
Sepasang insan saling menatap setelah menghabiskan waktu penyatuan yang memabukkan. Nafas keduanya masih terengah-engah. Keduanya melakukan Dengan penuh rasa rindu, rasa cinta yang membara dari keduanya. Keduanya saling tersenyum, dengan peluh yang masih membasahi badan dan wajahnya.
Rasya merengkuh tubuh polos sang istri. Ia mengecup puncak kepalanya dengan terus membisikkan kata-kata sayang dan cinta. Membuat sang istri semakin terbuai.
"Sayang, apa kamu masih capek?" tanya Rasya setelah beberapa menit saling berpelukan.
"Kenapa Mas tanya begitu? tentu aku masih capek," sahutnya.
Kenapa istriku gak peka sih. Lihat benda pusaka ku sudah siap lagi untuk berperang. batin Rasya.
Mungkin karena tubuh keduanya saling menempel dengan keadaan polos, membuat suatu benda pusaka milik Rasya kembali berdiri dan tergerak.
Rasya ingin menggoda istrinya tepatnya ia akan berbuat nakal. Ia mencoba mengarahkan tangan Adelia ke arah benda pusaka miliknya yang tidak terlihat karena terbalut selimut.
"Mas mau apa?" tanya Adelia saat Rasya menuntun tangannya ke arah bawah.
"Enggak. Gak ada apa-apa," sahut Rasya datar. Padahal tangannya terus mengarahkan tangan Adelia ke arah benda pusaka itu. Dan tangan Adelia ia genggamkan saat sudah tertuju.
Adelia terbelalak kaget. Saat tangannya sudah tersentuh dengan benda yang Rasya genggamkan.
"Auw ... Mas itu apaan!?," pekik Adelia dengan berteriak. Ia bahkan langsung mendudukkan tubuhnya saking merasa takut.
Rasya hanya tergelak menanggapi istrinya yang ketakutan. "Kenapa Sayang, bagaimana teksturnya?" tanya Rasya masih tergelak.
"Mas, aku ini takut loh!! kenapa Mas, malah tertawa," pekik Adelia dengan cemberut. Ia merasa heran dan bahkan ketakutan.
"Kenapa takut?!, gak usah takut Sayang!" ucap Rasya dengan mendudukkan tubuhnya bersandar pada sandaran ranjang di sebelah sang istri.
"Sekarang kemana tikus nya Mas,?" tanya Adelia penasaran.
Rasya sontak tergelak, karena benda pusaka miliknya di sangka tikus.
"Mas, kenapa malah ketawa terus?" pekik Adelia yang masih belum mengerti.
Rasya kini hanya tersenyum, "Bagaimana kamu bisa sangka itu tikus, Sayang?"
"Ya, aku rasa begitu. Aku seperti pegang tikus Mas, kenyal-kenyal gitu bikin aku begidik tahu," celoteh Adelia dengan membayangkan se-ekor tikus yang tadi ia pegang.
Rasya di buat tergelak kembali. Bahkan ia sampai memegang perutnya karena merasa lucu dan gemas pada istrinya. Tawa Rasya memenuhi ruangan tersebut. Membuat Adelia hanya melongo menyaksikan tawa renyah dari suaminya.
"Oh Tuhan ... terima kasih, malam ini aku bisa tertawa lepas," ucap Rasya penuh syukur.
__ADS_1
Rasya kini menatap Adelia dengan tersenyum. Ia bersyukur bisa bersama kembali dengan istrinya.
"Sayang ... tadi bukan tikus yang kamu pegang," ujar Rasya seraya merangkul bahu Adelia. Kini Rasya serius tanpa tergelak.
"Lalu apa Mas, kalau bukan tikus?" tanya Adelia belum mengerti.
"Kamu beneran pengen tahu?"
Adelia mengangguk.
"Tadi kamu itu pegang, ular Sayang"
"A-apa Mas u-ular?!" Adelia melotot kaget.
Rasya mengangguk dengan menahan senyum dan tawa.
"Mas, aku takut. Kenapa Mas diam saja kalau ada ular di kamar ini?!" pekik Adelia dengan mengguncang lengan Rasya. Ia panik dan ketakutan.
"Tenang Sayang! kamu gak usah panik dan takut!!."
