You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 41.


__ADS_3

"Bentar, kenapa Wajahmu memerah? apa kamu demam?" tiba-tiba Dido yang memperhatikan Serly merasa heran dengan berubahnya wajah Serly merah seperti tomat.


Serly gelagapan. Karena pikirannya barusan sudah berisi dengan hal kotor. Serly memilih tidak untuk menyahuti Dido. Sehingga Serly memilih menunduk, dengan tangannya yang masih Dido genggam.


Namun tanpa Serly duga. Dido mengecup pipinya. Menambah kegugupan bagi Serly. Karena baru kali ini ia merasakan kecupan bibir Dido di kala dirinya sadar.


Serly dengan cepat melepaskan tangannya yang di genggam Dido. Kemudian ia memilih menatap lurus ke arah depan. Mengatur nafas, untuk meredakan kegugupan dalam dirinya.


"A-aku ada kelas lagi kak," ucapnya setelah lama terdiam. Tanpa menoleh ke arah Dido.


"Sampai jam berapa?" tanya Dido yang ingin tahu jadwal Serly. Dido mencoba santai dengan apa yang sudah ia lakukan barusan.


"Sampai jam dua," jawab Serly datar.


Dido mengangguk, "Ya sudah. Selamat belajar," kata Dido seraya tangannya kini mengusap kepala Serly dengan lembut. Sontak Serly kembali merasa gugup serta salah tingkah.


Dengan cepat Serly membuka pintu mobil Dido. Dan keluar begitu saja tanpa ada sepatah katapun. Namun, Dido bukannya marah ataupun kecewa. Ia justru tersenyum, merasa gemas dengan tingkah gadis pujaan hatinya yang terlihat salah tingkah.


"Kamu selalu saja menggemaskan," ucap Dido seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.


Dido kembali tersenyum, mengingat merasa tidak ada penolakan dari Serly saat dirinya mengecup pipinya tadi.


"Tidak mengapa baru bisa kecup pipinya, nanti setelah itu bibir merahnya," Dido tergelak sendiri setelah itu. Mengingat kembali, bahwa dirinya bukan sudah berhasil mengecup pipi dan bibir Serly, bahkan sudah merasakan lebih dari itu.


Tiba-tiba tubuh Dido meremang saat mengingat kejadian saat itu bersama Serly.


"Oh, tidak! ini benar-benar harus cepat menikah. Sungguh, ingin rasanya merasakan kembali rasa itu," monolog Dido dengan bibir terus tersenyum.


Seketika Dido terperanjat saat pintu mobilnya ada yang buka. Lalu setelah tahu pelakunya, Dido menggeleng serta menatap tajam ke arah dua temannya.


"Eh, sorry. Kita dari tadi sudah menggedor kaca mobil lu. Tapi gak lu buka. Ya jadi gue buka saja!" kata Vandu yang merasa tahu tatapan tajam dari Dido.


"Cewek cantik tadi mana?" kini Oky bertanya dengan menelisik isi mobil. "Terus gue lihat, sekilas lu lagi senyum-senyum sendiri. Lu kenapa?" lanjut Oky membahas apa yang dirinya lihat saat mengintip kaca mobil Dido yang walaupun gelap, tapi wajah Dido terlihat samar saat tadi tersenyum.

__ADS_1


"Lu, gak mau cerita sama kita?" Vandu kini bertanya. "Kita setuju kok, jika cewek tadi pacar lu," kata Vandu lagi. "Oh, iya tadi si Rosa sampai introgasi kita. Dia nanyain siapa cewek tadi. Ya sudah kita bilang sepupu lu. Kalau di bilang adik kelas, takutnya si Rosa sama gank-nya nyerang sama tuh cewek. Lu tahu 'kan, gimana cintanya si Rosa sama lu?!" Vandu panjang lebar berbicara.


Dido mengernyitkan dahinya. Dua temannya berbicara silih berganti. Dan membuat Dido merasa risih. Dido memilih untuk diam saja.


"Nih anak, malah diem lagi!" protes Vandu yang tidak sabar menunggu Dido menceritakan tentang gadis yang sudah berhasil memikat Dido itu.


"Gue pusing dengar ocehan kalian berdua. Lebih-lebih dari mulut emak-emak di komplek gue kalau lagi milih sayuran, nyeroscosnya kaya petasan," ucap Dido. Dido teringat kala ibu-ibu komplek jika di saat pagi, memilih sayuran di tukang sayur sembari ngobrol dengan tanpa spasi dan titik koma.


Vandu dan Oky hanya menyengir.


"Terus kalian mau berdiri terus gitu?" tanya Dido yang melihat dua temannya terus berdiri.


