
Adelia tersenyum ramah. Saat menatap orang yang ia kenali. Ya. Seseorang yang menjadi Manager di Cafe milik Martin itu adalah Reyhan sahabatnya Martin. Dan Adelia mengenalinya.
"Hai, Kak Rey ...," sapa Adelia saat melihat Reyhan hanya menatapnya tanpa berkedip. Adelia tahu, dulu Reyhan sempat menyukainya. Itu juga ia tahu saat percakapan antara Martin dan Reyhan yang membahasnya.
Reyhan gelagapan, "Ah i-iya. Kamu Adelia, kan?" Reyhan takut salah melihat, hingga ia memastikan.
Adelia mengangguk, dengan tersenyum. "Iya, aku Adelia,"
Reyhan berdiri dan mendekati ke arah Adelia yang berdiri. "Em ... kamu duduk di sofa. Gak enak, kalau mau bicara berdiri terus,"
Adelia pun menurut. Ia duduk di sebuah Sofa panjang. Reyhan terbelalak saat melihat perut Adelia yang buncit. Reyhan sudah yakin bahwa Adelia saat ini sedang hamil.
Reyhan ikut duduk di sofa, namun jaraknya lebih jauh. Karena di ruangan Reyhan hanya ada satu sofa panjang.
"Ada perlu apa kamu ke sini, Del?" Reyhan to the poin.
Adelia menatap wajah Reyhan, "Kak ... aku ingin tahu apa yang terjadi dengan Martin?"
Reyhan menatap wajah Adelia yang terlihat sendu. Sehingga netra keduanya beradu.
"Kamu kenapa baru tanya sekarang? kemana saja dari kemarin?" tanya Reyhan. Suara Reyhan memang lembut. Namun, kata-katanya membuat Adelia merasa tercubit hatinya.
"Maaf Kak. Waktu itu setelah aku di culik Rima. Aku di bebaskan oleh Rasya dan Yuda. Dan aku, di bawa ke Kota B oleh Rasya. Sehingga aku tidak bisa menemui Martin," Adelia yang keadaanya sedang hamil. Membuat mood-nya menjadi sedih saat mendengar kata-kata Reyhan tadi. Kini mata Adelia berkaca-kaca.
"Bukannya, ada ponsel. Ya kamu bisa menelepon atau sekedar mengirimkan pesan. Apa tidak bisa?" Lagi-lagi kata-kata yang keluar dari mulut Reyhan kembali membuat hati Adelia tercubit, bahkan merasa bersalah yang memang Adelia tidak pernah melakukan itu semua. Adelia terdiam tidak menyahut.
Reyhan berkata seperti itu mengeluarkan kekesalannya terhadap Adelia yang telah melukai sahabatnya. Martin prustasi. Dan mengalihkan pada minuman-minuman yang membuat Jantungnya terbakar. Sehingga Kini Martin masih di rawat di salah satu Rumah Sakit yang berada di kota Sidney, Australia.
Dan Kini Adelia datang setelah kejadian lama itu terjadi. Dengan keadaan sudah hamil besar. Dan tentunya sudah menikah lama.
Reyhan menatap ke arah lain, ia menghembuskan nafas untuk meredam kekesalannya. "Maaf jika kata-kataku, menyinggung. Jujur aku yang sebagai sahabat Martin. Merasa luka dengan apa yang terjadi dengannya. Dan itu semua karena Kamu," ujar Martin dengan lirih.
__ADS_1
Adelia kini air mata yang menggenang sejak tadi, akhirnya tumpah setelah mendengar apa yang terjadi karena dirinya. Adelia kini terisak. Dan terdengar jelas pada pendengaran Reyhan.
"Martin prustasi Del ... saat dia mengetahui kalau kamu begitu mudah berpaling darinya. Kamu akan menikah dengan pria lain. Martin kecewa, Martin hidupnya hancur. Dia memilih menghilangkan rasa kecewa dan prustasinya dengan mabuk-mabukan. Dia mabuk tanpa henti. Tanpa mengurus dirinya, tanpa makan sedikitpun, hanya minuman keras itu yang Martin tenggak selalu. Sehingga Martin terkapar dan Jantungnya terbakar," Reyhan menceritakan dengan suara lirih.
Adelia lagi-lagi merasakan rasa bersalah. Rasa bersalah itu sangat besar. Hingga dadanya merasa sangat sesak, dan ada yang sakit di dadanya yaitu di hatinya. Adelia tidak pernah tahu bahwa Martin akan seperti itu karena dirinya. Dan bagaimana kalau Martin sampai meninggal? tentu Adelia tidak akan memaafkan dirinya.
