
"Kalau gitu tante pulang ya Del." Ucap Lia pamit, dengan memeluk Adelia.
"Iya tante," Jawab Adelia yang di peluk Lia.
"Serly pamit ya kak." Pamit Serly.
Lia dan Serly sudah lebih dulu melangkah keluar. Namun Ariyanti sengaja ia menunggu Serly dan Lia untuk terlebih dahulu keluar.
Kini Ariyanti pamit, dengan mencoba memeluk Adelia.
"Kamu tak usah membohongi perasaan mu Del, aku tahu kamu sangat mencintai Rasya. Tapi kamu harus ikhlaskan Rasya untuk ku." Ariyanti berbisik dengan masih memeluk Adelia.
Adelia sedikit gugup, karena Ariyanti tiba-tiba berbisik seperti itu.
Martin tidak mengetahui, karena ia sedang menerima telpon dari seseorang.
Ariyanti pun melepaskan pelukan nya, dan kini menatap Adelia dengan senyum menyeringai.
"Aku pastikan dia akan secepatnya mencintai ku." Ariyanti dengan menyunggingkan bibirnya. Dan berlalu keluar.
Serly yang sudah lama menunggu di dalam mobil, heran terhadap Ariyanti yang baru saja datang. Lia nampak biasa saja, namun teringat akan sikap Adelia yang tiba-tiba murung dan mata nya yang berkaca-kaca, ia jadi bingung sendiri.
Serly pun dengan cepat melajukan mobil nya, ketika di belokan mobil Serly berpapasan dengan Rara yang sedang mengendarai motornya, Serly pun mengelakson tanda menyapa Rara, Rara pun balik mengelakson tanda ia menjawab sapaan Serly.
Setelah kepergian Lia Mama Rasya, dan Serly juga Ariyanti. Adelia kini merenung menahan sesak di dada nya.
Sedangkan Martin masih di sibukkan dengan telpon nya.
Rara yang sudah sampai, langsung masuk ke dalam Toko, dan agak melotot karena melihat Adelia wajahnya sendu, dan matanya berkaca-kaca.
Rara pun cepat-cepat menaruh semua barang belanjaan nya, dan berpapasan dengan Martin yang sudah dari belakang arah dapur.
"Sudah pada pulang?." Tanya Martin ke Adelia, Sesampainya di Ruang tengah.
Namun Adelia seakan tidak mendengar, karena memang ia tengah sedang melamun.
Martin pun mengernyitkan dahi nya, karena tidak ada jawaban dari Adelia.
Martin pun melangkah mendekati Adelia, di lambai-lambaikan tangan nya di hadapan Adelia, san Adelia pun tidak bergeming.
"Pantes saja, gak jawab. Ternyata lagi ngelamun." Martin dengan mulai tersenyum jahil.
Martin pun duduk di sebelah Adelia, tangan nya mulai terangkat memulai aksi jahilnya.
Martin menyingkap kan rambut Adelia yang terurai, terlihat leher jenjang Adelia yang putih dan mulus, yang membuat Hasrat Martin tiba-tiba naik.
Martin pun lebih mendekat, dan bibirnya kini menyusuri leher milik Adelia.
Adelia yang sedang melamun pun tersentak kaget, namun mata nya ia pejamkan, merasakan hasrat yang kini mulai menjalar ke tubuhnya.
Martin tersenyum karena Adelia merespon aksi jahil bibir nya. Martin pun meneruskan aksi nya, sampai naik ke telinga Adelia ia telusuri.
Sampai Martin tak sadar akan tempat ia berada.
Adelia pun melenguh, dan Meracau mengeluarkan rasa nikmat yang Martin beri.
"Ah Cukup Rasya, aku gak kuat....!."
Suara Adelia yang Meracau dengan mengucapkan nama Rasya. Dan mata nya yang terpejam.
Adelia sendiri tak menyadari ucapan nya, karena kini ia sedang membayangkan Rasya yang melakukan nya.
