
"Ini minuman buat kamu," Rindu menyerahkan segelas cup minuman boba kepada Serly. Kebetulan Serly sedang duduk bersama Kikan di sebuah bangku di taman kampus.
"Kikan juga aku beri," kata Rindu lagi. Ia memperlihatkan segelas cup minuman yang sudah ia beri kepada Kikan.
Serly pun menerimanya dengan cepat. Walau dalam pikirannya merasa Rindu aneh saat hari ini.
"Terima kasih," ucap Serly kemudian.
"Ya sama-sama ... itu sebagai undangan ku untukmu. Aku akan merayakan ulang tahunku. Jangan lupa datang! nanti aku akan shareloc tempatnya," ujar Rindu mengatakan maksud dari minuman yang ia beri.
"Wah pesta?" Kikan antusias. Ia menatap Serly dengan berbinar.
"Iya pesta, kalian harus datang," Rindu kemudian berlalu dari hadapan Serly dan Kikan.
Kini tinggallah Serly dan Kikan di tempat itu. Kikan meminum minuman dari Rindu dengan cepat. Merasakan kerongkongannya yang kering kini menjadi sejuk seketika. Sementara Serly menaruh minuman itu terlebih dahulu dan fokus dalam mengerjakan tugas dari Dosen.
"Ser, ayo minum minumannya segar tahu!" cicit Kikan yang sudah merasakan minuman yang ia minum sangatlah segar.
"Nanti dulu," kata Serly masih fokus pada alat tulis dan buku bacaannya.
Hingga beberapa menit. Serly telah menyelesaikan tugasnya. Kini ia akan meminum minuman yang dari Rindu.
"Gimana segarkan?" tanya Kikan saat melihat Serly baru saja meminum minumannya.
Serly mengangguk.
"Katanya si Kikan udah punya usaha minuman kekinian. Makanya mungkin dia gak merasa rugi saat memberikannya kepada kita," Kikan dengan mulai merapihkan alat tulisnya dan memasukkan ke dalam tas.
Serly merasa hawa panas pada tubuhnya. Ia mulai berkeringat pada dahinya.
"Kikan, kok aku merasa panas banget ya? padahal minumannya sudah aku habiskan," kata Serly dengan mengipas-ngipaskan buku tulis seperti kipas pada wajahnya.
"Ah perasaan kamu saja mungkin. Padahal cuaca mendung gini. Malahan aku rasanya seger banget saat sudah minum minuman yang di berikan Rindu," celetuk Kikan merasa aneh pada Serly. Kikan setelah itu memperhatikan Serly yang berkeringat di area wajahnya, serta memerah pada wajahnya.
"Ser, kamu demam?" Kikan menempelkan telapak tangannya pada dahi Serly. "Enggak panas," kata Kikan setelah merasakan suhu tubuh Serly tidak panas.
Serly menggeleng-gelengkan kepala setelah merasakan ada sesuatu yang aneh, yang baru saja ia rasakan selama hidupnya.
"Aku ke toilet," Serly dengan cepat berlari menuju arah toilet.
Sementara Kikan menatap kepergian Serly. Kemudian merapihkan alat tulis milik Serly beserta ponselnya.
"Aku susul Serly saja. Sebelum dosen selanjutnya masuk," gumam Kikan.
Ia berjalan menyusul Serly ke arah toilet. Setelah di depan pintu toilet. Kikan masuk dan memanggil Serly dengan lantang.
"Serly, kamu baik-baik saja?" pekik Kikan.
Serly tidak menjawab. Namun terdengar seperti seseorang yang sedang melakukan mandi dari arah toilet yang berada di ujung.
"Serly apa kamu di sini?" tanya Kikan dengan mengetuk pintu toilet yang terdengar suara guyuran air.
"Iya aku di sini. Aku gerah sekali. Badan serasa panas!" ucap Serly menyahuti Kikan kemudian mengguyur badannya kembali dengan air.
Kikan terdiam. Ia merasakan Serly menjadi aneh. Kemudian Kikan teringat akan minuman yang Rindu berikan.
"Tunggu! aku akan pergi dulu. Kamu jangan kemana-mana!" kata Kikan kepada Serly sebelum menemui Rindu.
Serly tidak menyahut. Ia justru terus mengguyur tubuhnya dengan air, berharap rasa panas yang mendera sekujur tubuhnya menghilang.
