
Adelia yang sudah merasa gerah dan capek meladeni suaminya itu, dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi ia ingin segera membersihkan tubuhnya, dan tidak mau suaminya itu sampai meminta kembali.
Sedangkan Rasya duduk bersandar di sandaran ranjang. Sengaja menunggu Sang istri untuk mandi terlebih dahulu. Rasya meraih ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas Nakas. Rasya mengernyitkan dahinya kala banyak chat masuk dari Aldi pekerja sekaligus Asisten nya.
Rasya mulai membaca satu persatu chat yang masuk itu, matanya menatap serius pada chat Aldi terakhir. Rasya tidak mau lama lagi, ia segera mandi di kamar mandi lain, setelah itu ia berniat akan menemui Aldi karena chat terakhir Aldi yang menurutnya begitu serius.
Selang beberapa lama, Adelia dan Rasya sudah nampak keluar dari kamar. Mereka sudah selesai dengan mandinya.
"Sayang, aku mau ke bengkel dulu. Gak apa-apa kan aku tinggal?," ujar Rasya.
Adelia tersenyum, "Ya gak apa-apa Mas, lagian cuma ke bengkel, kan?" kata Adelia yang sudah berdiri di ambang pintu menuju dapur, karena Adelia hendak ingin memasak.
"Ya udah, Mas keluar ya...."
Adelia mengangguk, dan bergegas masuk dapur. Rasya pun sudah di dekat ambang pintu rumah untuk keluar, Rasya menautkan kedua alisnya menatap ke arah bengkel. Terlihat Ivan, Damar, dan Beni sedang berjoged dengan menatap ke depan ponsel yang sengaja di arahkan ke arah mereka.
Rasya dengan cepat melangkah ingin melihat apa yang sedang mereka lakukan sebenarnya. Sesampainya Rasya berdiri di belakang Beni, dan terlihat jelas keberadaan Rasya nampak di layar ponsel, sehingga mereka menghentikan pergerakan nya.
"Eh, Pak Bos...." Ivan dengan malu-malu.
Sedangkan Damar, dan Beni memilih untuk menunduk.
"Kenapa berhenti?," tanya Rasya di luar dugaan mereka. Yang membuat mereka saling tatap satu sama lain.
"Bos tidak marah?," kata Ivan memastikan dengan bertanya.
"Tidak. Tapi Saya ingin tahu, kalian sedang membuat video atau bagaimana?," tanya Rasya.
Mereka cengengesan.
"Kami sedang main tiktok Pak Bos," kata Ivan mewakili.
"Tiktok?," Rasya tersenyum karena mengerti tentang aplikasi tersebut yang menyuguhkan banyak macam musik serta gerakan-gerakan seperti dancer. Namun dirinya tidak begitu aktif dengan aplikasi-aplikasi yang semacamnya.
"Kalian boleh melakukan nya, selama kalian tidak mempunyai tugas pekerjaan." Tegas Rasya, dengan matanya melihat ke sekeliling yang nampak rapih tidak ada Motor atau Mobil pelanggan yang melakukan jasa Servis bengkelnya.
"Hehe, iya Pak!" kata mereka serempak.
"Aldi kemana?," tanya Rasya karena tidak melihat keberadaan Aldi di tempat itu.
"Aldi tadi lagi ke toilet Pak." jawab Beni.
"Apa Aldi ikut joged-joged juga?," tanya Rasya yang penasaran akan sikap Aldi yang dingin bertolak belakang dengan ketiga teman nya.
"Huh, Aldi mana mau ikut Joged-joged." kata Damar.
"Aldi itu Pendiem Pak," sahut Beni.
__ADS_1
"Entahlah, Aldi mana mungkin Joged-joged kaya kita," kata Ivan.
"Ehemm...."
Dan ada suara deheman yang membuat mereka cengar-cengir karena sudah ketahuan membicarakannya.
Rasya menoleh ke arah suara deheman tersebut, Aldi sedang berdiri dan menatap tajam ke arah tiga teman nya itu.
"Al, mereka menjelekkan mu," kata Rasya usil kepada tiga teman Aldi.
"Loh, si Bos malah ngatain kita," bisik Ivan kepada Beni.
"Iya Aneh, kita tadi hanya mengatakan yang sebenarnya. Itu juga karena Pak Rasya yang tanya," sahut Beni balik berbisik.
Rasya tersenyum mendengar bisikan-bisikan Ivan dan Beni. Rasya menatap kembali kepada Aldi, akan menanyakan hal apa yang tadi Aldi chat kepada Rasya.
"Al, Saya tunggu ya di kursi itu. Saya ingin lebih jelas atas chating kamu yang tadi."
Rasya dengan berlalu bergegas menuju Kursi Panjang depan Bengkel.
Aldi menjitak kepala Ivan, Damar, dan Beni terlebih dahulu kemudian melangkah untuk menemui Rasya yang sudah duduk.
"Si Al, itu sentimen ya kalau kita bicarakan?," kata Damar dengan mengelus kepala bekas jitakan Aldi.
"Iya-iya, dia suka main jitak kepala kita aja," sahut Ivan dengan terkekeh.
"Udah mending kita lanjut lagi," ujar Beni dan mulai mengarahkan ponsel miliknya dengan memilih efek serta musik terlebih dahulu.
"Begini Pak, Saya dapat tawaran bekerja di Kota J dari Paman Saya, dan Saya sekalian di ajak beliau untuk tinggal di sana. Ibu saya bahkan sudah menyetujui sebelum saya memutuskan," tutur Aldi jelas dan langsung.