Mungkin karena kejadian kemarin, Adelia belum bisa melupakan.
Seketika Aksi Martin terhenti, kini matanya melotot memerah, tatapan hasrat kini berubah menjadi tatapan marah.
Ketika Adelia bersuara dengan mengucapkan nama Rasya.
Ia jadi teringat akan tanda merah yang kemarin ia temui di leher Adelia yang kini telah memudar.
"Adelia...!!!" Martin memanggil nama Adelia dengan keras.
Adelia pun sontak kaget, dan membuka matanya. Menatap Martin yang kini tengah menatap nya dengan marah.
"Martin." Jawab Adelia dengan nafas yang tersengal.
"Apa yang kamu lakukan dengan Dia.? di belakang ku." Tanya Martin dengan suara meninggi.
"Apa maksud kamu Martin?. Aku tidak mengerti." Adelia dengan bingung akan pertanyaan Martin.
"Apa kamu sadar, tadi yang menciumi leher mu siapa?." Tanya Martin lekat menatap mata Adelia.
"Ka kamu." Jawab Adelia sedikit takut.
"Terus tadi ketika kamu menikmati nya, kamu sadar siapa yang kamu panggil?." Martin matanya terus melotot.
Adelia pun bingung, akan tadi ia memanggil siapa.
Adelia diam. Malah kini mencari tahu apa penyebab Martin bersuara tinggi, dan berwajah marah.
Adelia tersentak kaget, karena tadi ia membayangkan yang melakukan nya adalah Rasya. Apa mungkin tadi ia Meracau, mengatakan nama Rasya, bagaimana ini pikirnya.
"Kenapa kamu diam?" Martin bertanya kembali dengan suara nya yang masih tinggi.
Rara datang karena tadi kaget mendengar Martin seperti sedang berteriak.
Ia menyelesaikan terlebih dahulu barang-barang yang di belinya.
__ADS_1
"Martin, Adel ada apa?." Tanya Rara dengan bingung melihat wajah Martin yang sedang marah, dan wajah Adelia yang tengah ketakutan.
"Ini bukan urusan mu!". Martin ketus menjawab.
"Ada masalah? bereskan di tempat lain. Di sini malu, takut ada pembeli." Rara menyuruh Martin dan Adelia menyelesaikan masalah nya di tempat lain.
Martin pun dengan cepat menarik tangan Adelia, untuk menaiki tangga menuju kamar Adelia berada.
"Auw... Martin pelan-pelan, sakit." Adelia merintih karena tangan nya di tarik paksa Martin.
Martin tidak mendengarkan, ia malah dengan cepat melangkah.
Setibanya di kamar, Adelia Di dorong ke atas kasur dengan kasar.
Adelia benar-benar ketakutan, Martin marahnya seperti ke setanan.
"Ayo katakan, apa yang kamu lakukan di belakang ku!."
Martin terus mendesak agar Adelia mengatakan yang sesungguhnya.
"Tidak Martin. Aku tidak melakukan apa-apa." Adelia mulai menangis karena takut.
Tidak mungkin ia mengatakan yang sesungguh nya.
"Jujur Adelia. Aku tidak suka di bohongi." Martin kini bersuara normal.
"Aku tahu, kamu masih ada perasaan terhadap Dia. Aku tahu ketika kamu tadi menerima undangan pun kamu bersedih, dan tanda merah yang ada di leher mu pun aku tahu siapa yang telah memberikan nya." Martin meluapkan
Adelia yang baru mau membuka mulutnya untuk berbicara, Martin sudah mendahului nya.
"Sudah aku tahu kamu tidak akan mengatakan apapun pada ku. Namun dari sekarang Cobalah Cintai dan Hargai orang yang benar-benar mencintaimu, memperjuangkan mu, bahkan menyayangi mu. Jangan terlalu larut dalam masa lalu, lupakan lah dia, dia akan menjadi suami orang lain. Jika dia benar-benar mencintai mu dia akan berjuang untuk mempertahankan mu.
