
Aldi kini sudah berhadapan dengan sang ibu yang sedang terbaring lemah. Terlihat jarum infus menancap di pergelangan tangan sang ibu.
Maharani yang sudah berkenalan dengan Alma adiknya Aldi dan sang ibu, menatap iba dengan apa yang terjadi. Ibu Aldi di vonis mengalami stroke ringan akibat jatuh saat di perkebunan.
"Maafin Aldi bu ... yang gak bisa menjaga ibu," ungkap Aldi yang kini duduk di kursi sebelah ibu yang sedang terbaring.
Ibu Aldi tersenyum tipis dengan gelengan sebisanya. Bermaksud menyangkal ucapan Aldi yang terlihat merasa bersalah.
Padahal ibu Aldi sendiri yang masih kekeh ingin kerja di perkebunan. Walau sudah merasa berkecukupan dengan apa yang Aldi berikan dari hasil bekerjanya. Alasan ibu Aldi yang selalu ingin kerja, yaitu ingin mencari kesibukan.
Maharani yang duduk di sofa bersama Alma terenyuh dengan sikap Aldi. Maharani sudah yakin jika Aldi memperlakukan sang ibu dengan sangat baik, bahkan Maharani berpendapat jika Aldi akan memperlakukan wanitanya seperti itu.
"Teh," sapa Alma pada Maharani yang menatap punggung Aldi.
Maharani langsung menoleh dan tersenyum, "Iya ada apa dek?" jawabnya.
Alma berbisik pada telinga Maharani, "Apa teteh pacarnya bang Aldi?" tanya Alma yang sangat penasaran sejak kedatangan Aldi bersama seorang perempuan. Bahkan perempuan yang Aldi bawa sangatlah cantik dan berpenampilan elegan.
Maharani tersenyum, "Menurut ade gimana?" Maharani malah memberikan pertanyaan.
Alma menyengir, "Sepertinya teteh pacarnya ya ... soalnya, bang Aldi gak pernah bawa perempuan sebelumnya," tebakan Alma membuat Maharani tersenyum.
"Memang Aldi gak pernah bawa pacarnya?" Maharani malah ingin lebih tahu sesuatu tentang Aldi.
Alma menggeleng, "Gak pernah teh. Bang Aldi belum pernah pacaran," celetuknya.
Membuat Maharani tersenyum lebar, "benarkah?" begitulah pertanyaan yang muncul dalam hati Maharani. Jika sampai dirinya menjalin hubungan dengan Aldi. Betapa beruntungnya dirinya, karena menjadi wanita pertama bagi Aldi. Tapi ... Maharani mengingat kembali tatapan Aldi pada Serly saat menghadapi acara pertunangan. Seperti tatapan cinta namun penuh luka.
"Em ... Ade tahu gak gadis yang bernama Serly?" Maharani kini yang berbisik pada telinga Alma. Maharani sengaja ingin tahu hubungan seperti Apa yang Aldi jalani.
Alma mengernyitkan dahi, lalu berfikir sejenak. "Itu seperti nama adiknya bos bang Aldi,"
Maharani mengangguk, "Iya. Apa kamu kenal?" tanyanya.
Alma mengangguk, "Iya aku kenal. Hanya kenal saja gak akrab," ujarnya.
__ADS_1
Maharani mengerutkan dahi, lalu terdiam. Dirinya masih belum dapat jawaban atas rasa penasarannya.
"Teh, emang ada apa dengan Nona Serly?" Alma lupa berbisik. Sehingga nada bicaranya membuat Aldi seketika menoleh ke arah belakang dimana Alma dan Maharani terduduk.
Maharani langsung menggeleng cepat saat mendapati Aldi menatap tajam ke arahnya. Tatapan Aldi seperti isyarat untuk apa Maharani bertanya seperti itu. Sedangkan Alma tidak mengetahui itu.
"Terus teteh kenapa tadi menanyakan nya?" Alma masih bertanya dan tidak tahu dengan sikap Maharani yang merasa takut terhadap tatapan Aldi.
"Alma. Cepat tidur. Biar ibu, abang yang jaga," kata Aldi memberikan intrupsi agar Alma segera tertidur.
Alma menoleh ke arah kakaknya, "Nanti saja bang ... aku ingin ngobrol sama teteh cantik ini,"
Aldi menatap tajam, "Nona Maharani juga harus beristirahat. Besoklah mengobrol, jangan seperti anak kecil susah di atur!" ledek Aldi pada Alma.
Alma mencebik kesal. Ucapan kakaknya selalu saja tidak ingin di bantah.
"Iya. iya ... aku akan tidur," balasnya dengan nada kesal. "Teh, ayo kita tidur!" ajak Alma kepada Maharani.
