
Selamat Membaca!.
Rasya yang akan berangkat bekerja di antar seperti biasa oleh Adelia hingga teras rumah. Rasya seperti biasa memeluk, dan mengelus perut Adelia dengan lama. Seakan, akan pergi jauh meninggalkannya, padahal hanya beberapa jam saja, Rasya berjauhan dengan istri cantiknya itu.
"Hati-hati, ya Mas" ucap Adelia. Saat Rasya baru mengurai pelukannya.
"Siap, Sayang" sahutnya. Kemudian mencium kening Adelia dengan sayang.
Setelah itu Rasya melangkah menghampiri mobil miliknya, lalu masuk kedalam dan melambaikan tangan dari balik jendela. Baru saja Rasya, akan menancapkan pedal gasnya. Serly datang dari dalam dengan menggendong tas ransel besar. Menghampiri Kakaknya.
"Kak ... tolong anterin aku dulu ke sekolah, ya!" pintanya dengan langsung masuk ke dalam mobil. Serly duduk di jok belakang.
"Jadi kamu ke puncak?" tanya Rasya, sembari mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah.
"Iya jadi dong, kak" sahut Serly.
Tidak ada percakapan lagi antara adik kakak tersebut. Hingga tidak berselang lama. Rasya sampai mengantarkan Serly di depan gerbang sekolahnya.
Rasya mengernyitkan dahi saat melihat orang yang begitu ia kenali, berada di depan gerbang sekolah Serly.
"Ngapain si Aldi ada di sini?" gumam Rasya yang melihat Aldi di dalam mobilnya.
Serly pun mengikuti arah tatapan Kakaknya itu, ia bahkan terkejut melihat seseorang yang pernah ia kagumi.
"Kikan, di antar cowok itu?" batin Serly seraya membuka pintu mobil, dan ia keluar dengan perlahan.
Rasya karena penasaran. Ia juga ikut keluar. Dan mendekati Aldi dan di ikuti oleh Serly.
"Al, kamu ngapain ada di sini?" tanya Rasya setelah berdiri dekat Aldi.
"Eh, Pak Rasya?" Aldi mulai keluar dari mobilnya.
"Loh, kamu anaknya Pak Anton, kan?" Rasya bertanya kepada gadis seumuran Serly yang baru juga keluar dari mobil.
"Iya, aku anak Pak Anton, kak" jawab Kikan.
Rasya kini beralih menatap ke arah Aldi, seperti ingin bertanya. Namun, Aldi cepat mendahului.
"Pak Anton adalah Paman saya, Pak. Makanya saya bisa bekerja di Perusahaan Pak Rasya," jelas Aldi.
Rasya manggut-manggut mengerti. Pantas saja Aldi bisa berada di dalam perusahaan Papanya, ternyata karena di ajak Pak Anton. Dan Rasya baru mengetahui sekarang. Mau bertanya dari kemarin-kemarin, ia selalu lupa.
"Jadi kamu tinggal di rumah Pak Anton?"
Aldi mengangguk, "Iya Pak." Aldi melirik sekilas ke arah Serly, tanpa di ketahui Rasya, begitupun dengan yang di liriknya tidak mengetahui sama sekali.
Rasya kini beralih menatap adiknya yang sedari tadi berdiri di sampingnya, "Ya sudah. Kalau gitu Kakak pamit. Hati-hati saat di puncak, dan jangan nakal" pesan Rasya sembari tangannya mengacak rambut Adiknya.
"Ish ... rambutku, berantakan dong kak!," protes Serly tidak terima. Rasya hanya tersenyum dengan melangkah masuk ke dalam mobilnya.
Begitupun dengan Aldi. Sama-sama meninggalkan gerbang sekolah dan melajukan mobilnya keperusahaan Hadi.
Kikan mendekati Serly, "Kita masuk, barengan Yuk!" ajaknya. Serly pun menganggukkan kepalanya.
