You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 247.


__ADS_3

Terlihat nampak gelisah sekeluarga menunggu Adelia yang sedang melahirkan. Hadi, Lia, Rara, dan Serly, serta Aldi. Menunggu dengan perasaan cemas di depan ruang persalinan. Dengan gumaman doa dari bibir mereka masing-masing. Mendoakan keselamatan untuk ibu dan bayi tersebut.


Sedangkan Rasya berada di dalam ruangan sedari tadi menggenggam tangan Adelia untuk memberikan semangat dan ketenangan, agar Adelia tidak terlalu tegang. Terlihat peluh sudah membanjiri kening Adelia. Rasya sebenarnya sedih dan bercampur haru. Tapi tidak ia tampakkan kepada istrinya. Rasya terus membisikkan kata-kata yang bisa membuat Adelia merasa sedikit tenang, dengan mengelap kening Adelia menggunakan tisu.


"Sayang ... percayalah. Kamu wanita hebat. Kamu akan bisa lalui ini semua," bisiknya menyemangati. Adelia sekarang masih merasakan kontraksi. Ia hanya tersenyum dengan melafadzkan dzikir di dalam hati dengan sebisanya.


"Iya Mas," jawab Adelia lirih.


"Mas yakin, anak kembar kita akan selamat begitu juga kamu. Kamu wanita teristimewa yang bisa mengandung anak kembar Mas," sambung Rasya terus membisikkan kata-kata ungkapan hatinya untuk Adelia yang sedang berjuang.


Adelia tersenyum, kemudian mencium tangan Rasya dengan lama. "Aku, mencintaimu Mas," ucapnya.


"Aku lebih mencintaimu," sahut Rasya dengan mengecup kening Adelia dengan lama.


Terlihat Dokter Risa memeriksa area pribadi Adelia. Kebetulan Adelia kata Dokter Risa dapat melahirkan secara normal.


"Mari, Nona. Saatnya untuk mengejan. Pembukaannya sudah penuh. Bismillahirrahmanirrahiim ... tarik nafas. Dan langsung keluarkan!" intrupsi dari Dokter Risa setelah pembukaan sudah penuh, Dokter Risa menuntun Adelia untuk mengejan.


Adelia melakukan apa yang Dokter Risa ucapkan. Dengan kaki sudah di tekukkan. Lalu menarik nafas dengan kuat. Rasya yang mendengarkanpun berdoa di dalam hati untuk kelancaran persalinan istrinya. Dengan tangannya terus menggenggam tangan Adelia.


Dua kali mengejan, terdengar suara tangisan bayi. Membuat Rasya menangis saat itu juga. Dan terlihat oleh Rasya, Adelia kembali mengejan. Kemudian tidak berselang lama terdengar kembali tangisan bayi, yang di perkirakan berselang tujuh menitan.


Kedua bayi mungil itu langsung di bersihkan dua perawat. Sedangkan Dokter Risa membersihkan sisa-sisa darah yang masih di bawah kaki Adelia. Adelia terlihat lesu. Rasya dengan berurai air mata. Terus menghujani ciuman di wajah Adelia. Tidak perduli dengan Dokter Risa yang sesekali melirik ke arahnya.


"Terima kasih Sayang, Terima kasih. Sayang ... selamat. Kamu jadi Bunda. Dan Mas jadi Ayah. Mari kita rawat bayi kembar kita, dengan kasih sayang yang kita miliki!"


Adelia tersenyum seraya mengangguk. Rasya baru teringat, pasti istrinya itu kelelahan. Ia berinisiatif meminumkan air mineral lewat sebuah sedotan. Adeliapun menerimanya dengan senang hati.


Rasya kemudian membantu membersihkan sisa-sisa darah di atas ranjang persalinan tersebut. Membuat Dokter Risa kembali tersenyum dengan sesekali meliriknya kembali.

__ADS_1


"Dokter, ini bayi pertama yang lahir tadi, bayinya laki-laki" kata Perawat menyerahkan bayi yang sudah di bersihkan kepada Dokter Risa. Dokter Risa menerima dengan mengembangkan senyumannya. Terlihat bayi tersebut terlelap dengan wajahnya yang begitu mirip dengan sang ayah.


"Tuan, silahkan Adzankan dan iqmati bayinya!" suruh Dokter Risa lalu menyerahkan bayi itu kepada Rasya.


Rasya dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan, menerima bayi itu. Memangkunya dengan hati-hati. Kemudian mulai mengumandangkan adzan di telinga kanan si bayi, setelah adzan selesai Rasya mengiqamati di telinga kiri.


Adelia mendengarkan Adzan yang Rasya kumandangkan, dengan perasaan haru. Adelia menitikkan air mata bahagia. Ia kini merasakan menjadi wanita sempurna. Setelah bisa hamil, lalu melahirkan dua bayi kembar hasil buah cintanya dengan sang suami.


