
Di kediaman Rasya...
Semua penghuni rumah sedang melakukan makan malam. Tapi tidak dengan Rasya, ia memilih terdiam di dalam kamar. Rasya saat ini merasa kurang tidak berselera makan, hanya ingin makanan berkuah pedas yang menggugah selera makannya.
Rasya yang sedang duduk melamun meraih ponselnya, ternyata ada chat dari Sakti temannya.
Syaa ... kita ngumpul di cafe Bondan! gue tunggu.
Begitulah isi chat dari temannya itu. Sakti mengajak Rasya untuk berkumpul di sebuah cafe. Dan Rasya akan menerima ajakan temannya itu.
Ok. Aku akan datang sekarang juga!
Rasya langsung bersiap-siap setelah membalas pesan dari Sakti. Rasya langsung bergegas menuruni anak tangga, dan saat sudah di lantai bawah, Rasya bergegas ke ruang makan terlebih dahulu untuk meminta izin kepada orang tuanya.
"Ma ... Rasya keluar dulu ya, ngumpul sama teman-teman," ucap Rasya saat sudah berada di ruang makan.
"Aku ikut dong kak, jenuh di rumah terus, boleh ya Ma?" rengek Serly. Meminta ikut keluar rumah.
"Ya sudah kamu Mama ijinin. Tapi ajak Serly dan Rara juga," ujar Lia memberikan izinnya.
Rasya memutar bolanya dan mengangguk, "Kalau kamu mau ikut, bawa mobil sendiri," ucap Rasya.
"Rasya, kenapa gitu? sudah barengan saja. Kamu tidak khawatir apa, kalau adik mu itu sampai kenapa-napa," sahut Lia merasa heran kepada Rasya yang tidak mau semobil.
"Iya-iya semobil. Tapi kamu tidak boleh pakai parfum, dan kamu juga Rara,"
"Loh, kakak ini aneh. Mana bisa aku tidak pakai parfum? aku tidak percaya diri kalau tidak memakai parfum," kata Serly menolak permintaan Rasya.
"Ya sudah. Kalau kamu mau semobil turutin apa kata aku!. ya kalau kamu tetap mau pakai parfum, bawa mobil sendiri," ucap Rasya.
"Emang kenapa kalau adik mu itu pakai Parfum? kamu sendiri juga pakai Parfum, Papa bisa cium ini," ujar Hadi dengan sengaja mengendus bau parfum dari tubuh Rasya.
"Parfum aku tidak buat aku mual, tapi Parfum anak ini, buat aku mual dan ingin muntah," ujar Rasya memang benar adanya. Saat Rasya melewati kamar Serly dan mencium bau parfum yang baru saja Serly pakai. Rasya langsung mendadak mual, dan segera berlari ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya untuk memuntahkan rasa mualnya.
"Ih kakak jahat, padahal Parfum aku itu mahal loh, aneh-aneh saja," ucap Serly dengan mencebikkan bibirnya.
"Sudah Serly jangan banyak protes. Turuti saja apa kata kakak mu, kalau kamu mau ikut" titah Lia. Dan seketika membuat Rasya mengangguk senang karena merasa ada pembelaan dari Lia.
Lalu Rasya menatap jam di pergelangan tangannya, "Aku kasih waktu lima belas menit untuk bersiap-siap. Aku tunggu di depan,"
"Hah lima belas menit?"
"Ok aku potong menjadi sepuluh menit karena kamu protes," ucap Rasya dengan menaik-turunkan alisnya menggoda sang adik.
"Iya-iya sepuluh menit, ayo kak Ra. kita siap-siap," ajak Serly dan dapat anggukan dari Rara.
Rasya menahan tawa melihat tingkah adiknya yang tergesa-gesa untuk bersiap. Dan Lia memperhatikan Rasya. Sungguh Lia merasa bahagia dengan Rasya bisa tersenyum seperti itu, tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
"Ma ... Rasya keluar ya," ucap Rasya.
Dan Rasya pun keluar untuk menghampiri mobilnya yang berada di luar rumah.
Seperginya Rasya kini di meja makan tinggal Lia dan Hadi.
"Kenapa anak-anak itu pamitnya hanya sama Mama. Tidak ada yang sengaja minta ijin atau pamitan kepada Papa," ujar Hadi.
Lia tersenyum kepada suaminya itu.
"Mungkin karena anak-anak dekatnya sama Mama. Makanya Papa jangan terlalu cuek sama anak-anak. Jadi anak-anak itu jauh sama Papa bahkan jadi merasa sungkan,"
Hadi pun terdiam dan membenarkan ucapan istrinya itu.
"Dan satu lagi Pa ... kalau Papa punya waktu senggang, coba dekati anak-anak. Berikan perhatian, agar komunikasi anak dan Papa tidak terhambat. Contohnya saat Papa menginginkan Rasya untuk mengelola perusahaan. Papa hanya cukup memerintah tanpa tahu apa yang di gemari atau di sukai Rasya."
Hadi seperti di sentil hatinya oleh perkataan panjang dari istrinya itu, Hadi membenarkan semuanya. Hadi yang menginginkan Rasya mengelola perusahaan yang tidak Rasya sukai bidangnya. Sedangkan Rasya menyukai bidang seni dan bidang otomotif.
Sementara itu Rasya yang sedang menunggu di dalam mobilnya, merasa jengah. Bagaimana tidak, Rasya memberikan waktu untuk Serly lima belas menit, tapi setelah dua puluh menit adiknya itu belum saja datang.
Tin... Tin...
__ADS_1
Rasya sengaja menyalakan klakson mobilnya. Agar adiknya itu datang dengan cepat. Dan benar saja Serly dengan bergandengan tangan bersama Rara, datang menghampiri setengah berlari.