"Mas kok aneh gitu, mana bisa aku gak panik dan takut? ular Mas! ular ...." Adelia menggeleng-gelengkan kepala merasa aneh terhadap suaminya. "Mas, lihat bahkan tubuh kita masih polos, bagaimana kalau ular itu meng--"
Rasya melepaskan ciumannya. Ia memberikan kesempatan untuk istrinya menghirup oksigen. Namun, saat Rasya akan menautkan kembali bibirnya. Adelia menahan dada Rasya.
"Ada apa Sayang?" tanya Rasya dengan suara parau di tambah nafas yang memburu.
"Mas, bagaimana dengan ularnya? aku takut!"
Ternyata Adelia menahan Rasya untuk tidak menciumnya. Teringat akan ular yang Rasya katakan tadi.
Rasya tersenyum, "Tenang Sayang ... ularnya tidak menakutkan, kok" ucap Rasya seraya langsung menyambar kembali bibir sang istri.
Adelia pun kini mulai merasa tenang. Karena ucapan Rasya yang mengatakan bahwa ular yang berada di kamar tersebut tidak menakutkan.
Adelia kembali terbuai dengan setiap sentuhan-sentuhan tangan nakal Rasya. Ia memejamkan matanya saat Rasya mulai menyerang dengan benda pusaka miliknya.
Hentakan demi hentakan Rasya berikan dengan gerakan lembut. Mengingat sang istri yang tengah berbadan dua. Hingga beberapa menit kemudian keduanya saling mengerang, meracau nikmat. ******* demi ******* keluar dari mulut Adelia. Membuat Rasya tersenyum senang.
Selang beberapa menit kemudian. Acara penyatuan pun terlepas. Setelah benda pusaka milik Rasya mengeluarkan bersamaan dengan Sang istri yang mengerang nikmat.
"Mas ...."
__ADS_1
Adelia memeluk tubuh Rasya. Ia kini merasa lelah dan merasa haus.
"Ada apa, Sayang?" sahut Rasya dengan mengelus punggung polos sang istri yang mulus.
"Aku haus,"
"Tunggu ya, aku bawa dulu air minumnya," ucap Rasya seraya akan bangkit dari ranjang.
"Tapi Mas aku takut!" Adelia menahan tubuh Rasya untuk bangun.
"Takut, apa hmm?"
"Takut Ular tadi Mas," ujar Adelia masih dengan berwajah panik.
Rasya terkekeh, "Gak Sayang, ularnya sekarang sudah tidur kembali. Asal jangan kamu sentuh saja!" membuat Adelia menatap dengan bingung.
"Ok, aku akan bawa air minumnya dulu!" ujar Rasya seraya memakai celana da*am dan celana boxernya.
Sebelum Rasya keluar kamar, ia berbisik dahulu, "Oh iya, masalah ular tadi. Em ... sudah buat kamu nikmat loh," bisik Rasya pada telinga Adelia. Membuat Adelia berpikir keras ia belum saja mengerti.
Hingga Rasya kembali ke dalam kamar. Adelia masih berpikir keras.
"Ini Sayang, minum dulu!" ucap Rasya dengan menyerahkan botol air mineral yang sudah ia buka.
"Terima kasih Mas," sahut Adelia dengan mulai meneguk air tersebut. Dan setelahnya Adelia taruh di atas nakas samping ranjang.
"Sini Sayang ... pakai dulu bajunya!. Aku takut kamu masuk angin kalau kelamaan tidak pakai baju," titah Rasya dengan gerakan akan memakaikan baju kepada Adelia.
Adelia menggeleng, "Biar aku sendiri saja Mas," tolak Adelia.
"Enggak. Aku tadi yang buka. Sekarang aku juga yang memasangkan," kekeh Rasya.
Adelia pun menurut dengan mendengus. Ia pasrah di pasangkan baju oleh suaminya. Dari mulai baju da***an, hingga piyama yang Adelia pakai tadi kini sudah terpasang di tubuh Adelia. Rasya lalu mengecup perut Adelia yang sudah terlihat membuncit.
"Yang kuat ya Sayang di Perut Bunda," ucapnya dengan membelai lembut perut istrinya tersebut.
Adelia tersenyum hangat. Ia merasa bahagia dengan perlakuan Rasya. Ia merasa beruntung. Terlihat bahwa suaminya sangat mencintai dirinya.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1