You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 130.


__ADS_3

Akhirnya Adelia bisa keluar rumah. Ia sungguh merasa bosan berada di dalam rumah, ia ingin merasakan pemandangan luar. Adelia merengek mengajak Albi untuk pergi ke sebuah taman. Hingga Albi pun menurutinya.


Kebetulan letak taman yang terdekat dari rumah Albi berada di dekat Alun-alun kota. Adelia sudah terduduk di sebuah bangku panjang, dan di temani Albi di sampingnya.


"Jangan lama-lama ya, kamu lagi hamil. Gak baik, udara malam untuk mu," pesan Albi dengan menatap Adelia dari sampingnya.


"Iya Mas. Sebentar saja kok, aku hanya ingin menghirup udara malam, dan melihat banyak bintang," ucap Adelia dengan menengadahkan wajahnya menatap langit yang bertabur bintang.


Albi terpana akan kecantikan Adelia, di berbagai sisi Adelia di pandangan Albi selalu terlihat cantik. Hingga ia terus menatap Adelia tanpa berkedip. Adelia kembali menatap ke arah depan, dan menunjuk sebuah gerobak ice cream.


"Mas, aku pengen itu!" tunjuk Adelia.


Namun, Adelia tidak mendapat sahutan dari Albi. Lalu Adelia mencoba melirik pria yang di sampingnya. Ternyata Albi sedang melamun, dengan menyamping menatap dirinya.


"Mas, hei ...." sapa Adelia dengan melambaikan tangannya di hadapan Albi. Hingga Albi tersadar dari lamunannya.


"Ada apa?" tanya Albi saat sudah tersadar.


"Aku pengen itu!" tunjuk Adelia lagi ke gerobak tukang ice cream.


"Ice cream?" sahut Albi.


Adelia menjawab mengangguk.


"Ya aku belikan. Tapi kamu jangan kemana-mana. Tetap di sini!" titah Albi.


"Iya Mas, aku tunggu kamu di sini," jawab Adelia dengan tersenyum.


"Benar ya? awas jangan kemana-mana!!" peringat Albi kembali. Kemudian ia mulai melangkah menuju gerobak ice cream yang Adelia tunjuk tadi. Dengan sesekali menengok ke arah Adelia yang terduduk di bangku tersebut.


Duh ngantri lagi? aku takut sampai ada yang mengenali Arumi di sini. Albi membatin mengkhawatiri Adelia. Ia takut sekali ada yang mengenali Adelia.


Sementara itu Adelia tengah memandang langit yang begitu indah dengan hiasan bintang, dan kebetulan ada dua pemuda kembar sedang melintasi dirinya, yaitu Bima dan Sakti. Dan kedua pemuda itu terkejut serta senang bisa bertemu dengan teman se-band nya yang sedang terduduk itu. Kemudian kedua pemuda itu menghampiri Adelia, dan mendekatinya.


"Adel ... kamu sendiri di sini?" tanya Bima dengan tersenyum senang.


Adelia yang di tanya hanya terus memandang kedua pemuda tersebut.


"Del, bagaimana kabar kamu? kita sudah lama ya, enggak ketemu. Terakhir pas acara malam melepas lajang si Rasya waktu itu," sapa Sakti kini.


Adelia masih terdiam dan terus memandang kedua pemuda tersebut.


"Del, kamu kok diam saja? hmm? apa sudah lupa sama kita? oh ya, bagaimana kabar si Rasya ya, sekarang?" tanya Bima dan mulai duduk di sebelah Adelia.


Siapa mereka? sepertinya mereka salah orang?. Mas Albi mana, kok lama?. Batin Adelia merasa ketakutan terhadap pemuda kembar yang kini duduk di sebelahnya.


"Maaf. Kalian pasti salah orang. Aku bukan orang yang kalian maksud, dan saya sendiri tidak kenal kalian!" Adelia membuka suara.


"Wah, kamu Del. Mau ngeprank kita ya? emang kita akan percaya? enggak kali," ucap Sakti dengan tergelak menanggapi ucapan Adelia yang menurutnya seolah ngeprank.


"Saya serius! sekarang kalian tinggalkan saya!, sebelum suami saya memarahi kalian," teriak Adelia dengan menatap tajam ke arah dua pemuda tersebut. Adelia sendiri merasa risih, kepada pemuda kembar itu, yang seakan berpura-pura sok kenal.


"Adel? kamu bentak kita?" tanya Bima tak percaya dengan Adelia yang berada di depannya kini.


