
Rasya baru saja memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ia keluar dari mobil dan di sambut hangat oleh istrinya yang terduduk di kursi teras. Rasya pun melemparkan senyuman yang tak kalah manis. Seharian bekerja, rasa Rindu terhadap istrinya sungguh membuat Rasya tersiksa.
"Sayang aku kangen," celetuk Rasya dengan segera memeluk istrinya.
Adelia tersenyum geli, di dalam pelukan suaminya itu mendengar Rasya yang mengatakan rindu terhadapnya.
Rasya mengurai pelukannya. Kini ia memindai wajah sang istri yang beberapa jam tidak di tatapnya.
"Mas, ada apa?" kata Adelia bertanya saat Rasya terus memindai wajah dirinya.
Rasya tersenyum, "Enggak. Aku hanya ingin membayar waktuku yang habis bekerja," ucapnya dengan terus memindai wajah Adelia. Membuat Adelia tidak mengerti.
"Ayo Mas, masuk! pasti kamu lelah,"
"Ya sudah. Ayo!!"
Rasya dan Adelia pun masuk ke dalam rumah. Dengan tangan Adelia di genggam Rasya. Saat melewati ruang tengah terlihat Serly sedang menonton tv sendiri. Lalu melirik Rasya yang menggenggam tangan Adelia.
"Bucin akut, Bucin akut!!" ucapnya dengan tatapannya lurus ke layar tv.
Namun, Rasya cuek saja walau di sindir adiknya sendiri. Ia terus melangkah menaiki anak tangga, dengan tangannya terus menggenggam tangan Adelia.
"Mas mau mandi sekarang?" tanya Adelia saat sudah sampai di dalam kamar.
"Sebentar lagi. Aku ingin duduk dulu bareng istri cantikku," goda Rasya. Membuat Adelia tersipu.
Rasya duduk di sofa. Dan di susul Adelia duduk di sampingnya. Adelia menuangkan Air minum pada gelas yang terletak di meja. Kemudian menyerahkannya kepada Rasya.
"Mas, minum dulu!"
Rasya pun menurut, ia langsung meneguk air itu sampai habis. Lalu ia langsung taruh gelasnya di meja.
"Sini!" Rasya seraya merentangkan tangan, untuk Adelia memeluknya. Dengan tersenyum malu Adelia pun menurut.
Rasya memeluk Adelia dari samping. Lalu tangan satunya mengelus perut Adelia. Ia terus mengecup setiap bagian dari wajah Adelia. Membuat Adelia merasa geli.
"Mas, ih geli tahu" ucap Adelia saat Rasya terus mengecup dari bagian wajahnya. Dari kening, dua mata, dua pipi, dagu, hidung, bahkan bibir tidak ada yang Rasya lewati.
"Sayang ... aku gak bisa nahan. Aku ingin cium kamu terus," sahut Rasya dengan kembali menciumi pipi Adelia.
"Baby dong cium. Kasihan dia. Lihat Bundanya terus yang di ciumi Ayah," ide Adelia agar Rasya berpindah menciumnya.
Rasya tersenyum, "Beneran baby ingin di cium?, apa dia juga minta ingin di jenguk juga?" goda Rasya dengan terus tersenyum.
__ADS_1
Adelia tersenyum seraya menggeleng, "Enggak katanya. Baby hanya ingin di cium saja. Tidak usah di jenguk. Baby baik-baik saja kok," kilahnya.
Rasya kini menunduk dan mencium perut Adelia, "Tapi, walaupun baby gak mau di jenguk. Ayah akan tetap menjenguk baby, agar baby selalu senang," ucap Rasya lalu tergelak. Namun, mata Rasya melihat perut Adelia yang tadi ia cium bergerak.
"Wah, baby ayah bergerak!!" pekik Rasya dengan senang. Adelia pun bisa merasakan. Bahwa bayi dalam kandungannya merespon apa yang di ucapkan Ayahnya tadi.
"Iya aku juga bisa merasakannya, Mas" sahut Adelia dengan mengusap perutnya.
Rasya tersenyum, "Berarti baby merespon apa yang Ayah tadi ucapkan," katanya menjurus kembali ke hal tengok-menengok.
"Mas, lebih baik Mas mandi sana. Biar pikiran dan badan Mas segar!!" titah Adelia. Ia tahu kalau Rasya sudah membahas soal tengok-menengok tidak akan ada akhirnya apalagi setiap ucapannya terus di layani, bisa-bisa langsung di tengok waktu itu juga.
Rasya mengecup bibir Adelia dengan lama, "Ok Aku mandi. Tapi, nanti ijinkan untuk menengok si Baby, ya ...,"
Adelia menggeleng, "Tidak." ucapnya.
