You Are My Mine

You Are My Mine
Rasya Vs Ariyanti


__ADS_3

Rasya sepulang dari Adelia kini telah berada di kantornya. Rasya memang dalam bekerja ia sangat gigih dan rajin. Sebagai orangtua nya pun bangga memiliki anak Lelaki seperti Rasya.


Tiba-tiba papa Rasya masuk, dan duduk di kursi yang berada di depan meja Rasya.


Rasya hanya sedikit menoleh, dengan tetap pokus pada pekerjaannya.


"Rasya nanti sore kita berkunjung ke rumah Ariyanti,seperti yang tadi pagi papa bicarakan".Ujar Om Hadi.


Rasya pun hanya mengangguk saja, tidak mungkin Rasya bilang tidak, karena bagi Rasya tidak ada alasan lagi untuk menolak permintaan orang tuanya saat ini.


Papa Rasya pun keluar kembali. Ternyata ia hanya datang untuk mengatakan tentang itu saja.


"Aghhhhhh...... Aku harus bagaimana? aku tak mencintai Ariyanti. Dan aku pun tak bisa menolak ke inginan Mama dan Papa" Rasya menggebrak meja kerjanya, seakan ia meluapkan isi hatinya.


Tak terasa waktu kerja Rasya pun telah usai.


Seperti yang Papa nya bicarakan tadi, Rasya akan pergi ke Rumah Ariyanti, Dengan Hadi dan Lia kedua orang tua Rasya.


Hadi dan Lia sudah lebih dulu sampai di kediaman Ariyanti.


Sedangkan Rasya masih di jalan dengan mengendarai mobilnya.


Orang tua Rasya pun kini telah duduk di Ruang Tamu Rumah Ariyanti.


Dengan perbincangan ringan mereka mengobrol sebelum ke pembicaraan inti yaitu tentang pernikahan antara Rasya dan Ariyanti.


"Oh ya Ariyanti sayang, bagaimana dengan perasaan mu sekarang terhadap Rasya. Kalian kan sudah empat bulan lamanya berdekatan?".Tanya Lia Ibu Rasya kepada Ariyanti.


Ariyanti hanya tersenyum malu, pikirnya tidak mungkin ia harus mengatakan kalau Ariyanti sudah Jatuh cinta kepada Rasya.


"Lho jeng, kenapa menanyakan tentang itu kepada Ariyanti? tentu lah Ariyanti sudah menyukai Rasya bahkan mungkin sudah jatuh cinta". Celetuk Alin ibu Ariyanti, seraya menggoda anaknya.


"Ih... mama apaan sih?". Ariyanti memerah pipinya menahan malu karena di goda sang ibu.


Tiba tiba Rasya datang dengan menyalami kedua Orang tuanya,dan juga Orang tua Ariyanti.


Setelah itu Rasya pun duduk di sofa yang kosong dekat Ariyanti.


"Rasya, seperti apa yang papa tadi bicarakan. Kami di sini berkumpul akan membicarakan perihal waktu dan tanggal pernikahan kalian. Jika papa menurut mu terlalu buru-buru itu memang iya, karena Kami sebagai Orang tua tidak ingin lama-lama menunda perihal pernikahan kalian". Ucap Hadi papa nya Rasya, menjelaskan tentang di percepat perihal pernikahannya.


"Ya Rasya serahkan saja kepada Papa, apa itu keputusan papa." Rasya pasrah dengan menghela nafas lembut.


"Gimana Pak Rony?, Sudah punya tanggal yang bagus belum untuk acara akad anak kita?", Tanya Hadi meminta Saran kepada Rony calon besannya.


Sementara Lia,Alin, dan Ariyanti hanya diam mendengarkan untuk menyimak.


"Kalau menurut saya, bagaimana kalau pas tanggal hari ulang tahun Ariyanti?. Agar setiap Hari ulang tahun pernikahannya pun, di tanggal hari ulang tahunnya". Saran Rony.


"Bagus juga itu, dan kapan itu tanggal ulang tahun Ariyanti?".Hadi sangat antusias.


"Tanggal 14 Agustus, itu tanggal lahir Ariyanti", Tukas Rony.


"Rasya, Ariyanti bagaimana?". Tanya Hadi papa Rasya.


Rasya menunduk dan memejamkan sejenak matanya, sebulanan lagi Rasya akan menikahi gadis yang tidak sama sekali Rasya cintai.