Kedua pemuda kembar itu merasa heran dengan teman wanitanya, yang selalu ramah dan sopan kalau bertutur sapa. Tapi kali ini, Adelia tidak mengenalinya, dan di tambah Adelia membentaknya.


"Kalian Pergi, jangan sok kenal sama saya!! pergi!!" teriak Adelia hingga terdengar di telinga Albi yang sudah berhadapan dengan penjual ice cream.


Suara Arumi itu. Ada apa dengannya?. Albi bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia ingin menemui Adelia saat ini, tapi pesanan ice cream sedang di buat oleh penjualnya.


Disisi lain.


"Ok.Ok! maaf mungkin benar, kita telah salah orang," ujar Sakti meminta maaf. Dan mereka pun pergi meninggalkan Adelia yang sudah memarahinya.


Seperginya Pemuda kembar itu, Adelia menekuk wajahnya masih merasa kesal. Hingga beberapa saat, Albi datang menghampiri.

__ADS_1


"Ini ice cream nya," Albi dengan menyerahkan dua cup ice cream ke hadapan Adelia. Lalu Albi duduk di samping Adelia.


"Hei, ada apa? apa tadi yang berteriak kamu?" tanya Albi yang tidak mendapat respon dari Adelia. Lalu mempertanyakan tentang suara teriakan tadi.


"Mas mendengar aku berteriak?" dan Albi mengangguk.


"Aku tadi kesal, bisa-bisanya ada orang yang sok kenal sama aku. Dia memanggil aku dengan sebutan nama lain. Aneh kan, Mas?"


Albi terdiam mencerna ucapan Adelia. Kemudian Albi terhenyak dan tersadar, bisa saja orang yang dikatakan Adelia memang benar mengenalinya, hanya saja Adelia sendiri tidak kenal karena amnesia.


"Kita pulang saja yuk! makan ice cream nya di mobil saja," ajak Albi dengan lembut.


"Tapi Mas--"


"Nurutlah sama suami mu, aku tidak mau sampai kamu kenapa-napa, Arumi!!" ucap Albi dengan sendu memotong ucapan Adelia.


Adelia pun mengangguk, dan menurut kepada Albi.


Maafkan aku Arumi!, aku tidak mau sampai kamu di kenali oleh orang yang mengenalmu.


Batin Albi.


Adelia kini berjalan dengan merangkul lengan Albi, menuju mobil yang Albi parkirkan. Mereka berdua berniat untuk pulang. Dan sepanjang perjalanan, Adelia menikmati ice cream nya itu.


***


Sementara itu Rasya baru saja keluar dari Mushola yang berada di Alun-alun kota. Rasya sedari warung gudeg, ia tidak langsung pulang. Namun, mencari udara dan hiburan di alun-alun.


Rasya berjalan dengan bermain ponsel, hingga Rasya tidak melihat arah jalan yang ia lalui. Kemudian, saat ada dua orang pemuda yang sedang berbincang. Rasya tertubruk mereka, hingga ponsel yang Rasya pegang terjatuh ke tanah.


"Maaf Mas, kami tidak sengaja!" ucap salah satu dari dua pemuda tersebut.


Rasya yang sudah memungut ponselnya yang terjatuh, ia menatap dua orang yang menubruknya itu. Mata Rasya membola dengan sudut bibir tersungging tersenyum saat melihat dua pemuda yang di tatapnya.


"Hei, Rasya?" sahut Sakti dan Bima bersamaan.


"Ya ampun, kita sudah lama tidak ketemu. Apa kabar Bro?" mereka dengan berjabat tangan kepada Rasya.


"Iya benar. Kabar Baik. Kalian gimana, hmm?" tanya Rasya balik.


"Tentu kita baik-baik saja," jawab Bima dan Sakti kompak.


"Kalian tidak berubah, selalu saja kompak. Mentang-mentang kembar," celetuk Rasya dengan nada bercanda.


"Ya kita di ciptakan kembar. Tentu harus selalu kompak. Always together forever," sahut Bima dengan tergelak.


"Terus pada masih jomblo juga?" goda Rasya.


"Hiss ... mentang-mentang kamu udah punya bini. Seenaknya ngatain kita," pekik Sakti berlaga marah.


Rasya tersenyum kecut setelah mendengar Sakti menggodanya.


"Kita mau terus saja berdiri?. Kita cari tempat buat duduk ayo!" kata Bima mengajak untuk duduk.


Mereka pun mencari bangku untuk duduk, dan kebetulan bangku yang mereka duduki adalah bekas Adelia duduk tadi. Hingga Si kembar teringat akan kejadian tadi.


"Oh ya, Syaa ... kita tadi ketemu Adelia di sini," ucap Sakti dan di angguki oleh Bima.


