You Are My Mine

You Are My Mine
Sehari Bersama Rasya


__ADS_3

Adelia setelah mengobrol di telpon bersama Rasya, kembali turun ke lantai bawah.


Ternyata Rima masih ada di sana yang mengobrol dengan Rara.


Adelia pun ikut bergabung dan duduk di sofa yang kosong.


"Udah ngobrol nya?" Tanya Rara menoleh ke Adelia.


Adelia menjawab dengan mengangguk.


"Emang ngobrol sama siapa?". Kini Rima yang bertanya pura-pura tidak tahu yang menelpon Adelia, padahal ia tadi sudah melihat nama nya di ponsel Adelia.


"Teman". Kata Adelia denga tersenyum.


"Teman dari SD, sampai sekarang ya Del?". Tanya Rara berbasa basi, dengan mengedipkan mata agar Rima tidak salah paham maksudnya


"Iya, Aku dari SD sudah berteman dengan dia. Bahkan sampai sekarang. Dia teman yang selalu ada di waktu suka dan duka Ra, sampai aku yang sedang merasakan kepahitan harus di tinggal keluarga tiada, ia selalu hadir menghibur dan membantu, begitu pun keluarga nya yang selalu baik kepada ku". Adelia menceritakan nya dengan membayang kan Sosok Rasya yang memang selalu ada untuknya.


Rima mendengarnya terdiam.


Rara merangkul karena terharu.


"Terus kapan nikah nya?". Tanya Rara tentang pernikahan Rasya.


"Dua minggu lagi". Ucap Adelia.


Rara pun manggut-manggut.


Rima yang tadi nya berpikir bahwa Adelia selingkuh dari Martin kini ia mengerti bahwa Adelia dan Rasya hanya berteman.


"Del, Ra. Aku pamit pulang ya. besok aku main lagi". Pamit Rima.


"Ya udah Rim, udah malam juga kasihan tante Meli sendirian". Ujar Adelia.


"Iya Del, ya udah aku pulang ya.. Bye..". Rima berpamitan kepada Adelia dan Rara.


Rima pun berlalu pergi dengan menyetir mobilnya.


Rara pun menutup dan mengunci Rolling dor Toko Kue nya.


Adelia pun sudah berada di dalam kamar, dan tak lama Rara pun datang.


Adelia membaringkan tubuhnya, begitu pun Rara.


Adelia dengan cepat terlelap, Rara pun menyusul Adelia yang sudah terlelap.


..............................


Sinar Pagi telah memancar kan cahaya nya, membangun kan setiap jiwa yang akan memulai beraktivitas nya.


Mulai yang akan pergi bekerja, bersekolah, dan bekerja di dalam rumah.


Adelia pun terbangun dan bergegas mandi, dan memakai Dress yang bermotif bunga-bunga selutut, dengan berlengan panjang.


Adelia mulai memoleskan make-up ke wajahnya di depan cermin riasnya, semakin bertambah saja cantik nya. Dan menyisir rambutnya yang memang sudah lurus.


Rara baru terbangun, merasa aneh melihat Adelia pagi pagi yang sudah terlihat rapi dan berdandan.


"Del Lu mau kemana?". Tanya Rara.


"Aku, gak mau kemana-mana Ra". Kata Adelia, dan pergi berlalu meninggalkan kamar takut Rara banyak bertanya.


Rara pun bergegas masuk kamar mandi.


Adelia yang sudah di bawah seperti biasa ia menyapu terlebih dahulu dan mengepel, setelah itu membuka Rolling dor Toko kue nya.


Sebelum ada pembeli, Adelia pun bergegas ke dapur ia ingin memasak untuk sarapan nya bersama Rara.


Rara pun turun dengan seperti biasa, takjub melihat hasil Pekerjaan Adelia yang cepat dan bersih. Rara berpikir atau memang dirinya yang mandi terlalu lama.


Rara pun menuju dapur, terlihat Adelia sudah menuangkan nasi goreng dengan menuangkan nya ke atas dua piring.


