You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 185.


__ADS_3

Adelia di bantu Rara dan Desi membuat kue di dapur. Hingga tidak terasa sampai sore mereka bertiga berkutat di area dapur. Hasil kue buatan Adelia di tata rapih oleh Rara di atas meja. Tiga buah kue yang Adelia buat dengan ukuran lebar dan tinggi. Yaitu kue redvelvet, Blackforest, dan Lapis legit.


"Wah, gila ini cantik-cantik Del," Desi berdecak kagum dengan hasil kue buatan Adelia.


Adelia tersenyum, "Ini kue untuk kamu bawa pulang," seraya memasukkan kue lapis legit ke dalam mika kue, dan di masukkan ke paperbag.


"Beneran Del?" tanya Desi dengan antusias.


"Beneran lah masa bercanda!" tukas Adelia.


Adelia membersihkan bekas peralatan kue-nya, dan di susul oleh Rara.


"Del, mending kamu mandi sana! sebentar lagi suami kamu pulang," saran Rara. Sebenarnya ia tidak mau kalau Adelia sampai kecapean karena terlalu lelah mengerjakan urusan dapur.


"Bener itu kata Rara. Sekarang kamu bersih-bersih. Dan aku juga mau pulang." Desi ikut menimpali.


"Loh kok, kamu cepat sekali. Nanti saja, Des!" Adelia seperti merasa berat jika Desi harus cepat pulang.


"Aku sebentar lagi masuk kerja Del. Besok lagi aku datang ke sini, bolehkan?"


"Tentu saja boleh, Des!"


"Ya sudah. Aku pulang ya, terima kasih kue-nya. Ra ... aku pamit,"


Rara mengangguk seraya tangannya sedang mencuci peralatan kue di washtafel.


Desi dan Adelia melenggang pergi meninggalkan dapur. Adelia ikut berjalan ke arah pintu utama, seraya ingin mengantar kepulangan Desi.


"Del, aku pulang ya, salam sama suamimu!" ucap Desi seraya masuk ke dalam mobilnya.


Adelia hanya mengangguk dengan tersenyum ke arah Desi. Setelah mobil Desi keluar dan tak terlihat lagi. Adelia pun masuk kembali ke dalam rumah. Ia langsung bergegas ke dalam kamar, yang sekarang terletak di lantai satu.


Dengan cepat, Adelia masuk ke dalam kamar mandi setelah berada di dalam kamar. Ia ingin menyambut kedatangan suaminya. Dengan menghabiskan dua puluh menit Adelia mandi. Setelah itu bersiap-siap memakai pakaian yang tadi siang ia beli. Dress selutut, dengan berlengan pendek, berwarna ungu.


Setelah memakai pakaian, ia memoles wajahnya secantik mungkin. Padahal sudah dasarnya cantik, walau tanpa make-up pun Adelia terlihat cantik.


Rambutnya sengaja ia gerai. Dan setelah puas dengan penampilannya, Adelia keluar kamar dan melenggang menuju teras rumah. Ia akan menunggu Rasya pulang dengan duduk di kursi teras.


Tidak lama, seseorang yang Adelia tunggu datang. Terlihat dari mobil miliknya, masuk ke halaman rumah. Ia keluar dengan tersenyum ke arah Adelia. Begitupun Adelia membalas senyuman suaminya itu dengan tak kalah manis. Adelia langsung berdiri menyambut kedatangan suaminya itu.

__ADS_1


Rasya langsung memeluk Adelia,"Sayang ... aku kangen banget," begitulah ucapan pertama yang Rasya lontarkan kepada istrinya kala pulang.


"Aku juga," sahut Adelia dengan memeluk tubuh suaminya. Menghirup aroma maskulin dari tubuhnya yang tidak tercium beberapa jam.


Rasya mengusap perut istrinya terlebih dahulu, "Masuk, yuk!" ajak Rasya seraya kini berjalan dengan merangkul bahu istrinya.


"Eh Mas, mau kemana?" tanya Adelia saat Rasya terus berjalan merangkul membawanya ke arah tangga.


"Ke kamar kita, Sayang ...,"


"Mas lupa ya, baru pagi tadi kita kan pindah kamar,"


Rasya tersenyum dengan mencubit hidung mancung istrinya, "Iya aku lupa sayang ... yuk kita ke kamar baru kita," seraya berjalan kembali ke arah ruang tengah.


Di ruang tengah terlihat sepi. Mungkin Lia dan Hadi sedang berada di dalam kamarnya.