Rasya tersenyum nakal, "Tidak apa? hmm?, tidak mau ke lewat ya?, atau tidak tahan lagi?" godanya.
"Mas!!!" Adelia setengah berteriak.
"Iya. Iya aku mandi," ucap Rasya seraya berlari ke dalam kamar mandi.
Kini Adelia tersenyum dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh Adelia merasa terhibur dan merasa sangat beruntung terhadap Rasya yang selalu mengajak bercanda. Sehingga Adeliapun sebenarnya merasa kesepian saat Rasya baru sehari saja bekerja.
Di dapur terlihat Lia dan Rara sedang memasak untuk makan malam.
"Ma, apa ada yang Adel bantu?" Adelia menawarkan.
"Sayang, kamu duduk saja di sana! sebentar lagi selesai kok," kata Lia menolak tawaran Adelia.
Adelia pun mengangguk. Ia berinisiatif membawa piring-piring ke atas meja. Lalu Adelia menyusunnya sesuai kursi.
"Nak, kata Mama kamu duduk saja. Mama gak mau sampai kamu kenapa-napa," cegah Lia agar Adelia tidak ikut membantu. Ia teringat kata Dokter bahwa Adelia tadi pingsan karena kelelahan.
"Tapi Ma, Adel bosan kalau hanya duduk saja," keluhnya.
"Enggak Nak, kamu duduk saja ya. Nanti layani saja suami mu,"
Akhirnya dengan berat hati Adelia menurut. Dan tak lama Rasya datang dengan melemparkan senyum kepada istrinya.
"Mas mau makan sekarang?" tanya Adelia saat Rasya menarik kursi di sebelahnya.
"Nanti saja bareng-bareng," sahutnya. "Bagaimana, kalau kita makan di luar. Kamu mau gak?" tanya Rasya mengajak Adelia untuk makan di luar.
__ADS_1
Adelia tersenyum, "Mau sih Mas, tapi kasihan Mama, dia sudah masak banyak," ujar Adelia.
Rasya pun menatap makanan yang sudah tersaji di atas meja, "Ya sudah kita lain kali saja," ucapnya.
"Mas bagaimana pertama bekerja?" tanya Adelia ingin tahu.
"Lancar,"
"Banyak wanita gak, Mas?"
Rasya memicingkan mata menatap Adelia, merasa heran akan pertanyaan yang Adelia tanyakan, "Banyak," jawabnya.
Adelia terdiam. Ia merasa khawatir jika suaminya itu sampai tergoda wanita lain, apalagi Rasya mengatakannya banyak.
"Hei, Sayang ... kenapa diam?"
"Enggak apa-apa, Mas" sahut Adelia datar. Ia bangkit dari duduknya melewati Rasya. Kemudian berjalan melangkah ke arah ruang tengah dimana Serly sedang menonton tv.
Rasya menatap heran serta bingung. Adelia pergi begitu saja dari hadapannya. Dan ternyata sedari tadi Mama Rasya memperhatikan antara anak dan menantunya. Bahkan percakapan di antara keduanya terdengar jelas di pendengaran Lia.
"Ibu hamil itu sensitif. Susul dia!" ucap Lia kepada Rasya.
Rasya pun mengangguk dan melangkah untuk menyusul Adelia. Terlihat Adelia sedang duduk bersama Serly dengan tertawa. Rasya ikut duduk diantara mereka. Dengan sengaja Rasya mendorong Serly agar ia bisa duduk di tengah-tengah.
"Ih, Kakak itu nyebelin. Sofa masih ada yang kosong, kenapa harus duduk di sini sih?!" pekik Serly merasa kesal kepada Rasya.
"Biarin, aku maunya di sini kok," sahut Rasya cuek.
"Tapi gak bisa gitu dong? aku lebih dulu duduk di samping Kak Adel," Serly tidak mau kalah.
"Eitss ... gak bisa. Aku yang harus duduk bersamanya. Anak kecil gak boleh protes!!" Rasya sengaja tidak mau kalah, ia bahkan sengaja mengejek Serly.
"Aku bukan anak keci lagi, ya ... Sebentar lagi aku lulus SMA. Dan sebentar lagi aku akan dewasa," celetuk Serly tidak terima.
"Dewasa? tapi masih merengek kalau minta sesuatu, apakah itu bisa di sebut dewasa??!" goda Rasya ia sengaja mengejek, bahkan tergelak.
Sedangkan Adelia hanya menggeleng-gelengkan kepala menatap interaksi adik kakak yang sedang ribut. Sehingga Adelia bisa melupakan akan hal yang membuatnya khawatir.
...***...
...**Bersambung....
Jangan Lupa, Like, Comment, dan Hadiah poinnya ya Readers!! 😉**
__ADS_1