You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 230.


__ADS_3

Adelia yang keluar rumah di temani Rara. Kini sedang berjongkok di pinggir makam kedua orang tuanya. Adelia menitikan air mata. Saat mengingat perkataan Rasya saat itu bahwa kematian Ayahnya ada kaitannya dengan Rony, Papanya Ariyanti.


"Ma, Pa ... aku akan datang lagi setelah tahu siapa yang sudah membuat kalian meninggalkan aku," lirih Adelia kemudian bangun dari jongkoknya, dan di bantu Rara saat berdiri.


Adelia meringis kesakitan. Jika berjongkok terlalu lama perutnya selalu sakit. Mungkin karena posisi berjongkok mengakibatkan posisi si bayi jadi terjepit. Adelia mengatur nafasnya. Kemudian setelah rasa sakit itu hilang. Adelia mengajak Rara ke suatu tempat. Keduanya kini sedang asyik berjalan dengan berbincang-bincang.


"Ra bantu aku ya, untuk mempersiapkan kejutan ulang tahunnya Mas Rasya!,"


Rara mengangguk seraya tersenyum, "Tentu aku akan membantumu. Jadi sebenarnya kita mau kemana?" tanya Rara kini menanyakan tujuan yang sebenarnya.


Adelia berpikir sejenak. "Ra, bagaimana jika aku mempersiapkan kejutan itu di taman belakang rumah. Mas Rasya kan, pasti tidak akan tahu kalau aku mempersiapkan kejutan untuknya?" Adelia meminta pendapat Rara.


"Iya bagus. Jangan jauh-jauh deh, aku gak tega lihat kamu nunggu kepulangan suamimu nantinya,"


"Ya sudah. Sekarang kita cari pernak-pernik untuk mendekor taman," ajak Adelia dan di angguki Rara.


Keduanya terus berjalan. Hingga menemukan sebuah toko yang menyediakan berbagai dekorasi untuk ulang tahun. Adelia di bantu Rara untuk membeli sebuah pernak pernik untuk merias taman agar tidak terlalu polos.


Dan setelah itu kini keduanya menuju sebuah toko kue. Adelia berniat untuk membeli kue ulang tahun untuk suaminya. Membuat Rara teringat saat Adelia dulu membuka toko kue, sebelum ruko milik Adelia terbakar.


"Del, aku jadi ingat deh sama toko kue milik kamu," lirih Rara dengan memandangi bermacam-macam kue di depannya. Membuat Adelia tersenyum dan berwajah sendu.


"Sudahlah Ra, aku sudah melupakannya. Jangan ingat-ingat tentang itu lagi ya," Adelia memilih untuk tidak mengingatnya. Karena sebenarnya Adeliapun sama merasa sedih jika teringat akan ruko tentang dulu ia menjual kue-kuenya. Ruko itu terbakar dengan kenangan-kenangan saat bersama Martin.


Dari kejauhan seseorang yang terduduk di sebuah Cafe, menatap Adelia dan Rara yang sedang berada di toko kue. Seseorang itu lebih memilih melangkah mendekati Adelia dan Rara.


"Ekhem ...," deheman Sakti kembarannya Bima membuat Adelia dan Rara menoleh kepadanya.


"Sakti," sapa Adelia dengan tersenyum.


Sakti menatap Adelia dari bawah sampai atas. "Jadi sekarang kamu ingat aku?" Sakti meyakinkan karena di rasa Adelia seperti mengenalinya.


"Tentu aku kenal," sahut Adelia. Membuat Sakti mengernyit heran.


"Bukannya, kamu lagi amnesia?" Sakti lalu melirik Rara yang berada di samping Adelia.


Adelia mengikuti lirikan Sakti. "Aku tahu dari Mas Rasya," kata Adelia. "Ini Rara. Saudara aku," Adelia memperkenalkan Rara sebagai saudaranya. Karena Sakti seperti mempertanyakan.


Sakti manggut-manggut, "Em ... jadi sekarang panggilnya Mas Rasya?" goda Sakti.


Adelia hanya tersenyum lebar dengan menganggukan kepalanya. "Kamu di sini lagi beli kue juga?" tanyanya kepada Sakti.


Sakti menggeleng, "Tadi aku lihat kamu di Cafe itu. Ya sudah aku samperin kesini," jawabnya.


"Lagi ketemuan ya, sama pacarmu?" Adelia dengan melihat-lihat kue apa yang pantas buat suaminya.

__ADS_1


Sakti tergelak, lalu berbisik kepada Adelia. "Bolehlah, saudaranya buat aku?" bisiknya.


Adelia menajamkan penglihatannya, "Dekati dulu. Aku gak akan sembarang ngasih-ngasih," ucapnya.


"Oh iya kebetulan kamu ada di sini. Bantuin aku untuk merias taman!" pintanya kepada Sakti.


"Buat apa, taman di rias?" Sakti lalu tersenyum kepada Rara, yang baru saja menatap kepada dirinya.


Adelia memukul lengan Sakti pelan, "Kamu sahabat macam apa sih? masa gak tahu hari ini adalah hari ulang tahun suamiku,"


"Benarkah?" Sakti membola matanya. "Tunggu! aku rasa kamu sudah mengingat semuanya Del, aku saja yang normal sampai tidak mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Rasya,"


"Kamu jangan banyak tanya. Sekarang aku tanya kamu bersedia tidak bantu aku?" Adelia menatap Sakti serius. "Kalau tidak. Lebih baik kamu pergi saja!" lanjutnya.


