You Are My Mine

You Are My Mine
Menarik


__ADS_3

Adelia kini Sudah bisa keluar dari Rumah sakit, masih dengan adanya Martin di sisinya.


Karena keadaanya yang tidak terlalu parah.


Dokter hanya menyarankan Adelia untuk banyak istirahat, minum yang banyak, dan juga makan makanan yang bergizi.


Adelia berjalan menyusuri Lorong Rumah sakit, terlintas dua tahun yang lalu ia terakhir menginjakkan kakinya di rumah sakit ini.


Di hela nafasnya, Adelia kini melirik seseorang yang dari tadi mengekorinya.


"Terima kasih, kamu telah menolongku.. Maaf aku berhutang budi pada mu," Ucap Adelia dengan lembut.


"Sama-sama," Ucap Martin.


"Kalau begitu, aku pulang duluan" Kata Adelia.


"Ayo aku antar..." Ucap Martin dengan mengamit tangan Adelia.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Kata Adelia.


"Bukan kah kamu ingin berbalas budi?" Ucap Martin yang membuat Adelia bingung


"Hah,,,??" Adelia kebingungan.


"iya, dengan Cara aku mengantar mu pulang itu merupakan kamu berbalas budi" Ucap Martin dengan sengaja menaik-naikan alisnya.


Martin yang menyebalkan menurut Adelia, kini kembali lagi di mata Adelia.


dua tahun tidak bertemu masih saja menyebalkan


*Adelia bergumam, tapi masih bisa di dengar oleh Martin.


Kini Adelia di Antar Martin menuju rumahnya, Martin sekarang paham selama dua tahun ini Adelia pindah, dan ia mengantar Adelia itu hanya akal-akal nya saja, agar tahu tempat Adelia tinggal.


Sekitar tiga puluh menit perjalanan dari arah kota pusat, kini sampai lah Martin mengantar Adelia.


Martin mencoba mengedarkan pandangannya, ternyata Adelia tinggal di sekitaran banyak ruko.


"Martin, tolong buka pintunya. a aku mau turun" Ucap Adelia yang mencoba ingin membuka pintu, namun pintu masih terkunci otomatis.


"Oh iya.." Martin pun menekan tombol kuncinya.


Lalu Martin bergegas ikut turun.


"Kamu kenapa turun?" tanya Adelia.


"emang kenapa, aku ingin ikut masuk koq.." Jawab Martin dengan menyebalkan nya bagi Adelia.


Tiba Tiba Rara datang dan menghampiri Adelia.


"Adel kamu ini kemana saja?" Ujar Rara sambil mendekat


"Aku cemas tau, kamu sudah pulang dari rumah Rasya tapi tidak ada sampai rumah?" Tambah Rara lagi.


"Ah i iya maaf Raa ,, ehmmm.... tau dari mana kamu?" tanya Adelia.


"Aku tahu dari Serly, Del..." Rara berucap, dengan mencoba melihat lelaki yang berdiri di dekat Adelia.


aku kira Rasya yang bertanya.


ah sudahlah, kenapa aku mengharapkan perhatiannya.


*Gumam Adelia di dalam hatinya.


"Eh Del... Siapa ini?" Tanya Rara, yang baru saja melihat seorang Martin.


"Ooh ini...." ucapan Adelia terputus karena Martin langsung berucap


"Aku, Martin. . Kekasih Adelia" kata Martin.


Seketika Adelia melotot begitu juga Rara, karena setahu Rara kekasih Adelia adalah Rasya.


di tariknya tangan Adelia cepat ke dalam ruko oleh Rara,untuk meminta penjelasan.


"Del, yang benar aja Lu punya pacar dua,?" tanya Rara.


"enggak Ra, gue bukan pacarnya dia koq..." Ucap Adelia dengan sedikit melirik ke arah Martin yang masih berdiri.


"Terus tadi katanya apa? dia kekasih eluu ah bilang nya," Rara masih belum percaya.


"Ekhemmm... Boleh aku masuk?" Tiba tiba Martin datang menghampiri


"Oh ya silahkan,, " Rara merasa tak enak


"aku ke kamar dulu ya Raa..." Ucap Adelia kepada Rara tanpa menoleh ke arah Martin.


Martin memandangi Adelia yang pergi begitu saja, ia hanya tersenyum melihat Adelia yang seakan sedang marah, tapi menurutnya tetap menggemaskan.


"Ehmmm...Maaf Martin kamu mau minum apa?" Tanya Rara berniat menyuguhkan.


"Aku Air mineral aja.." Ucap Martin yang duduk dengan matanya ia edarkan.


Kini ia berdiri, dan perlahan mendekati ettalase yang di dalamnya banyak jenis kue.


ia tersenyum ketika melihat tulisan Adelia Cake.

