You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 20.


__ADS_3

Serly setelah menerima Black Card yang Rasya berikan. Ia kemudian berangkat sesuai perintah dari Rasya tadi, Serly harus di temani Aldi.


Serly duduk di samping kemudi. Dengan Aldi yang mengemudikan mobil miliknya. Tidak ada pembicaraan. Hanya suara deru mesin yang mengiringi perjalanan mereka berdua.


Serly kadang berpikir. Apakah Aldi semalam itu hanya mengatakan bualan saja. Hingga sekarang tak ada kata penegasan bahwa dirinya benar-benar menyukai dirinya. Seketika pikiran Serly menjadi pusing. Memikirkan itu semua.


"Ke arah mana?" suara Aldi yang datar memecahkan lamunan Serly.


"Ke kanan, kak." Serly menyahuti dengan menatap jalanan. Ia memilih jalur kanan dimana ada sebuah Mall besar yang memenuhi semua kebutuhan termasuk buah tangan yang Rasya maksud.


Tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. Serly benar-benar ingin menjerit. Merasakan sesak. Mengapa pria dingin yang di sampingnya itu saat malam kemarin harus mengatakan kata-kata yang membuatnya terbang melayang, dan setelah itu menjatuhkannya ke tempat yang paling dasar, saat seharian tadi bahkan sekarang tidak menyapa dirinya atau membahas soal semalam. Walaupun Serly sudah tahu bahwa pria yang di sampingnya itu dingin, datar, dan cuek. Tapi, setelah mendengarkan kata-kata semalam yang keluar dari mulut pria itu, diamnya Aldi bagaikan cambuk yang menyakiti hatinya.


Serly terus berperang dengan hati dan pikirannya, hingga Ia tidak menyadari jika Aldi yang sudah merapihkan mobilnya di tempat Parkir khusus.


Aldi melirik Serly yang terdiam melamun. Ada rasa canggung, sesak, serta malu. Aldi akhirnya berpikir semalaman setelah pulang dari kediaman Rasya. Dirinya benar-benar di landa gelisah setelah mendengar Hadi ayahnya Serly dan Rasya, meminta Serly untuk menikah dengan Albian. Mendengar penuturan Hadi yang dominan melihat Albian dari segi harta, adalah pria pilihan yang Hadi berikan kepada anaknya. Membuat nyali Aldi menciut. Merasa rendah bahkan minder.


Melihat apa yang ada di dirinya. Aldi akhirnya sadar diri. Memilih Serly gadis cantik nan baik hati tersebut, harus memiliki modal yang kuat.


"Sudah sampai," ucap Aldi setelah lama menatap Serly dari samping yang terus terdiam, akhirnya bersuara.


Serly tersadar dari lamunannya. Ia menatap keluar jendela dan melihat banyak mobil yang sudah terparkir.


Serly langsung membuka Seat belt yang melekat pada tubuhnya, kemudian ia membuka pintu mobil tanpa kata kepada Aldi. Aldi yang melihat semua pergerakan Serly akhirnya keluar dengan menghela nafas dengan panjang terlebih dahulu.


Aldi mengikuti langkah Serly dari belakang. Serly terus berjalan dengan menatap setiap toko yang ia lewati belum ada yang cocok menurutnya.


Serly akhirnya masuk ke salah satu toko Tas. Membuat Aldi mengernyit menatapnya. Tapi Aldi tidak memprotesnya. Ia terus mengikuti langkah Serly dari belakang.


Saat Serly sedang asyik memilih berbagai Tas. Tiba-tiba suara seseorang membuatnya terperanjat.


"Eh, Serly. Lagi shopping ni? sendiri aja?" Rindu teman kelas Serly menyapanya dengan suara ledekan.


Serly hanya menjawab dengan tersenyum mengangguk lalu memilih fokus pada tas yang sudah mencuri perhatiannya sedari tadi.


"OMG, hai Bang Aldi... sepupunya Kikan? sama siapa datang ke sini?" Rindu menyapa Aldi dengan suara lembut tidak seperti menyapa kepada Serly saat tadi. Serly tetap fokus dengan memasang telinganya dengan tajam ingin mendengar bagaimana respon seorang Aldi yang dingin saat di sapa wanita seksi dan manja tersebut.


Aldi mengangguk dengan menjawab , "Saya datang bersama Serly," membuat Serly tidak percaya mendengar pengakuan Aldi sebenarnya.


"What?" Rindu seperti terkejut mendengar jawaban Aldi. Ia langsung menoleh ke arah Serly yang berpura-pura acuh.

__ADS_1


"Sama Kikan juga, ya?" Rindu tetap ingin memastikan kedatangan Aldi tidak hanya berdua.


Aldi menggeleng, "Kami berdua," sahutnya tanpa menoleh kepada Rindu. Tatapannya lurus menatap punggung Serly.


Lalu terdengar teriakan gadis lain, "Rindu. Lu di cariin ternyata ada di sini?" kata Sinta teman dekatnya Rindu. "Eh, bentar ini kan Sepupunya si Kikan itu ya?" Sinta dengan berbisik kepada Rindu yang masih terdengar di pendengaran Aldi dan Serly.


Rindu terlihat mengangguk.


Kemudian Aldi melewati mereka dengan begitu saja saat melihat Serly menjauh dari mereka. Ternyata Serly menuju meja Kasir.