Cobalah dari sekarang Cintai aku Sepenuh Hati mu Adelia." Martin mulai suaranya melemah, karena menyesal telah membuat Adelia ketakutan dan menangis.
Adelia masih menangis, dia merutuki kebodohan nya.
Kata-kata Martin benar, jika Rasya benar-benar mencintainya ia akan berjuang mempertahankan dirinya.
Dan kini Adelia sadar, Martin mencintainya, menyayangi nya, memperjuangkan nya, sampai Adelia pun jatuh cinta, hanya setengah hatinya masih mencintai Rasya.
Martin mendekat dan merangkul Adelia, mengusap air mata yang di pipi Adelia.
"Maaf, aku telah kasar, membuat mu ketakutan, membuat mu menangis, Maaf kan aku." Martin memeluk Adelia dengan rasa bersalah.
Adelia pun mengangguk dan menjawab pelukan Martin.
Beberapa menit mereka berpelukan.
Martin pun melepaskan pelukan nya, dan kini menatap mata Adelia yang sembab.
"Maaf, mata kamu sembab karena aku." Martin seraya menciumi kedua mata Adelia.
Kini Martin melirik ke bibir Adelia, dengan cepat Martin menyentuh bibir Adelia dengan bibir milik nya.
Adelia pun membiarkan, malah Adelia dengan cepat merespon dengan menggerakan bibir miliknya, seperti menyambut kedatangan bibir Martin yang menyentuh bibirnya.
Mereka berciuman dengan dalam, mengeluarkan rasa hasrat yang tadi sempat tertahan karena Marah nya Martin.
Martin mulai memasukan lidahnya ke mulut Adelia, dengan cepat Adelia pun melakukan yang sama. Lidah mereka kini membelit satu sama lain.
Serasa ke habisan nafas, Martin menyudahi ciuman nya.
Dengan menempelkan keningnya ke kening Adelia.
Mata mereka masih terpejam, masih merasakan deru nafas masing-masing yang memburu.
Adelia mulai membuka matanya.
Menatap Martin yang masih menempelkan kening nya.
Adelia tersenyum, dan dengan cepat ia memeluk Martin dengan erat.
"Del... Lu...
Mata Rara melotot ketika membuka pintu kamar Adelia tengah berpelukan dengan Martin.
"Tadi Kaya mau perang, eh sekarang kaya Romeo dan Juliet."
Suara Rara sontak membuat Adelia melepaskan pelukan nya.
Martin pun dengan cepat menoleh ke Arah Rara.
"Sorry, gue ke sini ganggu ya." Rara dengan cengengesan.
"Ada apa Ra?" Tanya Adelia.
"Oh iya itu di bawah ada bu Rosy sama Anak nya yang ganteng itu, mungkin mau pesan kue sama lu." Ucap Rara menyampaikan kedatangan nya ke kamar itu untuk menemui Adelia.
"Bu Rosy, sama Reyhan?" Tanya Adelia memastikan.
"Iya, gue lupa lagi namanya." Jawab Rara.
"Reyhan?." Kini Martin berbicara dengan menyebutkan nama anak Bu Rosy.
"Iya, apa kamu kenal?." Tanya Adelia kini ke Martin.
"Aku akan temui dia." Ucap Martin dengan melangkah.
__ADS_1
Adelia sontak kaget, takut Martin salah sangka. Kecemburuan nya takut datang lagi.
Adelia pun langsung menyusul, dan di buntuti Rara dari belakang.
Martin sudah sampai di ujung Anak tangga, kini matanya menoleh ke sofa yang seseorang sedang terduduk.
Martin mengenal dari cara duduknya, ia pikir sudah tak salah lagi Reyhan yang di maksud adalah benar-benar sahabat nya dulu.
Martin langsung mendekat ke arah sofa.
"Rey...."
Reyhan pun dengan cepat mendongak.
Dan matanya melotot melihat Martin yang berdiri di depan nya dengan tersenyum.
"Martin..."
