You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 10.


__ADS_3

Aldi meremas botol air mineral yang baru saja ia minum. Aldi merasa sudah tidak bisa memendam perasaannya saat ini. Ya perasaan Serly ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Aldi dan Serly keduanya memendam perasaan. Perasaan mereka tumbuh saat pertama bertemu kala di kota B. Bisa di bilang keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Aldi yang belum pernah berpengalaman tentang merajut asmara. Ia kebingungan sendiri untuk memulai dan mengutarakannya. Di tambah gadis yang sudah mencuri hatinya adalah adik dari Bos-nya sendiri, yaitu Rasya. Aldi menjadi segan dan takut jika dirinya di tolak mentah-mentah. Begitulah Aldi sebelum memulai sudah menciut nyalinya.


Namun saat mendengar baru saja gadis pujaannya itu ada yang menembak. Aldi merasa uring-uringan. Bahkan Aldi tahu pria yang sudah mengungkapkan perasaannya itu kepada Serly, yaitu pria yang kemarin Aldi ajak debat untuk menerima uang yang sebagai biaya pertanggung jawabannya Serly yang telah merusak motornya.


Aldi bercermin pada layar ponselnya. Ia berbicara di dalam hatinya.


"Kata ibu saya tampan. Begitupun teman-teman. Namun, tidak tahu dengan gadis itu, apa ia menilai saya sama seperti mereka?"


Aldi seperti insecure mengingat gadisnya yang ia suka adalah gadis yang cantik, sederhana namun begitu anggun.


"Kita bikin mie di tambah cabe yang banyak deh," tiba-tiba suara Kikan terdengar mendekati ke arah dapur. Aldi bisa mendengarnya dan ia dengan cepat merubah ekspresinya setenang mungkin.


"Loh, bang Aldi ternyata sudah ada di sini?" Kikan terperangah, begitupun Serly. Keduanya kini sudah berada di dapur, setelah bercerita panjang tentang Dido.


Aldi hanya mengangguk. Kemudian menarik kursi yang berhadapan dengan meja makan.


"Kita mau bikin mie, apa abang mau?" Kikan menawari Aldi.


"Boleh. Buatkan yang pedas" sahut Aldi dengan datar.


Serly dan Kikan mulai membuka bungkusan mie instan. Dan Aldi diam-diam memperhatikan Serly dari tempat duduknya.


Kurang lebih lima belas menit lamanya. Mie kuah super pedas buatan Serly dan Kikan terhidang. Kikan dan Serly mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan dengan duduk bersebelahan.


"Bagaimana bang enak?" tanya Kikan yang ingin tahu penilaian mie yang Serly buat. Kikan tadi hanya memasukkan mie kedalam panci.


"Ya seperti biasa." Aldi menjawab dengan tetap mengunyah mie tersebut.


"Abang pintar," cicit Kikan. Membuat Serly, Aldi menatap ke arahnya.


Kikan menyengir saat melihat Aldi menatap kepada dirinya.


"Iya bang Aldi pintar. Orang mie rasanya tetap sama karena bumbunya sama saja, tidak di tambahi bumbu racikan lainnya,"


Serly hanya geleng-geleng kepala.


Ketiganya menyantap mie tersebut dengan hening.


"Oh iya, Ser. Kalau kamu sudah jadian dengan Kak Dido. Jangan lupa traktir aku di Cafe makanan Korea seperti kamu tadi," celetuk Kikan. Membuat Serly dan Aldi tersedak bersamaan.


"Loh, loh. Kalian kenapa tersedak sampai barengan begitu?" Kikan merasa tidak berdosa atas ucapannya.


"Lagi makan jangan ngajak ngobrol!" Aldi memperingati sepupunya itu.


"Aku ngajak bicaranya juga sama Serly, bukan sama Abang ya," Kikan tidak terima.


"Ya sama. Karena Abang juga bisa mendengarnya," Aldi sewot.

