
...Selamat membaca....
Jangan lupa Vote, Komentar, dan Favorit nya ya Readers.
......................
Rasya yang telah keluar dari kamar menuruni anak tangga. Ia berniat untuk membicarakan apa keputusan nya kepada Kedua Mertua nya. Terlihat Pak Rony dan Bu Alin yang kebetulan akan menuju ruang makan.
"Eh Rasya ayo kita makan malam. Ariyanti nya mana?." Alin yang melihat Rasya menuruni tangga mengajak untuk makan malam.
"Iya Ma. Ehm... Ariyanti masih di kamar." Kata Rasya dengan ikut melangkah menuju ruang makan. Lalu mulai duduk di kursi meja makan.
Ariyanti pun tak lama datang menghampiri, dan ikut bergabung di meja makan dengan berwajah sedikit sembab.
Wajah Ariyanti pun tak luput dari perhatian Alin ibu nya.
"Ariyanti kamu habis menangis?." Tanya Alin yang tahu akan wajah Ariyanti seperti habis menangis.
Ariyanti menggeleng.
"Lalu....?" Tanya Alin kembali.
"Iya Ariyanti habis menangis ma...." Rasya menjawab pertanyaan yang tadi di jawab gelengan kepala oleh Ariyanti.
Ariyanti pun dengan cepat menoleh kepada Rasya, yang merasa heran akan Rasya mengatakan Ariyanti habis menangis justru karena ulah nya.
"Wah.... Apa menangis karena Rindu telah bertemu?." Goda Alin kepada Ariyanti.
"Bukan karena itu." Sahut Rasya dengan cepat.
Alin dan Rony pun cepat menoleh ke arah Rasya. Melihat Rasya yang berwajah serius itu menandakan memang benar ucapan nya.
"Lalu Karena apa?." Tanya Alin penasaran. Rony hanya diam menanggapi interaksi antara istri dan menantunya.
"Karena Rasanya akan........"
"Sudah mama sama papah ayo kita makan dulu. Nanti pembicaraanya di lanjut kembali." Celetuk Ariyanti dengan cepat, hingga ucapan Rasya terputus.
"Iya benar. Nanti saja kita berbincang di ruang tengah." Rony kini bersuara.
Mereka pun mulai menuangkan makanan ke piring masing-masing. Dan makan dalam keadaan sunyi tanpa ada yang bersuara.
Setelah Makan malam selesai, sesuai tadi ucapan Rony. Mereka kini berkumpul di ruang tengah. Alin duduk di samping Rony suami nya. Sedangkan Rasya duduk agak jauh dengan Ariyanti.
"Ayo mulai katakan, apa yang tadi sempat tertunda." Alin mulai memerintah menantu nya untuk bersuara.
"Begini Ma... Pa... ehm...." Rasya menjeda ucapan nya lalu menghirup nafas dalam sebelum meneruskan suara nya. "Aku ingin bercerai dengan Ariyanti." Ujar Rasya lancar mengucapkan nya. Rony dan Alin pun Terkejut melotot akan apa yang telah Mereka berdua dengar dari mulut menantu nya. Lalu kedua mertua Rasya langsung menoleh ke arah Ariyanti, dan Ariyanti menganggukkan kepalanya seperti mengatakan Bahwa Ariyanti pun ingin bercerai juga.
__ADS_1
"Ada apa?. Kenapa kamu tiba-tiba ingin bercerai?. Apa Alasan nya?." Tanya Rony nada suara nya mulai tinggi, mungkin karena kecewa. Namun ia menanyakan apa alasan nya Kepada Rasya.
Rasya sedikit tegang mendengar nada suara mertuanya yang mulai meninggi. Namun Rasya akan tetap mengungkap kan nya. Rasya tidak perduli dengan Rasa kecewa mereka, bahkan kedua orang tua Rasya sendiri.
"Aku tidak sedikitpun mencintai Ariyanti. Dan Aku menyetujui menikahi Ariyanti karena menuruti apa ke inginan kedua orang tua ku yang tak bisa menolaknya. Aku tak bisa melanjutkan, atau pun bertahan. Karena Bagi ku ini sungguh sangat menyakitkan. Begitu pun dengan puteri Kalian." Rasya telah lolos mengungkapkan alasan nya untuk bercerai dari Ariyanti.
Mata Ariyanti berkaca-kaca mendengar ungkapan Rasya yang berhasil mengungkapkan keinginan nya. Sekarang tinggal menunggu apa keputusan Orang tuanya.
