
"Wah ... wah ... ini kebab kesukaan ku," Serly tiba-tiba datang dengan mengambil kebab yang berada di atas meja. Ia langsung melahapnya.
"Hei ... pulang sekolah mandi dulu sana!" titah kakaknya.
"Kenapa? sebentar lagi aku mandi," ucap Serly seraya mengunyah kebab yang ia ambil.
"Serly, kamu sekarang udah kelas berapa?" tanya Adelia kini.
Serly menoleh ke arah kakak iparnya, "Kelas dua belas kak, sebentar lagi aku lulus" ujar Serly dengan antusias.
"Mau kuliah jurusan apa nanti?" tanya Adelia lagi.
Serly seperti terlihat berpikir, "Apa ya? aku ingin jadi Dokter, kak" ucapnya.
"Kalau kamu mau jadi Dokter. Nilaimu harus bagus," timpal Rasya kini.
"Kakak jangan khawatirkan itu," sahut Serly percaya diri.
Tiba-tiba Adelia teringat akan dirinya dulu. Yang sangat antusias ingin menjadi Dokter. Namun, karena faktor perekonomian. Adelia kuliah pun tak selesai. Ia putus di tengah jalan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rasya kini melihat Adelia yang berubah sendu.
Adelia menggeleng, "Enggak, Mas. Aku mau mandi ya,"
"Ayo, sekalian bareng" ajak Rasya dengan merangkul pundak Adelia.
Serly yang mendengar ucapan kakaknya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Ya Ampun!!" ucap Serly merespon ucapan Rasya.
Namun Rasya dan Adelia sudah beranjak meninggalkan dapur. Kini keduanya sudah berada di dalam kamar. Rasya langsung memeluk tubuh istrinya itu. Sementara Adelia yang di peluk. Berpikir untuk memberitahu atau tidak, tentang ingatannya yang sudah kembali kepada suaminya.
"Mas, sekarang bulan apa sih?" tanya Adelia yang masih berpelukan dengan suaminya.
"Bulan september," sahut Rasya kini mengurai pelukannya. Dan menatap wajah cantik istrinya.
"Tanggal berapa?"
"Tanggal dua puluh enam, ada apa memang?"
"Mas Rasya ... ulang tahunnya bulan Oktober. Ya, nanti saja aku beritahu tentang ingatanku yang pulih, sekalian surprise untuknya," batin Adelia.
"Gak ada apa-apa. Aku hanya mengingat tentang perkiraan Dokter. Bahwa lahiranku di bulan januari," ucap Adelia dengan tersenyum.
Rasyapun tersenyum, kini tangannya mengelus lembut perut Adelia, "Iya Sayang. Berarti empat bulanan lagi ya, baby kita lahir,"
Adelia mengangguk.
"Mas, mau mandi duluan? atau aku dulu?"
"Bareng," Rasya dengan tersenyum menggoda.
"Enggak ah. Kan, tadi pagi kita udah mandi barengan. Masa, sekarang mandi bareng lagi?" tolak Adelia.
Rasya terkekeh, "Gak apa-apa dong. Pengiritan air," alasannya.
__ADS_1
"Ih, dasar!!. Mas, aja berarti itu perhitungan," Adelia dengan menjulurkan lidahnya.
Rasya kini tergelak, "Lidah kamu jangan di julur-julur gitu. Aku sedot loh nanti," Rasya merasa gemas.
Adelia tidak merespon, ia hanya mendengus saja. Kini Adelia memeluk tubuh suaminya.
"Mas,"
"Apa?" Rasya kini membelai rambut panjang Adelia yang tergerai.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Adelia kini ia menatap wajah suaminya dengan dalam.
Rasya menuntun Adelia untuk duduk di tepian ranjang. Dan di susul dirinya duduk di samping Adelia.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Sayang?" tanyanya.
Adelia terdiam lebih dulu. Lalu menatap kembali kepada suaminya.
"Mas kemarin keluar kota, bareng Ariyanti?
Rasya mengangguk.
"Berdua saja?"
Rasya menggeleng. "Kemarin aku, Aldi, dan dia" ucapnya.
"Aldi? apa Aldi anak bengkel itu? anak buahnya Mas Rasya?" Adelia bertanya di dalam hatinya.
"Kenapa Sayang? dan kamu tahu darimana, kalau aku dan dia keluar kota?" selidik Rasya.
"Dari Ariyanti," sahut Adelia.
Adelia mengangguk, "Iya. Pas aku tanya lututnya itu kenapa. Dia jawab tersandung. Dan dia juga mengatakan kamulah yang menolong dan mengobati lututnya,"
Sontak Rasya malah tertawa. Sungguh apa yang di bicarakan Ariyanti, sangatlah lucu. Jangankan untuk menyentuh Ariyanti, bertatapan saja Rasya tidak mau.
"Loh, Mas kok malah tertawa?" tanya Adelia heran.
Rasya kini terkekeh, "Terus dia bilang apalagi sama kamu?" Rasya ingin lebih tahu tentang pembicaraan Ariyanti dengan Adelia.
Adelia menatap ke arah lain, "Dia bilang kamu menikahi aku karena rasa tanggung jawab. Rasa tanggung jawab karena aku hamil anak kamu. Dia bilang bahwa aku korban pelecehan kamu, Mas. Terus dia juga bilang, bahwa dirinya adalah calon istri kedua kamu," ucap Adelia kini dengan menatap wajah Rasya.
