You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 154.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan malam, Adelia kini sedang membantu Albi mengemas barang-barang di dalam kamar. Adelia mengemas barang-barang milik Albi ke dalam sebuah koper yang lumayan besar. Adelia memasukkan beberapa stel pakaian untuk Albi di kenakan saat berada di Pulau K, dan Adelia tidak lupa memasukkan berbagai alat mandi untuk Albi tersebut.


Setelah merasa cukup dengan semua kebutuhan Albi. Adelia menutup resleting kopernya. Dan Adelia duduk santai menunggu Albi mandi. Karena Adelia pun ingin berniat mandi.


Tak lama Albi keluar dari arah ruang ganti dengan sudah memakai piyama yang Adelia siapkan.


"Sudah selesai?" tanya Albi saat menatap koper miliknya sudah tertutup.


"Iya Mas. Coba cek lagi sama Mas, takut aku ada yang kurang atau ketinggalan," ucap Adelia.


Albi tersenyum, "Tak perlu, aku yakin kamu sudah memasukkan semua keperluanku," ujarnya. Seraya tangannya mengelus rambut Adelia yang tergerai.


Adelia pun tersenyum, "Ya sudah. Aku mau mandi dulu," seraya berjalan melangkah menuju ruang ganti yang terhubung kamar mandi.


Albi mengangguk dengan tersenyum. Albi ternyata menyusul Adelia yang masuk ke ruang ganti, dan Adelia baru saja ingin masuk ke dalam kamar mandi.


"Arumi," panggil Albi.


Adelia menghentikan langkahnya yang akan masuk kedalam kamar mandi tersebut lalu menoleh ke arah Albi, "Ada apa Mas?," tanyanya.


Albi berjalan menghampiri Adelia yang sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi. Dan tanpa di duga, Albi menarik pinggang Adelia. Albi menyatukan bibir miliknya dengan bibir Adelia. Memberikan lum**an dan se*apan pada bibir merah muda tersebut. Adelia terkejut menerima sentuhan bibir dari Albi yang secara tiba-tiba. Adelia mendorong dada Albi setelah merasa tidak bisa bernafas.


"Mas," kata Adelia dengan nafasnya yang sudah memburu.


Albi menatap Adelia dengan penuh hasrat, "Aku akan menyentuhmu malam ini," ucapnya parau lalu tangannya kembali menarik pinggang Adelia, dan tangan yang satunya lagi menekan tengkuk Adelia.


Adelia menahan dada Albi dengan tangannya, "Mas, tapi aku mau mandi dulu," ujarnya. "Dan aku saat ini kebelet," lanjutnya.


Albi tersenyum merasa gemas, saat dirinya ingin menyentuh ada saja halangannya. Albi sedari tadi banyak berpikir, ia sebenarnya ingin sekali menyentuh tubuh Adelia, tapi ia selalu menahannya. Tapi saat Adelia meminta, Albi seperti di beri kesempatan. Walaupun awalnya Albi menolak, tapi Albi berpikir kembali. Albi akan mengabulkan permintaan Adelia tersebut meskipun beresiko pada akhirnya.


"Aku tunggu," ucap Albi kemudian meninggalkan Adelia yang akan hendak masuk ke dalam kamar mandi.


Adelia berdiri di belakang pintu kamar mandi dengan menghembuskan nafas secara perlahan. Bagaimanapun Adelia juga merasakan hasrat yang datang dengan tiba-tiba setelah Albi memagut bibir miliknya.


Setelah merasa tenang, Adelia berendam di dalam bath up untuk menetralisir rasa panas akan hasrat yang sudah menyerangnya. Ia berendam dengan memejamkan kedua matanya, lalu datang sekelebat bayangan dalam ingatan Adelia. Bayangan tersebut dirinya sedang bercumbu dengan pria tampan yang selalu ada dalam mimpinya.


Adelia membuka kedua matanya dengan perasaan aneh. Ia berpikir kenapa bayangan itu bukan dengan Albi tapi malah dengan pria lain. Adelia mempercepat ritual mandinya. Lalu keluar kamar mandi dan bergegas menuju Lemari yang berada di ruang ganti.


Adelia memilih piyama tidur serba panjang. Harusnya ia memilih lingerie yang tergantung, karena akan menuntaskan apa yang Albi katakan. Tetapi, Adelia merasa ragu setelah ada sekelebat bayangan saat tadi berendam.


Adelia keluar dan menyisir rambut di depan meja rias. Adelia merasa lega saat menatap ke arah ranjang yang terdapat Albi sudah tertidur lelap.


"Apa aku mandi kelamaan ya?" gumam Adelia dengan menatap Albi yang sudah tertidur.


Adelia memutuskan keluar kamar. Ia merasa takut untuk tidur seranjang malam ini bersama Albi. Ia memutuskan untuk menghampiri Alsa yang berada di dalam kamarnya.


Adelia mengetuk pintu kamar Alsa.


Tok ... Tok ... Tok ...


Rasya membuka pintu kamarnya, dan menatap Adelia yang sedang berdiri di depannya.


"Nona apa ada sesuatu yang Nona butuhkan?" tanyanya.

__ADS_1


Adelia menggeleng, "Apa aku boleh masuk ke dalam kamar mu?" tanyanya. Membuat Rasya menautkan alisnya bingung, karena setelah sebulan lamanya berperan menjadi pelayan. Baru sekarang Adelia ingin masuk ke dalam kamarnya.


Apa istriku mencurigaiku?


ucap Rasya was-was di dalam hatinya.