Alin dan Rony menghela nafas dalam. Mendengar Rasya yang akan menceraikan anaknya. Tiba-tiba ada rasa cemas akan status anaknya nanti jika bercerai akan berubah status menjadi janda. Walaupun Rony kaya akan hartanya, namun tidak mau anak satu-satunya harus menjadi janda.
Rony menoleh ke arah Ariyanti anaknya, Ariyanti itu terdiam. Apa mungkin Ariyanti menyetujui nya.
"Ariyanti bagaimana?." Rony memberikan pertanyaan nya kepada Ariyanti.
Ariyanti pun terdiam terlebih dahulu.
"Aku telah menyetujui nya Pa... Ma... Ariyanti juga terpaksa menikah dengan Rasya hanya menuruti ke inginan kalian berdua. Padahal Ariyanti tidak menginginkan pernikahan ini." Tutur Ariyanti memberikan Alasan palsu kepada kedua orang tua nya, agar tidak terlalu menyalahkan Rasya sepenuhnya.
Sehingga Rasya tercengang kaget mendengar Apa kata Ariyanti, yang tidak mengatakan sesungguhnya. Bahkan Ariyanti seperti melindungi Rasya dari amarah orang tua Ariyanti. Rasya merasa tidak mengerti akan pikiran Ariyanti.
Kedua orang tua Ariyanti pun bernafas dengan berat, sehingga timbul rasa bersalah kepada benak mereka yang kini tahu bahwa Anaknya merasa terpaksa akan pernikahan nya tersebut.
"Dengan berat hati Papa Setujui keputusan kalian. Walau bagaimana pun pernikahan tanpa cinta tidak akan langgeng dengan semestinya bahkan di tambah dengan rasa terpaksa. Maafkan Papa dan Mama yang telah memaksa kalian untuk menikah. Seandainya kamu mengatakan semuanya sebelum pernikahan ini terjadi, tentu Papa dan Mama akan membatalkan nya. Dan kepada mu Rasya, Terima kasih telah menjadi dari bagian keluarga kami. Walau pun Papa Berharap, Kamu akan menjadi menantu kami selamanya. Tapi itu tidak akan kami paksakan." Tutur Rony Papa Ariyanti.
Dan di angguki Alin ibu Ariyanti, tanda menyetujui apa kata suaminya.
Ariyanti tersenyum, padahal hatinya menangis menjerit. Orang tuanya sudah mengabulkan keinginan Rasya yang tiba-tiba ingin bercerai.
Rasya bernafas lega, tinggal menghadapi konsekuensi atas masalah hutang yang mendera Papa nya. Rasya kini mengingat akan Hutang itu, ia akan menanyakan saat ini kepada Rony Papa Ariyanti.
"Maaf Pak. Ada yang Ingin Aku tanyakan. Apa Benar Papa Ku, mempunyai Hutang besar kepada Papa. Sehingga Bayaran nya Aku harus menikahi Ariyanti?." Rasya mulai menanyakan rasa penasaran nya selama ini, yang tidak pernah Papa nya katakan tentang berapa hutang nya.
"Oh ya memang. Tapi sudahlah kamu tidak perlu mengetahui nya." Sahut Papa Ariyanti tidak ingin mengatakan tentang hutang tersebut.
Rasya pun merasa aneh, dengan Orang tuanya sendiri, kini di tambah dengan Orang tua Ariyanti yang tidak memberitahukan akan kebenaran Hutang nya itu.
...****************...
Adelia mengerjapkan mata nya setelah mendengar Alarm dari ponselnya yang ia pasang tadi sebelum tidur. Di lihat Sudah menunjukan pukul 04 pagi. Adelia pun bergegas mencuci muka dan bergosok gigi terlebih dahulu sebelum perang bersama alat-alat tempur membuat kue nya nanti.
Adelia pun keluar dari kamar, namun mata nya tercengang melihat Yuda yang masih Asik nonton tv di ruang tengah. Yuda yang merasa ada suara yang membuka pintu, ia menoleh ke arah suaranya. Terlihat Adelia keluar dari kamar dan berdiri mematung melihatnya yang masih melek.
"Kamu bangun jam segini?." Tanya Yuda dengan melihat jam yang menempel di dinding.
Adelia pun mulai bergerak melangkah.
"Iya Aku sengaja. Karena ada pesanan kue." Jawab nya dengan tangan nya terangkat menggulung rambut yang akan Adelia ikat.
__ADS_1
Melihat itu otomatis leher jenjang Adelia yang mulus terlihat oleh Yuda, hingga Yuda menelan saliva nya, lalu mata nya beralih kembali ke layar tv.
"Kenapa kamu belum tidur, emang besok gak kerja?."
