
Suara Kicauan burung membangunkan Adelia yang masih tertidur, Ia mengerjapkan matanya dan yang pertama di tatap adalah wajah sang Suami yang matanya masih terpejam. Dilihat tangan suaminya itu memeluk tubuh dirinya dengan wajahnya yang menghadap pada dirinya. Adelia tersenyum bahkan hatinya sangat bahagia. Ia tidak membayangkan akan bisa menikah dengan Rasya, yang pertamanya harus menikah dulu dengan wanita lain karena perjodohan.
Adelia terus memandang wajah suaminya itu, bahkan tangan nya terangkat, jari jemarinya mengelus pipi milik suaminya. Mata Rasya mengerjap karena merasa ada sentuhan di wajahnya, mata Rasya pun terbuka lalu bibirnya tersenyum saat yang dilihatnya Sang Istri sedang membelai pipi miliknya.
"Morning My Wife." Kata Rasya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya Morning My Husband." Sahut Adelia dengan tangan nya masih membelai pipi Rasya.
"Kiss Morning nya mana?." Goda Rasya.
Adelia mendelik dan mendudukkan tubuhnya, begitupun Rasya ikut terduduk juga.
"Aku lapar..." Sahut Adelia tanpa menghiraukan godaan Rasya.
"Mandi dulu yuk. Nanti setelah itu kita sarapan." Rasya berdiri mengecup kening sang istri dan bergegas ke dalam kamar mandi.
Adelia mengerucutkan bibirnya. Nampak kesal akan Rasya yang selalu saja menggoda.
"Ayo Sayang." Ajak Rasya kembali menoleh dari ambang pintu kamar mandi.
"Kamu mau lihat darah aku?." Kata Adelia dengan judes.
Rasya pun terkekeh dan menutup pintu kamar mandi.
Adelia mulai bangkit berdiri, merapihkan tempat tidur, dan melipat selimut. Kemudian Adelia menyapu kamarnya itu. Setelah selesai menyapu Adelia menyiapkan baju untuk Suaminya. Adelia memilih Celana Chino Panjang berwarna Hitam, dan atasan nya Kaos berlengan hitam juga di tambah Kemeja yang berwarna senada.
Tak lama Rasya keluar dengan sudah memakai celana bokser, ia tersenyum kala melihat pakaian yang sudah di sediakan oleh sang istri. Sedangkan Adelia langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah Rasya benar-benar keluar.
Rasya pun memakai pakaiannya dengan bibir yang masih tersenyum. Kemudian menyisir rambut, dan menyemprotkan parfum paforitnya.
Rasya tersenyum saat melihat Sang istri yang keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian yang senada dengan dirinya.
"Ceritanya kita couple-an warna ni?." Rasya seraya mendekat kepada istrinya dengan menaik-turunkan sebelah alisnya menggoda.
"Boleh juga di bilang gitu." Adelia dengan tersenyum.
Kemudian Sepasang pengantin itu keluar dari kamar dan berniat membeli makanan untuk sarapan nya.
Mereka memilih berjalan kaki, untuk mencari warung makan terdekat.
Dan tak berselang lama Mereka berdua menemukan Penjual Bubur Ayam khas Kota B itu.
"Syaa... Makan bubur aja yuk. Aku sudah lapar sekali." Adelia lalu menarik tangan Rasya agar cepat berjalan.
__ADS_1
"Sayang bisa kah cara memanggil mu di rubah?." Kata Rasya setelah mereka duduk di sebuah kursi yang sudah tersedia.
"Pak Bubur dua ya di sini." Adelia lebih terdahulu memesan bubur kepada penjualnya tanpa menjawab pertanyaan Rasya.
"Hei. Aku bicara sama kamu sayang." Rasya yang seakan di cueki memberi penjelasan.
"Iya aku tahu. Nanti dulu ya aku lapar. Aku tidak bisa banyak bicara kalau keadaan perut ku sedang kosong." Sahut Adelia beralasan.
Tak lama Penjual bubur itu pun menghidangkan dua mangkuk bubur di hadapan Rasya dan Adelia.
Adelia pun mulai mengaduk buburnya, dan meniup sebentar lalu melahapnya.
Begitupun dengan Rasya. Mereka makan bubur itu tanpa ada yang bicara. Sampai mereka selesai menghabiskan Bubur tersebut dan membayarnya.
Mereka berdua berjalan kembali dengan tangan Rasya terus menggenggam tangan Sang Istri. Dan di sela perjalanan mereka saling mengobrol.
"Sayang... Aku ingin kamu mengganti panggilan pada ku tidak dengan sebutan nama lagi." Ucap Rasya.
Adelia tersenyum. "Terus aku harus panggil apa?."
"Ya setidaknya panggil suami mu ini dengan layak. Walau bagaimanapun Aku ini suami mu sayang. Meskipun kita seumuran, bahkan bersahabat. Ya tetap kamu harus merubah panggilannya." Tutur Rasya dengan berjalan dan mulai merangkul bahu Adelia.
