
Setelah melaksanakan makan malam. Hadi menyuruh tamunya untuk berbicara di ruang tamu. Di ruang tamu hanya Adelia yang tidak ikut bergabung. Beralasan ingin bermain bersama bayi kembarnya.
Sementara Serly yang sengaja ingin menghindar, namun di suruh agar ikut bergabung oleh Hadi. Dengan terpaksa Serly ikut bergabung dan kini duduk bersebelahan dengan sang Kakak yaitu Rasya.
"Silahkan di minum dulu minuman nya, Tuan Malik, dan Nak Dido," ujar Lia ramah kepada tamunya setelah Bi Ida menaruh nampan yang berisikan minuman beserta cemilan.
Tuan Malik tersenyum ramah, "Terima kasih Bu. Duh ... jadi merepotkan," seraya tangannya meraih gelas yang berisikan jus jeruk. Lalu meminumnya secara perlahan.
Dido pun melakukan demikian.
Lia serta Rasya tersenyum menanggapi.
"Tidak sama sekali Tuan," sahut Hadi. "Oh iya, tadi Tuan bukannya mau ada yang di bicarakan? tentang apa ya?" lanjut Hadi penasaran. Walau di dalam hatinya sudah menduga akan apa yang Tuan Malik sampaikan adalah mengenai kedekatan putranya Dido, dengan putri bungsunya yaitu Serly. Terlihat dengan kehadirannya Dido.
Tuan Malik kini berwajah serius. Sesuai apa yang akan di katakannya adalah mengenai hal yang bukan candaan.
"Begini Pak Hadi." Tuan Malik menjeda sebentar, kemudian melanjutkan ucapannya. "Saya sengaja datang ke sini bersama putra saya, Dido. Ingin membicarakan hal kedekatan putra saya dengan putri anda. Bagaimana, kalau kedekatan anak-anak kita, kita lanjutkan ke arah jenjang lebih serius," Tuan Malik to the point menyampaikan tujuan kedatangannya.
Serly tercengang kemudian menatap ke arah Dido. Seakan memberikan isyarat jika dirinya belum siap dengan langkah tersebut.
Sementara Lia dan Rasya tersenyum. Begitupun dengan Hadi yang mengembangkan senyumannya lebih merekah dari yang lainnya.
"Tentu saya setuju. Lagian, putra Tuan sudah sangat dekat dengan putri saya. Namun, mereka masih kuliah Tuan, bagaimana?" kata Hadi menyetujui namun mengingat Serly dan Dido masih kuliah, ia ingin meminta pendapat Tuan Malik.
Sementara Dido memilih menunduk. Ia tahu saat ini dirinya sedang di tatap oleh Serly yang mengisyaratkan dari tatapannya itu adalah suatu protes.
"Syukurlah. Jika Pak Hadi menyetujui. Tidak masalah jika mereka masih kuliah. Saya hanya tidak mau kedekatan mereka mengundang fitnah, Pak ...," kata Tuan Malik memberikan sarannya.
Hadi mengangguk menanggapi.
"Bagaimana kalau kita percepat saja. Acara tunangan dan lamaran kita adakan di hari minggu depan?" lanjut Tuan Malik sengaja ingin mempercepat. Dirinya tidak mau sampai Serly hamil sebelum menikah dengan Dido.
Rasya yang sedari menyimak kini ikut menimpali, "Apakah itu tidak terlalu buru-buru, Tuan?"
"Tidak. Menurut saya lebih cepat lebih baik," sahut Tuan Malik dengan tegas.
Rasya kini menatap ke arah adiknya yang duduk di sampingnya.
"Ser, apa ada yang akan kamu sampaikan?" tanyanya.
"Tidak perlu. Serly pasti setuju. Kamu tidak lihat mereka saling mencintai," Hadi langsung menyahuti Rasya. Tidak mengijinkan putrinya untuk berbicara atau menolak.
Rasya pun mengangguk. Membenarkan ucapan Papanya.
__ADS_1
Serly akhirnya pasrah. Ia memilih diam saja. Toh, akhirnya Serly pasti akan di desak untuk menikah dengan Dido. Seandainya kejadian itu bersama Dido tidak terjadi. Serly pasti akan menolak saat ini juga.
"Tapi, jika pertunangan dan lamaran di adakan seminggu lagi kita belum ada persiapan, loh Pa ...," Lia berbicara kepada Hadi mengenai acaranya yang belum di siapkan.
"Ibu, dan Pak Hadi tenang saja. Jangan memikirkan soal itu. Biar dari pihak kami yang akan mempersiapkannya. Nanti, setelah semuanya siap. Saya akan memberitahukan," sahut Tuan Malik.
"Duh, kalau begitu kami jadi merasa tidak nyaman Tuan," kata Hadi.
"Tidak perlu begitu. Kita akan menjadi keluarga. Putri Pak Hadi lebih berharga dari apa yang akan saya berikan. Jadi semua itu sudah hal wajar. Apalagi saya dari pihak pria, yang sepantasnya memberikan hal yang layak untuk pihak wanita," ujar Tuan Malik.
Hadi lagi-lagi tersenyum senang. Keinginannya yang ingin mendapatkan menantu yang derajatnya lebih dari dirinya akhirnya terlaksana.
"Ya sudah terima kasih sebelumnya. Kami akan menerima apapun keputusan Tuan Malik untuk keluarga kami," akhirnya Hadi menurut.
Tuan Malik tersenyum seraya mengangguk. Kini tatapannya mengarah ke arah Serly yang terus menatap Dido yang menunduk.
"Serly, dan Dido boleh berdua dulu. Barangkali ada yang akan kalian bicarakan. Tentang Konsep pertunangan kalian misalkan," Tuan Malik memberikan waktu untuk putranya berbicara berdua dengan gadis yang di cintainya.