__ADS_1


Rara ikut menghampiri siapa tahu tamu nya ini menginginkan kue, tepatnya mau membeli.


"Coba bungkus kue yang ini, dan yang itu!" Tunjuk Martin kepada Rara.


Diambilah dua jenis kue yaitu Rainbow cake dan Blackfores.


"Ini semuanya tiga ratus ribu," kata Rara dengan menyerahkan kue nya.


"Ok.." Martin pun menyerahkan uangnya sesuai harga.


Kini Adelia datang dari kamarnya.


Adelia pikir Martin sudah pergi, tapi ternyata dia masih ada.


Martin tersenyum, dan mendekati Adelia.


"Kita makan siang yuuk...!" Bisik Martin tepat di telinga Adelia.


"Maaf tidak bisa," jawab Adelia dengan ketus.


Sontak mengundang Rara bereaksi.


"Ada apa del...?" Tanya Rara.


"Ehmmm..."Ucap Adelia dengan menggelengkan kepalanya.


"Eh siapa nama kamu?" tanya Martin tiba tiba kepada Rara.


"Nama ku Rara.." Kata Rara


"Aku ijin sama kamu, mau makan siang sama Adelia.." Ucap Martin dengan melirik Adelia.


"Ya boleh lah sana... kenapa gak bilang dari tadi sih del, kalau kamu mau makan siang sama dia?" ucap Rara.


"Ehmmm.. Raa..." Adelia berucap, yang langsung tangan nya di tarik Martin.


"Ayoo... kamu gak usah malu sama Rara." Ucap Martin dengan menyebalkan.


Rara hanya menggelengkan kepala, merespon begitu anehnya mereka. tepatnya pada Adelia yang malu malu untuk berkata kepada Rara untuk makan siang. Rara sudah salah paham. padahal Martin lah yang memaksa.


Martin dengan senyum tampan nya, menggandeng tangan Adelia untuk masuk ke dalam Resto pilihannya.


Sekarang Adelia sedang melihat menu makanan, jujur saja sekarang ia merasakan lapar.


Martin pun demikian, ia sedari rumah sakit belum makan sesuatu apapun.


Dan mereka pun memesan makanan.


"Adel... sikap kamu tidak pernah berubah ya?" Ucap Martin. disela sela menunggu pesanan nya.


"Hah..." Adel belum paham atas pertanyaan Martin.


"Maaf, " satu kata yang Adelia ucapkan karena merasa bersalah.


"Gak apa apa, tapi dengan kamu begitu, itu tidak membuat aku menyerah mendekati mu Del..." Ucap Martin dengan Serius.


Adel Masih diam menanggapi.


"Cuma satu, yang berubah pada kamu" Kata Martin Lagi.


"Apa..?" Adelia bertanya, Martin sedari tadim membuatnya penasaran.


"Kamu semakin Cantik.." Bisik Martin dengan tersenyum.


Wajah Adelia seketika berubah merah merona, karena merasa malu, sontak pandangan nya langsung menunduk.


Tiba -tiba pesanan datang.


Adelia dan Martin makan dengan diam, tanpa banyak bicara..


Sementara itu datang Rasya, dengan Ariyanti tunangan nya. dan di susul oleh Serly juga tante Lia ibu Rasya.


Mereka duduk tepat di belakang Meja yang Adelia duduki.


"Ayo sayang, kamu pilih makanan nya!" Ucap Tante Lia ibu Rasya kepada Ariyanti.


"Oh iya Tante..." Ucap Ariyanti


"Maa... Serly samain aja sama pesenan mama." Celetuk Serly


"Kalau kamu Rasya..?" kata Ariyanti bertanya.


"Aku, Nasi goreng seafood, dan minumannya orange juice" Ucap Rasya dengan datar.


Seketika Serly menatap punggung seseorang, yang begitu familyar baginya.


"Maa... kak Rasya, coba lihat deh cewek yang duduk tepatnya di belakang kursi kak Rasya.." Tukas Serly kepada Ibu dan kakaknya.


Dan sontak Tante Lia,begitu pun Rasya mengikuti arah pandang Serly,


Deg...


Rasya kaget, bahkan matanya melotot...


Adelia ada di sini,dan bersama seseorang yang dulu pernah membuatnya cemburu.

__ADS_1


"Adelia..." Sapa Tante Lia, karena ia tahu walaupun dari belakang itu adalah Adelia.


Adelia pun melirik ke arah belakang...


"Ta tante Lia..." Ucap Adelia dengan terbata. Karena kaget yang terlihat ada di sana bukan Tante Lia saja, tapi ada Rasya dan tunangan nya.


Kini Tante Lia menghampiri Adelia...


