
"Al, makan malam dulu di sini. Kita makan bersama," ucap Rasya kepada Aldi yang sengaja menunggu kedatangan Aldi beserta adiknya untuk mengajak makan malam bersama.
Aldi dengan tersenyum, lalu turun dari mobil "Terima kasih pak, lain kali saja" tolak Aldi.
Rasya menggeleng, "Jangan nolak Al. Ayo kami sengaja menunggu kedatangan kalian," seloroh Rasya yang tidak mau ada penolakan dari Aldi.
Sementara itu Serly yang sudah berada di dekat Rasya, menatap mobil sport yang begitu mewah ada di dekat mobil milik Rasya.
"Kak, itu mobil siapa?" tanya Serly yang ingin tahu.
"Itu mobil Albian," jawab Rasya. "Ser, kakak mau tanya sesuatu sama kamu?" Rasya dengan berwajah serius ingin ada yang ia tanyakan kepada adiknya.
"Kakak mau tanya apa?" jawab Serly dengan menunggu apa yang akan Rasya tanyakan.
"Kamu sudah punya pacar atau belum?" pertanyaan Rasya membuat Serly deg-degan.
Serly menggeleng. Serly tidak paham apa yang Rasya maksud dengan pertanyaan tersebut.
"Kamu serius belum punya pacar?" Rasya meyakinkan. "Terus Dido itu siapa? dan baru kemarin rumah ini kedatangan teman pria kamu. Kakak yakin dia pacar kamu," ucap Rasya selanjutnya.
Serly menggeleng kembali. Kali ini ia melirik sekilas ke arah Aldi yang berdiri menatap ke arahnya dan Rasya. Berharap Aldi mendengarkan apa yang Rasya tanyakan kepada dirinya.
"Ser, kakak hanya ingin memberikan kebebasan untuk mu. Soalnya Papa sudah mulai merencanakan kembali tentang perjodohan kamu dengan Albian. Kakak tidak mau nasib kamu seperti kakak sebelumnya. Menikah dengan wanita yang tidak kakak cintai saat itu, karena perjodohan" ujar Rasya mengingat kembali tentang pernikahannya dengan Ariyanti yang di jodohkan.
Serly terdiam. Sebenarnya ia tidak menginginkan perjodohan itu. Serly berharap ada keajaiban tentang perasaannya kepada Aldi tidak bertepuk sebelah tangan.
Aldi yang mendengarkan tiba-tiba tercengang. Serly akan di jodohkan. Lalu bagaimana dengan perasaannya? ia berharap bisa mengungkapkan perasaannya tersebut sebelum Serly menyetujui.
Rasya memegang kedua pipi adiknya, "Kakak harap kamu berpikir terlebih dahulu, sebelum menyetujui keputusan Papa. Kakak akan mendukungmu," kemudian tangannya terulur mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Ya sudah. Kakak duluan masuk." lalu tatapannya beralih kepada Aldi. "Al, jangan nolak ya? kamu harus ikut gabung!" titahnya kembali tentang acara makan malam bersama.
"Baik, Pak" sahut Aldi akhirnya menyetujui.
Rasya kemudian melenggang masuk kedalam rumah.
Serly pun akan mengikuti. Namun, suara Aldi membuat dirinya menghentikan langkahnya dan membalikkan badan menatap Aldi yang memanggilnya.
"Serly!"
"Ada apa, kak?" Serly senang bercampur heran. Hari ini Aldi banyak berinteraksi dengan dirinya tidak seperti hari yang sudah-sudah. Kaku dan dingin.
Aldi menatap Serly dengan pancaran berbeda. Dan Serly bisa merasakan itu.
"Serly, saya ingin berbicara sesuatu," ucapnya.
"Ya silahkan kak," Serly dengan senang hati tentunya akan mendengarkan.