Serly menatap Tuan Malik dengan tatapan senang. Memang seperti itu yang di inginkan Serly sejak tadi. Namun, Dido lebih memilih menunduk sedari tadi.
"Besok saja, Yah ... sekarang sudah malam," balas Dido dengan datar tanpa menatap ke arah Serly. Dido sengaja tidak ingin membahas hal mengenai kedatangannya kepada Serly saat ini. Moodnya masih belum nyaman untuk berbicara banyak dengan gadis pujaannya tersebut. Dari pada Dido hilang kontrol akibat cemburu tadi siang, lebih baik Dido menghindar.
Tuan Malik mengangguk.
"Wah, saya tidak berani Tuan. Tuan itu bukan orang biasa di kota ini," jawab Hadi dengan tersenyum.
"Saya hanya manusia biasa, Pak Hadi. Banyak khilaf dan dosanya. Saya juga tidak gila hormat. Dan saya juga akan menjadi besan anda. Tidak enak terdengarnya," Tuan Malik masih dengan terkekeh di akhir kalimatnya.
"Baiklah. Pak Malik," kata Hadi menurut.
"Nah, kalau begitu enak di dengarnya," seloroh Tuan Malik.
Hadi terkekeh.
"Ya sudah. Terima kasih atas waktunya. Kami pamit pulang ya, Pak, Bu, Nak Rasya dan Nak Serly." Tuan Malik seraya berdiri mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Hadi terlebih dahulu.
"Aduh, kok cepat-cepat sih Pak?" kata Hadi seraya membalas uluran tangan Tuan Malik.
"Lain kali lagi, kami ke sini. Sekarang, ada keperluan lain soalnya," balas Tuan Malik.
"Hati-hati ya Pak Malik," kata Lia yang kini membalas uluran tangan Tuan Malik.
"Iya Bu," sahut Tuan Malik tersenyum.
__ADS_1
Dido pun melakukan yang sama seperti yang ayahnya lakukan. Setiap bersalaman Dido dapat usapan di bahunya dari Hadi, Lia, dan Rasya. Kini Dido terhenti di depan Serly. Menatap penuh cinta pada gadis yang ada di hadapannya.
"Jaga kesehatan ya, Nak!" ucap Tuan Malik saat bersalaman dengan Serly.
Serly mengangguk seraya tersenyum. Kini ia menatap ke arah Dido yang sedang menatap ke arahnya.
"Kakak, pulang ya," ucap Dido seraya tersenyum. Lalu tangannya terulur untuk di salami Serly.
Serly mengangguk, dengan tangannya membalas uluran tangan Dido. Serly dengan perasaan gugup mencium takzim punggung tangan Dido. Membuat ada suatu aliran asing yang mengalir ke tubuhnya. Dan Serly tidak tahu artinya apa. Begitupun dengan Dido. Hatinya merasa hangat bahkan membuncah saat Serly mencium punggung tangannya.
"Jangan tidur malam-malam ya!" kata Dido sebelum berlalu. Kini Dido melangkah di belakang Ayahnya. Dan di ikuti oleh Hadi, Lia, juga Rasya. Sementara Serly masih berdiri mematung dengan menatap punggung Dido yang sudah keluar dari pintu utama.
"Mari, Pak Hadi, Bu, Nak Rasya," kata Tuan Malik sebelum masuk ke dalam mobil. "Assalamualaikum," lanjutnya mengucapkan salam yang bersamaan dengan Dido.
"Ya Pak, Wa'alaikum salam," jawab kompak dari Hadi, Lia, dan Rasya.
Dido melajukan mobilnya. Keluar dari halaman rumah keluarga Hadi. Dengan pikirannya mengingat bagaimana tadi ia meminta Ayahnya untuk menemui keluarga Serly saat setelah pulang mengantarkan Serly.
*Flashback On
"Yah, apa ada waktu malam ini?" tanya Dido saat melihat ayahnya baru saja pulang.
Tuan Malik menatap putranya dengan tatapan selidik. Dengan mendudukkan bokongnya di sofa ruang tengah. Tuan Malik menjawab pertanyaan putranya.
"Kebetulan malam ini Ayah ada waktu. Ada apa boy?" kata Tuan Malik yang ingin tahu perihal putranya ,bertanya tentang perihal waktu dirinya.
"Aku ingin Ayah, membicarakan tentang hubungan ku dengan Serly, kepada Om Hadi," ucap Dido menyampaikan maksud dirinya.
"Menikah maksudnya?" Tuan Malik memastikan.
"Ya, kalau misalkan menikah terlalu buru-buru. Tunangan saja, juga gak apa-apa. Yang penting Serly sudah aku ikat,"
Tuan Malik manggut-manggut. Dirinya paham. Terlebih, dirinya tidak mau sampai Serly hamil sebelum menikah dengan Dido. Jangan sampai itu terjadi.
"Ya sudah. Kita nanti datang ke rumah Pak Hadi. Namun, sebelumnya Ayah akan menelpon dulu beliau. Takutnya, beliau tidak ada di tempat," ujar Tuan Malik seraya berdiri dari duduknya.
"Ayah ke kamar dulu." Tuan Malik kini melangkah ke arah kamarnya, meninggalkan Dido yang masih terduduk di sofa ruang tengah.
Dido mengangguk. Lalu Dido menghela nafas panjang. Mengingat dirinya yang sangat cemburu saat Serly menatap Aldi waktu tadi siang. Dan kini Dido ingin mengambil langkah serius agar Serly menjadi milik dirinya secara utuh. Terserah, apa tanggapan Serly nanti tentang dirinya yang akan menikahi dirinya secara mendadak.
*Flashback off.
...***...
__ADS_1