
Dido mengusap wajahnya dengan kasar. Setelah melakukan kegiatan panjang yang berjam-jam. Serly sungguh sangat bergairah hebat, berkali-kali mengajak Dido lagi dan lagi. Tentu Dido melayani. Karena hal tersebut adalah hal pertama bagi dirinya. Hingga waktu sudah petang. Barulah kegiatan tersebut berakhir, dengan keadaan Serly yang langsung tertidur.
Dido menghembuskan nafas dengan kasar. Mengingat nanti saat Serly terbangun tentu akan bersedih dan menyesali perbuatannya.
Dido bangkit dari atas ranjang. Menyelimuti tubuh Serly. Kemudian ia segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Dido melotot saat bercermin di cermin washtafel melihat banyak kissmark yang di ciptakan oleh bibir Serly di dada bidangnya. Dido meremang saat membayangkan dirinya yang sedang bergelut bersama Serly saat tadi.
Cepat-cepat Dido membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa menit ia keluar dari kamar mandi dan masih mendapatkan gadis yang di cintainya masih tertidur.
Dido kini sudah berpakaian rapih. Lalu mengelap wajah Serly dengan washlap basah, kemudian memakaikan baju kaos panjang serta celana training yang tadi sempat ia pilihkan. Setelah itu Dido bergegas keluar kamar. Lalu tercengang saat mendapati Ayahnya yang sedang berbincang di ruang tamu dengan Kikan sahabat Serly dan satu pria yang Dido belum tahu namanya.
"Nah itu, Dido nya silahkan kalian tanyakan ya, saya mau membersihkan diri dulu," kata Malik ayahnya Dido saat melihat Dido keluar dari kamarnya.
"Ayah baru pulang?" tanya Dido seraya menyalami dan mencium punggung tangan Ayahnya.
"Iya, ayah baru saja sampai. Terus pas di depan gerbang, ada tamu katanya teman kamu, katanya ada perihal yang akan mereka tanyakan kepadamu" sahut Malik.
"Oh, iya Yah. Kalau gitu Dido mau temui mereka," ucap Dido.
"Iya, ayah juga mau mandi dulu" balas Malik dengan langsung menuju kamarnya.
Dido melangkah menemui Kikan dan Kevin. Dido berusaha menampilkan wajah santai.
"Kamu temannya Serly, 'kan?" kata Dido saat sudah di hadapan Kikan dan Kevin.
"Iya kami berdua temannya Serly," sahut Kevin.
Kikan clingak-clinguk mencari keberadaan Serly.
"Kak Dido. Serly nya mana?" Kikan langsung bertanya mengenai Serly.
"Iya Serly ada dimana?" Kevin menimpali.
Dido berusaha menjawab dengan tenang, "Serly sudah pulang. Saya tadi mengantarkannya. Mungkin saat kalian masih ada jadwal kelas,"
"Ah, benarkah? Syukurlah. Memang tadi kami masuk kelas dulu. Sebelum ke sini. Apa Serly tidak apa-apa?" Kevin antusias ingin tahu keadaan Serly.
"Tadi saya sempat bawa ke dokter. Jadi Serly tidak apa-apa," Dido berbohong. Karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada mereka.
"Tapi, Serly belum jawab chat aku dan panggilan aku ya?" cicit Kikan.
__ADS_1
"Ya mungkin bisa saja Serly sedang beristirahat," sahut Dido.
Kevin dan Kikan manggut-manggut.
"Ya sudah. Kalau gitu kami pamit ya, kak. Maaf ni sudah ganggu waktu kak Dido," ucap Kikan.
"Ya gak apa-apa. Saya gak merasa ke ganggu kok," Dido dengan tersenyum lega. Jika kedua teman Serly percaya. Dan Dido berharap kedua temannya itu tidak mendatangi rumah Serly. Lalu Dido akan secepatnya membicarakan ini kepada Rasya kakaknya Serly.
"Kalau gitu kami pamit ya, kak. Assalamualaikum" ucap Kikan. Sementara Kevin hanya menganggukkan kepala dengan sedikit tersenyum kepada Dido.
"Ya hati-hati. Wa'alaikum salam," balas Dido.
Setelah kepergian Kikan dan Kevin. Dido duduk termenung dengan memegang ponselnya.
"Kemana teman-temanmu tadi?" suara Malik Ayah Dido tiba-tiba sudah di ruang tamu.
Dido terperanjat, "Sudah pulang Yah."