"Tapi tidak di sini," Aldi dengan mulai mencari tempat yang nyaman dan sepi tentunya. "Di dalam mobil saja, bagaimana?" lanjut Aldi menawari tempat yang baginya nyaman dan aman.
Serly mengangguk, dan melangkah ke arah mobil lalu masuk dan duduk dengan nyaman. Kemudian di susul oleh Aldi.
"Silahkan kak, apa yang akan kakak bicarakan?" Serly membuka suara sebelum Aldi menatap kepadanya dengan dalam.
"Jangan terima perjodohan itu!" ucap Aldi to the point.
Serly menatap Aldi dengan mengerutkan kedua alisnya, "Emang kenapa, kak? apa alasannya?"
__ADS_1
Aldi menggeleng. Kemudian ia menghirup nafas dengan dalam.
Serly masih menunggu alasan Aldi melarangnya untuk menerima perjodohan itu. Namun, Aldi tak kunjung bersuara.
"Kak. Kalau kakak tidak ada yang di bicarakan lagi, aku lebih baik keluar,"
Serly baru saja akan membuka pintu mobil sampingnya. Ia di kejutkan dengan ucapan Aldi.
"Alasannya, karena saya mencintai kamu Serlyta Putri Argadinata," tegas Aldi dengan degupan jantung menunggu reaksi Serly akan seperti apa.
Serly benar-benar terkejut. Kaget, beserta senang mendengarnya. Posisinya masih menghadap ke arah pintu mobil. Entah mengapa mata Serly tiba-tiba berkaca-kaca, ia merasakan haru dan bahagia. Penantiannya. Perasaannya. Akhirnya terjawab juga. Seseorang yang Ia sukai diam-diam ternyata sama dengan dirinya mempunyai perasaan.
"Serly," panggil Aldi yang merasa heran karena Serly malah terdiam dengan masih membelakanginya.
"I-iya kak," sahut Serly dengan masih membelakangi Aldi.
"Apa Kamu marah? karena saya lancang telah mencintaimu diam-diam?" Aldi pikir Serly masih membelakanginya itu karena marah.
"Ti-tidak. A-aku gak marah," Serly terbata dengan mulai memutar tubuhnya untuk menghadap Aldi.
Aldi tercengang melihat mata Serly yang berurai air mata. Dan membuat Aldi merasa bersalah. Mungkinkah Serly menangis karena tidak suka atas ungkapan darinya.
"Maaf," ucap Aldi.
"Maaf untuk apa, kak?" sahut Serly menatap Aldi yang kini berwajah sendu.
"Kamu nangis karena ucapan saya, kan? karena kamu tidak suka, mendengarnya?" tebak Aldi.
Serly menggeleng seraya tersenyum, "Tidak kak. Aku tidak marah ataupun tidak suka mendengarnya. Justru air mata ini--"
"Air mata apa?" Aldi yang penasaran ingin tahu.
"Lupakanlah," Serly dengan mengelap air mata yang masih membasahi pipi mulusnya.
Aldi mengangguk menurut.
"Kak Al, apa kakak benar mencintai aku?" Serly ingin memastikan kembali atas ucapan Aldi tadi.
"Apa kamu tidak percaya?" Aldi malah bertanya.
"Apakah kakak dapat di percaya?" Serly dengan terkekeh.
"Tentu. Karena saya serius. Tidak main-main," Aldi berucap dengan tegas untuk meyakinkan gadis yang di depannya agar percaya.
"Apa kakak butuh jawaban atas ucapan kakak tadi?"
"Tidak perlu. Kalau kamu tidak mempunyai perasaan yang sama seperti saya. Saya hanya mengungkapkan isi hati saya selama ini, agar saya merasa tenang,"
"Lalu, jika kak Al, tidak butuh jawaban atas ungkapan kak Al tadi, kenapa kak Al harus menyuruh aku untuk tidak menerima perjodohan itu?" Serly tersenyum ia ingin tahu di balik ucapan Aldi yang tadi.