Lagi-lagi Rasya tergelak. Dengan menggeleng-gelengkan kepala. Merasa Ariyanti telah mengarang cerita yang begitu kocak.
"Ih, Mas kenapa tertawa terus sih?" protes Adelia. Kini wajahnya merengut, sedikit kesal.
Rasya kini tersenyum, "Apa kamu percaya Sayang?"
"Gak tahu," sahut Adelia.
"Apa ada lagi yang di bicarakan dia?" Rasya seperti ingin tahu lagi cerita bohong yang sudah Ariyanti sampaikan kepada Adelia.
"Ada,"
"Ayo, ceritakan lagi Sayang! aku siap tertawa kembali," titah Rasya.
__ADS_1
Adelia sebenarnya ia juga ingin tertawa. Namun, jika hal itu terjadi. Rasya akan curiga atas ingatannya yang sudah pulih. Memilih seperti tidak mengingat saja, yang di pilih Adelia saat ini.
"Dia bilang sentuhan Mas itu sangat memabukkan,"
"Maksudnya?" tanya Rasya kini ia merasa tidak mengerti.
"Mas, jangan pura-pura tidak mengerti deh,"
"Beneran aku gak mengerti, Sayang ...," Rasya dengan menatap istrinya serius. Tak ada gelakan, dan kekehan seperti di awal setelah Adelia menceritakan apa yang di katakan Ariyanti.
"Sudahlah lupakan saja," kata Adelia. Ia kini beranjak untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Rasya mengikuti dari belakang, "Sayang ... aku akan mengklarifikasi apa yang tadi kamu sampaikan. Itu semua bohong. Aku tidak pernah menolong ataupun mengobati lututnya itu. Dan tentang dia yang bilang--"
Brakkk...
Ucapan Rasya terpotong kala pintu kamar mandi Adelia tutup dengan kasar. Membuat Rasya berpikiran bahwa Adelia mempercayai semua apa yang di ucapkan Ariyanti. Dan Adelia tidak mau mendengarkan penjelasan dari Rasya.
"Ah, untung saja aku menutup pintu dengan cepat," ucap Adelia. Padahal sebenarnya ia ingin mandi sendiri. Tidak mau mandi bareng dengan suami mesumnya itu. Tanpa Adelia ketahui. Suaminya masih berdiri hingga Adelia selesai dari mandinya.
"Mas, ngapain berdiri di sini?" tanya Adelia saat keluar dari kamar mandi dengan berhanduk sebatas dada sampai paha.
Rasya melongo, "Apa kamu marah, Sayang?"
Adelia menggeleng.
Akhirnya Rasya bisa bernafas lega. "Apa kamu percaya tentang apa yang di ucapkan wanita itu?" tanya Rasya ingin memastikan.
"Percaya enggak ya?" Adelia sengaja menggoda suaminya. "Kalau aku percaya, bagaimana Mas?" lanjutnya.
"Kalau kamu percaya. Ya kamu bodoh," sahut Rasya dengan mulai membuka kancing kemejanya.
"Loh, kok bodoh?" Adelia dengan membalikkan badan menatap suaminya yang sedang membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Ya bodohlah. Mau aja di bodohin," Kini Rasya membuka celana panjangnya dan menyisakan celana pendek.
Adelia menelan ludah saat melihat dada bidang suaminya. Ia memilih fokus membuka pintu lemari dan memilih pakaian ganti untuk dirinya dan juga untuk suaminya.
"Aku mau tanya sekali lagi, kamu percaya atau tidak?" Rasya kini mendekati Adelia dan memeluk Adelia dari belakang.
"Iya aku percaya kamu, Mas" ucap Adelia kini menyerah. Ia tidak mau sampai Rasya marah kepada Ariyanti ataupun pada dirinya.
"Kamu yakin?" Rasya memastikan lagi.
"Iya aku yakin. Bukannya kamu sangat mencintai aku?" Adelia sudah memegang pakaian gantinya.
"Benar. Aku memang sangat mencintai kamu," Rasya kini menghadapkan tubuh Adelia. Hingga kini manik mata keduanya saling bertatap.
"Ya sudah. Mas sana mandi! aku mau pakai baju," Adelia memilih menyuruh Rasya agar cepat mandi. Karena jika lama kelamaan bertatapan atau bersentuhan. Pasti ujung-ujungnya, suaminya itu meminta menengok baby.
Rasya menggeleng. "Aku ingin memakanmu, dulu" ucapnya.
Tanpa mendengar kata iya atau penolakan dari istrinya. Rasya langsung melu**t bibir merah istrinya itu. Memberi penekanan agar si pemilik bibir itu memberikan balasan. Sedangkan tangannya bergerak untuk membukakan handuk yang melingkar di tubuh istrinya itu.
Akhirnya mau tak mau, Adelia pasrah. Walau badannya yang masih pegal-pegal ia membalas cumbuan suaminya itu dengan penuh gairah. Karena sentuhan tangan nakal suaminya. Menghidupkan serta menumbuhkan gairah panas yang menggelora. Dan terjadilah pergulatan panas di sore itu.
__ADS_1
...***...
...Bersambung....