You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 36.


__ADS_3

"Serly kamu mau kemana?" tanya Rasya yang baru saja keluar dari mobil mendapatkan adiknya yang sudah berpenampilan rapih seperti hendak mau pergi. Kebetulan Rasya dan Adelia baru saja sampai di depan rumah.


Serly tersenyum, "Aku mau ke Mini Market yang di dekat Taman Komplek kak," jawabnya setenang mungkin. Entahlah saat ini ia takut sekali jika ketahuan bertemu dengan Aldi oleh keluarganya.


"Oh, ya sudah hati-hati," kata Rasya.


"Kak Adel ada yang mau di pesan?" tanya Serly saat menatap kakak iparnya.


Adelia tersenyum serta menggeleng, "Tidak sayang. Ya sudah hati-hati ya," ucapnya.


Serly tersenyum kemudian berlalu pergi. Ia sengaja berjalan kaki. Karena Taman Komplek tidak begitu jauh dari rumahnya.


Hingga setelah dekat dengan area taman. Serly sudah melihat mobil Aldi yang terparkir. Tiba-tiba dada Serly merasa dag-dig-dug. Belum saja ia bertemu. Tapi perasaan di hatinya sudah tidak menentu.


Serly mengedarkan pandangannya. Lalu matanya terfokus saat melihat ada seseorang yang tengah duduk di bangku panjang taman yang sedang menatap ke arah kolam Ikan. Serly mendekat. Lalu berdiri di samping bangku itu setelah sampai.


"Sore kak," ucap Serly.


Aldi menoleh kemudian tersenyum manis. Yang sangat jarang ia sunggingkan di hadapan orang lain.


"Sini!" Aldi menepuk tempat duduk sebelahnya menyuruh Serly agar duduk di sampingnya.


Serly beringsut menurut untuk duduk.


Aldi menatap lekat pada wajah Serly, kemudian secepatnya menatap lurus kembali ke arah kolam ikan.


"Tadi siang kamu makan bersama Dido?" Aldi bertanya tanpa menoleh.


Serly menjawab dengan gugup, "I-iya. Sama Kikan juga. Dan aku lihat kak Al ada di Resto yang sama bersama Kak Rasya,"


"Iya tadi bertemu Klien," sahut Aldi dengan datar.


Hening


Tidak ada pembicaraan lagi.


Sehingga Serly sungguh menjadi canggung beserta salah tingkah. Mengapa pria yang ia cintai begitu dingin dan kaku.


Namun tiba-tiba pertanyaan Aldi membuat Serly terhenyak.

__ADS_1


"Benarkah kamu sudah jadian dengan Dido? dan kalian merayakannya di Puncak?"


Serly menggeleng, "Ti-tidak. A-aku gak pernah jadian," jawab Serly dengan terbata. Serly sudah memastikan Aldi tahu pasti dari kakaknya yaitu Rasya. Hanya keluarganya yang mengira ia pergi ke Puncak dari Pak Malik kala kejadian saat Rindu sudah menjebaknya dengan minuman yang di berikan obat perangsang.


Aldi terdiam seperti meragukan apa yang di katakan Serly. Bahkan diamnya Aldi, Serly sendiri tidak bisa menebaknya.


"Semoga apa yang di ucapkan memanglah benar. Saya berharap kepercayaan saya tidak kamu salah gunakan," ujar Aldi yang seakan menusuk ke ulu hati Serly.


Serly tidak berani mengatakan semuanya. Serly membutuhkan waktu yang cukup untuk mengatakan kepada Aldi tentang apa yang terjadi pada dirinya.


Serly tersenyum dengan mengangguk.


Aldi sebenarnya ingin sekali menarik tubuh gadis yang di cintainya itu untuk masuk ke dalam pelukannya. Namun, ia tidak punya nyali seberani itu. Malah yang ia rasakan kini adalah kegugupan yang sangat besar. Sehingga ia memilih untuk tidak menatap Serly secara langsung.


"Ya sudah. Lain kali kita bertemu lagi. Sekarang kamu lebih baik pulang. Terima kasih atas waktunya," ucap Aldi.


Serly memiringkan badan untuk menatap Aldi dengan leluasa.


"Kak, apa kakak cinta sama aku?" tanya Serly ingin memastikan. Serly merasa heran dengan sikap Aldi yang tidak ada kata romantisnya. Berbanding dengan Dido yanng sangat lembut, kentara sekali mencintai dirinya.


Aldi repleks menoleh, "Saya cinta kamu," jawabnya kaku namun tegas.