"Em ... ya, apa ya?" Aldi bingung memberikan kata-kata yang pas untuk gadis pujaannya tersebut.
"Aku mencintaimu kak. Jadi, aku tidak akan menerima perjodohan itu," ucap Serly dengan langsung keluar dari mobil Aldi, menahan malu.
Aldi melongo. Namun kemudian ia tersenyum senang. Ia berjingkrak di dalam mobil tanpa Serly ketahui.
"Yess ... yess," kemudian Aldi mengusap wajahnya berucap syukur. "Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih," dengan bibirnya yang tersungging.
__ADS_1
Serly yang baru saja masuk ke dalam rumah. Tentu dapat pertanyaan dari sang Kakak.
"Kenapa kamu baru masuk?" Rasya dengan menggendong Baby Saffa.
Dan terlihat Albi sedang memangku Baby Daffa dengan duduk di sofa bersebrangan dengan Adelia.
"Aku cari ponsel aku yang ketinggalan di mobil kak Aldi," Serly beralasan.
"Oh, ya sudah sana mandi dulu. Seharian bau tahu, kamu belum mandi-mandi" ejek Rasya kepada adiknya.
"Iya kak," Serly mendekati baby Saffa yang berada di pangkuan Rasya, ia akan menciumnya.
"Sana. Jangan cium-cium." Rasya tidak mau bayi perempuannya di cium Serly.
"Ish, kakak. Segitunya." Serly dengan memberengutkan wajahnya kemudian melenggang pergi.
Seperginya Serly. Aldi masuk dengan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum," ucapnya.
"Wa'alaikum salam," jawaban serempak dari penghuni rumah.
"Ayo, Al duduk dulu" titah Rasya agar Asisten sekaligus temannya itu untuk duduk terlebih dahulu.
"Iya pak," ucapnya. "Hai, baby Saffa" sapanya kemudian.
"Hai, juga Om Al" kata Rasya mewakili bayinya tersebut.
Baby Saffa yang di sapa tersenyum. Kemudian tangannya terentang, untuk minta di gendong Aldi.
"Wah, Saffa ingin di gendong Om Al?" tanya Rasya memastikan.
Baby Saffa mengangguk dengan berceloteh. "Yayah yayah," katanya.
"Itu Om Aldi. Kalau Ayah ini yang gendong kamu, sayang" Rasya memberikan pengertian kepada bayi perempuannya.
"Yayah yayah" celotehnya lagi. Membuat Rasya dan Aldi terkekeh.
Aldi kini sudah mendudukkan Baby Saffa di atas pangkuannya.
"Wah, kamu sudah cocok Al untuk memangku bayi," celetuk Rasya memberikan penilaiannya.
Aldi hanya tersenyum saja. Ia membayangkan suatu saat nanti bayi yang di pangkunya adalah bayi dari pernikahannya dengan Serly.
Baby Saffa kemudian menatap ke arah Albi yang masih menggendong Baby Daffa.
"Yayah yayah" ucapnya membuat Rasya terkekeh.
Rasya menoleh ke arah istrinya, "Sayang, lihat coba baby girl kita. Tadi manggil Aldi Yayah. Barusan manggil Albian Yayah juga,"
Adelia tersenyum, "Emang gitu Mas. Sama Papa juga manggilnya yayah, sama Pak Sukri juga gitu. Mungkin sosok pria di anggapnya sama seperti kamu," sahut Adelia masih di tempat duduknya.
"Enggak. Mas gak setuju Kalau Baby Saffa menganggap semua adalah ayahnya. Dia harus memanggil ayah itu sama Mas. Ayahnya sendiri. Mas gak mau ya hasil kerja Mas siang malam malah menganggap semua pria adalah ayahnya," celetuk Rasya.
"Mas, namanya juga masih bayi. Dia belum bisa mengucap banyak kata. Saffa baru bisa manggil Yayah dan Embun," Adelia membenarkan.
...***...
__ADS_1