
Adelia tersenyum puas saat menerima benda pesanan nya, bahkan Rasya membeli banyak untuk istrinya itu.
"Terima kasih ya sayang." Ucap Adelia setelah menerima Benda itu dalam Kantong Kresek besar dengan tersenyum senang.
"Iya sama-sama." Rasya dengan berwajah lesu tanda tidak bergairah tanpa tersenyum.
Adelia pun masuk kedalam kamar mandi untuk memakai benda tersebut. Dan setelah selesai ia keluar lalu ikut duduk bersama Rasya yang sedang menonton televisi.
"Syaa... kenapa belinya banyak banget?." Adelia masih penasaran dengan matanya masih menatap benda yang suka di pakai satu bulan sekali nya itu.
"Sengaja. Biar kamu banyak stok." Kata Rasya dengan kepalanya mulai ia baringkan di paha Adelia.
"Begitu ya?. Tapi kamu berani juga ya beli benda itu." Adelia terus ingin menggoda Rasya yang sudah berwajah muram.
"Ya harus beranilah. Masa buat istri sendiri harus malu." Tegas Rasya.
Aldi tadi malu gak ya pas beli?.
Bodo ah yang penting sekarang Istri ku memuji aku.
Batin Rasya saat teringat bahwa yang berhadapan dengan pemilik warung adalah Aldi.
Adelia hanya tersenyum lalu tangan nya mengelus kepala Rasya yang ada di atas pangkuan nya.
"Sayang itu biasa nya berapa hari?." Tanya Rasya dengan matanya masih menatap layar televisi.
"Apanya yang berapa hari?,"
"Menstruasi kamu?."
"Oh... Tujuh hari, kadang lebih." Jawab Adelia.
Rasya langsung duduk dan menatap ke arah istrinya itu. "Selama itu?." Dengan wajah susah di tebak.
Adelia mengangguk. "Memang kenapa?." Tanya Adelia kemudian.
Rasya mengacak rambutnya ia sungguh frustasi dengan jawaban Adelia yang mengatakan masa Menstruasinya itu hampir seminggu tanpa menjawab pertanyaan Adelia. Ia harus sabar menunggu seminggu lagi Pikirnya.
"Hei Ada apa?." Tanya Adelia yang tidak peka akan pertanyaan Suaminya itu.
"Aku harus menunggu selama itu?." Rasya dengan bertanya bukan memberi jawaban.
"Rasya... kamu ini apa sih aku gak ngerti. Gak usah di tungguin lah nanti juga ada waktunya bersih." Sahut Adelia yang belum peka.
"Adelia sayang... sebenarnya kamu ngerti gak atas pertanyaan aku tadi?." Rasya penasaran akan Adelia yang terlihat biasa saja menanggapi dirinya yang frustasi.
"Ya ngerti. Kamu bertanya berapa hari aku datang bulan. Ya aku biasanya Tujuh hari atau lebmmmmmmhhhh"
Kata-kata Adelia terpotong karena Rasya sudah terlebih dahulu membungkam dengan bibirnya. Ya Rasya mencium Adelia karena merasa gemas yang tidak peka akan dirinya dengan harus menunggu lama malam penantian nya.
Rasya memperdalam ciuman nya hingga tangan nya menekan tengkuk Adelia. Adelia pasrah saja, yang memang tubuh Adelia yang sensitif itu mudah terbuai akan ciuman Rasya. Bahkan Rasya kini bibirnya berselancar di telinga hingga leher Adelia. Dengan Rasya memberikan tanda merah di leher Adelia itu. Adelia melenguh merasakan sensasi di tubuhnya yang mengalir seperti sengatan listrik.
Bibir Rasya turun hingga atas dada milik Adelia, tangan Rasya terangakat untuk membuka kancing Piyama Adelia yang berbahan satin itu. Sedangkan Adelia masih terpejam matanya pasrah membiarkan Rasya berbuat sesuka hatinya, Adelia pikir karena sekarang dirinya sudah SAH menjadi pasangan suami istri walaupun hanya di akui secara Agama saja.
Mata Rasya melotot melihat dua gundukan yang baru saja ia buka kancingnya, dan sekarang dua gundukan itu terpampang dengan masih terhalangi bungkusan nya. Rasya menelan ludahnya, namun Ia tak berani memegang atau melakukan lebih.