"Ya Ampun, Rindu ... gila cowoknya cool banget, di tambah gantengnya pakai banget!" pekik Sinta setelah Aldi melewati dirinya.


Rindu menatap ke arah Serly dengan sinis. "Iya tapi kenapa harus dengan gadis manja itu? kemarin Kak Dido cowok populer dan sekarang cowok inceran gue saudaranya Kikan," mata Rindu memancarkan aura kedengkian terhadap Serly. "Apa sih istimewanya dia?" lanjut Rindu.


Sinta yang mendengarkan manggut-manggut menyetujui apa yang sudah Rindu katakan.


"Sudahlah ... lain kali kita kasih pelajaran cewek itu," Sinta memberikan sedikit ketenangan untuk teman dekatnya itu. Kemudian keduanya kini menuju Kasir.


"Wah, lihat cewek manja itu dia terlihat belanja tas banyak?" Sinta memandang kepergian Serly yang membawa paperbag tiga buah. Namun saat keluar dari toko tersebut Aldi sigap mengambilkan belanjaan tersebut.


"Oh so sweet banget lihatnya!" Sinta dengan tersenyum menatap Aldi yang menurutnya romantis. Rindu menjadi panas melihatnya. Ia menyerahkan kartu debitnya dengan kasar kepada seorang Kasir.


Disisi lain. Serly merasakan keroncongan pada perutnya. Ia melirik kiri dan kanan untuk melihat tempat untuk mengisi perutnya yang sudah merasa lapar.


"Ayo!" Aldi menyetujui. Keduanya kini masuk ke dalam cafe tersebut dan memilih meja yang kosong.


Saat baru saja Serly dan Aldi duduk. Kini di kejutkan oleh suara seorang pria.


"Serly!" panggilnya seraya mendekati meja.


Serly mendongak. Dan menatap ke arah pria tersebut.


"Kevin?" sahutnya dengan ekspresi biasa saja. Namun, Kevin seolah sedang memergoki Serly. Ia menatap tajam ke arah Aldi yang duduk di hadapan Serly.


"Boleh aku gabung," ucapnya dengan langsung menarik kursi tanpa mendengar jawaban Serly.


Serly hanya mendengus menatap Kevin yang kini sudah duduk manis di sebelah Aldi.


Lalu datang seorang pelayan. Kemudian menanyakan tentang makanan dan minuman apa yang akan mereka pesan.

__ADS_1


"Aku nasi goreng seafood dan minumannya es jeruk," kata Kevin yang pertama di tanyai pelayan tersebut. Kevin kemudian menatap Serly. "Kamu mau pesan apa?" tanyanya.


Serly menjawab, "Aku nasi sama ayam teriyaki saja, minumnya teh tawar," lalu Serly kini menatap Aldi yang tepat ada di hadapannya. "Kakak, mau pesan apa biar aku sekalian pesankan?" ucapnya.


Aldi menatap Serly dengan tatapan datarnya, "Samain aja," katanya.


Serly mengangguk, "Mbak, jadi nasi sama ayam teriyaki nya dua, sama minumnya juga," kata Serly mengulangi pesanannya kepada pelayan.


Pelayan tersebut melenggang pergi setelah mencatat pesanan Kevin, Serly, dan Aldi. Kini Kevin mulai berbicara kembali kepada Serly tanpa menghiraukan keberadaan Aldi.


"Ser, apa benar kamu sudah jadian sama Kak Dido Arlino, senior itu?"


Serly menggeleng cepat.


"Tapi gosip di kampus mengatakan kalau kamu sering jalan sama dia, bahkan mengatakan kalau kalian jadian," Kevin mengatakan apa yang ia dengar. Dan saat ini kesempatan baik untuk dirinya menanyakannya langsung kepada Serly gadis yang pernah menolak ungkapan cintanya.


"Enggak. Aku gak jadian. Aku hanya berteman saja," Serly akhirnya bersuara menjelaskan kepada Kevin.


Wajah Kevin terlihat lega. Begitupun dengan Aldi yang ikut mendengarkan. Namun, Kevin melirik ke arah samping dimana Aldi duduk dengan diamnya.


"Lalu ini siapa?" Kevin benar-benar ingin tahu tentang pria yang menemani Serly saat ini.


Serly menatap Aldi. Begitupun sebaliknya dengan Aldi. Mereka saling tatap tanpa kata.


"Ini, Kak Aldi dia ini te--"


"Saya pacarnya Serly," Aldi memotong ucapan Serly dengan cepat.


Mendengar Aldi yang mengatakan bahwa dirinya adalah pacarnya. Serly tidak percaya apa yang ia dengar. Serly di buat melongo.


Apalagi dengan Kevin, ia sungguh terkejut. Namun, kemudian ia terkekeh.


"Bang, bercanda ya?" Kevin seakan tidak percaya karena tidak mendengar langsung dari gadisnya.


Tanpa Serly duga, Aldi meraih tangannya menggenggam dan mengecup punggung tangan Serly di hadapan Kevin. Kevin terlihat syok.


Bahkan dengan gadis yang di genggam dan di kecup punggung tangannya. Serly terkejut. Seakan kesadarannya menghilang. Ia dibuat melongo oleh Aldi.


"Kami baru jadian," pungkas Aldi dengan menatap penuh cinta pada wajah gadis yang di cintainya itu.

__ADS_1


...***...


Ah, Ternyata Aldi si datar bisa manis juga??


__ADS_2