"Sayang kamu semalam tidak enak badan bukan? Bi Ina menyampaikan pesan kamu nak," Tanya tante Lia. dan Melirik ke arah Martin.


Dan Martin yang di lirik menyapa dengan tersenyum.


"Ah i iya tante, maaf Adelia pergi tidak menemui tante dulu.." Ucap Adelia merasa bersalah.


"iya gak apa apa sayang, cuma sayang... momen ketika semalam tak ada photo kamu.." Ujar Tante Lia.


"Eh bentar, ini siapa Del...?" Ujar Tante Lia lagi, menanyakan seseorang yang ada di depannya.


"Ehmmm... ini Martin teman Adel tante." Kata Adelia.


"Ooh benarkah?" Tante Lia penasaran, karena baru melihat Adelia jalan dengan anak cowok, selain anaknya Rasya.


"Salam kenal Tante, saya Martin teman Adelia. Saya pernah jumpa sebelumnya dengan tante ketika Almarhum Ibu Adelia meninggal." Martin berucap menjelaskan


Tante Lia pun mengingat-ingat..


"Ah iyaa, tante pernah liat" Ucap Tante Lia.


Sepanjang Tante Lia menghampiri Adelia.


Rasya terus melamun, bahkan hatinya kini merasakan panas, melihat gadis pujaan nya berjalan dengan lelaki lain.


Pesanan di Meja Rasya kini tiba.


"Maa... pesanan sudah datang" Ucap Serly memanggil Tante Lia.


"Ooh iya,,, Adel, Martin, Tante kembali ke meja Tante yaa.." Pamit Tante Lia.


"Iya Tante.." Ucap Adelia dan Martin berbarengan .


Adelia kini menunduk merasakan sesak di hatinya.


Adelia melirik Martin, Martin tersenyum dia paham sekarang atas kejadian semalam. Bahkan sekarang ia paham kalau Adelia ingin segera cepat beranjak dari tempat itu.


"Martin, pulang yuuk..!" Bisik Adelia. dengan lembut.


"Hemm... Aku gak dengar, kamu bicara apa barusan?" Martin sengaja pura pura tak dengar, di dekatkan nya telinga ke arah Adelia, sengaja hanya ingin menggodanya.


"Aku pengen pulang...!" Bisik Adelia tepat pada telinga Martin. tiba-tiba badan Martin seakan menegang ketika hembusan nafas Adelia tepat ke telinga nya.


Martin pun mengangguk.


Sial baru aja kena hembusan nafas nya, badan Gue udah tegang. apalagi dengan.....


Lamunan Martin seketika buyar karena Adelia menarik tangannya dengan paksa.


Dan ketika berjalan melewati meja yang di tempati Rasya, Adelia sengaja menggandeng tangan Martin.


"Eh Del,, kamu sudah mau pulang nak ?" Kata Tante Lia.


"i iya tante. Adel duluan yaa... Mari Tante, Serly, Rasya,Ariyanti.." Adelia pamit dengan semuanya ia sapa.


Rasya,dan Ariyanti pun mengangguk.


tiba-tiba


"Kak, Adel... entar kenalin yaa pacarnya ituu..." Tukas Serly.


Yang membuat Adelia mengangguk.


Tidak dengan Rasya, seakan ingin saja ia Tarik tangan Adelia dengan paksa dan membawanya pergi. Tapi itu hanya angan nya saja, ia sekarang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Eh kak Rasya, kalian koq gak saling sapa sih gak seperti biasanya?" Celetuk Serly, yang membuat sorot mata Rasya menajam.


"Biasanya kalian tuuh, nempel kaya prangko. sampai Serly kira kak Rasya sama kak Adelia itu pacaran.." Serly terus berceloteh.


"Mungkin Ser, abangmu sekarang menghargai Ariyanti sebagai tunangannya, agar tidak ada salah paham. iya kan Rasya.." kata Ibu Rasya ikut bicara.


Rasya hanya mengangguk saja.


Beda dengan Ariyanti, walau bibirnya tersenyum namun pikirannya menerka-nerka.


Kini Adelia sudah di depan Parkiran, dengan tangan nya masih saja menggandeng tangan Martin.


"Ekhemmm... sekarang sudah mulai berani gandeng-gandeng yaa..?"Ucap Martin sengaja menggoda.


"Hah... ih maaf Martin" Adelia seketika itu cepat-cepat melepaskan tangannya yang menggandeng Martin.


dengan Wajahnya merah bagai kepiting rebus ia


cepat-cepat pergi masuk ke dalam mobil Martin.


Martin masih pada tempatnya. ia kini sedang senyum senyum sendiri. semakin gemas ia pada Adelia.


Sungguh Menarik sekali kamu Wahai Gadis.....

__ADS_1


........................


Bersambung...............


__ADS_2