"Pasti yang satu buat gue kan?" Tanya Rara yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Bukan Ra, ini buat tetangga sebelah" Ucap Adelia dengan menyodorkan piring itu ke depan Rara.


"Berarti gue ya tetangga nya.haha....". Ujar Rara dengan mulai menyendok Nasi goreng nya.


Adelia pun hanya tersenyum, dan mulai menyuapkan makanan nya.


"Duh gue kenyang". Ujar Rara dengan bersendawa.


"Makasih ya Adelia cantik". Ucap Rara merangkul Adelia yang sudah selesai dengan makan nya.


Adelia dan Rara berjalan menuju Ruang tengah, dan mulai duduk di sofa seperti biasa nya jika menunggu pembeli.


Tak lama seseorang masuk, dengan membuka pintu kaca toko Kue Adelia.


"Permisi"


Adelia dan Rara pun menoleh, di lihatnya Serly tersenyum dengan melangkah mendekati Adelia dan Rara.


"Hai kak Ra, kak Adel apa kabar?" Tanya Serly menyapa.


"Kami baik Ser". Ucap Adelia.


"Kamu mau beli kue?" Sekarang Rara yang bertanya.


"Enggak, aku mau kak Adel membuat kue". Ucap Serly.


"Maksud nya?" Tanya Rara.


"Kak Adel, di minta mama untuk membuat kue di rumah. kak Adel mau kan?". Serly seraya dengan mengedipkan sebelah matanya ke Adelia.

__ADS_1


Adelia terdiam sejenak, namun seketika mengerti dengan Isyarat Serly.


Adelia berpikir pasti Serly di suruh Rasya.


"Iya kak Adel pasti mau Ser". Ujar Adelia.


"Ya udah ayo, kak. Sekarang juga". Pinta Serly.


Adelia melirik ke arah Rara, Rara pun mengangguk.


"Ya udah, kakak bawa tas dulu yaa..". Ucap Adelia dan berlalu menaiki tangga untuk mengambil tas di kamar nya.


Serly pun menuju mobil nya, dan menunggu Adelia di dalam mobil nya.


Adelia pun datang, dan masuk duduk di sebelah Serly yang akan menyetir.


"Serly.. Apa benar tante Lia menyuruh kak Adel untuk membuat kue di rumah?". Tanya Adelia memastikan.


"Kak, sebenarnya Serly di suruh kak Rasya". Ucap Serly.


"Jadi Rasya menyuruh kamu?". Tanya Adelia


Serly pun mengangguk.


Dan Adelia pun terdiam.


"Ayo kak, Kak Rasya pasti sedang menunggu kakak". Serly dengan mulai melajukan mobil nya.


Adelia pun terdiam saja, bahkan kini hatinya kini tak tenang merasa berkhianat kepada Martin, namun seketika pikiran nya menepis ini hanya satu hari pikirnya, tak akan membuat Martin tahu.


Tak terasa Serly membawa Adelia ke suatu tempat yang agak jauh dari pusat kota, Serly membawa Adelia ke sebuah Vila yang di pinggir pantai.


Adelia dan Serly pun turun.


Serly tersenyum ke arah Adelia.


"Kak, Serly tinggal ya. Tuh Kak Rasya sudah menunggu kakak". Serly pamit, dan menunjuk Rasya yang sedang berdiri tersenyum.


Adelia pun mengangguk.


Serly pun telah pergi berlalu dengan mengendarai mobil nya.


Kini Tinggal Adelia yang sedari tadi berdiri mematung, ia gugup untuk berhadapan dengan Rasya.


Rasya berjalan melangkah mendekati Adelia yang berdiri mematung di tempatnya.


Rasya tersenyum dan mulai menggenggam tangan Adelia, Adelia melirik tangan nya yang sudah Rasya genggam.


Adelia pun tersenyum kembali ke arah Rasya.


"Yuk, kita kesana". Ajak Rasya kepada Adelia,dengan menunjuk Vila kecil namun Elit.


Adelia pun mengangguk.


