You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 209.


__ADS_3

Rasya kini tengah memijit kaki Adelia. Dengan di selingi candaan dan gelakan tawa, tentunya karena Rasya selalu berhasil membuat Adelia terus tersenyum dan merasa bahagia.


Karena Adelia mengeluh pegal-pegal, akhirnya Rasya menawari untuk memijit kaki sang istri tercinta. Tentu Adelia tidak mau menolak tawaran dari suaminya itu.


"Mas, yang kuat dong biar kerasa," keluh Adelia yang merasa pijitan suaminya kurang bertenaga.


Rasya tersenyum, seraya tangannya memijit kaki putih mulus istrinya, "Bagaimana, sekarang sudah kerasa?" tanyanya. Karena Rasya sudah menambah volume tenaganya.


"Sedikit lagi," pinta Adelia kembali.


"Masa sih, Sayang ... masih gak kerasa?!" tanya Rasya heran, karena merasa sudah mengerahkan tenaganya.


Adelia menyengir, "Ya emang belum kerasa Mas, apa karena kaki aku yang terlalu tebal ya?" ucapnya.


Rasya tergelak, "Bisa jadi," sembari tangannya terus memijit kaki sang istri.


"Apa, Mas gak eneg lihat tubuhku, melar dan bengkak seperti sekarang?" tanya Adelia ingin memastikan bahwa suaminya masih menyukai perubahan tubuhnya yang sekarang.


Rasya tersenyum sangat manis, ia kini menghentikan pijatannya. Berpindah menatap sang istri dengan serius, tentu tatapannya dengan penuh cinta, "Walaupun semua yang ada di tubuh kamu itu, semakin bengkak. Tapi, aku tetap suka. Wajahmu semakin cantik setiap harinya. Di tambah kamu menjadi menggemaskan seperti ini, karena ada buah cinta kita di rahim mu itu. Sayang ... kamu itu membuat cinta ku semakin bertambah, dan membuat aku ingin menerkam kamu terus" ungkapnya.


Adelia terkekeh, "Mas, kamu itu gombal ya?"


"Enggak sayang ... aku serius. Aku gak merasa gombalin kamu, kalau godain kamu emang iya," candanya.


Adelia mencubit hidung suaminya dengan gemas, "Kamu itu, ada-ada saja, ya!!"


"Ish ... jangan di cubit gitu dong Sayang, nanti hidung suami kamu semakin mancung," keluhnya dengan mengusap-usap hidung yang habis di cubit istrinya.


Adelia yang tergelak, lalu tubuhnya di rengkuh sang suami. "Sayang ... apa kamu bahagia, hidup bersama ku?" tanyanya.


Adelia mengangguk.


"Terima kasih, Sayang ... kamu sudah mau hidup bareng aku yang tidak sempurna ini," ucap Rasya. Sembari mengecup puncak kepala Adelia dengan lama.


"Mas, jangan bilang gitu! aku juga sama tidak sempurna, masih banyak kekurangannya. Dan yang harus kita ketahui, tidak ada makhluk yang paling sempurna di dunia ini kecuali Sang Pencipta,"


Rasya mempererat pelukannya, "Sayang ... sekarang kamu kembali pintar," ujarnya.


"Ish ... Mas ini. Emang aku kemarin-kemarin bodoh, gitu?!" sela Adelia.


"Iya. Kamu kemarin-kemarin mendadak polos,"


"Tapi, kamu tetap cinta, Mas?"


Rasya mengangguk, "Tetap. Dan selamanya,"


"Ih ... suamiku so sweet," puji Adelia dengan mengecup pipi Rasya.


Tiba-tiba pintu kamar ada yang mengetuk. Membuat Rasya mengurai pelukannya, dan bergegas menghampiri pintu, untuk ia buka.


Dan saat di buka. Lia nampak berdiri di depan pintu kamar Rasya.

__ADS_1


"Mama," sapa Rasya.


Lia menatap ke arah dalam kamar, "Apa Adel baik-baik saja?" tanyanya. Yang memang sehari ini ia tidak bertemu dengan Adelia. Karena Lia sedang ada pertemuan dengan teman-teman sosialitanya.


"Istriku baik-baik saja kok, Ma" sahut Rasya.


"Ya sudah ayo kita makan malam. Oh iya, apa kamu tahu siapa yang memasak makanan di meja makan?" kini Lia menanyakan tentang siapa yang memasak makanan yang sudah tertata rapih di meja makan.


"Siapa lagi dong, Ma. Kalau istriku yang selalu masak," ucap Rasya bangga.


Lia tersenyum, "Ya sudah. Ayo Mama tunggu di meja makan," Lia pun pergi dari hadapan Rasya.


Adelia yang tadi ketika Rasya membuka pintu. Ia beranjak ke kamar mandi. Hingga tidak tahu siapa yang mengetuk pintu. "Mas, siapa tadi?" tanya Adelia. Saat Rasya baru saja menutup pintu kamar.


"Mama. Tadi nanyain kabar kamu, Sayang ... terus sekarang Mama nunggu kita untuk makan malam," Rasya seraya membelai pipi mulus Adelia yang kini berubah chubby.


"Ya sudah. Ayo Mas!" ajak Adelia dengan menggandeng lengan Rasya.


