You Are My Mine

You Are My Mine
Maaf.


__ADS_3

Setelah mereka selesai makan, mereka para Karyawan Bengkel melakukan kembali aktivitasnya menyelesaikan pekerjaan yang tadi sempat di tunda.


Rasya terlihat membuka Pintu Ruangan Kamar yang selalu Ia Pakai jika berada di dalam Bengkel itu. Tapi Kini Rasya bingung karena tidak mungkin Ia harus tidur sekamar dengan Adelia saat ini. Karena setahu Rasya Kampung yang saat ini ia tempati sangat ketat. Jadi tidak mungkin Ia akan tidur sekamar dengan gadisnya walaupun tidak melakukan apa-apa namun pandangan warga yang di sana pasti akan beranggapan lain karena tahu Ia dan Adelia belum menjadi suami Istri.


Rasya pandangi wajah sang gadis yang sedang anteng memperhatikan para pekerja bengkel itu. Lalu Rasya mulai melangkah mendekat dan duduk di sebelah sang gadis.


"Sayang, ehm... gimana ya?."


Rasya terlihat bingung untuk mengatakan nya kepada Adelia.


"Ada apa?." Tanya Adelia dengan menoleh kepada Rasya.


"Kamu ikut numpang dulu ya di rumah Aldi. Di rumah Aldi ada Ibu serta adiknya. Jadi kamu akan aman. Sedangkan kalau kamu tidur di sini sekamar dengan ku warga akan mengira kita melakukan apa-apa." Rasya menyampaikan nya dengan jelas kepada sang gadisnya.


Adelia diam terlebih dahulu.


"Apa mereka tidak kerepotan dengan aku ikut menumpang di rumahnya?."


Rasya tersenyum lalu menyelipkan rambut Adelia yang sedikit menghalangi pipinya.


"Tidak sayang. Mereka welcome aku pernah menginap juga. Ini hanya sementara saja. Mulai besok aku akan membangun Rumah minimalis di dekat bengkel ini. Karena tanah didekat Bengkel ini, Tanah Milik ku juga."


Lalu kini Rasya meraih tangan Adelia dan Ia genggam dengan erat.


"Maafkan aku Ya." Ucap Rasya dengan Lirih.


"Maaf untuk apa?." Adelia dengan menatap ke arah Netra mata Rasya.


"Maaf aku belum bisa mempercepat melaksanakan pernikahan kita. Dan Jika pernikahan kita terlaksana. Dengan besar hati aku meminta maaf karena tidak akan ada hadirnya orang-orang terdekat kita. Sayang kamu tahu sendiri kan, Papa ku sangat tidak suka kita menjalin hubungan. Entah apa alasan nya sangat tidak dapat aku mengerti. Lalu Maaf lagi jika Pernikahan nanti acara nya tidak akan semeriah mungkin. Maaf ya sayang."


Tangan Adelia kini ia kecup dengan masih Rasya genggam lalu ia tempelkan di Pipi kanannya.


"Justru aku yang harus minta Maaf Sya... Gara-gara aku kamu harus bertengkar dengan Papa mu dan membantah keinginan nya. Sungguh Aku sangat bersalah dalam hal ini. Aku seperti orang yang telah membuat seorang anak berpisah dengan orangtuanya. Aku sangat kejam Sya. Aku sangat kejam."


Adelia mengatakan nya dengan mata berkaca-kaca. Menahan bendungan air mata yang akan tumpah.


"Sutttt..... Jangan berbicara seperti itu. Ini semua bukan salah mu sayang... Ini semua keputusan ku. Aku ingin menentukan pendamping hidupku, gadis yang aku cintai, dan yang aku sayangi yaitu kamu. Kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin ini semua harus terjadi. Aku yang sudah tidak mau mengikuti semua keinginan Papa yang selalu bertolak belakang dengan keinginan ku. Aku ingin Mandiri, aku ingin menjadi diriku sendiri. Dan Aku ingin memperjuangkan kamu. Meski harus dengan ini cara nya. Tapi aku sangat bahagia bisa selalu bersama kamu. Adelia ku."


Rasya lalu mengecup kening Adelia, dan merengkuh tubuh Adelia kedalam pelukan nya.


