You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 94.


__ADS_3

Di Ruangan Rumah Sakit Seorang Pria Paruh baya sedang tersenyum menyeringai. Ia telah berhasil membuat rencana untuk menaklukan putranya. Ia membujuk sang Istri memberi pesan kepada Putranya itu, mengatakan bahwa dirinya telah merestui hubungan antara putranya dan kekasihnya itu, bahkan dirinya menyuruh agar Putranya itu menikah Siri terlebih dahulu dengan beralasan dirinya saat ini masih terbaring lemah, dan keputusan menikah itu harus di segerakan.


Hadi Papa Rasya terus tersenyum senang siasatnya atau rencana permulaan nya baru berjalan. Seketika senyumnya surut saat ada suara handle pintu terbuka, menampakan sosok Istrinya yang datang melangkah menghampiri.


"Apa Papa butuh sesuatu?." Tanya sang istri.


"Tidak Ma. Papa hanya ingin cepat keluar dari Rumah Sakit ini, dan ingin menyaksikan Rasya menikahi gadis pujaan nya." Hadi dengan wajah memelas padahal di baliknya itu ia sedang berperan agar Istrinya itu sangat mempercayainya.


"Mama juga ingin melihatnya Pa. Namun Mama harus menemani Papa di sini. Tapi Nanti pas Papa Sudah sembuh, Papa bisa melihat acara resepsi dan peresmian Pernikahan mereka." Tutur Lia dengan menggenggam tangan suaminya.


Peresmian?. Itu tidak akan terjadi.


Setelah aku tahu Adelia adalah anak dari Wira Atmaja. Aku jadi benci.


Batin Hadi.


Ternyata di balik ketidak sukaan nya Hadi terhadap Adelia, ada dendam di masa lalu.


Dan Hanya Hadi lah yang tahu.


"Iya Ma." Ucap Hadi singkat.


...****************...


Sementara itu di Kota B, Rasya sedang duduk di hadapan penghulu akan melaksanakan Ijab Kabul, dengan sudah memakai Jas Hitam, dan kopiah hitam dan di sampingnya Adelia sudah mengenakan kebaya putih dengan sanggul yang membuat penampilan nya sangat cantik.


Di dampingi Ibu Aldi, Aldi, dan beserta teman nya. Bahkan Para Ustadz, Pak Rt, dan warga ikut serta menjadi saksi pernikahan Rasya dan Adelia. Walaupun ada terbesit Rasa tidak ingin menikah secara Siri di hati Rasya dan Adelia, tapi Inilah salah satu jalan terakhir agar mereka bisa bersatu, dan tidak ada pandangan negatif terhadap mereka.


Setelah kata 'SAH' Rasya menyematkan Cincin nikah di jari manis Adelia dengan mengecup kening Adelia dengan hangat, begitu sebaliknya Adelia setelah menyematkan Cincin nikah di jari manis Rasya, Adelia mencium punggung tangan suaminya.


Semua yang hadir bersalaman, dan mengucapkan kata selamat kepada kedua mempelai. Adelia terharu kepada Warga dan Pekerja Rasya yang begitu ramah dan seakan seperti keluarga sendiri.


Setelah acara Ijab kabul selesai, Mereka pun pulang. Rasya mengajak Adelia pulang ke Kamar yang berada di Bengkel. Kamar itu akan menjadi kamar Pengantin mereka.


Kini Rasya sedang berada di dalam kamar mandi yang terdapat di dalam Kamar itu, sedangkan Adelia sedang duduk di atas tepi Ranjang menunggu Rasya yang sedang mandi.


Ceklek.... Rasya keluar dari kamar mandi dengan Handuk yang melilit di pinggang nya. Adelia langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi hingga melupakan Handuk beserta Baju untuk ganti. Adelia ternyata sedang kebelet, bahkan perutnya sedang begitu sakit. Dan Adelia melotot kala melihat darah pada ****** ***** nya. Ternyata sakit perutnya itu tanda akan menstruasi pertama.


Adelia pun melakukan aktivitas mandinya. Lalu saat selesai mandi Adelia merutuki dirinya yang telah lupa membawa handuk, beserta baju ganti ke dalam kamar mandi.


