
Kini giliran Aldi dan Maharani yang maju menyalami pasangan tunangan tersebut. Aldi dengan wajah datar mulai menyalami Dido.
"Selamat!" ucap Aldi dengan menampilkan senyum tipis.
"Sama-sama Bang. Makasih juga udah mau hadir," balas Dido dengan tersenyum.
Aldi mengangguk, melepaskan tangan nya yang menyalami tangan Dido. Lalu beralih ke samping Dido, berniat menyalami tangan Serly.
Serly menatap Aldi dengan mata sendu. Mengisyaratkan dari sorot matanya, bahwa Serly merasa bersalah yang sudah mencampakkan Aldi begitu saja, walau itu semua tidak Serly sengaja lakukan, hingga sampai kini Aldi tidak tahu apa alasannya.
Aldi menyalami tangan Serly, "Selamat Nona. Semoga berbahagia!" ucap Aldi dengan menekan kata 'berbahagia' seraya tersenyum getir. Aldi melepaskan tangannya dengan cepat. Tanpa mendengar sahutan dari Serly, Aldi berlalu begitu saja.
Maharani yang berada di belakang Aldi setelah menyalami Dido, menatap punggung Aldi dengan tatapan bingung serta aneh.
"Eh, Nona selamat ya!" Maharani tersenyum dengan meneliti raut wajah Serly yang berubah sendu. Tidak seceria saat tadi, sebelum Aldi menyalami tangannya.
Serly mengangguk dengan tersenyum tipis, "Terima kasih Nona,"
Maharani mengangguk. Lalu pergi dari hadapan Serly, langsung matanya mencari keberadaan Aldi.
Dido yang tahu semuanya. Mencoba merangkul bahu Serly, berusaha memberikan ketenangan untuk Serly lewat usapan tangannya.
Serly mendongak menatap Dido. Merasa tahu apa yang sedang Dido lakukan, Serly tersenyum mengisyaratkan dirinya baik-baik saja.
Maharani menemukan Aldi di sebuah kursi, yang terletak di sudut ruangan. Sehingga, suara musik tidak terdengar jelas. Maharani pun ikut duduk di kursi kosong sebelah Aldi.
"Apa aku tidak salah menduga, bahwa kamu kini sedang patah hati?!" Maharani langsung mengutarakan kecurigaannya. Dari pada menebak-nebak sendiri, Maharani memilih langsung mengatakan.
Aldi menatap Maharani dengan wajah datar nya, tapi tidak menjawab iya ataupun tidak dari mulutnya. Aldi malah menatap lurus ke arah depan.
Maharani mendengus kesal. Merasa sudah biasa pertanyaannya di abaikan oleh Aldi.
"Apakah masih berniat ingin pergi ke Bar?" Maharani menanyakan hal yang tadi Aldi inginkan.
Aldi terdiam sejenak. Lalu setelahnya, mengangguk perlahan.
Maharani tersenyum menyeringai, berpikir ingin memberikan kejutan kepada Aldi, saat nanti di Club Malam.
"Ya sudah ayo!" Maharani berdiri lebih dulu mengajak Aldi sesuai tujuannya.
Namun saat Aldi baru saja berdiri, Rasya dan Adelia datang menyapa.
"Al, kamu datang bersama Nona Maharani?" Rasya dengan melirik Maharani tersenyum.
Aldi mengangguk serta tersenyum.
"Hai, Nona Maharani! kita bertemu kembali," sapa Adelia dengan tersenyum.
Maharani tersenyum, "Hai Nona Adel. Senang bisa bertemu kembali," balas Maharani.
Akhirnya terjadilah perbincangan antara Maharani dan Adelia. Begitu pun dengan Aldi dan Rasya berbicara soal pekerjaan.
Dido dan Serly kini bisa terduduk. Tamu lumayan sudah berangsur. Namun, tidak seperti dugaan. Teman-teman Kampus Dido dan Serly berdatangan.
__ADS_1
Hingga Dido dan Serly kembali berdiri. Membalas salaman dan ucapan dari teman-temannya.
"Selamat Bro, sebentar lagi lu akan merit. Dan pasti akan cepat tahu rasanya surga Dunia," ucap Oky.
Plak!
Vandu menepuk kepala Oky dengan keras. "Bicara lu di jaga. Malu sama ceweknya," bisik Vandu.
Oky menyengir.
"Selamat ya Bro!" kini Vandu memberikan ucapan selamanya kepada Dido.