"Kamu jangan pernah berkata seperti itu lagi ya. Aku tidak suka mendengarnya." Tambah Rasya lagi.


Adelia pun mengangguk dalam pelukan Rasya.


"Maaf aku selalu merepotkan kamu." Kata Adelia.


"Sudah. Jangan meminta maaf seperti itu. Aku tidak pernah merasa di repotkan sama sekali sayang." Rasya dengan mengusap-usap rambut Adelia dengan lembut.


Dari tempat Pembongkaran mesin ternyata Ivan, Damar, dan Beni mengintip Sepasang kekasih itu yang sedang berpelukan.


"Si Bos ternyata Romantis juga ya." Kata Ivan.


"Iya. Seperti nya mereka memang saling mencintai." Kata Damar.


"Ah.... Apakabar Kita yang Jomblo yang meronta-ronta saat melihat mereka berpelukan seperti itu." Ucap Beni dengan merangkul Damar.


"Jomblo sih jomblo. Tapi Jangan rangkul Gue kaya gini. Gue masih normal cuy...." Kata Damar dengan melepaskan tangan Beni.


Suara Ivan, Damar, Dan Beni pun terdengar oleh Aldi yang sedang memasang Scotlet pada sebuah Motor pelanggan. Lalu Aldi melangkah mendekati mereka.

__ADS_1


"Kalian lagi ngapain sih bukan nya selesaikan pekerjaan kalian?." Aldi sedikit menegur teman-teman nya itu.


"Sini Al... Lihat pemandangan yang sangat Romantis." Beni dengan menarik tangan Aldi untuk ikut mengintip Bos dengan gadis nya yang sedang berbincang.


Aldi pun melihat sebentar lalu kembali menatap kepada teman-teman nya.


"Jangan gitu dong. Kalian ini kaya Ibu-Ibu Kepo aja. Ngintip orang yang lagi pacaran. Ayo kembali kerja." Aldi dengan menyentil dahi teman nya satu persatu.


"His... Al. Elu main sentil aja ah." Gerutu Damar.


"Iya. Gak suka kalau lihat kita senang." Tambah Ivan.


Aldi pun menatap tajam ke arah teman nya itu.


"Kalian mau cepat pulang enggak?. Lagian ya kalau si Bos tahu gimana?. Pasti kalian malu sendiri karena sudah mengintip dan menguping pembicaraan beliau." Kata Aldi tegas.


"Iya. Iya." Kata Mereka bersamaan.


Kemudian melanjutkan ke pekerjaan masing-masing.


"Al..." Teriak Rasya memanggil Aldi.


"Iya Pak." Sahut Aldi dengan berjalan menghampiri.


"Ih untung ya kita sudah di sini. Kalau belum pasti kita ketahuan si Bos." Bisik Ivan kepada Damar.


"Iya Benar." Bisik Damar kembali.


Aldi sudah berdiri di hadapan Rasya dan Adelia.


"Al. Aku mau Adelia ikut menumpang tinggal di rumah kamu untuk sementara. Karena jika di sini tidak memungkinkan aku dan Adelia harus sekamar. Nanti bagaimana kata warga disini. Apa kamu tidak keberatan Al?."


"Tentu tidak Pak. Saya tidak keberatan. Ya jika Pak Rasya dan calon istrinya harus sekamar di sini itu tidak mungkin. Warga di sini suka beranggapan negatif Pak.." Sahut Aldi dengan sopan.


"Iya Al. Dan besok kamu cari Jasa Kontruksi atau apalah namanya untuk membuat rumah di Sebelah Bengkel ini. Nanti aku akan menetap tinggal disini bersama setelah kita menikah." Ujar Rasya.


"Baik Pak. Masalah itu akan saya sampaikan besok kepada Buruh bangunan di dekat rumah Saya." Sahut Aldi.


Adelia hanya mendengar saja Rasya dan Aldi yang sedang berbicara.


Adelia lalu teringat sesuatu yang tertinggal. Tetapi Adelia malu untuk membicarakan nya kepada Rasya.


"Ya sudah. Nanti kalau semua telah selesai kamu temui saya di sini." Perintah Rasya.


"Baik Pak." Aldi pun pergi melangkah ke arah tempat tadi yang ia kerjakan.