Adelia membuka pintu kamar mandi sedikit, hanya kepalanya saja yang Ia tampakkan ke luar.


"Syaa...." Adelia memanggil Rasya.


Rasya yang baru saja duduk di ranjang, berjalan mendekati pintu kamar mandi.


"Ada apa?."


"Maaf aku mau minta tolong, em... tolong ambilkan handuk di dalam koper itu. Dan baju beserta yang lain nya." Adelia dengan malu tanpa mengatakan pakaian dalam ia mengganti dengan kata 'yang lainnya'.


Rasya pun mengangguk dan meraih koper milik Adelia, dan membukanya. Lalu mengambil handuk.


Kemudian Rasya menyerahkan nya ke Adelia yang hanya tangan nya saja yang terlihat.


Adelia heran dengan menerima hanya handuk saja dari Rasya, lalu kepalanya menoleh kembali.

__ADS_1


"Sya... Baju nya mana?."


"Tidak usah di baju. Nanti juga akan di buka." Ucap Rasya seakan memberi peringatan bahwa sekarang malam pertama bagi dirinya dan Adelia.


"Tapi Sya... Mana mungkin aku tidak pakai baju. Aku takut darahnya ini berceceran." Kata Adelia tanpa mengerti ucapan peringatan Rasya tadi.


Rasya langsung terkejut beserta berwajah khawatir. "Darah?. Apa kamu terluka sayang?." Tangan nya sudah mendorong pintu yang sedikit terbuka itu.


Rasya langsung menatap tubuh Adelia yang sedang memakai handuk itu. Namun dirinya tidak menemukan ada luka dari diri Adelia. Hingga Rasya dadanya naik turun menyaksikan tubuh Adelia yang memakai handuk pendek tersebut, Sesekali menelan salivanya.


"Mana tidak ada yang terluka sayang?.


Adelia akhirnya keluar dari kamar mandi, membiarkan pertanyaan Rasya yang masih mengkhawatirkan nya. Adelia tidak mungkin terus tidak memakai pakaian nya bisa-bisa darah Menstruasinya keluar tiba-tiba.


Adelia pun sudah mengambil baju, dan bergegas masuk kembali kedalam kamar mandi, dan mendorong tubuh Rasya terlebih dahulu.


"Sayang apa nya yang berdarah?." Setelah Adelia keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama.


"Aku datang bulan. Dan kebetulan persediaan pembalut habis." Tutur Adelia, yang membuat Rasya berwajah muram.


"Kenapa harus sekarang sih?. Ini malam pengantin kita sayang." Rasya frustasi malam yang di nantikan nya harus tertunda.


"Ya memang sudah saatnya lah. Aku juga tidak bisa harus menghalanginya. Ayo beliin aku pembalut." Kata Adelia dengan ketus dan menyuruh Rasya untuk membelikan pembalut.


"Aku?. kenapa harus aku?. Ayolah kamu aja sayang. Atau kita berdua saja. Aku malu lah harus beli benda itu." Rasya dengan wajah memelas. Sudah gagal Malam penantian nya, Ia tidak mau di tambah Malam pertama menjadi malam memalukan bagi dirinya.


"Ya Sudah Ayo. Kamu jangan salahkan aku kalau nanti di jalan banyak darah yang bercecer dari tubuhku." Adelia dengan ingin memberi Rasya tantangan. Sedikit mengerjai Rasya tak apalah pikir Adelia.


"Ok. Kamu di sini saja. Aku akan membelikan nya. Aku tak mau itu sampai terjadi." Rasya langsung meraih kunci mobil dan mengecup kening Adelia sekilas.


Rasya yang sudah menyetir mobilnya teringat akan Sebuah Mini Market yang begitu jauh di Kampung itu.


"Ke Warung biasa saja sepertinya."


Rasya bermonolog, dan melihat warung besar di seberang jalan. Dan terdapat Para Pekerja Bengkelnya itu yaitu Ivan, Beni, Damar, dan Aldi sedang duduk nongkrong. Karena khusus Dari selesai makan siang tadi dan malam ini Bengkel di tutup.


"Bos..." Sapa Mereka bersamaan.


"Kalian lagi nongkrong?." Sapa Rasya balik.


