
Ting!
Suara lift terbuka. Maharani dengan cepat keluar dari dalam kotak besi tersebut. Namun baru beberapa langkah. Dirinya tertabrak seseorang.
Bugh!
"Auw," pekik Maharani karena kaget dengan memegang bahunya yang baru saja tersenggol.
"Maaf! maaf Nona saya tidak sengaja!" ucap seseorang yang sudah menabrak Maharani.
Maharani mendongak. Di karenakan tubuh seseorang yang sudah menabraknya sedikit tinggi dari dirinya.
'OMG! gila tampan banget!' pekik Maharani di dalam hati menatap seseorang yang sudah menabrak bahunya barusan.
"Nona baik-baik saja?" tanya pria yang telah menabrak Maharani, yang tak lain adalah Aldi.
Tiba-tiba tubuh Maharani ambruk. Membuat Aldi seketika panik, dan khawatir. Sungguh Aldi merutuki dirinya yang berjalan sangat ceroboh. Sehingga tidak memperhatikan bahwa dari lawan arah ada yang berjalan dengan cepat.
Aldi sigap menggendong tubuh Maharani ala bridalstyle. Masuk ke dalam lift untuk menuju ruangan dirinya.
'Ah ... gila! dia terlihat khawatir banget saat tahu aku pingsan!' batin Maharani yang ternyata berpura-pura tidak sadarkan diri. Maharani sengaja melakukan trik tersebut, ingin tahu bagaimana respon pria yang saat itu juga sudah memikat hatinya.
Ting!
Aldi keluar dari dalam lift. Kemudian melangkah lebar untuk menuju ruangannya.
"Pak Aldi! itu?" Ria terkejut saat melihat Aldi menggendong tubuh Maharani menuju ruangannya.
'Oh jadi ini Asisten-nya Pak Rasya?' Maharani kembali membatin dengan tetap memejamkan kedua matanya. Ia teringat saat tadi sekretaris Rasya mengatakan untuk menememui Asistennya yang bernama Aldi.
"Bu Ria. Maaf tolong bantu saya! Nona ini tadi pingsan setelah saya tidak sengaja menabraknya!"
Ria dengan cepat membantu Aldi membukakan pintu ruangannya.
"Bu Ria punya minyak angin?" tanya Aldi setelah membaringkan tubuh Maharani di atas sofa ruangannya.
"Ada Pak," kata Ria. "Saya akan ambilkan di meja saya," Ria dengan cepat keluar dari ruangan Aldi.
Aldi memandang Maharani yang telah ia baringkan di atas sofa. Rasa bersalah kini memenuhi pikiran Aldi. Namun, Aldi terkejut menatap ke arah bawah ternyata Maharani memakai rok span yang begitu pendek. Demi kesehatan penglihatannya. Aldi membuka jas yang di kenakannya, lalu di pakaikan untuk menutupi paha mulus Maharani.
'Ya Tuhan. Pria ini begitu manis! tak sia-sia aku berpura-pura pingsan,' kata Maharani merasa hangat hatinya akan perlakuan Aldi.
Tiba-tiba Maharani berpindah haluan. Ia tidak akan mendekati Rasya. Namun, dari mulai hari ini ia akan mendekati Aldi. Yang sudah membuat dirinya melakukan hal konyol dengan berpura-pura pingsan.
"Ini Pak Al, minyak anginnya!" Ria dengan menyerahkan minyak angin kepada Aldi. Namun, tidak Aldi terima. Justru Aldi memilih menyuruh Ria untuk mengolesi minyak angin tersebut.
__ADS_1
"Tolong, sama bu Ria saja! saya, tidak berani melakukannya," Aldi dengan memilih duduk di kursi kerjanya.
Ria tersenyum. Ia sudah tahu sikap Aldi yang cuek terhadap wanita manapun.
"Baiklah, Pak Al," Ria menurut. Kemudian membuka botol minyak angin untuk mengolesi hidung Maharani.
Baru saja tangan Ria mendekati hidung Maharani. Maharani segera membuka matanya, mencoba mengerjap pelan dan seakan bingung dengan posisi dirinya ada di mana.
"Aku dimana?" tanyanya bingung.
"Nona tadi pingsan," ucap Ria.
Maharani memilih duduk. Kemudian menatap jas yang menutupi pahanya.
"Ini?" tunjuk Maharani pada Jas milik Aldi. Seolah ia tidak tahu apa-apa.
"Itu milik saya. Maaf, saya sudah membuat anda pingsan Nona," sahut Aldi berdiri dari kursi kerjanya.