Rasya hanya diam saja. Tidak tertarik akan ucapan Sakti, "Aneh kalian," ucapnya.


"Justru benar Syaa ... cewek yang tadi kita anggap Adelia, ternyata bukan. Dia malah marah-marah, dan mengusir kita. Mungkin, hanya mirip saja, jadi kita repleks menyapanya," ujar Bima dengan tergelak.


Rasya pun tersenyum melihat mereka yang tergelak.


"Oh ya, gimana kabar si Adel? Kamu pasti tahu kan, kabarnya?" tanya Bima selanjutnya. Dan membuat Senyum Rasya menghilang, dan berubah menjadi sendu.

__ADS_1


"Terus Bini kamu si Ariyanti, udah hamil?" tanya Sakti kini.


Kedua teman Rasya itu belum tahu menahu tentang rumah tangga Rasya. Yang mereka tahu bahwa Rasya masih suami Ariyanti. Hingga kedua temannya itu memberondong memberi pertanyaan kepada Rasya.


"Syaa ... kok ditanya malah diem aja?" pekik Sakti merasa heran karena Rasya yang di tanya hanya terdiam.


"Sorry ... Aku harus jawab yang mana dulu. Soalnya kalian kaya wartawan yang sedang memburu informasi," sahut Rasya bercanda.


"Terserah Lu, mau yang mana dulu!" ujar Bima.


"Ok, aku akan jawab semua pertanyaan kalian," Rasya menghela nafas. "Aku sudah bercerai dengan Ariyanti," sambungnya.


"Loh, kok bisa?" tanya Bima heran.


"Bisa. Karena kalian tahu kan, aku menikah karena di paksa oleh kedua orang tuaku."


Si kembar pun mengangguk tanda memahami kondisi Rasya yang di jodohkan.


"Terus Lu, balikan lagi sama Si Adel?" tanya Bima yang sudah tahu bahwa Rasya sempat jadian dengan Adelia.


"Sempat. Bahkan sampai Nikah," sahut Rasya.


"Serius Bro? wah, kita ikut senang," ucap Bima tersenyum dan di angguki Sakti tanda setuju.


"Iya thanks, tapi Adelia sudah tiada," ucap Rasya dengan lirih.


"Sudah tiada?" pekik Bima.


"Maksud Lu Syaa ... Adel meninggal?" tanya Sakti.


Rasya mengangguk pelan.


"Inna lillahi," ucap Mereka bersamaan.


"Kok bisa, apa Adelia punya penyakit?" tanya Sakti penasaran.


"Tentu bisa. Karena mungkin sudah waktunya. Em ... Bukankah, setiap yang bernyawa akan merasakan mati?" ujar Rasya dengan lirih menahan rasa sesak di dada. Jika sudah membayangkan Adelia yang tiada, ia selalu ingin menangis. Dan benar saja, air mata dari kedua pelupuk matanya meluncur memabasahi kedua pipinya.


Bima dan Sakti merasa bersalah, yang sudah membuat Rasya menangis dan bersedih. Karena teringat akan Adelia yang sudah meninggalkannya.


"Sorry Syaa, bukan kita bermaksud membuat elu sedih," ucap Bima menepuk pelan bahu Rasya.


"Gak apa-apa Bim, kalian berhak tahu. Adelia teman kalian juga. Namun, entah kenapa kalau sudah membicarakannya, aku suka melow, bahkan bisa di sebut cengeng," tutur Rasya masih berurai air mata.


"Itu tandanya elu sangat mencintai Adelia, Syaa ...." pekik Bima.


"Sangat. Sangat mencintainya," sahut Rasya.


"Eh, minta nomor ponsel Lu napa!?" ucap Sakti mengalihkan.


"Sini aku ketik," ujar Rasya meminta ponsel Sakti.


Sakti pun menyerahkan ponselnya kepada Rasya. Dan Rasya mengetik nomor ponselnya, lalu mengesave nomornya itu.


"Sudah aku save."


"Thanks, kita bisa main ke rumah, kan?" tanya Bima.


"Ya bisa. Besok kalian datang saja. Eh ... aku cabut dulu ya, takut orang rumah cemas, soalnya aku keluyuran dari tadi sore, sekarang udah pukul sepuluh saja, gak kerasa" ucap Rasya pamit ingin pulang.


"Ayo kita juga mau pulang," ujar Bima dan di angguki Sakti.


Mereka pun berjalan beriringan menuju parkiran, yang dimana mobil mereka terparkir. Dengan mengendarai mobil masing-masing akhirnya mereka pulang.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2