
Sore ini di rumah Rasya dalam keadaan ramai. Ba'da ashar Hadi meminta warga sekitar dan sesepuh kampung itu untuk datang hadir di acara do'a bersama. Dengan di bantu Ivan, Damar, dan Beni mempersiapkan tempat dan konsumsi.
Tentu acara ini bukan acara yang membahagiakan, justru acara yang akan di laksanakan ini adalah acara untuk mendo'akan agar Adelia pergi dengan tenang.
Seseorang yang sudah memakai baju koko berwarna putih dengan kopiah hitam di kepalanya masih terduduk dengan menangis di dalam Kamar. Ia masih belum percaya bahwa istrinya sudah meninggal. Entah itu merupakan pirasat seorang suami, atau memang keyakinan hatinya sendiri. Ia masih membantah, kalau istrinya sudah meninggal.
Lia tiba-tiba masuk ke dalam kamar Rasya, karena sedari tadi ia mengetuk pintu, Rasya tidak menyahutinya. Ternyata pantas saja Rasya tidak menyahuti Lia, karena Rasya sedang melamun dengan memeluk photo Adelia. Sungguh sedih bagi Lia menyaksikan putranya seperti itu. Lia perlahan mendekati Rasya, lalu ikut duduk di bibir ranjang di samping Rasya.
"Nak ... sudah jangan seperti ini. Mama juga sedih menerima kenyataan kalau Adelia meninggal. Tapi kamu jangan terus tenggelam dalam kesedihan, kasihan istri kamu disana. Pasti sedih melihat kamu terus menangisinya, dan istri kamu tidak akan tenang," tutur Lia dengan mengusap punggung Rasya dengan lembut. Memberikan kata-kata untuk menenangkan Rasya.
Benarkah begitu? jika aku terus menangisinya, Adelia tidak akan tenang di sana?. Tapi aku belum yakin. Adelia itu masih hidup. Batin Rasya yang setelah mendengar penuturan Lia Mamanya.
Rasya yang tidak ingin Mamanya itu sedih karena Ulahnya. Rasya mencoba mengangguk menuruti apa yang di ucapkan Mamanya tadi.
"Ya sudah mending sekarang kita kedepan. Semua warga yang ingin ikut berdo'a, sudah berdatangan dengan Ustadz dan sesepuh kampung juga," kata Lia mengajak Rasya untuk turut ikut bergabung dengan warga lainnya yang akan melaksanakan tahlilan.
Rasya meletakkan photo Adelia terlebih dahulu, dan mengusap air matanya. Terlihat begitu sembab wajah Rasya, namun tetap masih terlihat tampan. Rasya berdiri dan ikut keluar kamar bersama Mamanya.
Semua warga yang ikut dalam acara tersebut sudah nampak duduk bersila di atas karpet yang sudah di sediakan, dengan di depan para warga berbagai cemilan bahkan kue-kue yang Adelia buat nampak di suguhkan.
Rasya ikut duduk di karpet itu di samping Hadi. Hadi menatap putranya yang baru datang dengan rasa iba. Dan acara pun mulai di laksanakan dengan pembukaan dari Ustadz yang sudah di berikan tugas untuk memimpin do'a tahlil tersebut.
***
Adelia yang baru saja berganti pakaian pasien, yang di bantu Suster sedikit merenung ingin mencoba mengingat-ingat akan siapa dirinya. Namun Adelia ketakutan akan pusing kembali kepalanya. Hingga Adelia mengurungkan niatnya itu, kini Adelia merasa jenuh Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bersandar di sandaran ranjang.
"Akhirnya tubuhku tidak terasa sakit lagi saat bergerak," gumam Adelia dengan senang.
Saat Adelia sudah memposisikan tubuhnya bersandar. Datanglah Dokter yang belum Adelia temui, karena yang datang memang bukan Dokter Sinta yang dari semalam menanganinya. Namun, Dokter lain. Dokter itu datang dengan Albi di belakangnya.
"Selamat sore Nona," sapa Dokter itu.
"Sore Dokter," sapa Adelia balik.
"Perkenalkan Saya Dokter Sarah. Saya adalah Dokter Kandungan. Saya ke sini, untuk mengecek kandungan Nona," ucap Dokter Sarah dan membuat Adelia menatapnya terus.
Adelia terdiam tidak merespon ucapan Dokter Sarah. Sehingga Dokter Sarah menatap Albi untuk memberikan jawaban.
Albi pun mengerti. Albi mulai mendekati Adelia, dan duduk di kursi yang berada di sebelah nya.
"Arumi ... Dokter Sarah ingin memeriksa perut kamu. Boleh, kan?" tanya Albi yang membuat seketika Adelia mengangguk.
__ADS_1
Dokter Sarah tersenyum, Ia lupa bahwa Pasien yang akan di periksanya kini tengah amnesia. Jadi Pasien nya tidak merespon saat di bilang ingin mengecek kandungan nya.