__ADS_1
Rasya memilih untuk menenangkan Rasya kecilnya yang terbangun itu di dalam kamar mandi, hingga meninggalkan Adelia yang masih terengah-engah nafasnya dengan mata yang masih terpejam.
Adelia membuka matanya perlahan saat tidak merasakan pergerakan dari Rasya. Lalu ia menoleh ke setiap sudut Kamarnya itu mencari keberadaan Suaminya, Namun terdengar suara gemercikan air dari dalam kamar mandi membuat Adelia melangkah menuju pintu kamar mandi.
Apa Rasya mandi lagi?.
Gumam Adelia di dalam hatinya.
Adelia mengancingkan bajunya, lalu beranjak ke atas Ranjang. Adelia merasa ngantuk, dan tak lama ia tertidur meninggalkan Rasya yang masih menenangkan Rasya kecilnya di dalam kamar mandi.
Setelah Rasya kecilnya tenang, Rasya keluar dari kamar mandi. Rasya tersenyum kala melihat pemandangan yang begitu indah menurutnya. Yaitu Adelia yang sedang tertidur dengan masih terlihat sangat cantik walau dengan tertidur. Rasya pun ikut berbaring dan menyelimuti tubuhnya beserta sang istri, lalu mengecup kening Adelia. Tangan Rasya memeluk pinggang Adelia dengan menatap wajah Sang istri Rasya tersenyum penuh arti.
Sungguh Aku senang akhirnya kita bisa menjadi suami istri. Ya Walaupun kita menikah dengan secara siri terlebih dahulu. Namun aku tetap bisa memiliki mu.
Kaulah cinta pertama dan terakhirku Adelia.
Aku sangat mencintai mu.
Sangaaat....
Rasya berbicara di dalam hati dengan tangan nya memeluk sang istri, lalu matanya mulai terpejam dan menyusul sang istri ke alam mimpi.
...----------------...
Di tempat Lain.
Seorang pemuda tampan yang nampak penampilan nya sangat kacau. Setelah mengetahui tentang gadisnya yang memilih Pria lain untuk masa depan nya. Ia kini sedang mabuk-mabukan. Sudah dua minggu lamanya setelah Rima yang telah di tahan Polisi, dan mengetahui kebenaran Sang Gadis pujaan yang lebih memilih Rasya.
Ya Pemuda itu Adalah Martin. Kini ia menghabiskan waktunya dengan meminum alkohol di Apartemen nya. Dengan baju yang masih itu-itu saja. Ia dengan terus menangisi Sang Gadis, yang begitu sangat ia cintai. Ia tidak menghiraukan keberadaan Dimas yang menemaninya. Dimas sengaja ingin menemani Martin, karena khawatir akan terjadi sesuatu pada dirinya. Bahkan Martin menolak untuk makan, ia hanya terus meminum minuman alkohol yang ia beli.
Flashback On.
Rasya keluar dari mobilnya bersamaan dengan Rara yang turun.
Martin pun keluar lalu memanggil Rara, sehingga Rara menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Martin." Rara terkejut karena mendapati Martin di depan halaman Rumah Rasya.
Rasya pun membalikkan badan saat mendengar nama Martin di panggil oleh Rara.
"Ra... Adel dimana?." Martin dengan wajah antusias ingin menemui Adelia.
"Adelia tidak ada di sini." Ucap Rasya dengan berjalan mendekati Martin yang berhadapan dengan Rara.
"Maksud kamu apa?. Kenapa Adelia tidak ada di sini?." Martin dengan menautkan kedua alisnya.
"Adelia berada di suatu tempat yang aman." Kata Rasya.
"Dan sebentar lagi Saya dan Adelia akan menikah." Tambah Rasya dengan penuh penekanan.
"Menikah?. Tidak. Adelia akan menikah dengan ku. Aku sudah bertunangan dengan nya." Martin dengan menatap tajam kepada Rasya.
"Itu dulu. Sebelum kebakaran itu terjadi." Tegas Rasya.
Martin menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ia tidak percaya akan Rasya katakan.