Kini Rasya beralih menatap Adelia yang seperti kebingungan karena kentara dari raut wajah Adelia.


"Sayang kamu kenapa?." Tanya Rasya.


Adelia menggeleng dengan tersenyum.


"Beneran?. Tapi aku tahu kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu deh...." Tebak Rasya.


"Benarkah?." Adelia dengan wajahnya bersemu merah.


"Iya. Ayo katakan kamu lagi mikirin apa?." Desak Rasya.


Katakan apa jangan ya.

__ADS_1


Kalau di katakan aku malu.


Kalau enggak. Masa aku terus memakai yang ini lagi?.


Adelia malah berbicara di dalam hati.


"Hei... Malah bengong lagi?."


"A-anu. Em... i-itu...." Adelia gelagapan karena gugup dan malu.


"Apa sayang?. Yang jelas!. Apa kamu menginginkan sesuatu?." Tanya Rasya dengan menyelidik wajah gadisnya itu.


Adelia clingak-clinguk terlebih dahulu. Lalu menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Adelia malu untuk mengatakan nya kepada Rasya. Tapi ia akan memberanikan untuk mengatakan nya, dengan perlahan Adelia menunduk.


"Sya... Aku tak bawa Daleman. Ini yang di pakai juga yang kemaren." Ucap Adelia dengan menunduk karena malu.


Ternyata yang membuat Adelia susah untuk mengatakan nya kepada Rasya adalah masalah pakaian dalam nya.


"Unde*ware?. Hemmm???" Rasya dengan mengangkat dagu Adelia perlahan.


"Suttt Sya... Jangan keras-keras aku malu." Bisik Adelia.


"Iya entar kita cari toko terdekat di sini."


Akhirnya Adelia lega telah mengatakan nya kepada Rasya. Untung saat ini Rasya sedang serius tidak sedang bercanda. Rasya dengan cepat menanggapinya.


Rasya melihat jam di pergelangan tangan nya. Terlihat jam menunjukan pukul 19:55 Waktu setempat. Rasya berpikir untuk menutup bengkel nya terlebih dahulu, karena harus mencari Toko yang menjual Pakaian dalam saat ini. Jika menunggu saat Jam tutup Bengkel harus menunggu sampai jam 21:00 Pasti Toko sudah ada yang sudah tutup apalagi di perkampungan seperti ini.


"Sayang tunggu dulu yaa... Aku mau menemui mereka dulu."


Adelia pun mengangguk.


Rasya pun melangkah menemui Para pekerja nya yang terlihat masih sibuk dengan alat-alat bengkel di tangan nya.


"Ivan, Damar, Beni. Saya sekarang memberi waktu kerja kalian sampai jam 8 saja. Sekarang kalian boleh pulang, dan lanjutkan besok jika yang masih ada yang belum selesai." Perintah Rasya kepada Para pekerja nya.


"Yess.... Terima kasih Bos." Ucap Mereka bersamaan dengan senang.


"Dan kamu Al, tolong temani saya untuk mencari Toko pakaian terdekat di kota ini." Perintah Rasya kini kepada Aldi.


Aldi pun mengangguk.


Kini Mereka para pekerja bengkel Rasya membereskan alat masing-masing pada tempatnya. Lalu mulai bergegas menutup Rolling dor Bengkel tersebut.


"Pak Bos kita pamit pulang ya. Permisi Pak Bos." Ujar Mereka serempak kepada Rasya dengan menaiki masing-masing motornya.


"Iya Hati-hati di jalan nya." Sahut Rasya.


Kini Aldi sudah berdiri di dekat Rasya dan Adelia. Setelah tadi mengunci Rolling dor Bengkel milik Rasya.


"Ayo Al. Antar Saya ke Toko Pakaian. Kamu yang nyetir ya." Ajak Rasya dengan menyerahkan kunci mobil miliknya.


"Baik Pak." Sahut Aldi.


Mereka pun masuk kedalam Mobil. Rasya dan Adelia kini duduk di belakang. Sedangkan Aldi yang akan menjadi sopirnya saat ini.


Aldi pun mulai melajukan mobil milik Bos nya itu untuk menuju Toko Pakaian yang sesuai Rasya perintahkan.


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2