Dokter itu pun mulai memeriksa perut Adelia menggunakan stetoskop. Dan mengangguk membenarkan atas apa yang di duga Dokter Sinta bahwa Pasien ini tengah hamil.
"Mas, besok bawa Nona ini ke bagian Poly Kandungan ya, untuk memastikan janin di dalam perutnya melalui USG."
"Baik Dokter, terima kasih."
"Kalau begitu saya Permisi," pamit Dokter Sarah dan pergi berlalu keluar dari rawat inap Adelia.
Kini Albi menatap Adelia. Dan Adelia yang di tatap menatap Albi kembali.
"Tuan, apa maksudnya kandungan itu?"
"Em ... Arumi, di dalam perutmu Ada bayinya," kata Albi langsung menjelaskan tanpa mengambil kata-kata yang susah.
"Ada bayinya? di perut saya ini?"
"iya"
"Lalu kenapa bisa?" tanya Adelia dengan antusias.
"Bisa. Karena kamu telah menikah," ucap Albi. Albi yakin bahwa wanita yang di depannya telah menikah terlihat dari cincin yang dikenakan Adelia.
"Saya menikah?" tanya Adelia.
Albi baru saja ingin membuka suara untuk menjawab pertanyaan Adelia namun, ia urungkan karena ada panggilan masuk pada ponselnya.
"Maaf Arumi. Saya mengangkat dulu telepon ya," kata Albi kemudian keluar dari rawat inap Adelia.
Albi menghela nafas dengan dalam sebelum mengangkat telepon nya itu.
"Hallo Ma ...." sapa Albi pada orang di sebrang telepon.
"Albian kapan kamu pulang Nak?" tanya seseorang yang di panggil Mama oleh Albian.
"Semingguan lagi Ma. Ada apa memang?" tanya Albi khawatir.
"Sayang, kapan kamu akan memenuhi permintaan Mama mu yang sudah tua ini? bukannya kamu akan menentukan sendiri, hm?" tanya Mama Albi.
Kenapa sih yang Mama tanyakan hanya itu saja? pasangan, pacar, calon istri?. Batin Albi sebelum berbicara kembali pada Mamanya.
__ADS_1
"Secepatnya Ma, Albi akan membawanya kehadapan Mama. Dan Mama tidak boleh menolak tentang wanita yang Albi pilih," kata Albi.
What gue ngomong apalagi? secepatnya?. Batin Albi merutuki mulutnya yang refleks berbicara kepada Mamanya.
"Ok Mama akan menunggumu. Kalau kamu tidak datang dengan wanita pilihan mu, jangan salahkan Mama yang akan memilih wanita untukmu," ucap Mama Albi mengancam.
"Iya-iya. Sudah dulu ya Ma, nanti Albi telepon kembali," ucap Albi dan langsung menutup sambungan teleponnya sepihak.
Albi menghela nafas setelah menyelesaikan pembicaraannya. Albi bingung akan ucapan nya tadi. Bagaimana bisa ia akan membawa wanita yang dipilihnya kehadapan Mamanya itu, sedangkan selama ini Albi tidak pernah dekat dengan yang bernama wanita. Ia hanya kerja dan kerja. Sungguh usia mudanya ia habiskan dengan bekerja. Hingga tidak ada ketertarikan untuk memilih, mencari, atau mendekat dengan yang namanya wanita.
"Bagaimana ini?" gumam Albi bermonolog.
"Arman, Dirga, belum bangun sepertinya. Aku harus meminta saran dan pendapatnya." gumam Albi kembali.
Albi akhirnya melangkah pergi untuk menemui kedua temannya itu untuk menceritakan apa yang baru saja ia katakan kepada Mamanya. Sampai Albi sudah berada di depan Mushola, dan terlihat kedua teman nya itu masih tertidur pulas dengan saling memunggungi.
Albi membuka alas kakinya terlebih dahulu, dan bergegas masuk kedalam Mushola itu untuk membangunkan kedua temannya.
"Woi bangun!!"
"Arman bangun!!"
"Dirga bangun!!!"
Namun kedua temannya tidak terusik. Tak ada tanda-tanda mereka akan terbangun. Ailbi tak menyerah ia akan memilih kata-kata lain untuk membangunkan kedua temannya itu.
"Kebakaran ... kebakaran ...."
Sontak Arman dan Dirga terbangun dengan langsung mendudukkan tubuhnya.
"Dimana?"
"Kebakaran dimana?"
Kata mereka berdua bersamaan. Namun Albi yang ditanya malah santai merebahkan tubuhnya di lantai Mushola itu.
"Eh ... kita di kerjain ternyata," ucap Arman setelah sadar.
"Kalian cuci muka dulu. Gue ada pembicaraan serius sama kalian berdua," titah Albi.
"Ok!!" kata Arman dan Dirga kompak dan berdiri langsung lalu bergegas menuju toilet Mushola untuk mencuci muka.
__ADS_1
...Bersambung....