__ADS_1
Dan kini Matanya menatap Rara seakan meminta penjelasan.
"Iya Martin. Adelia memilih Rasya, karena Cinta Adelia kepada Rasya tidak bisa hilang dari hatinya. Mundurlah. Adelia akan menikah dengan Rasya. Dan ikhlaskanlah Jika kamu ingin Adelia bahagia." Ucap Rara dan menghela nafas pelan kemudian melanjutkan lagi ucapan nya.
"Adelia mundur dari kamu karena kejahatan Rima. Adelia mengikhlaskan kamu saat kamu akan menikahi Rima. Dari sanalah Adelia belajar melupakan mu. Dan Terima kasih atas semuanya, aku mewakili Adelia mengucapkan banyak-banyak terima kasih." Tambah Rara dan pergi meninggalkan Rasya dan Martin.
"Sekarang anda paham?. Jadi mundurlah." Rasya pergi begitu saja.
Kini Martin menahan sesak di dalam dadanya, matanya berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan halaman rumah Rasya dengan membawa kekecewaan di dalam benaknya.
Reyhan dan Dimas pun terdiam saat melihat wajah Martin yang masuk ke dalam mobil.
Reyhan dan Dimas yang memang semobil, mengikuti arah mobil Martin. Reyhan dan Dimas tidak mau sampai Martin bertindak gegabah menghadapi Rasya yang sebagai rivalnya itu.
Dan Benar walaupun tanpa kekerasan Martin mendapat kekecewaan atas pernyataan Rara dan Rasya.
"Arghhhhhh....." Teriak Martin dengan memukul setirnya saat sudah di dalam mobil.
Kemudian Ia melajukan mobilnya dan masuk ke dalam sebuah Club Malam. Semua itu tidak luput dari perhatian Reyhan dan Dimas yang sedang mengkhawatirkan nya.
Hingga ke dalam Sebuah Club pun Reyhan dan Dimas mengikuti Martin dari belakang.
Martin memesan beberapa botol minuman beralkohol itu dan di bawa masuk ke dalam mobil, ternyata Martin tidak berniat meminum minuman nya tersebut di Club Malam itu namun ia berniat meminumnya di Apartemen miliknya.
Reyhan dan Dimas kembali masuk ke dalam mobil dengan masih mengikuti ke mana arah mobil Martin.
Martin menatap kedua teman nya itu saat pas ingin masuk ke kamar Apartemen dan mendapati kedua teman nya itu ikut masuk juga. Tanpa mengusir atau menyuruh Martin bergegas masuk.
Tangan Martin sudah membuka satu buah botol minuman yang di bawanya tadi.
Ia menenggak minuman itu, sebelum nya ia mengernyitkan dahi akan Rasa minuman tersebut yang dua kali ia cicipi seumur hidupnya, pertama ketika Teman Bisnisnya mengajak bertemu di sebuah Club dan memaksanya untuk minum. Tanpa ingin berhenti Martin terus meneguk minuman itu.
Baru saja habis sebotol Martin sudah Meracau tak jelas hingga Reyhan dan Dimas bisa mendengar dengan jelas apa penyebab nya menjadi seperti itu.
"Kamu wanita plin-plan."
"Kamu berjanji akan menemani hidupku."
"Tapi apa?.Hah... kamu malah memilih mantan mu itu yang sudah pernah beristri. Apa kurang aku?."
Martin terus Meracau dengan duduk di lantai.
"Aku mencintai kamu Adelia... Aku mencintaimu." Wajah Martin begitu sangat sedih.
Kini tatapan nya berubah menjadi tajam saat mengingat seseorang yang sudah membuat dirinya kehilangan Adelia.
"Ya Kalau saja wanita itu tidak berulah. Semuanya tidak akan seperti ini. Aku tidak akan kehilangan Adelia. Awas kamu wanita jahat. Aku tidak akan memaafkan mu." Martin mengumpat Rima di sela racauan nya.
Setelah itu Martin tak sadarkan diri.
Reyhan dan Dimas pun memapah Martin untuk masuk ke dalam kamarnya, dan menidurkan nya.
Flashback off.
...Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih Readers.
Jangan lupa Like, Comment, dan Vote ya.