
Dokter itu mencoba tersenyum kepada Adelia. Ia tidak akan memaksa Adelia saat ini untuk mengingat siapa namanya dan apa yang terjadi padanya.
"Nona, mohon maaf saya mau bertanya apa dibagian ini sakit?," kata Dokter bertanya seraya tangannya menekan sedikit di bagian atas perut Adelia.
"Auw ... iya sakit." pekik Adelia merasa sakit akan apa yang Dokter tekan.
"Nona, coba ingat-ingat siapa nama Nona?," suruh Dokter itu penasaran mencoba bertanya lagi.
Adelia pun mencoba berpikir untuk mengingat siapa namanya. Namun tiba-tiba kepalanya menjadi kesakitan.
"Kepala saya sakit, saya tidak bisa mengingat siapa saya" kata Adelia dengan memegang kepalanya.
"Ya sudah sekarang, Nona coba hirup nafas dalam-dalam dan keluarkan perlahan-lahan!" perintah Dokter itu dan Adelia pun menurut, melakukan apa yang di katakan.
"Jadi mulai sekarang Nona tidak usah dulu berpikir ya, Nona tenang dulu. Saya akan keluar terlebih dahulu," ucap dokter itu.
Dan Dokter itupun melangkah keluar untuk menemui tiga pemuda yang telah membawa Adelia kesana. Di saat Dokter itu mencoba untuk menemuinya ketiga pemuda itu terlihat sedang berjalan dari arah lain untuk menuju dimana Dokter itu berdiri.
"Dok ... bagaimana keadaan wanita itu? apa sudah sadar?" tanya Albi saat sudah di dekat Dokter Sinta yang berdiri. Ya Dokter itu namanya Sinta tertera dari nametag nya.
"Maaf Mas, lebih baik kita bicara di ruangan saya. Mari!"
Dokter Sinta berjalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Albi, Arman, dan Dirga dari belakang. Setelah sampai di ruangan Dokter Sinta, Dokter itu duduk di kursi kerjanya, Albi, Arman, dan Dirga pun duduk di kursi yang menghadap pada meja Dokter Sinta.
Dokter Sinta menghela nafas terlebih dahulu untuk memulai berbicara kepada mereka.
"Pasien sudah sadar" katanya. Membuat Arman dan Dirga tersenyum sedangkan Albi masih datar saja.
"Namun, Pasien mengalami Amnesia" kata Dokter Sinta melanjutkan.
"Amnesia?" pekik Arman dan Dirga bersamaan.
"Ya. Pasien mengalami Amnesia. Saya sudah mencoba berkomunikasi dengan nya, dan mencoba bertanya akan namanya siapa. Pasien kesakitan kepalanya saat mencoba mengingat dan berpikir akan namanya siapa," tutur Dokter Sinta.
Albi terdiam mencerna akan ucapan Dokter Sinta. Sedangkan Arman dan Dirga tiba-tiba merasa gelisah, bagaimana tidak. Acara liburan untuk menenangkan dari aktivitas bekerja, kini harus musnah akan adanya seseorang yang mereka tolong, bagaimana pun mereka akan bertanggung jawab apalagi wanita yang mereka tolong amnesia, jadi akan susah untuk menghubungi keluarganya.
"Apa amnesia nya akan berjangka lama Dok?" tanya Albi memastikan.
"Tunggu saja hasil dari Lab ya, agar saya tidak asal bicara. Saya sudah mengambil untuk tes darahnya. Dikarenakan Pasien sedang hamil, jadi pemeriksaan untuk memastikan kondisi otak atau mendiagnosis melakukan tes Ct scan atau EEG tidak bisa di lakukan. Dan yang aman untuk Pasien yang sedang hamil yaitu MRI namun, di Klinik ini belum tersedia." tutur Dokter itu dengan jelas. Hingga Albi mengangguk memahami atas penuturan Dokter.