Mereka berpelukan menumpahkan rasa rindu, yang dua tahun lamanya tidak bertemu .
Adelia pun mematung sesampainya melihat Martin berpelukan dengan Reyhan.
Rara pun ikut berdiri diam disebelah Adelia.
"Gimana kabar nya Bro?" Tanya Martin dan duduk di sofa sebelah Reyhan.
"Baik, Lu sendiri gimana?" Reyhan menjawab, dan bertanya kembali kepada Martin.
"Baik." Martin tersenyum, dan kini matanya menoleh Adelia dan Rara yang berdiri mematung.
Reyhan pun mengikuti apa yang Mata Martin lihat.
Reyhan tercengang dengan keberadaan Adelia.
"Sini..." Suruh Martin ke Adelia untuk mendekatinya.
Adelia pun melangkah dan mendekat.
Ikut duduk di sebelah Martin.
"Rey, ingat gak pas waktu kuliah. hemmm...??" Tanya Martin ke Reyhan.
"Ya tentu gue ingat." Jawab Reyhan dengan tersenyum.
Sedangkan Adelia yang menjadi bahan pertanyaan antara Martin dan Reyhan mengerutkan Kening nya.
"Sayang, kamu itu perusak persahabatan kami." Ujar Martin menggoda Adelia.
Mendengar Martin mengatakan Sayang ke Adelia, Reyhan sudah menyangka Martin berada di sini, pasti sudah mendapatkan Adelia.
Sedangkan Adelia nampak bingung.
"Apa?." Adelia melirik Martin, dan melirik kepada Reyhan dengan bingung.
"Martin, Please. Jangan di katakan Gue malu." Reyhan mencegah Martin untuk mengatakan semuanya tentang dirinya.
"Haha.... Sekarang Lu malu?." Tanya Martin tertawa.
Tiba-tiba Ibu Rosy yang sedari tadi sedang memilih kue datang menghampiri.
Namun begitu kaget melihat Martin ada di sini.
"Martin.."
Martin pun menoleh, dan tersenyum melihat Bu Rosy menghampiri.
"Tante... apa kabar?." Martin menyalami Bu Rosy.
"Baik, Loh koq bisa ada di sini?. terus udah lama juga kita gak ketemu." Bu Rosy seraya duduk di sofa kosong.
Bu Rosy kini menatap Adelia dengan tersenyum hangat.
"Baik tante, Lagi main aja. Iya karena sehabis selesai kuliah Martin ke Luar Negeri. Dan Rumah Tante pindah bukan?" Ucap Martin.
"Beli kue juga?. Iya memang Rumah kita pindah sekarang." Bu Rosy menyangka Martin Ada di Sini membeli kue juga seperti dirinya.
"Bukan tante". Martin kini tersenyum menoleh ke arah Adelia.
Rara datang membawa kan minuman, dan ia pun ikut duduk di sebelah Bu Rosy.
"Silahkan di minum." Ucap Rara.
"Ah iya nak Ra", Kata Bu Rosy.
"Eh Rey, Lu kerja nerusin perusahaan Om kan?" Martin kini bertanya tentang Reyhan.
"Iya. Gimana lagi orang gue anak satu-satu nya" Reyhan dengan mulai meminum minuman yang Rara suguhkan.
"Elu masih ngelola Cafe?". Reyhan bertanya kembali
"Iya masih, Dan sekarang udah nambah cabang nya." Ucap Martin.
"Wah bagus dong, Tante bangga. Terus udah punya calon istri belum?. secara kamu sudah mapan harusnya dengan cepat kamu mencari pendamping hidup, jangan kaya Reyhan jomblo aja. Tapi tante berencana mau menjodoh kan nya." Bu Rosy berbicara dengan banyak.
"Tentu sudah punya tante, wah masa iya Reyhan jomblo terus?"
Martin mengatakan ia sudah mempunyai calon istri, namun seketika meledek Reyhan yang menjomblo terus.
__ADS_1
...Bersambung...