martin pun kembali dengan membawa Laptop nya. Ia ketika di jalan menuju rumah nya ia baru mengingat akan ada Kamera Cctv di dalam dan depan pintu kamarnya, hanya kamera nya tidak terlihat nampak. Hanya Martin yang bisa melihat nya.
Martin pun duduk kembali di dekat Adelia. Lalu membuka Laptopnya, membuka File Kamera Cctv yang di maksud tanggal, dan jam yang Martin maksud. Sungguh jelas ketika di depan pintu kamar Martin tiba-tiba pingsan, lalu Rima memapahnya kembali untuk Mengantarkan Martin ke dalam kamar.
Terlihat Martin di baring kan Rima, Lalu wajah Martin Rima elus-elus lalu Rima mengecup bibir milik Martin. Kemudian Terlihat Rima sedang berpikir. Rima dengan cepat mengunci pintu kamar Martin, Lalu melucuti pakaian nya sendiri, setelah itu mengarahkan Kamera ponselnya dan di simpan di atas nakas yang mengarah ke arah Martin yang terbaring, lalu Rima mengaktifkan timer kamera nya. Setelah itu Rima membuka kemeja yang di kenakan Martin, dan Rima berbaring di sebelahnya masuk dalam selimut yang menyelimuti tubuh Martin. Kemudian Tangan Martin ia lingkarkan ke tubuhnya.
Adelia pun sungguh syok setelah melihat rekaman CCtv tersebut. Hampir saja Adelia menyerahkan Martin kepada Rima.
"Rima apa maksud kamu sebenarnya?." Tanya Adelia.
Rima yang belum tahu tentang rekaman cctv tersebut hanya bisa menggeleng.
"Aku tidak mengerti akan maksud kamu Del?." Tanya Rima kembali yang belum mengerti.
"Ada apa ini sebenarnya?." Tante Meli kini bersuara. Sedari tadi hanya memperhatikan Wajah Adelia yang seperti kaget akan Martin perlihatkan dalam Laptop nya.
__ADS_1
"Ma... Aku sudah di perkosa Martin." Ucap Rima. Yang membuat Tante Meli kaget.
Adelia dan Martin kini tersenyum mendengar apa yang di katakan Rima. Adelia kini paham akan Sikap Rima, ternyata Rima berusaha untuk menyingkirkan dirinya.
"Martin apa benar?." Tanya Tante Meli kini kepada Martin.
"Tidak tante." Jawab Martin dengan tersenyum tenang.
"Aku punya buktinya ma..." Rima dengan cepat membuka layar ponselnya, dan membuka fitur galeri. Dan Foto itu ia tunjukkan kepada Tante Meli.
"Ini ma. Buktinya." Rima dengan menunjukkan photo itu kepada Mamanya.
Tante Meli pun melotot dengan kaget.
"Martin punya bukti yang kuat tante. Silahkan tante lihat rekaman ini." Perintah Martin dengan menampilkan layar laptop nya ke hadapan Tante Meli.
Setelah melihat semua adegan-adegan rekaman yang Rima tampilkan dalam Video tersebut. Tante Meli langsung menampar Rima.
"Sudah mama katakan. Kamu Jangan mengejar Martin. Kamu terlalu berobsesi Rima." Ucap Tante Meli setelah menampar Rima.
Rima pun terdiam, akan Mama nya yang menamparnya.
"Maksud tante Apa mengejar Martin?." Kini Martin bertanya akan ucapan Tante Meli tadi.
Tante Meli menghembuskan nafas nya dalam.
" Martin maaf kan Tante. Tante belum mengatakan semua nya pada mu. Bahwa selama Ini Rima begitu sangat mencintai mu, bahkan seperti terobsesi pada mu. Tante sungguh melarang akan perasaan cinta nya pada mu. Karena kalian setidaknya masih sedarah." Ungkap Tante Meli.
Martin mengangguk paham. Kini dugaan nya selama ini benar akan Rima yang seperti menyukai dirinya.
"Rima kenapa kamu lakukan ini pada ku?." Tanya Adelia.
Rima seketika emosi.
"Hah kenapa?. Jelas aku ingin mendapatkan Martin walaupun dengan apapun caranya." Rima dengan menatap tajam Adelia.
Adelia kini paham sifat Rima yang asli seperti ini. Memang dari kemarin Rima bersikap selalu lembut kepada Adelia.
"Kamu tahu akan bukti palsu mu. Aku meminta Martin untuk menikahi mu." Adelia dengan masih tidak percaya dirinya telah di bohongi.
Rima malah tersenyum.
"Aku hampir Saja membenci Martin." Ucap Adelia lagi.
"Sudah Sayang. Sekarang kamu sudah tahu kan yang sebenarnya?. Aku juga hampir akan menikahi dua wanita. Karena Adelia yang meminta ku untuk menikahi mu Rima. Sedari kedekatan kamu dengan Adel, aku sudah menaruh curiga. Kamu seperti merencanakan sesuatu." Tutur Martin.
"Martin, Adelia. Mohon Maafkan Tante yang telah gagal mendidik Rima." Tante Meli mengucapkan Maaf akan kelakuan anaknya.
"Sudah Tante ini bukan kesalahan Tante. Sekarang Martin pamit." Martin dengan cepat menggenggam tangan Adelia dan membawa laptopnya.
Martin dan Adelia setelah di luar berpapasan dengan Yuda dan Indri.
Setelah kepergian Martin dan Adelia, Rima mengamuk dengan menangis histeris akan rencana nya yang gagal saat ini.
Semua benda yang berada di hadapan nya ia lemparkan. Indri dan Yuda pun merasa kaget akan sikap Rima menjadi seperti itu.
...Bersambung....
__ADS_1