"Jadi sekarang, Mas-Mas nya boleh lihat kondisi Pasien, atau mau kasih nama mungkin" ucap Dokter Sinta dengan sedikit tersenyum.
"Ayo kita lihat, siapa tahu sudah lihat kita wanita itu langsung sadar akan namanya siapa dan kita tidak susah untuk merawatnya," celetuk Arman bercanda. Dan Seketika langsung mendapat tatapan tajam dari Albi.
"Sorry Albian, gue canda kok." ucap Arman dengan nyengir kuda.
"Ya sudah Dok, kami akan melihat kondisi pasien sekarang. Permisi" ucap Dirga.
Mereka pun keluar dari ruang kerja Dokter tersebut dan melangkah ke ruang UGD untuk menemui wanita yang semalam sudah di tolongnya.
Ceklek ... Dirga membuka handle pintu dan tatapan nya langsung tertuju pada wanita yang tengah berbaring menatap ke arah pintu. Ya Adelia menatap ke arah datangnya mereka bertiga.
Dirga, Albi, dan Arman perlahan masuk kedalam mendekati Adelia yang terbaring dengan menatap ke arah mereka.
"Hai ...." Sapa Dirga mulai menyapa.
__ADS_1
Adelia hanya menatap dengan datar ke arah Dirga yang sudah menyapanya.
Cantik juga ini cewek. gumam Arman di dalam hati.
"Hai ... kami semalam yang menolong anda, kamu semalam di temukan mengambang di Sungai," kata Arman kini menjelaskan karena Adelia tidak merespon sapaan Dirga.
Dan Adelia menoleh ke arah Arman yang baru saja berbicara kepadanya.
"Hai ...." kata Adelia kini bersuara menyapa balik.
"Mohon Maaf. Karena Anda tidak mengingat semuanya, boleh Saya memberi nama untuk anda?" Albi kini bersuara.
Dirga dan Arman saling tatap dengan tersenyum akan Albi yang sudah berbicara kepada wanita, dan biasanya Albi akan diam saja atau cuek.
Adelia pun hanya mengangguk. Albi kini mendekati ke arah Adelia. Albi mencoba duduk di kursi yang terletak di samping Adelia yang terbaring. Albi meniliti petunjuk atau tanda untuk informasi dari wajah Adelia, hingga jatuh perhatiannya pada jemari Adelia yang ada sebuah cincin tersemat di jari manis Adelia.
"Mohon maaf saya boleh lihat cincinnya?" kata Albi sopan.
Adelia pun mengangguk kembali, lalu tangan nya terulur untuk membuka cincin tersebut kemudian cincin itu ia serahkan kepada Albi.
Cincin nikah sepertinya?. Dan Ada inisial AR. Apa nama wanita ini dan suaminya?. Batin Albi berbicara setelah mengambil Cincin yang Adelia serahkan.
"Coba kalian ada saran nama untuk Nona ini sesuai inisial cincin ini!!" tukas Albi dengan memperlihatkan cincin yang berinisial AR kepada kedua temannya.
"AR?" kata Arman dan Dirga bersamaan.
Arman dan Dirga pun mencoba berpikir nama apa yang sesuai dengan inisial AR itu.
"Arini, Arumi, Aryanti, Arimbi--" kata Arman dan terpotong oleh Dirga.
Mereka berdua pun tergelak akan apa yang di ucapkan Arman,yaitu nama Bis Arimbi.
Adelia yang mendengar mereka tergelak seketika tersenyum, dan terlihat senyuman nya itu oleh Albi.
Senyumnya manis sekali.
Dan apa itu? Lesung Pipi? batin Albi tertarik akan senyuman Adelia.
"Ok, Saya akan memutuskan untuk nama kamu. Arumi." kata Albi.
"Bagaimana?" sambung Albi bertanya.
Adelia tersenyum dan mengangguk.
"Albi apa dia gak bisa bicara ya, dari tadi hanya angguk-angguk mulu?" tanya Arman.