Akhirnya Rasya pun mengangguk mengiyakan atas keputusan Orang tuanya.


Ariyanti pun tersenyum mengangguk setelah melihat Rasya mengangguk.


"Kalau begitu kita persiapkan segala hal yang berhubungan dengan acara Akad, resepsi, bahkan sekalian acara ulang tahun Ariyanti". Ucap Mama Rasya yang sedari tadi menyimak, kini bersuara memberikan saran nya.


"Iya betul jeng, itu harus kita persiapkan". Alin ibu Ariyanti pun menimpali tanda setuju.


Hadi dan Rony pun saling mengangguk menyetujui apa yang di katakan Lia mama nya Rasya.

__ADS_1


Setelah acara pembicaraan tentang pernikahan pun selesai, Mereka pun melakukan Makan Malam bersama di kediaman Ariyanti yang telah di sediakan.


Namun tidak dengan Rasya, ia memilih keluar rumah untuk menyendiri, Rasya beralasan masih kenyang dan belum mau untuk makan.


Rasya kini duduk di sebuah kursi yang berada di taman rumah Ariyanti.


Rasya memejamkan matanya, merasakan hembusan angin menerpa wajahnya.


Ariyanti datang menghampiri dan ikut duduk di sebelah Rasya dengan Diam. Bahkan Rasya tidak menyadari atas kedatangan Ariyanti.


"Aghhhhhh........" Rasya mengerang.


Membuat Ariyanti kaget yang berada di sampingnya. Namun Ariyanti tak mau bersuara. Seakan ingin tahu apa yang kini Rasya sekarang rasakan, karena berbeda dengan di hadapan Orang tuanya Rasya selalu menampilkan wajah yang sedang biasa saja. Tapi kini di belakang kedua Orang tuanya Wajah Rasya seakan prustasi.


"Rasya, are you okey?" Ariyanti memberanikan diri menanyakan keadaan Rasya.


Rasya pun menoleh dengan kaget, hampir saja Rasya akan mengumpat dan mengeluarkan keluh kesah nya di hadapan Ariyanti.


Rasya menjawab dengan mengangguk.


"Aku kaget mendengar kamu mengerang, apa kamu sedang merasakan tak enak badan?". Ujar Ariyanti dengan tangan nya mencoba ia tempelkan ke kening Rasya.


Namun seketika Tangan Ariyanti Langsung Rasya tepiskan dengan kasar.


"Rasya ada apa? Kenapa kamu bersikap seperti itu?" Tanya Ariyanti heran.


"Aku mohon kamu jangan sentuh-sentuh aku!". Rasya menegaskan.


"Apa salahnya aku menyentuh kamu?, lagian sebentar lagi kita akan menikah." Ucap Ariyanti.


Rasya tersenyum kecut.


"Pernikahan yang di ingini orang tua begitu?". Jelas Rasya.


"Jelas aku menerima keputusannya. Karena aku tidak ingin mengecewakan nya. tapi Seharusnya kamu tahu Aku tidak menginginkan pernikahan ini." Rasya meluapkan semuanya.


Jedder..... Ariyanti seakan tersambar petir mendengar apa yang Rasya tuturkan.


Badan Ariyanti seakan melemah setelah mendengarnya.


"Aku mencintai kamu Rasya." Ucap Ariyanti.


"Tapi tidak dengan aku." Ucap Rasya dengan jelas.


Badan Ariyanti semakin melemah setelah mendengarkan lebih jelas lagi jika Rasya tidak mencintainya. Pandangan Ariyanti mulai buram, dan semakin gelap. Ariyanti pun Ambruk tak sadarkan diri.


Rasya yang melihatnya begitu sangat kaget, dengan Ariyanti yang tiba-tiba pingsan.


Rasya pun langsung menggendong Ariyanti untuk di bawa masuk ke dalam rumah.


Rasya melewati Ruang tamu Rumah Ariyanti, dan Sangat kebetulan sekali kedua Orang tua Ariyanti dan Orang tua Rasya sedang duduk di sofa tersebut. Mereka pun sontak kaget melihat Ariyanti yang tak sadarkan diri di pangkuan Rasya.


"Rasya ada apa dengan Ariyanti, kenapa dia tiba-tiba pingsan?". Ibu Rasya bertanya dengan sangat cemas.