"Ayo, Sayang!" sahutnya seraya membukakan pintu kamar.


Keduanya pun melenggang melangkah ke arah dapur. Dan terlihat semua penghuni rumah sudah terduduk, kecuali pasangan yang baru datang.


"Malam, Semuanya," sapa Adelia seraya duduk di kursi yang sudah Rasya tarik terlebih dahulu.


Hadi, Serly, dan Rara hanya merespon dengan tersenyum. Sedangkan Ariyanti. Seakan tidak mau menatap Adelia dan Rasya yang baru datang itu.


"Malam, Sayang. Bagaimana, keadaannya?" tanya Lia yang merespon seraya bertanya tentang keadaan menantunya.


"Baik Ma, hanya pegal-pegal saja tadi," sahut Adelia.


"Oh ya? terus udah terlaksana, belum Sayang?" tanya Lia memastikan.


"Sudah Ma. Rara yang belikan tadi," ucap Adelia. Dengan tangannya mulai menyidukkan nasi untuk Rasya.


"Syukurlah," ucap Lia.


"Pakai rendang saja, Sayang" pinta Rasya. Saat Adelia akan mengambil sayur bayam. Dan Adelia pun menurut.


Dan seketika berubah hening di meja makan tersebut. Tidak ada pembicaraan lagi. Karena semua sedang melahap makan malamnya.


"Ini Mama yang masak? Rendangnya enak sekali," puji Hadi yang telah selesai dengan makannya.


Lia tersenyum, "Adel, yang masak Pa. Menantu kita itu jago dalam hal masalah isi perut," goda Lia dengan tersenyum kepada Adelia.


"Bukan tentang hal masalah perut saja, Ma. Tapi hal di ra--" Rasya sengaja menggantung ucapannya. Ia melirik kepada sang istri yang sedang menunggu Rasya meneruskan ucapannya. Rasya mengerlingkan sebelah matanya menggoda sang istri.


"Apa sih, Mas?" tanya Adelia yang tidak mengerti.


"Iya. Kak Rasya gak jelas," timpal Serly.


Sementara Ariyanti semakin tidak suka saja. Melihat Adelia dan Rasya yang saling terus tersenyum. Ia memilih menunduk saja.

__ADS_1


Lia yang paham apa yang akan Rasya ucapkan. Menggeleng-gelengkan kepala. "Pa ... putra kamu sekarang nakal, ya?!"


Hadi terkekeh, yang memang dirinya pula mengerti apa yang akan di ucapkan Rasya, "Itu anak mu, Ma ...," sahutnya.


Lia mendelik, sementara Hadi terkekeh.


"Putra kita, Pa ...,"


"Iya putra kita,"


Rasya yang melihat kedua orang tuanya saling melempar godaan. Ia ikut tersenyum. Merasa kedua orang tuanya begitu harmonis.


"Ma ... Pa ... besok aku ijin kemping ya," Serly membuat Hadi dan Lia menghentikan tatapannya. Kini beralih menatap putri kesayangannya.


"Kemping? bukannya, kamu masih ujian?" tanya Hadi yang tahu Serly sedang melaksanakan ujian nasional.


"Sudah selesai Pa. Tinggal nunggu kelulusan. Makanya selagi menunggu kelulusan, sekelas kami melakukan kemping. Hitung-hitung acara perpisahan," ujar Serly.


"Boleh, ya Ma ... Pa?," lanjut Serly meminta persetujuan Kedua orang tuanya kembali.


Lia dan Hadi akhirnya mengangguk. Memberikan ijinnya kepada Serly.


"Asyik ... terima kasih, Ma ... Pa ...," ucap Serly senang.


"Kamu kemping kemana?" Rasya kini bertanya.


"Ke puncak, kak" sahut Serly.


"Ya sudah hati-hati. Kalau ada apa-apa. Hubungin kakak," pesan Rasya.


"Iya siap kak," sahut Serly dengan mengacungkan jempol kanannya.


Hadi kini beralih berbicara kepada Ariyanti, yang sedari tadi diam saja.


"Ariyanti, ada yang menitipkan salam untuk mu," ucap Hadi. Membuat Ariyanti menatap sahabat Papanya itu.


"Salam dari siapa, Om?" tanyanya.


"Dari Arman, asisten Presedir perusahaan Albian Company," sahut Hadi.


"Katanya, kamu terjatuh pas di proyek kota B. Di tolong sama Arman, betul?" tanya Hadi kini.


Seketika Ariyanti melirik ke arah Adelia. Kemudian ia mengangguk dengan perlahan, "Iya Om," ucapnya.


Adelia menautkan kedua alisnya. Dan kini ia tahu bahwa Ariyanti telah membohonginya,


"Tadi pagi bilangnya sama aku. Di tolong sama Mas Rasya, dan di obati sama Mas Rasya juga. Ih dasar, wanita ular pembohong," batin Adelia menggerutu kesal, karena Ariyanti telah membohonginya.


Rasya menahan senyumnya saat menatap raut Adelia yang merasa kesal telah di bohongi Ariyanti.


"Bagaimana, Sayang. Dia telah bohongi kamu, kan?!" bisik Rasya. Membuat Adelia mengangguk. Dan bisa bernafas lega, setidaknya apa yang di ucapkan Ariyanti adalah tidak benar.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2