Adelia terdiam dan berpikir panggilan apa yang layak untuk suaminya itu. Tapi tak ada yang Adelia temui dalam pikiran nya.
"Kamu saja yang pilih. Kalau aku harus memanggil mu seperti apa." Adelia menyerahkan pendapat Rasya.
"Oke... Panggil aku, Sayang, Hubby, Mas, atau Honey." Dengan tersenyum Rasya mengatakan nama panggilan yang Rasya mau.
"Kenapa?. Bukankah kamu sendiri yang menyuruh aku menentukan nama panggilan nya?."
"Itu terlalu banyak." Protes Adelia.
"Ya pilih lah salah satunya. Atau coba kamu panggil dengan semua nama panggilan yang aku sebut tadi. Kalau terdengar nya sangat mengenakan aku akan memilihnya." Rasya menyuruh Adelia mencoba memanggil dengan nama panggilan yang tadi Rasya katakan.
"Sayang.... Hubby.... Honey..... em...."
Adelia menggantung kata-katanya kemudian berbisik. "Mas Rasya...." Lirih Adelia dengan merdu dan membuat Rasya menelan ludahnya, Sungguh panggilan terakhir Adelia membuat Buluk kuduk Rasya merinding karena tergoda.
"Itu yang terakhir saja. Coba Katakan lagi." Rasya masih ingin mendengar suara Adelia yang menurut di pendengaran nya begitu seksi.
Adelia memilih duduk dahulu di kursi depan Bengkel milik Rasya. Mereka sudah sampai.
"Mas Rasya... Aku Capek." Lirih Adelia dengan lembut.
Rasya langsung tersenyum dan mengecup bibir Adelia sekilas. "Nah itu saja. Aku suka mendengarnya." Seraya duduk di sebelah Adelia.
Selang beberapa Menit, terlihat Para pekerja Rasya berdatangan dengan memakai Motor miliknya masing-masing.
__ADS_1
Pertama yang datang Ivan, dan tak lama Damar. Kemudian Beni datang bersamaan dengan Aldi.
Mereka tersenyum kala melihat Bos nya yang sedang duduk di depan Bengkel dengan merangkul bahu istrinya.
"Selamat Pagi Bos." Sapa mereka.
"Ya Pagi. Ayo selamat bekerja kalian Semangat." Sahut Rasya menyemangati para pekerja nya.
"Iya Semangat Pak." Kata Mereka kompak.
"Em... Pak. MP nya tertunda ya?." Goda Ivan.
Yang membuat Rasya mendelik matanya tidak mau membahas pertanyaan Ivan.
"Hus... Elu Van, Bos udah nyemangatin kita. Lu malah membuat Semangat nya Down." Bisik Damar yang masih terdengar Rasya dan Adelia.
Adelia tersenyum karena memang sedari tadi Ia sangat mengerti kemana arah pembicaraan Ivan.
"Mas... Em... Aku boleh gak buka Toko Kue di sini?." Adelia mengalihkan pembicaraan setelah Para Pekerja Rasya masuk ke dalam Bengkel.
"Boleh. Apa Sih yang enggak buat kamu." Kata Rasya dengan mengecup tangan Adelia.
"Terima kasih." Adelia dengan tersenyum.
"Tunggu sebentar. Aku mau menemui Aldi dulu." Kata Rasya dan berdiri melangkah menuju Aldi.
Aldi yang sedang mulai menyiapkan alat bengkel menoleh kepada Bos nya yang sedang menghampiri.
"Ada Apa Pak Bos?." Tanya Aldi.
"Al... Aku mohon kamu belanja Properti untuk peralatan rumah Saya. Sekomplit mungkin. Oh ya dan jangan lupa peralatan masak dan peralatan membuat Kue. Istriku ingin membuka Toko Kue." Tutur Rasya dengan menyerahkan Kartu Atm miliknya kepada Aldi.
"Baik Pak." Sahut Aldi mengangguk.
Bos yang Nikah aku yang repot. Gumam Aldi di dalam hatinya setelah membayangkan hal semalam yang memalukan dirinya saat harus membeli pembalut untuk istrinya.
Dan kini Aldi harus berbelanja alat-alat rumah tangga.
Aldi berjalan gontai menghampiri Motor CBR miliknya. Namun saat Aldi akan menaikinya, Aldi di kejutkan dengan panggilan Rasya.
"Al..."
"Iya Pak?." Sahut Aldi.
"Nanti kamu telepon saya jika kamu merasa kebingungan akan peralatan dapur atau semacamnya. Biar Istri saya nanti mengingatkan nya." Tutur Rasya dengan menepuk Bahu Aldi.
"Iya Pak." Aldi mengangguk dan mulai menancapkan gas motornya dan berlalu pergi ke Toko Peralatan Rumah tangga yang di tuju.
__ADS_1
...Bersambung....
"