Sakti terkekeh, "Adelia, sekarang kamu jadi galak gitu ya, apa bawaan hamil?" Sakti mengusap perut Adelia dan langsung dapat pukulan dari Adelia di lengannya.


"Auw ... sakit Del," ringisnya berpura-pura.


"Jangan sentuh-sentuh bayiku! aku takut wajahnya malah mirip dengan mu!" Adelia mendelik dan mengundang tawa bagi Rara dan Sakti.


Sakti tidak nyerah untuk menggoda Adelia. Inilah moment dimana dulu ia sering menggoda Adelia ketika sedang berkumpul.


"Memang bagaimana dengan wajahku? tampan juga!" cetusnya narsis.


"Lebih tampan Mas Rasya!" tukas Adelia. Membuat Sakit terkekeh.


Pelayan toko yang sedari tadi memperhatikan Adelia dan malah mendengarkan obrolan antara Adelia dan Sakti kini mengambil kue itu dan di serahkan kepada Adelia setelah kue itu di bayar.


"Biar aku yang bawa ya, Del" Rara mengambil alih paperbag yang berisikan kue. Dan Adeliapun tidak mempermasalahkannya.


Sakti masih di tempat dengan memperhatikan Adelia dan Rara.


"Pulang sekarang?" tanyanya.


Adelia mengangguk.


"Ya sudah. Aku antar. Sekalian aku akan membantu kamu menghias taman," Membuat Adelia tersenyum senang begitupula dengan Rara.


Adelia dan Rara pun masuk kedalam mobil Sakti. Yang sempat Sakti ambil dulu dari parkiran Cafe.


***


Aldi baru saja sampai di depan gerbang sekolahan Serly. Terlihat Serly sedang berdiri menunggu Rasya yang akan menjemputnya. Serly sudah di beritahu oleh Lia bahwa Rasya yang akan menjemputnya.


Serly langsung masuk ke dalam mobil Rasya setelah mobil itu berada di hadapannya. Serly hingga belum mengetahui bahwa yang menjemputnya adalah Aldi.

__ADS_1


"Kakak, ini bagaimana lama sekali sih?" gerutunya dengan tangannya memasangkan seatbelt.


Aldi hanya berdehem, "Maaf. Tadi saya meeting dulu sama Pak Rasya," ucapnya. Membuat Serly menoleh cepat ke arah Aldi.


Serly menyengir malu "Maaf. Aku kira tadi Kak Rasya."


Aldi tersenyum tipis, "Tidak apa-apa. Langsung pulang saja?" tanya Aldi.


"Iya pulang saja. Aku sudah merasa lelah." Serly dengan menyandarkan tubuhnya yang kelelahan karena terlalu banyak kegiatan di saat kemping


Aldi mengangguk dan langsung menarik pedal gasnya. Melajukan mobil meninggalkan area sekolah Serly.


Serly yang sudah merasa kantuk berat. Ia tidak sadar tertidur di dalam mobil. Aldi bisa melihat dari balik kaca spion. Aldi tersenyum. Senyuman yang jarang ia tampakan pada siapapun.


"Sepertinya dia kelelahan," gumam Aldi. Dengan tangannya fokus menyetir.


Hingga tidak lama. Aldi sampai di depan rumah besar milik Keluarga Rasya. Aldi bingung saat ini. Serly tertidur dengan pulasnya sampai tidak menyadari bahwa mobil itu sudah terhenti di depan rumahnya.


"Gimana ini, apa saya bangunkan?" Aldi bertanya pada diri sendiri.


"Tapi saya tidak tega," ucapnya lagi.


Aldi sengaja terdiam. Ingin menunggu Serly bangun dengan sendirinya. Hingga tiga puluh menit lamanya. Serly belum juga terbangun. Aldi masih terdiam tidak berniat untuk membangunkan Serly.


Sampai suara dering ponsel milik Aldi yang memekikan telinga. Serly baru mengerjap perlahan. Dan langsung melotot saat menatap keluar jendela bahwa dirinya sudah sampai di depan rumahnya.


"Kak, sudah sampai?" tanya Serly basa-basi.


" Sudah Tiga puluh menit yang lalu," sahut Aldi dengan menatap layar ponselnya, tidak niat menjawab panggilan yang masuk barusan.


Serly melotot, lalu menggaruk kepalanya yang memang terasa gatal. "Kenapa tidak bangunkan aku?" tanyanya.


Aldi menggeleng, "Tidak tega," jawabnya jujur.


Membuat Serly seketika merona. Karena merasa di perdulikan oleh Aldi. Serly cepat-cepat membuka Seatbeltnya.


"Terima kasih. Sudah mau menjemput." Serly lalu langsung keluar mobil tanpa mendengar sahutan Aldi.


"Sama-sama," sahut Aldi dengan menatap kepergian Serly. Lalu langsung melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Rasya.


Serly yang masih di balik pintu rumah utama. Mengatur nafasnya. Merasakan jantungnya yang berdetak tidak karuan.


"Gila. Dekat sama kak Aldi membuat jantungku tidak sehat," celetuknya dengan berjalan mulai menaiki anak tangga. Serly langsung berbaring setelah sampai di dalam kamarnya. Meneruskan tidurnya yang sempat terganggu tadi saat di mobil.


...***...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2