"Tentu silahkan Nona," ucap Rasya akhirnya mengijinkan. Rasya membuka lebar pintu kamarnya untuk Adelia melangkah masuk. Dan setelahnya Rasya mengunci pintu kamarnya.


Adelia duduk di tepi ranjang dengan penciumannya menikmati aroma parfum yang Rasya pakai, yang aroma wanginya memenuhi kamar.


"Boleh saya tidur di sini?" ucap Adelia.


What istriku mau tidur denganku?


Oh tentu sayang, kamu boleh tidur disini.


"Tentu boleh Non. Tapi kenapa Nona mau tidur di sini?" tanya Rasya seraya ikut duduk di sebelah Adelia.


Adelia merubah posisi duduknya, menjadi menghadap Rasya. "Apa saya boleh menceritakan masalah saya, kepada kamu?," tanya Adelia ragu-ragu.


Rasya tersenyum, "Tentu boleh. Bukankah, kita teman?" ucapnya.


Adelia memilih menatap ke arah lain, ia ingin mulai menceritakan yang baru saja terjadi.


"Alsa, apa aku salah saat meminta hak ku kepada suamiku?" tanyanya.


"Tidak," jawab Rasya lugas.


Adelia mulai berwajah serius, "Saat siang tadi aku meminta hak kepada suamiku, dan mendapat jawaban penolakan. Suamiku beralasan tidak bisa. Karena aku baru saja sakit, dan di tambah kandunganku masih kecil. Ok. Aku mengerti. Tapi saat baru saja aku melupakannya. Suamiku bersedia memberikan haknya kepadaku," ucap Adelia.


Adelia kembali tersenyum, "Awalnya saya senang, tapi saat ada bayangan sekelebat pada ingatan saya, saya menjadi ragu dan takut," ucapnya.


"Jadi belum terjadi?" tanya Rasya yang penasaran.


"Iya."


Rasya bisa bernafas lega saat mendengar jawaban iya yang Adelia ucapkan. Ia sudah meradang saat mendengarkan bahwa Albi akan menyentuhnya. Tapi Rasya penasaran akan ucapan Adelia yang mengatakan ada sekelebat bayangan pada ingatannya.


"Boleh saya tahu, bayangan yang datang pada ingatan Nona, itu bayangan apa ya?"


"Em ... saya sedang bercumbu dengan pria lain, tapi bukan Mas Albi," ucap Adelia.


"Pria lain?," Rasya menautkan alisnya bingung.


"Iya. Pria itu wajahnya sangat mirip dengan pria penyanyi di Cafe Bondan," ujar Adelia dengan serius.


Apa bayangan diriku masuk ke dalam ingatan istriku? apa mungkin ini pertanda ingatannya perlahan akan pulih?.


Batin Rasya berucap senang saat mendengar bahwa bayangan pria yang masuk ke dalam ingatan Adelia adalah dirinya.


"Nona. Boleh saya tahu? Nona sakit apa?" tanya Rasya ingin memperdalam penelitian masalah yang terjadi pada istrinya.


Adelia menggeleng, "Saya tidak tahu. Saya tiba-tiba pulang dari salah satu Klinik, dan di bawa Mas Albi ke rumah ini," ujarnya.

__ADS_1


"Dan Tuan Albi mengatakan bahwa dirinya suami Nona?" tebak Rasya.


"Iya. Kok kamu bisa menebak begitu?" tanya Adelia yang merasa Rasya menebak dengan benar.


Sudah ku duga. Sakit Istriku di manfaatkan. Tapi tujuannya untuk apa?.


"Alsa, loh kamu malah diam saja?" Adelia memegang lengan Rasya yang sedang melamun.


"Maaf Nona. Saya tidak sengaja melamun," kilahnya.


"Nona. Apa Nona bersedia untuk ikut saya?" ucap Rasya bertanya dengan serius.


"Ikut kamu?" Adelia bertanya kembali.


"Iya. Saya akan mengajak Nona berobat. Agar penyakit Nona segera pulih dan mengingat semuanya," ucap Rasya.


"Maksud kamu saya hilang ingatan?"


"Benar Nona. Dan Nona di sini sedang di manfaatkan," ucap Rasya.


Adelia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu dari mana punya pikiran seperti itu?" pekik Adelia sedikit marah.


"Nona tenang dulu. Nona jangan salah paham dulu sama saya. Saya hany menduga saja. Dan Nona --"


"Sudah Alsa. Besok kita teruskan pembicaraan kita. Lebih baik Saya kembali ke kamar saya," potong Adelia.


Adelia merasa tersinggung akan ucapan Rasya, yang mengatakan dirinya telah hilang ingatan. Adelia pergi meninggalkan kamar Rasya dan memilih kembali ke kamarnya yang bersama Albi.


Seperginya Adelia, Rasya merutuki kebodohannya yang mengatakan hal yang sesungguhnya yang sedang terjadi pada Adelia.


Bahkan Rasya ketakutan kalau Adelia sampai mengatakannya kepada Albi. Bisa saja Albi akan mencurigainya. Dan tentunya Albi tidak akan diam.


Bagaimana ini?


Tenang Rasya ... Tenang.


Masalah ini akan secepatnya berakhir.


Istrimu akan kembali kepelukanmu.


Batin Rasya berucap dengan menyemangati dirinya.


Rasya memilih bergegas ke dalam kamar mandi. Untuk membersihkan dirinya dan berwudhu untuk menunaikan shalat isya yang belum Rasya laksanakan.


...Bersambung....


Jangan Lupa


LIKE


COMMENT

__ADS_1


VOTE


__ADS_2