You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 189.


__ADS_3

Rasya keluar dari kamar untuk menemui kedua orang tuanya di ruang tamu. Namun, ternyata di ruang tamu masih terdapat keluarga Rony terduduk di sana.


"Ma ... Pa ... Om, tante, Yanti ...," Rasya seraya duduk di sofa single, ikut bergabung di ruang tamu.


Rony, Alin, dan Ariyanti menjawab sapaan Rasya, mengangguk dengan tersenyum ke arah Rasya.


Lia tersenyum, "Istrimu sudah tidur?" tanyanya.


"Belum, Ma ... Oh, iya. Apa yang akan Mama dan Papa sampaikan kepada Rasya?" Rasya to the point. Ia tidak mau berlama-lama berada di antara keluarga Rony.


"Ekhemm ...," Hadi berdehem terlebih dahulu. "Begini, Syaa ... mulai Senin besok Ariyanti akan bekerja di perusahaan Papa. Dan Ariyanti juga akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Karena Pak Rony, dan Bu Alin akan mengurus perusahaan yang berada di Thailand. Papa dan Mama mohon, bimbing Ariyanti di kantor. Dan beri pekerjaan yang jabatannya layak. Kalau perlu jadi asisten mu atau sekretarismu," ujar Hadi.


Rasya terdiam. Mencerna semua perkataan Hadi. Setelah merasa mengerti, Rasya membuka suara. "Hanya itu saja yang akan Papa sampaikan kepada Rasya?" Rasya bertanya tanpa merespon ujaran Hadi.


"Iya Nak. Dan bagaimana, menurut kamu?"


"Terserah Papa. Karena Rasya tidak punya wewenang untuk mengatur semuanya. Perusahaan itu milik Papa. Rasya tidak berhak, menolak atau tidak menerima. Toh semua keputusan sudah Papa putuskan!" ucap Rasya. Memang benar adanya menurut Rasya. Ia tidak berhak mengatur atau menolak keputusan Hadi. Perusahaan yang Rasya pimpin saat ini, toh Milik Hadi.


Hadi terdiam. Begitupun semua yang ada di ruang tamu tersebut. Setelah sekian menit tidak ada yang bersuara. Rasya memutuskan untuk kembali ke dalam kamar.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang akan Papa sampaikan. Rasya undur pamit," ujar Rasya seraya beranjak berdiri dan melangkah menuju kamar.


Rasya mendesah seraya berjalan. Ia tidak tahu apa yang di rencanakan Papanya saat ini. Kenapa harus berurusan kembali bersama Ariyanti.


Setelah masuk ke dalam kamar. Rasya tidak lupa mengunci pintu terlebih dahulu. Lalu merangkak naik ke atas ranjang. Yang dimana Adelia sudah terpejam.


"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Rasya.


Hening


Tidak ada jawaban dari Adelia. Membuat Rasya tersenyum kemudian mengecup kening istrinya, dan beralih mengusap perut buncit yang terdapat benih cintanya tumbuh di sana.


"Sayang ... tidur yang nyenyak ya. Aku mencintaimu," ucapnya. Lalu berbaring, dan memeluk tubuh Adelia yang tertidur menyamping ke arahnya. Hingga selang beberapa menit. Rasya pun tertidur menyusul Adelia ke dalam mimpi.

__ADS_1


Sementara itu di ruang tamu. Orang tua Ariyanti baru saja berpamitan. Dan menitipkan Ariyanti kepada Lia dan Hadi. Setelah itu kedua orang tua Ariyanti pergi.


"Ayo Nak. Tante antar ke kamar," ajak Lia kepada Ariyanti.


"Terima kasih Tante," sahut Ariyanti seraya mendorong koper miliknya.


"Sama-sama" Lia menggandeng lengan Ariyanti menuju anak tangga. Membawa Ariyanti ke arah kamar tamu yang berada di lantai atas.


"Silahkan masuk Nak. Dan tidurlah!" ucap Lia seraya mengelus bahu Ariyanti.


"Baik Tante. Selamat beristirahat," ujar Ariyanti.


Lia hanya tersenyum dan kemudian melangkah pergi menuju kamarnya. Terlihat Hadi sudah berada di dalam kamar. Ia terduduk di tepi ranjang.


"Pa ... apa itu keinginan Papa atau Pak Rony, Ariyanti tinggal di sini dan bekerja di perusahaan Papa?" Lia membuka suara, dengan duduk berdekatan suaminya.