Rasya baru selesai mengiqamati. Kemudian bayi itu oleh Dokter Risa di dekatkan pada tubuh Adelia. Dokter Risa tahu bahwa Adelia masih lemah untuk memangku. Sehingga Bayi itu oleh Dokter Risa di tempelkan pada dada Adelia.


Lalu Perawat satu lagi menyerahkan bayi kedua yang berjenis kelamin perempuan kepada Rasya. Rasya melakukan hal seperti tadi. Mengadzani dan mengiqamati bayi tersebut. Lalu terus ia gendong dan menatapnya dengan senyuman haru bahagia.


Dokter Risa menatap kepada Rasya, lalu menatap kepada arah Adelia. Dokter Risa tersenyum merasakan bahagia seperti pasangan suami tersebut.


"Tuan, lebih baik kita masukkan dulu pada ranjang bayi. Dan Nona Adelia, kita pindahkan ke ruang perawat," ujar Dokter Risa setelah merasa cukup memperhatikan pasangan bahagia tersebut.


Dengan tersenyum Rasya menidurkan bayi mungil yang baru saja ia gendong pada ranjang bayi yang sudah di sediakan oleh perawat. Dan kini Dokter Risa mengambil bayi mungil yang di tempelkan tadi pada dada Adelia, dan menidurkannya di sebelah bayi mungil yang tadi Rasya tidurkan.


Semuanya ikut mengikuti kemana dua ranjang berbeda size tersebut di dorong. Dan langkah semuanya terhenti saat Adelia dan bayi itu mulai di masukkan ke dalam salah satu ruangan VIP.


"Nanti, saat asi Nona keluar. Cepat berikan kepada dua bayi mungil itu." Dokter Risa memberitahukan. Karena saat hamil dan sekarang asi yang Adelia punya belum keluar.


"Baik, Dok."


"Kalau begitu saya tinggal dulu. Dan ingat bayinya jangan dulu di cium-cium, ya!" peringat Dokter Risa kepada Rasya.


Rasya mengangguk dengan tersenyum.


Dokter Risa keluar, dan Kedua orang tua Rasya masuk. Di susul oleh Serly, Rara dan Aldi.

__ADS_1


"Oh ya, Ampun ... cucu kita langsung dua Pa," pekik Lia senang kepada Sang suami.


Hadi mengangguk seraya tersenyum menatap dua bayi mungil yang berbeda jenis kelamin itu, yang sedang terlelap.


"Selamat Sayang, kamu telah menjadi ibu," Lia mengusap kepala Adelia dengan sayang. Lia bangga kepada menantunya yang telah berhasil melahirkan dua bayi dengan persalinan normal.


"Papa, juga ucapkan selamat kepada kalian. Kalian sekarang menjadi orang tua. Dan mulai saat ini tanggung jawabmu Rasya, menjadi dua. Yaitu membimbing anak dan istrimu. Berikan contoh dan pendidikan yang baik untuk anak dan istrimu," nasihat Hadi untuk putranya. Rasya mengangguk patuh. Dengan menyunggingkan senyuman sedari tadi.


"Selamat Kakak," Serly memeluk Rasya. Rasya menjawab pelukan adiknya yang selalu manja.


"Kamu sudah menjadi aunty, jangan manja terus" ucap Rasya.


Serly mengangguk dan melepaskan pelukannya. Kini ia menatap Adelia yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Kakak, selamat ya ... baby twin kalian sudah launching. Dan Kakak, telah berhasil menjadi wanita yang sempurna," Serly memeluk Adelia yang terbaring. Dengan kata-kata yang membuat Adelia tersenyum bangga.


Rara tersenyum senang atas keselamatan Adelia dan dua bayinya. Ia mengucapkan selamatnya dengan berdiri di dekat ranjang Adelia. Karena Adelia masih di peluk Serly.


"Del, selamat. Sekarang kamu jadi seorang ibu. Aku turut merasakan bahagia," ujarnya.


Adelia mengangguk dengan tersenyum. "Terima kasih, Ra."


Aldi menepuk bahu Rasya dengan pelan. "Selamat Pak, Bapak kini menjadi seorang Ayah," lalu tatapan Aldi berpindah kepada Adelia. "Selamat juga buat Nona."


Adelia hanya tersenyum dengan mengangguk.


"Terima kasih, Al. Sekarang saya sangat senang sekali. Telah menjadi seorang ayah dari dua bayi kembar itu," tatapan Rasya tertuju pada keranjang bayi. "Dan sekarang, giliran kamu kapan, nikah?" celetuk Rasya. Membuat Aldi tersenyum masam.


"Mau nikah bagaimana. Pacar saja saya tidak punya?" batin Aldi menggerutu.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2