"Iya. Cepat deh kalian minggir. Lihat tuh! sudah panjang yang ngantri mau nyalamin kita," Dido langsung menegur kedua temannya yang malah berlama-lama.
"Gile lu! malah ngusir," Oky dengan menjawil dagu Dido gemas.
"Ish ...," Dido meringis tidak suka.
Serly tersenyum merasa terhibur.
Vandu kini menatap ke arah Serly, "Nona kamu cantik sekali," ucapnya tulus. Membuat Dido menatap tajam.
"Terima kasih," sahut Serly dengan tersenyum.
Dido tak mau Vandu terus menatap Serly, "Oky Jelly, bawa ni teman yang suka tebar pesona pergi!"
Vandu terkekeh, lalu menatap Oky.
"Ky, ayo! gue udah di usir ni," Vandu menyindir.
Dido merasa jengkel, lalu kedua temannya ia rangkul.
"Cepetan kalian makan! biasanya kalian suka makan yang gratisan," cibir Dido mengungkit kedua temannya yang memang suka gratisan.
"Wah, lu jatuhin harga diri kita di depan cewek lu," ujar Oky.
Dido tidak menggubris, ia malah menyalami teman kelasnya yang lain. Sehingga mau tidak mau, Oky dan Vandu menyingkir dari tempat tersebut.
Teman Dido perlahan berangsur. Kini teman-teman Serly yang maju menyalami Dido dan Serly.
"Selamat ya," kata itu yang terdengar dari mulut teman-temannya.
Kini giliran Kikan, dan ada Kevin di belakangnya.
"Kak Selamat ya!" ucap Kikan kepada Dido.
"Makasih," sahut Dido tersenyum.
Lalu Kikan dengan cepat merangkul Serly, memeluknya dengan erat.
"Ser, sumpah aku masih gak nyangka, kalau kamu akan secepat ini bertunangan,"
Serly tersenyum, "Iya Kikan. Aku sendiri pun tak pernah membayangkannya," sahut Serly seraya perlahan melepas pelukan teman nya itu.
__ADS_1
"Ya sudah. Aku pamit ya. Kasihan kamu terlihat capek gitu," Kikan memperhatikan Serly yang seperti lesu.
Serly mengangguk. Dan kini giliran Kevin. Kevin menatap Serly dengan dalam. Tersirat ada rasa tidak rela melihat Serly bertunangan dengan Dido.
"Selamat," ucap Kevin.
Serly tidak menyahut. Hanya menganggukan kepala. Serly masih ingat pelukan ciuman yang Kevin berikan waktu hari kemarin, hingga Serly merasa canggung saat berhadapan.
Kevin berlalu. Dan kini Dido menatap Serly yang menunduk.
"Sayang kamu lelah ya?" tanya Dido memecah keheningan.
Serly mendongak dan mengangguk.
"Kakak gak pikir sama ayah. Mengapa semeriah ini. Seperti pernikahan saja," celetuk Dido menggerutu. Dido sendiri sangatlah lelah dan lapar ingin sekali menyantap makan malamnya.
Serly tersenyum, "Iya benar kak. Gak kebayang saat menikah, pasti akan lebih dari ini,"
Dido mengangguk, "Jadi kamu udah ngebayangin nikah sama kakak?" goda Dido.
Serly tersipu malu, "Ya ... iya 'kan, nanti aku sama kakak bakalan nikah?"
"Iya sayang kita akan nikah. Hanya kita sudah kawin duluan," Dido berbisik seraya meniup telinga Serly.
Sontak Serly terkejut dengan ucapan Dido, di tambah bulu-bulunya merasa meremang atas tiupan yang Dido berikan di area telinganya.
Dido tersenyum seraya menatap gemas, "Kamu paham sayang?"
Serly menggeleng, dengan tangannya mencubit lengan Dido.
"Loh kok di cubit?" protes Dido.
Serly hanya tersenyum.
"Kak aku ingin makan," celetuk Serly setelah beberapa terdiam.
"Kamu lapar sayang?"
Serly mengangguk.
"Sama kakak juga," kata Dido dengan tersenyum.
Dido langsung menarik tangan Serly, melangkah menuju meja perasmanan berada.
"Kamu mau makan apa sayang?" Dido dengan mengambilkan piring berniat mengisi dengan makanan.
Serly membiarkan tanpa protes.
"Apa saja kak,"
"Tunggu di kursi aja ya, kakak mau ambilkan,"
Serly mengangguk dan langsung Mencari posisi duduk.
__ADS_1
...***...