"Ayah kok sudah rapih pakai jas begitu? mau kemana?" tanya Dido saat memperhatikan penampilan Ayahnya.
"Oh. Ini ayah di undang makan malam sama teman bisnis ayah, Pak Hadi." Malik kemudian duduk di sofa sebrang Dido.
"Yah, Aku kenal Pak Hadi," kata Dido membuat ayahnya menautkan kedua alisnya.
"Kok bisa kamu kenal?" tanya Malik sedikit heran.
"Ya, karena anak gadis Pak Hadi pacar Dido," sahut Dido santai.
"Pacar?" Malik terkekeh.
Sekarang giliran Dido yang menautkan alisnya dengan heran. Menatap ayahnya yang sedang terkekeh.
"Sejak kapan kamu berpacaran?" Malik kini berwajah serius. Baru kali ini putra tunggalnya mengaku mempunyai pacar.
"Sudah lama. Em ... Ayah. Tolong bicarakan tentang hubungan kami yang sangat sudah serius."
Lagi-lagi Malik menautkan alisnya heran.
"Maksud kamu ada apa?" Malik masih belum mengerti.
__ADS_1
Tiba-tiba Dido bertekuk lutut di hadapan Malik dengan memegang kaki sang Ayah yang menatapnya dengan heran. Dido memang putranya yang sangat baik, semua ucapan dan keinginan ayahnya selalu di turuti. Namun, kali ini Malik merasa putranya telah melakukan kesalahan sehingga ia bertekuk lutut dengan wajah yang sendu.
"Ayah, tolong maafkan kesalahan aku. Aku telah berbuat khilaf. Aku anak yang telah berdosa," ucap Dido kini dengan berderai air mata.
Malik masih mencerna ucapan Dido. Kemudian menerka apa yang sudah putranya lakukan sehingga mengakui dirinya telah khilaf.
"Katakan, apa kesalahan mu! mengapa kamu bertekuk lutut seperti itu, kepada ayah?!" Malik dengan tegas.
Dido menghela nafas. Kemudian menceritakan apa yang terjadi terhadap Serly. Dido-pun tak luput membicarakan Rindu yang sudah menjebak Serly. Sehingga khilaf antara dirinya dan Serly terjadi.
"Apa? kamu sudah tidur dengan anak Pak Hadi?!" pekik Malik dengan mata melotot.
Dido hanya terdiam.
"Kenapa kamu bawa ke rumah ini. Pertolonganmu itu salah. Seharusnya kamu bawa ke dokter atau argh--" Malik mengerang frustasi putra tunggalnya harus menanggung jawab perbuatannya. Bukan masalah anak siapa gadis tersebut, karena Malik tidak pernah membeda-bedakan sosial. Hanya saja Malik menyayangkan putranya tersebut masih berusia muda.
"Aku akan menikahi gadis itu, Yah!" kata Dido dengan bergetar takut ayahnya tidak menyetujui.
"Harus. Kamu harus menikahi gadis itu," ucap Malik dengan tegas. "Ya sudah ayah akan membicarakan rencana lamaran kepada Pak Hadi, tanpa membicarakan kekhilafan kalian," lanjut Malik.
Dido akhirnya bernafas lega.
"Lalu gadis tersebut apa masih berada di sini?" Malik bertanya tentang keberadaan Serly.
"Iya Yah. Dia sedang tidur," jawab Dido.
"Siapa tadi yang sudah menjebaknya? Ayah akan membicarakan ini besok dengan Dekan kampus, agar mengeluarkan gadis yang tidak bermoral tersebut agar tidak ada korban lainnya," kata Malik yang sebenarnya pemilik kampus dimana Serly dan Dido kuliah.
"Iya terserah ayah. Aku setuju. Lebih baik di keluarkan saja. Tadi Dekan hanya memberikan skors saja,"
Malik menepuk bahu putranya. Merasa bangga dengan kejujuran putranya tersebut yang sudah mengakui kesalahan besar yang sangatlah fatal.
"Ayah berangkat. Lebih baik kamu cepat memesan makanan. Tenagamu sepertinya sudah sangat terkuras," Malik dengan sedikit meledek putranya yang terlihat lesu.
Dido hanya menyengir dengan mengangguk.
Malik pun keluar. Setelah itu Dido dengan perasaan lega memesan makanan secara delivery. Kemudian berdoa semoga gadisnya tersebut bisa menerima kesalahan keduanya tersebut.
...***...
__ADS_1