Ria menoleh kepada Aldi, "Pak Aldi, saya pamit ya! Nona Maharani sudah sadar sekarang. Saya takut di cari-cari Pak Rasya," ucapnya.
Aldi mengangguk. Ria pun keluar dari ruangan Aldi.
Maharani memperhatikan Aldi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kemudian terhenti tatapannya pada bibir merah Aldi.
"Kenapa kamu menabrak aku?" Maharani seakan marah.
Maharani tertegun. Pikirannya mencari cara lain untuk membuat Aldi terus berurusan dengan dirinya.
"Aku tidak mau ke rumah sakit,"
Aldi menautkan kedua alisnya, "Maksud nona?"
"Ya aku tidak mau ke rumah sakit," Maharani membuka jas yang menutupi pahanya, memilih menaruh jas tersebut di atas meja.
Aldi seketika memilih menatap ke arah lain. Tidak bagus pikirnya jika matanya memandang ke arah Maharani yang kini duduk santai.
"Jadi mau Nona apa?" Aldi memilih bertanya seperti itu. Agar dirinya tidak berlanjut berurusan dengan Maharani.
"Kamu tahu siapa aku?"
Aldi mengangguk, "Anda seorang model. Dan kini sudah bekerja sama dengan perusahaan ini,"
"Bagaimana kalau atasan kamu tahu, bahwa kamu sudah menyakiti aku?" Maharani ingin bermain-main sejenak dengan pria dingin di depannya.
"Menyakiti? saya menyakiti darimana Nona?" protes Aldi. "Saya hanya tidak sengaja menabrak anda. Dan saya sudah meminta maaf, serta bertanggung jawab," lanjut Aldi menegaskan.
__ADS_1
"Ya ya ya. Tapi, bagi seorang Maharani yang tidak pernah mendapat perlakuan kasar atau kekerasan. Kamu itu sudah di katakan menyakiti saya,"
Aldi menggeleng. Merasa tidak mengerti akan apa yang di inginkan Maharani.
"Ya kalau menurut anda begitu. Jadi saya harus apa sebagai tanggung jawab atas kecerobohan saya?" Aldi memilih ingin tahu apa kemauan Maharani.
"Temani aku dinner setiap malam," celetuk Maharani.
Repleks Aldi menoleh ke arah Maharani. Sungguh jawaban Maharani membuat Aldi tidak mengerti.
"Saya harus dinner dengan anda setiap malam?"
"Ya, kalau tidak mau kamu aku laporkan kepada atasanmu. Dan aku akan menuntut atas kerja sama dengan perusahaan mu karena ada karyawan yang lalai dan--"
"Baik, Nona. Saya akan menemani anda dinner setiap malam," Aldi dengan cepat memotong ucapan Maharani. Aldi sengaja mengalah. Karena tidak mau sampai Maharani menuntut pada perusahaan dimana dirinya bekerja, di tambah Aldi tidak mau membuat Rasya kecewa dan marah kepada dirinya. Toh hanya dinner setiap malam yang di inginkan Maharani.
"Thanks," kata Maharani kemudian berdiri dari duduknya.
Maharani mengeluarkan ponsel mahalnya, kemudian menyerahkan kepada Aldi.
"Tulis nomer ponselmu. Nanti aku chat dimana tempatnya,"
Aldi dengan cepat meraih ponsel Maharani. Kemudian mencatat nomer ponselnya, setelah itu ia kembalikan kepada Maharani.
Maharani tersenyum senang. Memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
"Kalau begitu, aku pamit! selamat bekerja Tuan Tampan," suara Maharani di buat manja.
"Aldi. Panggil saja saya Aldi," kata Aldi menegaskan.
"Ok! bye, Aldi" Maharani melenggang keluar dari ruangan Aldi.
Seperginya Maharani, Aldi mengehala nafas berat. Mendudukan tubuhnya di sofa bekas Maharani tadi duduk.
"Al," Rasya masuk begitu saja seperti biasanya.
Aldi langsung berdiri dan menundukkan kepalanya sejenak.
"Ada apa Pak?" tanya Aldi seperti biasa sopan.
"Antar saya menemui Tuan Malik di kantornya. Beliau, meminta saya sebagai perwakilan Papa untuk membicarakan pertunangan Serly dan Dido," ujar Rasya menyampaikan maksud kedatanganya.
Deg!
"Apa?" pekik Aldi dengan suara tinggi. Dengan wajah penuh rasa terkejut.
__ADS_1
...***...