Rasya berjalan dengan terus menggenggam tangan Adelia.


Kini langkah Rasya dan Adelia terhenti kala sudah berada di dalam Vila tersebut.


Rasya mendudukan tubuhnya di Sofa, dan menepuk sisi sebelah nya agar Adelia ikut duduk di samping nya,Adelia pun menurut.


Rasya sekarang memandangi wajah Adelia dengan begitu dekat setelah Adelia duduk di samping nya.


"Kamu semakin cantik". Ucap Rasya kini bersuara.


Pipi Adelia seketika memerah karena malu atas pujian Rasya.


Rasya tersenyum, dan membelai pipi dan rambut Adelia.


"Kenapa diam saja?". Tanya Rasya.


Adelia hanya menjawab dengan menggeleng.


Rasya kini mengecup kening Adelia dengan lama.


Adelia yang merasakan kecupan Rasya, seakan tersengat setrum, tubuhnya langsung memberikan reaksi aneh.


Rasya menempelkan keningnya dengan kening Adelia.


Sontak hembusan nafas kedua nya beradu.


Rasya yang masih keningnya menempel, menatap Adelia dengan tersenyum.


Tatapan nya mulai turun ke arah bibir milik Adelia, Rasya seakan candu melihatnya, bahkan sekarang ia ingin merasakan lagi.


Namun Seketika Rasya menjauhkan wajahnya.


Rasya tidak mau mengulangi sikapnya yang lancang kembali dengan mencium Adelia seperti waktu itu.


Rasya kini menegak kan duduknya.


"Sudah Sarapan?" Tanya nya kepada Adelia.


"Sudah". Jawab Adelia.


"Mau berenang?" Tanya nya


"Enggak deh, aku gak bawa baju ganti soalnya". Ucap Adelia.


"Kamu yakin akan memenuhi permintaan ku ini?". Tanya Rasya yang sorot matanya memandang penuh cinta.


"Iya". Jawab Adelia.


"Termasuk aku ingin........

__ADS_1


Rasya terdiam sejenak, merasa malu untuk mengatakan nya.


"Ingin apa?". Adelia bertanya dengan memandang kembali Rasya,yang sedari tadi memandang nya.


"Aku ingin mencium kamu". Ucap Rasya dengan wajah penuh hasrat.


Adelia terdiam, Adelia yang sensitif jujur sedari tadi Rasya yang sudah mencium kening nya, Adelia bereaksi lebih, bahkan menginginkan Rasya mencium kembali. tapi tidak mungkin ia utarakan kepada Rasya.


Adelia pun mengangguk.


"Benarkah?" Tanya Rasya memastikan.


"Kamu sekarang menanyakan. Bagaimana dengan kejadian yang sudah dua kali yang kamu lakukan, apa kamu bertanya terlebih dahulu, tidak kan?". Adelia mengungkit Rasya yang waktu itu lancang kepadanya.


"Hehe maaf Del, Aku tergoda. bahkan seakan magnet bila melihat bibir kamu yang pernah aku sentuh dengan bibir ku. Sumpah aku hanya melakukan itu hanya sama kamu". Ucap Rasya dengan mencium tangan Adelia dengan lembut.


Adelia tersenyum.


"Kamu nakal ya?" Adelia dengan memanyunkan bibirnya.


"Aku nakal hanya sama kamu". Ucap Rasya yang mulai merangkul Adelia untuk ia peluk.


"Ehmmm... gitu?" Adelia mendongak yang sudah berada di pelukan Rasya.


Rasya pun menunduk dan mengangguk.


Seketika pandangan Rasya dan Adelia terkunci, Rasya mulai mendekatkan wajahnya, dan mulai menempelkan bibir miliknya ke bibir milik Adelia, Adelia pun seketika menutup matanya merasakan yang kini Rasya salurkan lewat bibirnya.


Rasya mulai memperdalam ciuman nya, dengan lidahnya yang sudah menyatu dengan lidah milik Adelia.


Adelia seakan terbang ke nirwana di buatnya kini tangan nya ia kalungkan ke leher Rasya.