Reyhan menyerahkan tisu untuk Adelia, "Sudah tahu sekarang? aku harap setelah Martin kembali ke Kota ini. Aku tidak mau sampai kamu mendekati atau menunjukkan wajahmu di depannya. Itu juga kalau Martin masih bisa hidup. Tapi aku yakin. Martin akan sembuh dan tertolong. Dia anak yang kuat dan tegar sebenarnya. Hanya rasa cinta yang begitu dalam membuat dirinya lemah," tukas Reyhan tanpa menatap ke arah Adelia yang masih berurai air mata.
Reyhan melangkah ke arah mejanya, lalu berkata. "Jika semua sudah jelas. Kamu tahukan, pintu ada di sebelah mana?!" dengan memunggungi Adelia. Reyhan seakan mengusirnya dengan halus.
Adelia sungguh sakit. Namun, ia bisa menerimanya. Dengan mata yang berderai air mata. Ia berpamitan.
"Terima kasih, Kak. Kak Rey, mau meluangkan waktu untuk berbicara kepada ku. Aku undur pamit, dan sekali lagi terima kasih," ucapnya. Lalu Adelia melangkah pergi meninggalkan ruangan Reyhan tersebut.
Adelia berjalan gontai. Dengan air mata yang masih berderai. Banyak orang yang memperhatikan Adelia. Apalagi pelayan, dan penjaga Cashier yang tahu bahwa Adelia dari ruangan Reyhan, ia terkejut karena Adelia keluar dengan berderai air mata.
Rara mendekati Adelia yang terus berjalan tanpa menghampiri mejanya.
Adelia masih bergeming. Adelia terus berderai air mata dengan tatapan yang kosong.
"Ra ... Martin sakit parah. Dan semuanya itu karena aku," ucapnya lirih.
Rara terkejut tentunya mendengar ucapan Adelia yang menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak mungkin Del. Kamu jangan menyalahkan diri kamu. Tentu Martin sakit karena penyakit, bukan kamu yang buat dia sakit," Rara menenangkan. Kini keduanya sedang berada di pinggir jalan menunggu taksi.
Dan tidak lama Taksi datang. Adelia dan Rara masuk ke dalam taksi tersebut. Dan mengatakan alamat yang di tuju.
"Sudah, Del. Jangan nangis seperti itu. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri," Rara kembali menenangkan Adelia.
Adelia mengusap air matanya. Hingga tersisa pipi dan hidung yang merah serta mata yang terlihat sembab.
__ADS_1
Tidak berselang lama Taksi itu berhenti di depan halaman rumah yang Rara dan Adelia tuju. Keduanya keluar setelah membayar ongkos taksi tersebut. Lalu melangkah ke arah pintu rumah yang masih terkunci. Tentunya penghuni rumah belum ada satupun yang pulang.
"Aku buatkan minuman, mau?" Rara menawari Adelia. Kini keduanya sudah duduk di sofa ruang tengah.
"Aku ingin makanan pedas Ra," pinta Adelia.
"Makanan pedas? seperti apa?" Rara serius ingin tahu apa yang tengah di inginkan Adelia saat ini.
"Aku ingin seblak. Dengan level pedas yang gila," ujar Adelia dengan membayangkan satu porsi seblak yang berkuah pedas.
"Kamu ingin seblak apa? biar aku belikan,"
Adelia tersenyum senang, Rara selalu mau membelikan apa yang ia inginkan.
"Kalau ada seblak kikil ya, tapi kalau gak ada. Gak apa-apa seblak ceker juga," pintanya.
"Ya sudah. Aku pergi sekarang. Dan kamu jangan kemana-mana. Mengerti!" pesan Rara membuat Adelia tergelak.
"Iya Mengerti," Adelia dengan tertawa kini.
"Syukurlah ... Adel sudah ketawa lagi. Kalau sedih terus kan, nanti kasihan sama bayinya," batin Rara senang karena Adelia kembali tertawa.
Rara pun pergi melenggang keluar. Kini Adelia sendiri di rumah besar itu dengan duduk berselonjor di atas sofa, dengan menonton televisi.
Selang beberapa menit. Terdengar suara bell berbunyi. Membuat Adelia bangkit dari duduknya, dan melangkah untuk membukakan pintu.
Saat pintu sudah berhasil Adelia buka. Adelia terkejut menatap beberapa orang di depannya.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1