"Rasya juga tidak tahu ma. Ariyanti tiba-tiba saja pingsan" Ujar Rasya.


"Ya sudah ayo bawa Ariyanti ke kamarnya". Perintah Alin Ibu Ariyanti.


Rasya pun menaiki anak tangga membawa Ariyanti untuk ke kamarnya.


Di susul Lia dan juga Alin.


Setelah sampai di lantai atas, Alin pun menunjukkan Kamar Ariyanti, Dengan membuka kan pintu untuk Rasya masuk.


Ariyanti pun kini sudah di baringkan oleh Rasya di atas kasurnya.

__ADS_1


Alin pun dengan cepat mencari Minyak Angin untuk membantu menyadarkan Ariyanti.


Setelah Minyak Angin itu ketemu, Alin pun sesegera mungkin mengolesi ke hidung Ariyanti, agar tercium bau khasnya oleh Ariyanti.


"Ariyanti memang sering pingsan seperti ini Rasya". Ucap Alin Ibu Ariyanti.


Rasya yang memang hatinya baik, seakan bersalah terhadap Ariyanti. Rasya sadar seharusnya ia tidak boleh berkata seperti tadi, dan mengatakan semuanya.


Ariyanti, aku mohon maaf.


Kamu seperti ini, pasti karena ucapanku.


Rasya berbicara sendiri di dalam hatinya.


Dan Rasya pun seakan lega melihat Ariyanti yang mulai membuka matanya.


Ariyanti kini telah sadar dari pingsannya, Ariyanti sedang mencerna apa yang sebelumnya terjadi sampai ia pingsan.


"Sayang kamu minum dulu". Ibu Ariyanti menyerahkan segelas air agar Ariyanti meminumnya.


Ariyanti pun minum.


"Sayang, katakan ada apa kamu tiba-tiba pingsan?". Tanya Lia ibu Rasya yang khawatir.


Ariyanti menoleh sekilas ke arah Rasya yang sedang menatapnya.


Rasya pun panik, seakan takut Ariyanti akan menceritakan Apa yang Rasya tadi katakan.


"Aku tiba-tiba pusing tante". Ucap Ariyanti bohong.


Aku tidak mungkin menceritakan kalau Rasya terpaksa akan menikahi ku.


Aku tidak mau sampai batal, karena Aku sangat mencintai Rasya.


*Batin Ariyanti.


Rasya mendengarnya seakan lega, Ariyanti tidak menceritakan yang sebenarnya.


Sementara itu di tempat lain, Adelia menjadi murung setelah kepergian Rasya tadi pagi.


Adelia murung bukan karena di tinggalkan Rasya pergi, namun Sebuah Kesalahan yang di lakukan antara Rasya.


Adelia merutuki dirinya sendiri yang terbawa suasana, karena ia tidak bisa menolak apa yang Rasya lakukan, bahkan dirinya ikut menikmati.


"Del, Lu dari pagi belum keluar kamar, Lu belum makan juga. Lu gak enak badan bukan?". Tanya Rara.


Memang Setelah tadi pagi Adelia masih terus berada di dalam kamar.


Adelia menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Terus Lu itu kenapa?, gue cemas dan khawatir lihat Lu. atau Rasya telah nyakitin elu, karena lu jadi gini setelah tadi Rasya ke sini". Ujar Rara, dan membuat Adelia menunduk.


"Tuh kan Lu malah nunduk lagi, coba cerita sama gue Lu itu kenapa Del?". Pinta Rara kepada Adelia untuk menceritakan nya.


"Enggak Ra, aku gak mungkin menceritakannya sekarang". Ujar Adelia yang seakan ingin menangis.


"Ya sudah, mending sekarang Lu makan dulu. gue gak mau Lu sampai sakit. Kalau elu sakit, nanti gue yang repot". Tukas Rara sedikit bercanda.


"Iya Aku mau makan Ra". Ucap Adelia.


"Yuk, kita ke bawah. gue tadi udah masak koq". Rara menggandeng Adelia untuk turun ke lantai bawah.


Setelah sampai di lantai bawah, Adelia pun makan dengan lahap, dan terus jadi bahan perhatian Rara. Rara seraya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Adelia yang seakan sudah lama tidak makan, walau memang baru sehari ini saja.


Bersambung.......................

__ADS_1


__ADS_2