Yuda dengan matanya masih menatap Tv. "Aku lagi lihat pertandingan Bola Dunia, dan iya memang besok aku libur." Kata nya tanpa melihat Adelia.
"Pantas saja. Matanya fokus ke Tv. Ya sudah aku mau ke dapur yaa...." Adelia dengan cepat melangkah menuju dapur.
Setelah Adelia hilang dari pandangan. Yuda pun merasa bernafas lega.
"Bukan mata ku terlalu fokus ke Tv, namun menghindari leher mu yang sangat menggoda kejantanan ku." Yuda bergumam dengan nafas terus ia hembuskan seakan telah berlari jauh.
Tapi Yuda rasa usilnya kini datang. Ia cepat pergi ke dapur menghampiri Adelia yang sudah berkutat dengan bahan-bahan kue.
"Kenapa kamu gak bareng Rara, membuatnya?." Tanya Yuda dengan duduk di kursi meja makan.
"Enggak. Aku kasihan harus mengikut sertakan Rara. Lagian ini cuma satu biji koq pesanan nya." Adelia tangan nya mulai menghidupkan Mikser untuk mengocok telur terlebih dahulu.
Yuda beranjak dari duduk nya, kini ia berdiri di sisi Adelia.
"Aku ingin membantu." Ucapnya.
"Tidak perlu. Aku bisa menyelesaikan sendiri." Tolak Adelia. Ia tidak merasa enak akan Yuda yang menawarkan diri untuk membantunya, dengan menolongpun Adelia bingung untuk membalas budi Yuda, apalagi ia selalu membantu pekerjaan Adelia.
"Hei. Kenapa malah bengong?." Yuda menegur Adelia yang tengah terbengong.
Adelia tiba-tiba berwajah sendu dan mulai menatap Yuda serius.
"Yuda Terima kasih atas kebaikan kamu, entah harus bagaimana aku membalas budi mu. Kamu telah menolong nyawa ku dan Rara." Lirih Adelia.
Yuda merasa sedikit ternyuh hatinya, mendengar Adelia dengan suara lirih mengucapkan terima kasih nya.
"Sudah jangan bahas itu lagi. Aku ikhlas koq."
Adelia tersenyum dan mengangguk, kini tangan nya mulai terulur membuka bungkusan gula putih.
"Ekhemmm... Jika kamu berpikir ingin membalas budi ku, aku ingin menawarkan sesuatu pada mu." Kata Yuda dengan tiba-tiba. Adelia pun menoleh kembali ke arah sampingnya dengan mendongak melihat Wajah Yuda yang memang tingginya di atas kepala Adelia.
"Ayo katakan. Jika cara itu bisa membuat untuk aku membalas budi mu. Aku akan melakukan nya." Adelia dengan tidak sabar, karena merasa ada cara untuk membalas budi nya kepada Yuda, Adelia merasa senang.
"Peluk aku, dan cium aku. Kalau itu pun kamu mau melakukan nya." Bisik Yuda ia berniat ingin menggoda Adelia, tanpa ada niat sungguhan meminta Adelia melakukan itu.
Seketika Wajah Adelia merona merah, bagaimana tidak Adelia di minta untuk meluk dan mencium Yuda. Yuda pun tersenyum melihat wajah Adelia yang memerah seperti kepiting itu.
Namun Yuda tidak menduganya, Adelia berhambur memeluk tubuh Yuda. Yuda melotot kaget Adelia benar-benar melakukan nya, setelah itu Mata Yuda semakin melotot kembali saat Adelia mencium bibirnya, Hingga Yuda tidak sadar ia sendiri yang memperdalam ciuman sekilas Adelia. Tapi Adelia pun tidak menolaknya, seperti membiarkan Yuda untuk melakukan lebih.
Tangan Yuda terulur menekan tengkuk Adelia yang mulus tanpa terhalang rambut yang memang sudah Adelia ikat tinggi. Adelia matanya terpejam merasakan ada gelenyar aneh ke tubuhnya saat Yuda mengusap-usap leher nya dengan bibir yang masih bertautan. Adelia melenguh saat Yuda mengakhiri ciuman nya, lalu berakhir dengan mencium leher Adelia. Kini Kening Yuda sengaja ia tempelkan di kening Adelia, kedua mata mereka masih terpejam, nafas mereka masih terengah-engah memburu.
__ADS_1
"Terima kasih." Bisik Yuda, yang hembusan nafas nya berhembus ke permukaan wajah Adelia, karena posisi keningnya yang masih menempel dengan mata masing-masing masih terpejam.
...Bersambung....