Kikan yang kini sudah masuk ke dalam area kelas. Menatap tajam ke arah Rindu dari kejauhan. Kemudian melangkah dan mendekati Rindu yang sedang berbicara dengan Sinta teman dekatnya.
"Rindu, kamu campuri apa minuman yang kamu berikan kepada Serly?!" teriak Kikan dengan menggebrak meja.
__ADS_1
Rindu menatap Kikan dengan raut wajah biasa saja. Malah menunjukkan ekspresi yang tidak mengerti.
"Maksud kamu apa Kikan?" teriak Rindu.
Teriakan Kikan dan Rindu memancing perhatian yang lainnya. Begitu juga dengan Kevin pengagum Serly.
"Kamu jangan sok bodoh, Rindu? aku yakin kamu mencampurkan sesuatu ke dalam minuman yang kamu berikan kepada Serly?!"
Sinta yang tahu maksud dari tuduhan Kikan, bersuara membela Rindu teman dekatnya.
"Please Kikan kamu jangan nuduh sembarangan! jika terjadi sesuatu pada teman mu itu. Itu bukan ulah Rindu!"
Kikan mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Rindu serta Sinta dengan bergantian.
"Kalian pasti sudah sekongkol 'kan? aku tahu!!" Kikan tidak perduli dirinya kini menjadi pusat perhatian teman sekelasnya.
Rindu kini berdiri, "Eh, jaga mulut mu ya! maksud kamu sekongkol apa? dan apa yang terjadi dengan cewek manja itu?" elaknya dengan pura-pura tidak tahu.
Kikan menunjuk wajah Rindu dengan telunjuknya, "Awas saja, jika perbuatan mu itu membahayakan Serly! maka lihat, aku akan melaporkanmu kepada Dekan dan polisi!" ancam Kikan. Kemudian ia melangkah pergi dari kelas.
Kevin yang sedari tadi memperhatikan serta mendengar perdebatan antara Kikan dan Rindu. Kini berlari keluar menyusul Kikan.
"Kikan tunggu!" panggil Kevin.
Kikan menghentikan langkahnya, dan menatap Kevin yang sedang melangkah mendekatinya.
"Apa yang terjadi dengan Serly?" tanya Kevin.
"Aku belum memastikan dugaan ku. Namun aku hanya menduga saja. Kalau Serly seperti sedang kepanasan. Dia kini sedang mengurung dirinya di dalam toilet, dan mengguyur tubuhnya berulang kali," jawab Kikan apa adanya kepada pria yang sudah lama menjadi temannya sedari duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Kepanasan?" Kevin mengulang satu kata. Ia seperti sedang menelaah kata tersebut.
"Terus apa maksudnya dengan Rindu? apa ada kaitannya?" Kevin ingin memastikan.
Kevin mengepalkan tangannya, kini ia sudah paham apa yang sedang terjadi dengan Serly.
"Ayo kita lihat Serly, sebelum dia kenapa-kenapa," ajak Kevin dan dapat anggukkan dari Kikan.
Kini keduanya melangkah menuju toilet.
"Serly? bagaimana sekarang apa kamu sudah tidak merasa kepanasan?" tanya Kikan saat sudah masuk ke dalam toilet. Ia langsung bertanya di depan pintu toilet yang terdapat Serly di dalamnya.
Kevin mencemaskan dengan keadaan Serly. Terlihat sekali dari raut wajahnya.
"Aku ... masih kepanasan," suara Serly seperti menahan sesuatu. Terdengar parau di pendengaran Kikan dan Kevin.
"Vin, menurut kamu Serly kenapa?" Kikan ingin tahu menurut Kevin setelah Kevin sendiri mendengar suara Serly.
"Ini terlalu keji Kikan. Serly sepertinya meminum minuman yang sudah di campuri obat perangsang," ucap Kevin seraya menggelengkan kepala.
Kikan melotot dengan mulut menganga.
"Lalu apa yang akan terjadi jika Serly sudah meminum obat itu?" Kikan belum paham dampak dari obat yang sudah masuk ke dalam perut Serly.
"Bisa saja, Serly akan menyerahkan tubuhnya kepada pria yang dekat dengannya. Atau akan di salah gunakan bagi pria yang menatapnya sudah seperti itu," balas Kevin.