Maharani menurut. Dan merasa canggung jika saat ini harus bertatapan dengan Aldi, karena merasa tertangkap basah sudah mengorek nama Serly pada adiknya. Walaupun Maharani tidak mendapatkan jawaban rasa kepenasarannya. Pada Akhirnya Alma dan Maharani terbaring di kasur lantai yang sudah tersedia di ruangan inap rumah sakit tersebut.
***
"Selamat Pagi, istriku sayang," sapa Rasya dengan mengecup bibir Adelia sekilas saat terbangun. Adelia yang sedang duduk sembari memompa Asinya tersenyum hangat pada Rasya.
"Wah, sepertinya asi Bunda subur ya?" Rasya terperangah saat melihat Adelia sudah berhasil memompa Asi hingga dua botol.
"Iya Mas ... entah karena semalam enggak aku kasih pada si kembar. Jadinya pagi ini banyak banget," balas Adelia yang tangan nya fokus pada pompa asi.
Acara pertunangan Serly dan Dido membuat si kembar harus minum susu formula. Sehingga Adelia tidak memberikan aslinya saat di tempat acara.
"Bukannya, suka sakit loh sayang kalau gak di kasihkan?" Rasya seraya tangannya terulur pada benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Hari ini hari minggu jadi Rasya akan bermalas-malasan di dalam kamar menemani Adelia.
"Iya sempat sakit Mas. Makanya sekarang aku pompa," balas Adelia.
Rasya mulai melihat beberapa pesan yang masuk pada ponselnya. Dan Rasya mendapati pesan dari Aldi jika hari senin Aldi izin. Dan tidak tahu sampai hari kapan.
__ADS_1
"Sayang ... ibunya Aldi sakit," ujar Rasya setelah membaca dan membalas pesan dari Aldi.
Adelia langsung menoleh pada sang suami, "Sakit apa Mas?" tanyanya.
"Semalam Aldi chat Mas, ibunya sakit akibat jatuh saat pulang dari perkebunan," jawab Rasya sesuai dengan pesan yang Aldi berikan.
"Astagfirullah ... kasihan Mas. Apa tidak terjadi apa-apa dengan ibunya?" Adelia langsung merasa cemas. Walau bagaimanapun juga Adelia merasa punya hutang budi saat di kota B. Adelia tinggal dan di terima oleh ibu Aldi dengan baik.
"Mas belum tahu dengan kondisinya. Karena Aldi belum balas chat yang Mas kirim. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan beliau," Rasya kini bangkit dari atas ranjang dan berdiri lalu melangkah menuju toilet.
Adelia merapihkan alat pompa asinya. Lalu berjalan keluar kamar sembari membawa tiga botol asi yang berhasil ia pompa. Berniat akan memberikannya langsung kepada si kembar.
"Eh, mbak Nina si kembar di mana?" tanya Adelia saat mendapati kamar bayi kembarnya yang kosong. Hanya terdapat Nina baby sister yang sedang merapihkan mainan bekas si kembar bermain.
Nina langsung menoleh dan menjawab sopan kepada Adelia, "Itu bu. Lagi di jemur di depan teras sama Tuan besar dan Nyonya," jawabnya.
Adelia mengangguk, "Oh ya sudah ... aku akan ke depan," balas Adelia dengan langsung keluar dari kamar.
Adelia tersenyum saat mendapati kedua mertuanya yang sedang menggendong buah hatinya. Baby Daffa di gendong Hadi, sedangkan Saffa di gendong Lia. Keduanya terlihat sangat bahagia ketika menggendong si kembar.
"Ma ... Pa ...," sapa Adelia saat sudah dekat dengan kedua mertuanya.
"Eh sayang. Itu asi?" Lia langsung bertanya saat melihat tangan Adelia memegang tiga botol susu.
"Iya Ma ... mau Adel kasih ke si kembar," kata Adelia.
"Sini! biar mama yang ngasih," Lia dengan cepat meraih dua botol susu.
"Pa ... ini kasih buat Daffa. Soalnya saat sehabis mandi dia belum minum susu. Saffa juga," Lia dengan memberikan satu botol kepada Hadi suaminya.
Hadi pun langsung menurut memberikan dot susu kepada mulut Daffa. Daffa langsung menyambutnya dengan wajah senang. Membuat Kakeknya terkekeh merasa terhibur.
Namun Adelia tiba-tiba merasa sedih. Teringat akan kedua orang tuanya yang sudah tiada. Adelia membayangkan hal sama pada kedua orang tuanya jika masih ada. Pasti akan merasakan bahagia menimang cucu sekaligus kembar.
"Ma ... Ayah ... Semoga kalian berdua berada di dalam surga. Terima kasih atas kasih sayang yang kalian berikan. Akan Adel ingat dan di terapkan kepada anak Adel yaitu cucu-cucu kalian," batin Adelia dengan menahan sesak di dada karena merasa sangat sedih.
__ADS_1
...***...