
Serly pulang dengan di antarkan oleh Dido. Sedangkan Aldi dan Kikan entah sudah dimana. Karena Serly sengaja berpamitan lewat pesan kepada Kikan untuk pulang lebih dulu. Serly tidak mau bertemu dengan Aldi lagi yang tidak sedikitpun menyapanya hari ini.
"Terima kasih, ya kak!" Serly seraya menyerahkan helm milik Dido yang baru saja ia pakai.
"Iya, sama-sama," ucap Dido. "Em ... itu siapa? apa kakak kamu?" tanya Dido dengan matanya mengarah ke arah teras dimana ada Adelia bersama dua bayi kembarnya yang sedang bermain di atas stroller.
Serly mengikuti arah mata Dido. "Oh itu. Kak Adel, kakak ipar aku," jawab Serly dengan tersenyum ke arah Adelia yang melambaikan tangannya seraya tersenyum.
"Kakak cowok kamu? yang hari itu ngobrol sama kakak, bukan?" Dido menanyakan tentang kakak Serly.
"Iya, kak Rasya namanya. Kak Dido mau mampir dulu?" jawab Serly seraya menawari Dido untuk singgah.
"Boleh?" Dido seolah meyakinkan Serly agar dirinya di bolehkan, untuk singgah.
"Ya boleh, kak." Serly dengan tersenyum.
Dido pun tersenyum kemudian melajukan motornya untuk lebih dekat pada teras. Sedangkan Serly berjalan ke arahnya.
"Hai, keponakan aunty" sapa Serly kepada baby Daffa dan baby Saffa.
"Asyik aunty pulang," jawab Adelia dengan menirukan suara anak-anak.
"Yayah yayah" kata Baby Saffa saat menatap Dido yang mendekati ke arahnya. Sontak Serly dan Adelia tergelak mendengarnya.
"Bukan sayang ... itu Om Dido teman aunty," sahut Serly dengan menatap ke arah Dido.
Dido tersenyum ke arah dua bayi tersebut. Menggemaskan. Begitu pikir Dido.
Adelia menatap Dido yang sedang menatap bayi kembarnya, "Pacarnya aunty Serly?" tanya Adelia.
Serly cepat-cepat menyanggahnya, "Bukan, kak. Kak Dido ini teman aku,"
Dido akhirnya mengulurkan tangan kepada Adelia, "Nama Saya, Dido kak ... temannya Serly," ucapnya memperkenalkan diri.
"Oh teman Serly. Saya Adelia, kakak iparnya Serly." Adelia membalas uluran tangan Dido dengan memperkenalkan dirinya juga, "Ayo Dido, duduk!" lanjutnya dengan menyuruh Dido untuk duduk di kursi teras.
"Iya, kak terima kasih," balas Dido dengan tersenyum. "Ini, bayi kakak?" Dido bertanya dengan menunjuk baby Saffa.
"Dua-duanya," sahut Adelia dengan tersenyum mengangguk. Lalu tatapannya beralih kepada Serly yang terlihat melamun. "Ser, bawain minum dong buat temannya!"
__ADS_1
Serly terkesiap, "Ah, i-iya kak. Aku sampai lupa," Serly kemudian masuk ke dalam rumah.
Di teras kini tinggal Dido, Adelia, dan bayi kembarnya.
Dido berbicara di dalam hati setelah kepergian Serly, "Kamu kenapa Ser? sejak tadi kakak perhatikan melamun terus?" tanya Dido di dalam hatinya. Ia sedari tadi selalu memperhatikan Serly yang terlihat banyak melamun.
"Yayah yayah," Saffa kembali berceloteh. Sementara Daffa anteng dengan mainannya.
"Ayah ada di dalam Sayang ... ini Om Dido temannya aunty Serly," Adelia kembali memberikan pengertian kepada Saffa yang terus memanggil Dido dengan sebutan kata Ayah.
Dido tersenyum. Terlihat tangan Saffa terulur kepada dirinya. Dido kemudian meminta persetujuan terlebih dahulu kepada Adelia sang bunda pemilik bayi mungil yang menggemaskan tersebut.
"Kak, boleh aku gendong?"
Adelia dengan tersenyum, "Boleh. Saffa juga sepertinya ingin di gendong, sejak tadi mengulurkan tangannya terus." kata Adelia dengan mulai memangku Saffa untuk di serahkan kepada Dido.