Adelia dan Rasya kini sudah berada di dalam kamar. Adelia membantu Rasya membukakan jas yang melekat di tubuhnya. Dengan terus tersenyum Rasya sunggingkan, menatap wajah sang istri yang beberapa jam tidak ia tatap.


"Mas, cepetan mandi!" titah Adelia saat merasa risih di tatap terus sang suami.


"Iya sebentar lagi napa!" Rasya seraya mendudukan tubuhnya, dan menepuk pahanya mengajak Adelia agar terduduk di pangkuan, "Sini!"


"Mas, aku tadi sudah buatkan kue kesukaan mu," ucap Adelia dengan menatap paras tampan suaminya.


"Wah? aku jadi gak sabar ingin mencicipi kue buatan mu, sayang ...," Rasya tangannya kini memeluk pinggang sang istri yang terasa lebar.


"Makanya, Mas mandi dulu!"


"Iya." Rasya mengecup bibir Adelia, "Sayang, aku mandi dulu. Kamu duduk sini ya!" Rasya menepuk sofa. Agar Adelia turun dari pangkuannya. Setelah Adelia turun dan terduduk di sofa, Rasya langsung melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Adelia setelah Rasya masuk ke dalam kamar mandi, ia bergegas menuju lemari menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Setelah itu, Adelia bergegas keluar kamar mengambil kue buatannya untuk Rasya.


Di ruang tengah sudah terduduk Lia dan Hadi. Mertuanya itu sedang berbincang dan menatap layar tv.


"Mau kemana, Nak?" tanya Lia saat Adelia terlihat keluar dari kamar.


"Mau ke dapur Ma, bawa kue buat Mas Rasya. Oh, ya Adel juga buatin kue ke sukaan Mama kok,"

__ADS_1


"Red Velvet?"


"Iya Ma. Rara yang kasih tahu. Karena maaf aku gak ingat,"


Lia tersenyum, "Tidak apa-apa sayang, terima kasih. Ya sudah sana bawa secepatnya kue untuk suami mu itu,"


Adelia mengangguk dengan tersenyum, "Iya Ma ...," Adelia melangkah menuju dapur dimana kue buatannya tadi di susun di atas meja.


Dengan hati-hati Adelia membawa kuenya itu. Dan ingin membawa ke dalam kamar. Karena kue itu ia khususkan untuk suaminya.


"Ma, Pa ... Adel ke kamar lagi ya!" ucap Adelia saat melewati ruang tengah.


Lia dan Hadi pun hanya mengangguk. Adelia langsung masuk ke dalam kamar. Yang ternyata Rasya baru saja memakai pakaian yang Adelia tadi siapkan.


Rasya tersenyum senang, "Wah ... kuenya cantik sekali. Seperti yang membuatnya," celetuk Rasya dengan mengusap rambut basahnya dengan handuk.


"Ini yang membuatnya. Tiga wanita cantik loh ...,"


Membuat Rasya mengernyitkan dahi, dan menghentikan gerakan usapan di kepalanya.


"Yang buatnya bertiga? tapi, aku yakin resep dan yang meriasnya itu kamu yang buat!" Rasya kini mulai menyisir rambut hitamnya.


"Iya benar. Oh ya Mas, tadi aku ke Mall membeli pakaian dan bahan-bahan kue, dan bertemu dengan Desi."


Rasya melangkah mendekati Adelia. "Kenapa gak ijin aku dulu, hmm?"


"Mama yang ijinin. Dan pas pulang di antar Desi,"


"Tapi aku tetap khawatir kalau kamu keluar rumah. Aku takut kamu hilang lagi. Aku takut itu terjadi lagi!!," suara Rasya sedikit meninggi. Membuat Adelia takut dan menunduk.


Rasa takut kehilangan membuat Rasya tidak sadar sudah meninggikan suaranya. Ia meradang membayangkan kala kehilangan Adelia. Begitu terpukul, dan merasa tidak memiliki gairah hidup.


Rasya kini menoleh ke arah Adelia yang tertunduk takut. "Maaf, aku sedikit meninggikan suaraku!. Aku hanya takut terjadi sesuatu pada mu, kalau kamu keluar rumah. Maaf ya ...," Rasya mengecup kening istrinya dan memeluk dengan erat.


Adelia mengangguk paham. Ia ingat apa yang di ucapkan Rara. Saat dirinya hilang, Rasya seperti tidak memiliki kehidupan. Hanya menangis dan menangis.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2