"Iya Bos. Eh Bos bukan nya Bos harus di dalam kamar." Celetuk Ivan yang prontal.


Rasya seketika memperlihatkan wajah muramnya. "Tolong Belikan pembalut." Tanpa menjawab pertanyaan Ivan, dan menyerahkan Selembar uang berwarna merah kepada Aldi.


"Pe-pembalut?." Aldi gelagapan.


"Iya. Al tolong belikan." Kata Rasya kembali.


Aldi saling pandang dengan ketiga teman nya itu. Tapi Aldi tidak bisa menolak, karena itu merupakan sebuah perintah dari Bosnya.


Seketika tawa Ivan, Damar, dan Beni pecah. Tidak dengan Aldi yang mengumpulkan tekadnya untuk membeli Benda tersebut.


Aldi kemudian mendekati pemilik warung, yaitu seorang Wanita paruh baya.


"Bu ada pembalut?." Tanya Aldi dengan wajah merah menahan malu.

__ADS_1


"Mau yang sayap, atau yang biasa?." Kata Ibu penjual itu.


"Hah??." Aldi melongo tidak mengerti.


"Sebentar bu, saya mau tanyakan terlebih dahulu." Aldi dengan berjalan mendekati Bosnya yang sedang kurang bergairah tersebut.


"Bos yang sayap atau yang biasa?." Tanya Aldi setelah di dekat Rasya.


"Semuanya. Sekalian borong." Sahut Rasya.


Biar hal memalukan ini tidak terjadi lagi. Batin Rasya.


Aldi pun mengangguk dan kembali menghampiri penjual warung tersebut.


"Semuanya bu." Kata Aldi.


"Maksudnya di borong?." Tanya pemilik warung itu.


"Iya Bu." Sahut Aldi.


Dan pemilik warung memasukan beberapa Pack pembalut kedalam Kantong Kresek besar hingga tidak ada pembalut yang tersisa di warungnya.


"Ini Semuanya Sembilan puluh lima ribu Al. Ngomong-ngomong buat Alma atau Ibu kamu?." Kata Pemilik warung itu penasaran.


"Bukan bu. Buat itu istri Bos saya." Tunjuk Aldi ke arah Rasya yang sedang duduk bersama ketiga teman nya dan menyerahkan uang yang Rasya tadi berikan.


"Kembalian nya buat ibu saja." Tambah Aldi.


"Terima kasih Al. Walah... itu Bos mu yang baru nikah tadi kan?. Aduuuh sepertinya Belah duren nya tertunda." Pemilik warung itu terkekeh dengan menerima uang dari Aldi.


Aldi pun ikut tersenyum. "Ya sudah saya permisi." Aldi dengan bergegas mendekati Rasya kembali dengan tangan nya memegang kantong kresek besar dan menyerahkan nya kepada Rasya.


"Ini Bos." Rasya pun menerima.


"Terima kasih Al. Ya sudah Saya pulang ya." Kata Rasya seraya pamit kepada para pekerjanya itu.


Setelah melihat Rasya pergi dengan mengendarai mobilnya Ivan, Damar, dan Beni langsung saling berbisik.


"Tadi lihat gak wajah si Bos kusut gitu?." Kata Ivan.


"Ya. Pastilah kusut. Secara Malam Pertama nya harus tertunda." Sahut Damar.


"Wah... Apa jangan-jangan ini bukan malam pertama baginya. Sedangkan mereka pacaran nya sudah lebih dari pelukan deh." Kata Beni dan langsung dapat sentilan dari Aldi.


"Hush... Gak baik kalian ngomongin Beliau. Bagaimana pun itu bukan urusan kita. Kita tidak perlu membicarakan nya atau menilai beliau itu seperti apa." Kata Aldi telak membuat ketiga teman nya bungkam.


Aldi memang paling muda usianya dia antara mereka berempat, namun pemikiran Aldi sangat dewasa. Aldi selalu menyadari teman-teman nya jika berlaku salah.


Tapi jika dalam masalah percintaan Aldi tidak tahu, karena belum berpengalaman.


...Bersambung....


Jangan lupa Like, Comment, dan Vote nya ya kakak.


Terima kasih yang sudah baca sampai sejauh ini.

__ADS_1


__ADS_2