Serly dan Kikan memang berteman dekat. Di tambah Anton yang merupakan Asisten Hadi. Namun, Serly belum mengetahui kalau Aldi merupakan saudara Kikan.
__ADS_1
"Kikan, jadi kata anak-anak yang lain, kamu datang dengan cowok ganteng itu, sama kak Aldi?" Serly kini membahas tentang yang ia dengar saat hari-hari kebelakang, bahwa Kikan di antar oleh Pria tampan. Dan Serly belum mengetahui itu, karena selalu berangkat siang.
"Iya Ser ... mereka sangka Bang Aldi adalah cowok gue," ucap Kikan dengan terkekeh, "Eh bentar. Kok Lo tahu nama bang Aldi?" Kikan mengernyit bingung, karena Serly baru saja bertemu dengan Aldi. Dan Serly sudah tahu namanya.
"Oh ... itu aku pernah ketemu saat di Kota B. Saat waktu libur semester itu. Kak Aldi, bekerja di bengkel kak Rasya,"
Serly dan Kikan berjalan dengan terus berbincang. Hingga masuk kedalam kelas.
"Oh gitu ya? pantas dong. Tadi aja Kak Rasya kenal, ya?!" Kikan sembari duduk di kursi, dan di susul oleh Serly.
Satu persatu teman kelas Serly datang. Dengan membawa ransel besar dan keperluan untuk berkemping. Rencananya mereka akan berkemping di Puncak selama dua hari, tentu bersama wali kelas mereka.
"Pagi semua," Pak Heru datang menemui anak didiknya. Pak Heru yang merupakan wali kelas XII IPA 2. Yang akan nanti mendampingi acara berkemping.
"Pagi," seru kompak dari suara anak sekelas.
"Ingat, sebelum kita berangkat. Jangan lupa! bapak akan mengingatkan kembali. Di sana kalian jangan berkeluyuran, harus tertib, dan jangan membuat suasana yang meresahkan. Mengerti!"
"Mengerti, Pak!"
"Ayo sebelum berangkat kita baca doa di dalam hati bersama. Baca doa di mulai!"
Serly beserta teman sekelasnya membaca doa di dalam hati mereka masing-masing. Dan setelah itu, Pak Heru kembali mengintrupsi.
"Ayo di depan ada mobil Bus, dan setiap kursi sudah di beri nomor. Dan sebelum keluar kalian ambil nomor ini masing-masing!," perintahnya.
Siwa dan Siswipun mulai berjalan ke arah meja Guru, dan mengambil nomor satu persatu. Setelah itu mereka menghampiri sebuah Mobil Bus yang sudah berada di Parkiran sekolah.
Serly dan Kikan sangat senang karena mereka berdua duduk bersebelahan dengan nomor urut yang berurutan. Setelah di pastikan semua siswa-siswi masuk ke dalam Bus. Mobil Bus itupun mulai melaju dan meninggalkan Parkiran Sekolah.
Adelia setelah dari teras depan. Ia berjalan menghampiri ruang Laundry, yang kebetulan ada Rara di sana. Adelia ingin menceritakan semuanya kepada Rara apa yang semalam telah ia dengar, saat Ariyanti berbicara pada sambungan telepon.
Kebetulan Ariyanti hari ini pergi ke kantor. Dan Lia Mama mertuanya seperti biasa selalu berkumpul dengan teman Sosialitanya.
"Ra," sapa Adelia saat sudah berada di ruang Laundry.
"Hai Del," sapa Rara kembali. Ia baru saja mengeluarkan pakaian dari dalam mesin cuci yang sudah berhasil di cuci.
"Masih banyak?" tanya Adelia dengan menatap ke arah mesin cuci.
"Sedikit kok, Del. Ada apa?"
"Em ... nanti kalau udah selesai. Temui aku di Taman belakang ya," Adelia meminta Rara untuk menemui dirinya di Taman belakang setelah pekerjaan Rara selesai.
"Ok, Del. Aku nanti ke sana," sahut Rara.