"Lu lupa tadi dia kan nyapa elu balik?" kata Dirga. dan pembicaraan Arman tadi terdengar oleh Adelia.
"Saya bisa bicara kok," kata Adelia.
"Maaf. Saya merepotkan kalian," sambung Adelia.
"Tidak kok, itu kewajiban kami untuk saling menolong. Dan kami akan membantu Nona sampai Nona kembali kesadaran nya," ucap Albi.
What? Elu aja Albi. Gue sih ogah. Lagian cuma elu yang banyak duit di antara kita. Batin Dirga.
__ADS_1
Si Albi kesurupan apa? Ramah amat sama ini cewek? batin Arman.
Arman dan Dirga mengangguk pelan karena di tatap oleh Albi seakan meminta persetujuan nya.
"Terima kasih sebelumnya Tuan" ucap Adelia berterima kasih.
Albian tersenyum menanggapi ucapan Adelia. "Panggil Saya Albi atau Albian" katanya.
Dirga dan Arman tercengang kembali melihat Albi yang tersenyum dan banyak bicara pada wanita yang telah di tolongnya.
"Saya Dirga" ucap Dirga dengan tiba-tiba.
"Dan Saya Arman," kata Arman.
Adelia tersenyum kepada mereka yang sudah memperkenalkan namanya masing-masing.
"Saya Arumi, kan?" tanya Adelia kepada Albi.
Albi mengangguk, "Ya Arumi. Nama kamu Arumi," kata Albi.
***
Sementara itu Rasya kini sudah berada kembali di Perkebunan Teh yang kemarin Adelia datangi bersama Serly dan Rara. Rasya kini datang bersama Hadi menemui Security kemarin untuk meminta bantuan kembali mencari Adelia.
Mereka pun mencari Adelia hanya berjumlah lima orang karena yang lain nya tengah bekerja di dalam Pabrik. Mereka kini mendatangi pinggir Sungai, mencoba mencari Adelia semoga saja ada keberadaan nya di sana. Dan saat mereka menyusuri pinggir Sungai Mata Rasya memperhatikan pada sebuah sandal yang hanya sebelah, sandal itu tersangkut antara akar pohon kelapa.
Rasya mempercepat langkahnya untuk mendekati dan melihat sandal yang hanya sebelah itu. Saat Sudah dekat Rasya pun mengambilnya. Dan seketika tangis Rasya pecah, bagaimana tidak itu adalah sandal milik istrinya yang saat di kenakan ke Perkebunan itu, dan Sandal itu merupakan Sandal yang selalu di pakai Adelia sehari-hari dengan warna kesukaan nya yaitu warna ungu.
"Pah ... ini sandal milik Adelia" kata Rasya memperlihatkan Sandal yang dipegangnya kepada Hadi.
Hadi merasa sedih melihat Sandal sebelah milik Adelia.
Lalu dimana menantuku? batin Hadi bertanya.
"Aku yakin Adelia ada di sini Pah" ucap Rasya.
"Adelia ... kamu dimana Sayang? Mas datang menjemput kamu, ayo kita pulang!" teriak Rasya memanggil istrinya. Hadi dan yang lain nya merasa sedih akan apa yang di ucapkan Rasya.
"Duuh ... saya yakin istrinya Mas ini, sudah tidak ada di sini" kata salah satu warga dengan berbisik kepada Bapak Security.
"Iya Saya juga yakin seperti itu" kata Security dengan balik berbisik.
Hadi pun mendengar bisikan dari salah satu warga dan Security tersebut.
"Saya berpendapat kalau Menantu Saya itu mungkin hanyut kedalam Sungai," kata Hadi dengan tegas.
Mereka yang ikut mencari pun saling pandang dan mengangguk sependapat dengan Hadi.
...Bersambung....
Bagaimana Readers?
Terus ikuti ya episode selanjutnya!.
Dan jangan lupa like, comment, dan Vote nya!!.
__ADS_1