"Oh tidak! berarti Serly aman jika mengurung dirinya di dalam toilet seperti itu,"
"Tidak juga, bisa saja Serly malah mengigil karena terlalu lama di dalam toilet,"
Kikan menghela nafas dengan kasar. Dirinya sungguh mencemaskan keadaan Serly saat ini. Ia harus berpikir keras untuk bisa menyelamatkan Serly dari pengaruh obat tersebut.
Di saat Kikan dan Kevin sedang berpikir keras. Suara seseorang membuat keduanya terperanjat.
__ADS_1
"Kalian sedang apa di dalam toilet?" tanya seseorang itu.
"Eh, kak Dido. Ya Tuhan ... kebetulan sekali." Kikan seakan mendapatkan pertolongan dengan adanya sosok Dido di depannya.
"Ada apa?" Dido bertanya dengan memindai wajah Kevin dan Kikan.
"Kak, tolong Serly!"
Dido mengernyitkan dahinya, "Serly, ada apa dengannya?"
Belum juga Kikan menjawab. Dido sudah mendengar guyuran air dari dalam toilet.
"Apakah itu Serly?" Dido bertanya kepada Kikan dengan mendekat ke arah toilet. "Apakah ia terkunci?" lanjutnya bertanya.
"Bukan, Kak. Tapi, Serly sedang dalam pengaruh obat perangsang," sahut Kikan.
"Apa?" pekik Dido dengan wajah terkejut. Kini ia menatap Kevin dengan tajam.
"Apa ini ulahmu?"
Kevin dengan cepat menggeleng.
"Bu-bukan Kevin kak, tapi ulah orang lain," Kikan dengan terbata menyampaikannya.
Dido yang sudah percaya. Kini mengetuk pintu toilet.
"Serly ini kakak!" ucap Dido. "Buka pintunya!"
Semenit kemudian Serly membuka pintu toilet. Terlihat sekujur tubuh Serly basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Membuat Dido merasa kasihan dan geram kepada orang yang sudah membuat gadis yang di sukainya seperti itu.
"Panggil orang yang sudah membuat Serly seperti ini!, dan bawa ke ruangan Dekan!" pekik Dido tanpa menoleh ke arah lain. Ia fokus menatap Serly yang basah kuyup. Kemudian ia membuka jaket yang di kenakannya, lalu di pakaikan ke tubuh Serly.
"Baik kak, ini tas milik Serly" Kikan menyahut dengan menyerahkan tas milik Serly.
Kikan dan Kevin dengan cepat menuruti perintah Dido. Keduanya langsung melangkah keluar dari dalam toilet.
"Ikut Kakak!" Dido menjulurkan tangannya untuk di raih Serly. Serly menatap tangan itu, dan kemudian ia meraih tangan Dido.
Dido menggenggam tangan Serly, membawa keluar dari dalam toilet. Dido berdecak. Ia baru ingat bahwa hari ini ia membawa motor, bukan mobil.
"Kak, aku malu" kata Serly saat sudah jauh dari arah toilet.
Dido menghentikan langkahnya. Memperhatikan Serly yang basah kuyup. Beruntung saja Serly hari ini mengenakan celana jeans dan kemeja. Hingga tidak terlihat tubuhnya menerawang.
"Kakak akan mengajak mu ke suatu tempat"
Serly memandang Dido tidak seperti biasanya. Dan Dido paham apa yang sudah terjadi kepada Serly. Hingga Dido tidak ingin membuat Serly berlama-lama di area Kampus, Dido harus menyelamatkan Serly dengan segera.
"Kamu bisa duduk 'kan saat nanti naik motor?" Dido ingin meyakinkan.
"Tentu aku bisa," jawab Serly dengan nafas memburu.
Dido setelah itu mengajak Serly ke arah parkiran. Dan menggenggam tangan Serly dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang tas milik Serly.
"Pegangan. Kakak, takut tubuh kamu lemas dan nanti terjatuh," Dido mengintrupsi Serly setelah memasangkan helm pada kepalanya.
Serly mengangguk dan dengan cepat melingkarkan kedua tangannya pada perut Dido.
Dido bisa merasakan pelukan Serly saat ini berbeda akibat pengaruh obat tersebut.
Dido kemudian melajukan cepat kendaraan motornya meninggalkan Kampus dan bertujuan ke suatu tempat.
...***...
__ADS_1