Adelia dengan tersenyum meninggalkan Rara, ia kemudian melangkah ke arah Taman belakang. Lalu duduk di bangku besi Taman itu. Dengan memandangi bunga-bunga yang cantik, dan Adelia mendapat menghirup udara sejuk di pagi itu.
Tiba-tiba Adelia menjadi resah saat mengingat Ariyanti sekantor dengan Rasya. Adelia menjadi cemas. Beserta khawatir.
"Ya Tuhan tolong lindungi suamiku," doa Adelia.
Tidak berselang lama. Rara datang dan duduk di sebelah Adelia di bangku itu.
"Del, kamu ngelamun?" Rara bertanya saat melihat tatapan Adelia lurus ke depan, dan tidak menyadari kedatangannya.
__ADS_1
"Eh, Ra. Kamu udah selesai?" Adelia menatap ke arah samping.
"Iya aku sudah selesai. Makanya ada di sini," sahut Rara. "Oh, iya. Kamu ada apa Del? gak biasanya ingin mengajak aku berbicara di sini?" lanjut Rara bertanya.
Adelia menyampingkan tubuhnya, agar bisa berhadapan dengan Rara.
"Ra ... aku hanya percaya sama kamu saat ini. Kamu sudah aku anggap seperti saudara ku sendiri," kemudian Adelia menghela nafas panjang.
"Aku sudah mengingat semuanya, Ra. Ingatanku sudah pulih," lanjut Adelia. Membuat Rara tersenyum lebar. Rara tentu begitu senang.
"Benarkah, Del?" tanya Rara memastikan.
"Iya Ra, aku sudah mengingat semuanya. Aku sudah sembuh. Dan semua itu adalah keajaiban bagiku,"
Rara menghambur memeluk tubuh Adelia. Rasa senang ia ungkapan dengan memeluk.
"Syukurlah ... Aku senang mendengarnya, Del. Sungguh aku senang sekali,"
Adelia hanya tersenyum dan mengangguk dalam pelukan Rara.
"Apa Rasya sudah tahu?" Rara bertanya seraya mengurai pelukannya.
Adelia menggeleng, "Belum, Ra. Aku sengaja akan memberitahukannya saat nanti dia ulang tahun. Aku akan membuat surprise untuknya,"
"Ya sudah. Aku dukung saja," Rara dengan terus tersenyum senang.
Namun wajah Adelia tiba-tiba terlihat sendu. Sehingga membuat Rara bertanya.
"Del, kamu kenapa?"
"Ra ... aku semalam mendengar seseorang yang sedang merencanakan hal kejahatan," ucap Adelia.
Rara mengernyit bingung, "Maksud kamu apa? dan seseorang itu siapa?"
"Kamu tahu 'kan, kalau Ariyanti adalah mantan istrinya Mas Rasya?"
"Iya aku tahu. Tapi, Rasya terpaksa menikah saat itu karena desakan orang tuanya," sahut Rara.
"Nah ... sepertinya dia dan kedua orang tuanya menaruh dendam Ra. Kepada Mas Rasya dan keluarganya,"
"Masa iya? bukannya orang tua Ariyanti itu berteman baik dengan Om Hadi?" Rara dengan raut wajah terkejut.
Kemudian Adelia kembali menceritakan apa yang semalam ia dengar tanpa ada yang terlwati ataupun di tambahi.
Membuat Rara melotot kaget. Bahkan tak percaya. "Ya Tuhan ... kalau begitu, ini sangat berbahaya Del. Seharusnya kamu bicarakan ini ke Rasya juga. Agar dia tahu kebusukan Ariyanti dan kedua orangtuanya," saran Rara.
"Iya Ra, sepertinya aku harus menceritakan ini semua kepada Mas Rasya,"
"Harus itu, Del. Jangan di tunggu-tunggu. Sebelum semuanya terlambat," timpal Rara dengan serius.
Adelia bisa merasa sedikit lega setelah menceritakan kepada Rara. Seakan kegelisahannya sedikit berkurang.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komentar, dan Hadiah Poinnya ya Readers!!