Rasya sebenarnya merasa keberatan, tapi ia tidak mungkin melarang Aldi untuk tetap terus bekerja bersamanya. Sedangkan Ibu Aldi sendiri mengijinkan Aldi untuk pergi ke Kota J tujuan nya.
"Ya kamu boleh pergi, toh Saya hanya sebagai atasan kamu di sini. Sedangkan itu semua hak kamu, mau ikut bersama Paman mu atau tidak."
Walaupun di dalam hati Rasya sedikit tidak rela, Aldi di mata Rasya adalah pria yang begitu baik, dapat di percaya, serta di andalkan. Bahkan kecerdasan dan kemampuan dalam bidang otomotif Aldi sudah tidak di ragukan lagi, makanya Rasya memberi semua tanggung jawabnya kepada Aldi selama Rasya tidak bisa di kota B tersebut.
"Sebenarnya saya sendiri berat Pak, saya sudah betah bekerja bersama bapak. Tapi Saya tidak bisa menolak ajakan Paman saya itu, sebab beliau sudah banyak membantu keluarga Aldi," ucap Aldi.
"Kamu boleh pergi Al, dan jika kamu tidak betah bekerja di tempat paman mu itu, jangan sungkan untuk menemui saya dan bekerja kembali dengan saya," ujar Rasya.
Aldi mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih Pak Rasya, Saya senang sekali bisa bertemu dan bekerja dengan orang yang sebaik Bapak. Bapak bahkan baik kepada keluarga kami."
"Jadi kapan kamu mulai berangkat?," tanya Rasya.
"Lusa, Pak."
__ADS_1
Rasya terdiam. "Semoga kamu Sukses di luaran Sana, dan untuk besok kamu sudah boleh tidak bekerja. Kamu harus beristirahat sebelum pergi ke kota J," tutur Rasya dengan menepuk bahu Aldi dan pergi berlalu.
Terlihat oleh Rasya ada gurat kesedihan di wajah Aldi, begitupun dirinya yang akan merasa kehilangan atas kepergian karyawan kepercayaan nya itu.
Rasya melangkah dan masuk ke dalam rumah untuk menemui sang istri yang selalu membuat hatinya nyaman kalau sudah melihat wajah istrinya itu, Rasya bergegas langsung menuju dapur dan terlihat sang istri baru saja menghidangkan hasil masakan nya.
"Mas, kamu sudah selesai di Bengkel nya?," tanya Adelia yang sudah melihat keberadaan suaminya yang kini tengah duduk di kursi yang menghadap meja makan.
"Sudah." Jawab Rasya singkat.
Adelia melihat raut suaminya sedang merasa tidak baik-baik saja. Namun ia belum mau menanyakan hal itu saat ini.
"Mas, mau makan sekarang?," dan langsung mendapat jawaban sebuah anggukan dari kepala suaminya itu.
"Mas mau sama apa Lauk nya?, biar Aku yang ambil," tutur Adelia menawarkan.
"Aku lagi pengen Soto, Sayang."
Adelia mengernyitkan kedua alisnya bingung, saat ini Ia hanya memasak telur balado, kwetiau goreng, dan tumis buncis. Sedangkan suaminya meminta makanan yang tidak ada nampak di meja.
"Tapi Mas, aku tidak memasak soto,"
"Ya udah itu aja," tunjuk Rasya ke arah telur balado.
Adelia dengan mengambil telur balado masih dengan perasaan bingung terhadap suaminya, biasanya suaminya itu tidak pernah meminta makanan lain selain yang ada di meja makan hasil masakan Adelia. Tapi kini Suami nya itu meminta makanan yang lain.
"Ini Mas," kata Adelia seraya menyerahkan piring yang sudah terisi nasi dan lauknya.
Namun tiba-tiba Rasya merasa gejolak di dalam perutnya, ia seakan ingin muntah.
Rasya dengan sedikit menahan nafas untuk tidak mencium bau masakan yang kini terpampang di depan wajahnya, Rasya sendiri merasa aneh dengan dirinya yang tiba-tiba mual. Rasya tidak tega untuk menolak makanan yang kini sudah ia mulai sendoki, Rasya tidak mau Adelia kecewa akan sikapnya. Rasya dengan cepat menyuapi makanan tersebut ke dalam mulutnya hingga hanya membutuhkan waktu sebentar menghabiskan makanan nya.
"Mas, cepat sekali makan nya?," tanya Adelia yang merasa gelagat aneh suaminya.
Rasya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan rasa mual itu tidak bisa ia tahan, Rasya berlari dari tempat duduknya menuju kamar mandi yang berada di dapur.
"Hueek... Hueek...." Rasya mulai muntah.
Adelia yang mendengarnya, langsung bergegas menemui suaminya itu yang sedang memuntahkan isi makanan yang berada di dalam perutnya.
"Mas, kamu muntah?" Adelia dengan cemas berada di belakang suaminya.
"Hueek... Huek...." Rasya kembali muntah saat dirinya ingin menjawab ucapan istrinya.
Adelia menjadi tambah khawatir, di pijit-pijit lah belakang leher sang suami.
"Mas, masuk angin ya?, aku kerik ya...."
__ADS_1
Rasya pun hanya bisa mengangguk, dan berjalan lunglai. Adelia yang melihat suaminya sudah lemah, Ia segera membopong suaminya untuk masuk ke dalam kamar karena Adelia akan mengerik suaminya yang menurutnya telah masuk angin.
...Bersambung....