Serly tersenyum, "Benarkah?" Serly ingin memastikan. Ia mencari kebenaran dari pengakuan Aldi dari sorot matanya. Tapi, Aldi jadi salah tingkah ia memilih menoleh lurus ke arah depan.


"Nona," Aldi menatap Serly dengan gugup.


"Siapa Nona?" Serly berpura-pura tidak mengerti.


"Nona, maksud saya Serly ...," Aldi memejamkan kedua matanya menenangkan dirinya yang sangat gugup jika bersitatap dengan gadis yang ada di hadapannya.


"Saya tidak berani untuk menatapmu dengan lama," ujarnya jujur.


"Why?" Serly mengerutkan keningnya merasa tidak paham.


"Sudahlah ... jangan bertanya yang aneh-aneh," kilah Aldi yang tidak mau menjawab.


"Ok fine. Ya sudah aku mau pulang. Tapi temani aku ke Mini Market itu!" ujar Serly memilih untuk tidak melanjutkan perbincangan yang membuat Aldi tidak nyaman.


Aldi mengangguk. Kemudian Serly berjalan mendahului Aldi. Aldi tersenyum dengan menggelengkan kepalanya, merasa gemas dengan tingkah Serly saat itu.

__ADS_1


"Aku sengaja belanja agar Kak Rasya percaya," kata Serly saat mengambil keranjang. Ia langsung berucap kepada Aldi.


"Kak Rasya tadi tanya aku mau kemana? aku bilang mau Ke Mini Market. Apa aku boleh katakan yang sebenarnya tentang hubungan kita kepada keluargaku?" lanjut Serly.


"Jangan dulu! saya masih belum percaya diri. Apalagi mengingat Pak Hadi yang menginginkan menantu yang sukses dan sederajat," kata Aldi melarang Serly untuk mengatakan hubungannya. Di tambah Aldi merasa insecure.


Serly terdiam. Lalu Serly membenarkan ucapan Aldi yang mengatakan bahwa Papanya yang ingin memiliki menantu yang sukses dan mapan. Sejurus kemudian Serly mengingat tadi pagi bahwa Papaku begitu ramah kepada Dido yang tahu bahwa Dido anak dari pengusaha Nomer satu di kota itu.


'Oh ya Tuhan. Sepertinya akan sulit serta rumit masalahku. Di tambah aku sudah tidak mempunyai hal yang berharga di tubuhku ini.' Serly berbicara di dalam hatinya seraya terdiam.


"Tapi kamu jangan khawatir. Saya akan berusaha menjadi seseorang yang sukses. Dan akan saya buktikan kepada Papa kamu, bahwa saya layak menjadi menantunya," ucap Aldi meyakinkan Serly.


Serly tersenyum miris. Aldi sudah punya tekad untuk ingin memilikinya. Sementara dirinya sudah tidak bisa ada yang di banggakan dari dirinya.


Sungguh Serly ingin menjerit. Mengingat dirinya yang sudah hancur. Tanpa terasa air mata lolos dari pelupuk matanya. Membuat Aldi menatap dengan keheranan.


"Loh kok nangis?" tanya Aldi memberanikan mengangkat tangan dan mengelap air mata di pipi Serly menggunakan ibu jarinya.


Serly semakin terisak, "Ini tangis haru kak. Terima kasih kakak mau berjuang demi aku,"


'Yang sudah kotor ini' lanjut Serly di dalam hati.


"Shutt ... sudah. Malu sama yang lainnya. Di sangka kamu kenapa-kenapa," kata Aldi memberikan peringatan.


Serly tersenyum dan menganggukan kepala. Kemudian ia langsung ke arah Kasir untuk membayar belanjaannya yang hanya Makanan ringan, coklat, serta sebotol susu.


"Biar saya yang bayar," kata Aldi dengan langsung menyerahkan kartu debitnya kepada Kasir saat kasir sudah menghitung belanjaan Serly.


Keduanya beranjak pulang. Sengaja Aldi mengajak Serly untuk menaiki mobilnya. Walaupun hanya beberapa menit sampai di depan rumah Serly.


"Terima kasih kak. Sudah bayar belanjaan aku," ucap Serly.


"Iya. Belanjaannya juga sedikit gitu," Aldi terkekeh menanggapi.


"Ya buat membuktikan kalau aku benar ke Mini Market," timpal Serly dengan tersenyum.


Aldi mengangguk.


"Ya sudah. Sekarang turun. Takut ada yang lihat nanti!" Aldi dengan meneliti ke arah depan pintu rumah Serly yang tertutup.

__ADS_1


"Iya kak. Hati-hati ya!" ucap Serly seraya membuka pintu mobil kemudian turun.


...***...


__ADS_2