__ADS_1


"Ih, Abang aneh. Kenapa Abang tiba-tiba sewot. Biasanya diem-diem bae," Kikan tidak mengerti atas perubahan Aldi.


Serly yang sedari terdiam, membuka suara.


"Kikan, gak boleh gitu. Sudah, Kak Aldi memang benar. Kalau sedang makan tidak boleh berbicara. Aku juga kalau sedang makan bareng keluarga, suka di tegur kalau membuka suara," Serly sengaja Berbicara seperti itu agar Kikan tidak membahas Dido di depan Aldi. Entah mengapa Serly merasa bersalah kepada Aldi, Seakan Serly menyukai Dido dan Aldi akan marah.


"Iya, iya" Kikan akhirnya menurut.


Dan meneruskan melahap mie-nya kembali. Terlihat Aldi lebih dulu menghabiskan mie-nya, kemudian melenggang ke arah ruang depan.


Kikan berbisik kepada Serly Seperginya Aldi.


"Ser, Bang Aldi menurutku aneh. Sepertinya dia gak suka kalau kita membahas kak Dido."


Serly menautkan kedua alisnya. "Maksudnya?" tentu Serly tidak peka.


"Ingat tadi kalian tersedak bersamaan," bisik Kikan lagi.


Serly malah terdiam.


"Sudah gak perlu bahas Kak Dido sama Kak Aldi," Serly merasa tidak nyaman takut perasaannya kepada Aldi di ketahui Kikan.


"Aku pulang sekarang ya, takut Kak Aldi nungguin lama," ucap Serly selanjutnya Serly memeluk Kikan dan mencium pipi temannya itu.


"Ya sudah sana. Ingat pokoknya kamu harus terima Kak Dido," Kikan mengingatkan kembali sarannya yang ia berikan kepada Serly.


Serly tidak menyahuti. Ia melenggang meninggalkan dapur. Dan benar Aldi sudah terlihat berdiri di depan mobilnya dengan bermain ponsel.


Aldi menoleh dan terdiam menatap Serly dengan dalam.


Serly yang mendapat tatapan seperti itu merasa heran dan tidak tahu arti dari tatapannya.


"Boleh gak, kalau saya ke Apartemen dulu?" Aldi sebelum membukakan pintu mobilnya untuk Serly masuk.


Oh Serly akhirnya mengerti dengan tatapan Aldi seperti tadi, seakan meminta ijin, begitu pikirnya.


"Ya boleh," jawab Serly kemudian masuk dan duduk.


Aldi masuk kedalam mobil, dan melajukan mobilnya setelah memakai seat belt. Tidak lama perjalanan menuju Apartemen milik Aldi akhirnya sampai.


Aldi menoleh ke arah Serly terlebih dahulu. Serly yang merasa Aldi menatapnya, menatap balik.


"Tumben kak Aldi sering natap aku. Padahal aku yang sering natap dia tapi tidak dengan dia," Serly dengan perasaan heran bergumam di dalam hati.


"Nona Serly," Aldi sudah terlihat memiringkan badannya untuk bisa menatap Serly dengan leluasa.


"I-iya ada apa, kak?" sahut Serly dengan terbata karena Aldi sengaja menatap dirinya dengan posisi duduk seperti itu.


"Ada yang saya akan bicarakan. Apa Nona Serly mau mendengarkan?" Aldi terlihat santai berbicara seperti itu padahal dalam lubuk hatinya ia begitu nervous.

__ADS_1


"Ya tentu aku akan mendengarnya, kak" Serly mencoba bersikap setenang mungkin. Agar tidak dapat di ketahui oleh Aldi tentang perasaannya.


Aldi menatap lekat wajah Serly yang benar-benar terlihat cantik jika di tatap lebih dekat. Wajahnya yang mulus tanpa noda sedikitpun membuat Aldi seorang pria benar-benar terpesona.


"Jika ada yang menyukai dan mencintai Nona Serly, apa Nona Serly tidak akan memarahinya?" Aldi mulai berbicara tentang perasaannya. Namun tidak langsung mengatakan bahwa dirinya yang telah menyukai dan mencintai Serly.