Dido menerima Saffa dengan senang. Ia yang merupakan anak tunggal. Merasa senang jika melihat ada anak kecil atau seorang bayi.
Baby Saffa tersenyum lebar, tangannya memegang pipi Dido dengan berceloteh.
"Yayah yayah. Caffa au ain"
"Eh, sayang ... om nya jangan di jambak gitu?!" Adelia memberikan larangan kepada Baby Saffa.
"Gak apa-apa kak, baby Saffa sangat lucu," timpal Dido tidak mempermasalahkan. "Kamu cantik banget sih, masih bayi juga" ucap Dido selanjutnya kepada Baby Saffa dengan mencium pipinya dengan gemas.
Serly datang dengan membawa nampan yang di atasnya minuman dan sebuah cake baru.
"Kak, ini kakak yang buat ya?" Serly bertanya seraya meletakkan nampan di atas meja teras.
Adelia menoleh, "Iya tadi kakak buat," jawabnya. "Ayo, di makan Dido!" lanjutnya menawari Dido.
Dido menjawab dengan tersenyum, "Baik kak,"
"Kak Rasya kemana kak?" Serly bertanya tentang keberadaan kakaknya itu.
"Mas Rasya, tadi lagi di ruang kerja. Katanya ada pekerjaan yang belum selesai hari kemarin," jawab Adelia kini dengan menggendong Baby Daffa.
"Oh, pantas saja. Terus, Mbak Nina sama Mbak Sarah kemana kak?" Serly kini bertanya tentang keberadaan dua baby Sister yang tidak ia lihat.
__ADS_1
"Lagi di suruh belanja sama Mama. Di temani Rara juga,"
Dido hanya mendengarkan saja, sembari terus mengajak Baby Saffa berbicara.
"Kak, bayi kakak ini umurnya berapa? kok udah pinter ya?" Dido kini bertanya tentang usia bayi yang ia gendong.
"Baru tujuh bulan. Lumayan Do, baru bisa beberapa kata sih," Adelia menjawab apa yang Dido tanyakan.
"Ini kembar kak? atau gimana?" tanya Dido lagi. Kini giliran Serly yang mendengarkan seraya memperhatikan Dido yang terlihat begitu suka pada anak kecil.
"Iya kembar. Ini kakaknya, Bang Daffa, dan Saffa adiknya," jawab Adelia.
"Kak Dido suka anak-anak ya?" Serly akhirnya menanyakan pemikirannya.
"Iya, Ser ... kakak hidup sendiri tanpa adik, dan tanpa seorang kakak. Jadi, senang gitu kalau lihat bayi atau anak kecil itu,"
"Kak Dido anak tunggal?" Serly seraya memotong kue buatan Adelia.
"Iya kakak anak tunggal," jawab Dido. "Kak, buat saya satu gimana?" Dido kini berbicara kepada Adelia seraya terkekeh.
Adelia tersenyum dengan menggelengkan kepala, "Enggak, Dido. Kakak gak mau ngasih bayi kembar itu. Aunty nya saja deh, buat kamu boleh!"
"Emang aunty nya boleh, kalau saya pinta?" tanya Dido sengaja ingin bercanda.
Sementara Serly yang sedang mengunyah kue, memanyunkan bibirnya mendengar pembicaraan Adelia dan Dido.
"Iya boleh, kakak dengan senang hati akan memberikannya," sahut Adelia dengan melirik ke arah adik iparnya yang kini wajahnya memberengut.
"Sayangnya, aunty Saffa gak mau sama Om," kata Dido dengan menatap wajah baby Saffa yang sedang memainkan rambutnya.
Adelia terbelalak. Maksud dari ucapan Dido sudah Adelia pastikan. Bahwa Dido di tolak Serly. Adelia yang sudah berpengalaman dan sudah tahu gerak-gerik serta sorot mata yang Dido pancarkan kepada Serly. Adelia tahu bahwa Dido mencintai dan menyukai adik iparnya tersebut.
"Benarkah?" Adelia menimpali. "Apa Om Dido sudah tahu apa alasannya?" Ah Adelia seakan menjadi baby Saffa untuk mengorek lebih tahu tentang Dido dan Serly.
Dido terkekeh, namun tetap menjawab. "Alasannya karena--" Dido sengaja tidak meneruskan ucapannya. Ia menatap wajah Serly yang memerah dengan memberengut menatap ke arahnya.
Membuat Dido tersenyum. Merasakan gemas dengan raut wajah Serly yang seperti itu.
...***...
__ADS_1