"Kalian ini ngapain saja? untung saat ini aku mempunyai stok sabar untuk menunggu kalian," omel Rasya kepada Serly dan Rara.
"Sorry kak, aku tadi memenuhi panggilan alam dulu yang datang secara mendadak," ucap Serly.
Rasya mendengus dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan halaman rumahnya yang luas itu.
Selang beberapa menit mobil yang Rasya kendarai tiba di depan sebuah cafe yang Sakti janjikan. Rasya keluar dari mobil di susul oleh Serly dan Rara.
Saat sudah masuk ke dalam cafe Rasya mengedarkan pandangannya untuk menemukan Sakti yang sudah mengatakan berada di Cafe tersebut. Tapi tatapan Rasya menemukan Sakti dan saudara kembarnya Bima berada di atas panggung music yang sedang live.
"Kak itu kak Bima dan Kak Sakti, kan?" tunjuk Serly ke arah panggung live music.
"Iya" sahut Rasya.
"Ya sudah, kita cari tempat untuk duduk," kata Rasya dengan berjalan menuju meja kosong, yang berada di depan dekat panggung.
Dan Rasya, Serly serta Rara duduk di meja yang Rasya pilih. Tak lama Sakti turun dan Bima menghampiri Rasya.
"Hai Bro!!" sapa Sakti dan Bima kompak.
"Di kawal ni?" goda Sakti karena melihat ada Serly dan Rara duduk ikut di cafe itu.
"Mereka ingin ikut, terpaksa aku bawa," ucap Rasya dengan melirik ke arah adiknya.
Serly memanyunkan bibirnya mendapat ucapan Rasya yang mengatakan terpaksa membawanya. Tidak dengan Rara. Rara sekarang menjadi pendiam setelah kepergian Adelia. Semangat hidupnya seakan ikut pergi dengan Adelia.
Sakti dan Bima akhirnya ikut duduk di meja Rasya. Karena meja itu bundar, dan terdapat empat kursi mengelilinginya.
"Sya ... elu mau gak ngisi acara live musik di cafe om gue ini, bareng kita?" tanya Sakti memawari Rasya untuk bergabung.
"Ini Cafe punya Om elu?"
"Iya, dan kita sudah lama manggung di sini. Tapi penyanyi nya ganti-ganti. Gue mau kita barengan lagi," ujar Bima.
"Ok. Aku mau!" ucap Rasya menerima tawaran Sakti.
Semoga aku bisa menjalaninya tanpa kamu!
Rasya membatin berbicara menenangkan dirinya untuk bisa melalui semuanya walau tanpa Adelia.
"Sekarang kita mulai Yuk!" ajak Bima kini.
Rasya mengangguk menerima ajakan Bima.
"Kakak ke panggung dulu, kalian tetap di sini! kalau mau apa-apa tinggal pesan saja, Nanti kakak yang bayar," ucap Rasya mengintrufsi adiknya untuk tetap di tempat.
"Iya Kakak ku yang tampan," sahut Serly dan langsung dapat acakan rambutnya dari Rasya.
Dan Rasyapun ikut naik ke atas panggung mengikuti langkah Bima dan Sakti.
Lalu duduk di sebuah alat musik paforitnya, yaitu keyboard. Dengan microfon di depannya.
"Selamat Malam semua, selamat menikmati hidangan dari Cafe Bondan. Dan semoga saya di sini bisa menghibur anda semua," ucap Rasya membuka suara pada microfon.
Kemudian tangan Rasya mulai memainkan alat musik yang berada di hadapannya.
"Lagu pembuka dari saya. Kisah cintaku yang di populerkan oleh Band terkenal kita Noah saya persembahkan," ucap Rasya.
Lalu suara musik intro membuka lagu yang akan Rasya nyanyikan.
Di malam yang sesunyi ini
Aku sendiri, tiada yang menemani
Akhirnya kini kusadari
Dia telah pergi tinggalkan diriku
__ADS_1
Adakah semua 'kan terulang
Kisah cintaku yang seperti dulu?
Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang
Di dalam hatiku takkan pernah hilang
Bayangan dirimu untuk selamanya
Mengapa terjadi kepada dirimu?
Aku tak percaya, kau telah tiada
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa denganmu?
Di malam yang sesunyi ini
Aku sendiri, tiada yang menemani
Akhirnya kini kusadari
Dia telah pergi tinggalkan diriku
Adakah semua 'kan terulang
Kisah cintaku yang seperti dulu?
Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang
Di dalam hatiku takkan pernah hilang
Bayangan dirimu untuk selamanya, oh
Mengapa terjadi kepada dirimu?
Aku tak percaya, kau telah tiada
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa denganmu?
Oh, mengapa terjadi kepada dirimu?
Aku tak percaya, kau telah tiada, oh
Mengapa terjadi kepada dirimu
Aku tak percaya, kau telah tiada, oh
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa denganmu?
Sungguh suara Rasya yang merdu dan sangat enak di dengar menghipnotis semua pengunjung cafe. Dengan Rasya yang meresapi setiap lirik yang ia nyanyikan, mengsukseskan lagu tersebut. Bahkan bagi Rasya tersendiri lagu tersebut begitu tepat untuk dirinya yang kini tengah kehilangan sosok seseorang yang begitu ia cintai, jadi Rasya berhasil menyanyikan lagu tersebut dengan penghayatan yang Rasya berikan.
...***...
...Bersambung....
Akhirnya hari ini author up sampai tiga episode.
Dan jangan lupa dukung karya author ini dengan like, comment, dan hadiah poinnya!.
Terima kasih
Semoga sehat selalu Readers 😘.
__ADS_1