"Ya, aku gak bakalan marah. Itu hak dia kak," jawab Serly dengan jujur. "Apalagi jika yang menyukai dan mencintainya adalah kamu kak, pasti aku akan senang," lanjut batin Serly kemudian.


Aldi tersenyum. Dan senyuman itu begitu langka. Baru kali ini Serly melihatnya. Hingga Serly benar-benar terpana dan semakin terpesona di buatnya.


"Misalkan, Di hari yang sama ada pria yang mengungkapkan perasaannya itu. Lalu orangnya itu karyawan biasa dan yang satunya mahasiswa. Yang manakah, yang akan Nona Serly terima?" Aldi benar-benar bertele-tele. Masih saja ragu dan tidak percaya diri, sehingga ia memilih untuk berbelit-belit.


Serly mengerutkan dahinya, menatap Aldi dengan perasaan tidak mengerti dan bercampur rasa ingin tahu, maksud orang yang Aldi maksud.


"Aku gak tahu ya kak, jika di hadapkan seperti itu. Aku sepertinya Akan lebih memilih orang yang mencintai, dan yang aku cintai."


Deg...


Perasaan Aldi menjadi bimbang. Ia belum mengetahui dirinya di cintai atau tidak oleh gadis yang ada di depannya itu.


Serly menatap Aldi yang terlihat diam, ia akan mengungkapkan kata hatinya sekarang. Memastikan jika Aldi mempunyai perasaan yang sama atau tidaknya. Sebelum ia memberikan jawaban kepada Dido.


"Kak Aldi, seandainya jika ada wanita yang selama ini menyukai kak Aldi. Tapi ia ragu mengutarakannya. Karena Kak Aldi yang terlalu dingin. Bagaimana?"


Aldi mengalihkan tatapannya ke arah lain, mendengar perkataan Serly barusan. Membuat dirinya ingin mengintropeksi diri. Sedingin itukah dirinya. Tapi, siapa wanita yang Serly maksud. Kenapa tidak Serly saja yang menyukainya. Begitulah pikiran Aldi.


"Ya syukuri saja. Ternyata ada wanita yang menyukai saya," jawaban Aldi tidak memuaskan bagi Serly. Serly akan menebalkan mukanya saat ini. Ia akan bertekad untuk mengungkapkan isi hatinya. Jika Serly mendapat penolakan ia akan menjaga jarak dengan Aldi, menolak perintah Kakaknya yang meminta Serly untuk di antar jemput oleh Aldi.


"Kak, Aldi" lirih Serly dengan bibir bergetar.


"Iya?" Aldi menatap Serly dengan seksama. Menunggu apa yang akan Serly bicarakan lagi.


Serly menggigit bibir bawahnya. Ia mulai menekadkan niatnya. Dengan mata terpejam ia mulai berbicara kembali.


"Aku sebenarnya sudah lama menyukai--"


Suara dering ponsel milik Aldi berdering. Membuat Serly tidak melanjutkan ucapannya, dan membuka mata.


Aldi sudah terlihat menatap layar ponselnya. Namun, tidak kunjung Aldi angkat.


"Non Serly, ini Pak Rasya sepertinya ingin menanyakan keberadaan Nona,"


"Ya sudah. Lebih baik antar aku. Eh, bukannya kak Aldi mau ke dalam apartemen dulu. Ini sudah di basement,"


"Gak jadi. Lebih baik ngantar Non Serly pulang dulu," Aldi mulai menegakkan kembali duduknya dan memakai seat belt kembali.


"Kak, bisa tidak jangan panggil aku seperti itu? Serly saja. Tidak usah pakai embel-embel," protes Serly.


"Ya, Serly" sahut Aldi dengan mulai melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Oh Tuhan. Hampir saja aku akan merasa malu jika saja Kak Rasya tidak menelponnya," batin Serly merutuki niatnya tadi yang hampir membuat dirinya malu sendiri.


...*** ...


__ADS_2