Rasya pun tangan nya sudah nakal, meraba apa yang ia raba, kini bibir Rasya turun ke leher Adelia dengan terus melu**t leher milik Adelia.


Adelia pun menggelinjang, sampai Adelia terbaring di buatnya.


Rasya terus bermain di area leher Adelia dengan menggunakan bibirnya sesekali dengan lidahnya.


Adelia meremas kepala Rasya, Adelia merasakan sekujur tubuhnya panas.


"Ah Rasya... " Adelia meracau memanggil nama Rasya.


Rasya yang mendengar seakan bertambah hasratnya, kini Adelia ia pangku untuk berpindah tempat.


Rasya membawa Adelia ke sebuah kamar, dan Adelia pun ia baringkan dengan matanya yang masih terpejam menahan hasrat.


Rasya kini mulai membuka kemeja nya, dan membuang nya ke sembarang arah.


Kini Tubuh Adelia berada di bawah Kungkungan tubuh Rasya, Rasya menyingkap kan Dress yang di pakai Adelia, ia mulai ******* paha dan kaki Adelia.


Adelia pun sampai menggelinjang ke kiri dan ke kanan di buatnya.


"Ah Rasya... Sudah Cukup, Aku gak kuat" Ucap Adelia dengan Suara parau penuh hasrat.


Rasya pun tersenyum, ia juga merasakan sesuatu yang berada di tubuhnya memberontak.


Rasya pun menghentikan aksinya.


Dan kini menatap Adelia yang masih terpejam.


Rasya pun membaringkan tubuh nya di samping Adelia. Dengan nafas nya yang masih tersengal.


Adelia membuka matanya setelah tidak ada pergerakan sentuhan dari Rasya.


Adelia menoleh ke arah Rasya, yang memejamkan matanya.


Nafas Adelia seakan memburu.


Ia kini merasa haus.


Namun tidak terlihat ada air minum di kamar itu.


"Rasya" Adelia menyapa Rasya yang matanya masih terpejam.


"Hemmm..." Jawabnya.


"Aku haus" Ucap Adelia.


Rasya pun membuka matanya, dan menatap Adelia dengan tubuhnya yang menyamping ke arah Adelia.


"Kamu haus sayang?" Tanya Rasya.


"Iya, ini karena kamu". Ujar Adelia


Rasya tersenyum, dan merangkul Adelia ke pelukan nya dengan posisi berbaring.


"Seandainya kamu yang nikah sama aku. Kamu sudah aku buat tidak bisa berdiri,dan tidak bisa melangkah" Ucap Rasya.


"Kenapa harus aku?. bukan kah nanti istri mu juga akan memberikan hak nya" Adelia menatap Rasya lekat.


"Dia?. aku sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya apalagi untuk menyentuhnya. Aku hanya ingin menyentuh kamu Del, hanya kamu. Seandainya kamu memberikan milik mu untuk aku, aku dengan senang hati akan menerimanya." Tutur Rasya dengan mencium kening Adelia dengan lembut.


"Mimpi aja" Adelia mencebikkan bibirnya meledek Rasya.


"Ya pasti hanya mimpi, karena nanti yang akan memiliki kamu bukan aku, tapi kekasih mu. Tapi aku tidak menyesal asal aku sudah merasakan apa yang aku mau seperti tadi, hehee...". Ucap Rasya dengan menyengir.


Adelia pun mencubit Pinggang Rasya, seperti kebiasaan nya dengan Martin jika gemas ia selalu repleks. Rasya mengaduh, dan menangkap tangan Adelia yang telah mencubitnya.


Seketika Rasya beradu pandang.


Namun cepat-cepat Adelia berlalu pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur itu.


Rasya tersenyum, berharap hari ini adalah hari-hari yang akan datang dengan selalu bersama Adelia.

__ADS_1


Namun Rasya cukup bersyukur dengan Adelia yang mau menemaninya untuk satu hari ini.


...Bersambung....................


__ADS_2