Hadi menghela nafas terlebih dahulu, seperti ada beban yang ia sembunyikan. "Ma ... kalau Ariyanti tinggal di sini itu keinginan Rony, karena Rony merasa khawatir jika anak tunggalnya ia tinggalkan di rumahnya sendirian. Makanya Papa setujui. Dan kalau tentang bekerja di perusahaan Papa itu keinginan Ariyanti. Ia merengek ke Papa, agar Papa mempekerjakannya selama tinggal di sini. Dan di balik itu semua ada sebuah rencana besar yang sedang Papa usut sudah sekian lama. Semoga saja, Papa tidak salah langkah," ujar Hadi dengan jelas. Menjelaskan kepada Istrinya.


"Tapi Pa ... di sini Mama, melihat posisi Rasya. Putra kita itu seperti enggan harus bertemu dengan Ariyanti. Bukannya, kita sudah tahu kesalahan kita waktu itu yang memaksa Rasya menikahi Ariyanti. Mama tidak mau jika Rasya sampai berpikir, kalau kita berdua sedang mendekatkannya kembali. Papa harus jelaskan apa maksud dan tujuan Papa kepada Rasya, jangan sampai Rasya itu salah paham," Lia berbicara dengan penuh kehati-hatian. Tidak mau sampai Hadi salah mengerti pada ucapannya.


Kini sepasang suami itu berpindah posisi. Keduanya terbaring dengan saling memeluk.


"Iya Papa benar. Mama sudah gak sabar ingin cepat menimang cucu. Dan Mama juga sudah membayangkan bagaimana lucunya cucu kita itu,"


"Mama sudah tahu jenis kelamin cucu kita?" Hadi kini dengan mengelus rambut istrinya.


"Adelia belum di periksa lagi Pa. Nanti deh, Mama yang akan mengantar Adelia chek-up ke dokter kandungannya,"


"Terus Adelia itu harus di ajak jalan-jalan sekali-kali, jangan terus saja di rumah. Kasihan, Ma." tutur Hadi.


"Rasya tidak mengijinkan Pa ... Rasya terlalu mengkhawatirkan. Mungkin Rasya tidak mau sampai Adelia kenapa-napa lagi,"


Hadi mengangguk mengerti. "Ada benarnya juga sih. Ya sudah kita lebih baik tidur,"

__ADS_1


"Iya Pa ...,"


Dan Akhirnya Hadi dan Lia tertidur dengan cepat. Setelah merasa puas dengan perbincangannya.


***


Adzan Shubuh berkumandang. Adelia menggeliat, dan merasa ingin buang air kecil. Ia perlahan membuka kedua matanya. Dan menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya. Adelia beranjak ke dalam kamar mandi.


Rasya yang terusik oleh pergerakan selimut. Terbangun. Dan mendengar suara adzan yang masih berkumandang.


"Sudah subuh saja," gumamnya. Rasya Merasa tidak puas dengan tidurnya. Ia memilih bersandar untuk menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.


Setelah Adelia keluar, Rasya pun beranjak berdiri dan mendekati istrinya yang sudah basah wajahnya.


"Mas, jangan sentuh. Aku sudah berwudhu," cegah Adelia saat merasa Rasya terus mendekatinya.


Rasya tersenyum, "Baiklah. Kamu saat ini lolos dari morning kiss-ku, tapi nanti setelah shalat kamu tidak bisa menolaknya," Lalu berlenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Adelia menggeleng-gelengkan kepala, merasa lucu dan gemas terhadap tingkah suaminya itu, yang selalu manis dan selalu mengajak dirinya bercanda. Adelia pun memilih membentangkan sejadah untuk dirinya dan untuk suaminya. Kemudian Adelia terduduk menunggu Rasya.


Rasya baru keluar dari kamar mandi. Ia langsung memakai sarung dan juga baju koko, serta kopiah yang sudah tersedia. Lalu mengambil posisi di atas sejadah yang Adelia siapkan.


"Sayang, lebih baik shalat qobliyah shubuh dulu,"


"Iya Mas," sahut Adelia dengan cepat berdiri.


"Ingat niat shalatnya?"


"Ingat Mas, seperti ini. Usholli sunnatal qobliyah subhi rok'ataini mustaqbilal qiblati adaallillahita'ala,"


"Pintar," sahut Rasya.


Dan sepasang suami istri itu, berdiri seraya melakukan shalat qabliyah shubuh. Yang merupakan shalat yang banyak keutamaannya.

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2