"Ya sudah. Kita nongkrong aja yuk! di cafe depan," ajak Vandu kini.


Dido mengangguk. Namun, Vandu dan Oky masih saja berdiri di depan pintu mobilnya.


"Awas dong! gue mau keluar," kata Dido mencoba mendorong dua temannya.


"Eh, buset. Sensinya kaya lagi PMS!" celetuk Oky.


Vandu merangkul bahu kiri Dido, di susul Oky ikut-ikutan merangkul bahu kanan Dido. Jadi, kini Dido di rangkul dua temannya.


"Ish ... gak usah rangkul-rangkul deh!" protes Dido yang merasa risih.


"Van, beneran ni anak sensitifnya lagi kumat," cicit Oky.


"Sudah. Biarkan saja! nanti juga luluh!" timpal Vandu.


Dan benar Dido mencoba pasrah di rangkul dua temannya. Ketiganya kini berjalan menyebrang ke arah cafe depan kampus.


"Lepas gak! gue berasa sudah renta tahu! di apit oleh kalian!" Dido protes saat merasa dirinya seperti seseorang yang sudah tidak berdaya, karena berjalan juga harus di apit Oky dan Vandu.


"Hahaha," Vandu dan Oky malah tergelak. Dengan tangan mereka merangkul semakin erat bahu Dido.

__ADS_1


Di tempat lain...


"Permisi Pak Rasya," ucap sekretaris Rasya yang bernama Ria. Setelah mengetuk pintu, dan mendengar sahutan dari Rasya. Ia segera masuk dan menghadap kepada Rasya atasannya.


"Ada apa, Ria?" tanya Rasya dengan pandangannya menatap Ria sang sekretaris.


"Em, di luar ada Nona Maharani, Pak ...,"


Rasya mengernyitkan dahinya, "Nona Maharani, kemari? bukannya, pemotretan sudah selesai?"


"Betul Pak. Apa ada janji sama bapak?" tanya Ria lagi.


Rasya menggeleng, "Tidak ada. Tapi, jika beliau ingin bertemu dengan saya. Suruh temui Aldi saja. Saya wakilkan kepada Asisten saya tersebut. Katakan jika saya sedang mengadakan rapat melalui Video!" titah Rasya yang entah mengapa merasa malas menemui Maharani model yang menjadi Ambasador usaha kosmetik barunya.


"Baik kalau begitu. Saya permisi, Pak," ucap Ria seraya menganggukan kepala sebelum keluar dari ruangan Rasya.


Rasya kembali berkutat pada berkas-berkas yang sedikit menumpuk. Dirinya tidak mau di ganggu jika pekerjaannya belum selesai. Di tambah, Rasya merasa enggan jika sengaja bertemu atau mengobrol di luar pekerjaan dengan Maharani. Mengingat sang istri yang suka cemburu jika melihat dirinya dekat dengan wanita cantik manapun.


Kebetulan Adelia memang sengaja tidak pergi ke kantor. Adelia memilih untuk di rumah saja mengurus si kembar dengan di bantu baby sister-nya.


"Huh ... baru saja beberapa jam udah kangen istriku," gumam Rasya yang terus teringat wajah sang istri.


Di luar, Ria setelah keluar dari ruangan Rasya langsung menemui Maharani, menyampaikan apa yang di perintahkan Rasya.


"Nona. Mohon maaf. Pak Rasya sedang tidak bisa di ganggu. Beliau, sedang melakukan meeting penting bersama para investaris melalui video call. Jika, ada yang ingin anda sampaikan, anda bisa temui Asisten Pak Rasya saja yang bernama Aldi," kata Ria dengan hati-hati berbicara kepada Maharani. Sesuai apa yang di perintahkan Rasya, Ria menyampaikannya kepada Maharani.


"Oh begitu ya?" Maharani terdiam sejenak. "Ya sudah, lain kali saja saya ke sini untuk menemui Pak Rasya. Kalau begitu saya, pamit. Permisi!" ucap Maharani kemudian.


Ria mengangguk dengan tersenyum.


Maharani berjalan menuju lift. Dengan hatinya merasa kecewa, tidak bisa bertemu dengan Rasya. Ia sebenarnya sengaja ingin bertemu dengan Rasya, karena Maharani merasa tertarik, dan ingin lebih dekat.


'Ok. Hari ini aku gagal! tapi, lihat untuk besok, aku pasti akan bertemu dengan mu,' batin Maharani berbicara.

__ADS_1


Maharani besok bertekad akan kembali lagi untuk menemui Rasya. Rasa penasaran yang ingin dekat dengan Rasya, membuncah dalam dadanya.


...***...


__ADS_2