You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 146.


__ADS_3

Albi keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai baju rumahan, yang sudah Adelia siapkan terlebih dahulu. Albi berjalan dan menatap Adelia yang tengah duduk dengan kaki berselonjor di atas ranjang. Adelia tengah melamun, mengingat kejadian siang tadi saat di Cafe.


Albi pun mendekatinya, "Arumi, apa yang kamu pikirkan?" tanya Albi seraya ikut duduk di ranjang samping Adelia.


Adelia menggeleng dengan pelan, "Tidak ada Mas," jawabnya.


Albi menghembuskan nafas dengan kasar. Lalu ia menarik kepala Adelia ke dada bidangnya, dengan tangannya mengelus rambut panjang Adelia yang tergerai.


"Kamu jangan banyak pikiran ya, ingat kata dokter tadi!, ibu hamil tidak boleh stress," ucap Albi memperingati Adelia. Padahal maksud Albi, Adelia tidak boleh memikirkan tentang hal tadi. Apalagi sampai memikirkan Pria yang telah memeluknya, Albi tidak ingin jika Adelia mengingat-ingat tentang Pria tadi, takut perlahan ingatan Adelia pulih.


"Iya Mas, aku tahu. Tapi, pria tadi pernah masuk dalam mimpiku, Mas ...."


Albi mendesah pelan, sudah ia duga bahwa pria tadi adalah suami Adelia. Hingga Adelia sampai memimpikannya.


"Emang apa mimpi mu itu?" sahut Albi ingin tahu tentang mimpi, yang Adelia mimpikan.


"Aku di peluk oleh pria itu, dan aku seperti akan pergi jauh. Lalu pria itu mengatakan bahwa dia sangat mencintai aku, begitupun aku. Dia berpesan untuk aku segera pulang, bahkan dia akan selalu menungguku datang. Dan pria itu, seperti tadi. Dia memanggilku Adelia," tutur Adelia menceritakan tentang mimpinya, dengan kepalanya bersandar di dada bidang Albi.


"Sudahlah, mungkin itu hanya kebetulan saja. Bukannya, pas malam kamu meminta ingin melihat penampilannya, bisa saja kamu terbawa mimpi," kata Albi seraya tangannya menegakkan Adelia untuk duduk dan menghadap dirinya.


Adelia pun kini berhadapan dengan Albi. Adelia tersenyum dan mengangguk mengiyakan apa yang Albi katakan. Kini tatapan Albi mengarah pada bibir Adelia yang merah merona, lalu Albi usap lembut dengan ibu jarinya.


Seketika Adelia menjadi gugup, dan mencari cara untuk mengalihkan, "Mas, bukankah Mama, dan Kak Alina, sama Kak Luky mau pulang sore ini? kita temui, Yuk!!" ucap Adelia.


Albi mengangguk dan turun dari ranjang. Di susul oleh Adelia, kemudian mereka berdua keluar kamar dengan bergandengan.


"Ma, Kak. Kalian jadi pulang?" tanya Albi saat sudah berada di ruang tengah, dan melihat koper yang sudah tersedia. Tangan Albi masih dengan bergandengan.


"Iya, Mama lebih baik pulang. Mama sudah tenang melihat kamu di sini bersama istrimu. Maafkan Mama yang awalnya sempat tidak mempercayai mu Albian," tutur Hera dengan menatap Albi yang kini sudah duduk berdampingan dengan Adelia.


Albi mengangguk. Dari lubuk hatinya Albi merasa berdosa karena telah membohongi Semua keluarganya. Tapi, bagaimana lagi Albi tidak punya cara lain, selain dengan cara memanfaatkan Adelia yang amnesia. Hingga Albi terhidar dari perjodohan yang selalu di katakan Mamanya.


"Bagaimana hasil chek-up kandungan nya, apa baik-baik saja?," kini Hera bertanya kepada Adelia.


Adelia tersenyum, "Baik-baik saja Ma, hanya kata Dokter saya tidak boleh banyak pikiran, agar kandungan nya selalu baik," ujar Adelia.


"Benar itu Arumi. Kamu harus rileks dan tak boleh kecapean. Oh ya, menurut Mama lebih baik, ada pelayan di rumah ini. Tidak mungkin kan, istrimu itu mengurus rumah yang seluas ini," kata Hera dengan memberikan usulnya kepada Albi.


"Albi sudah mengingat ke sana Ma, hanya belum ada, gak tau besok atau lusa," tutur Albi. Albi sudah punya rencana untuk membuat Adelia selalu tinggal di rumah, dengan di temani seorang pelayan. Agar Adelia tidak merasa kesepian bila Albi tinggalkan bekerja.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu ternyata dewasa juga dalam berumah tangga," kini Alina membuka suara yang membuat Albi tiba-tiba menjadi terbatuk.


"Mas kamu tidak apa-apa?" ucap Adelia dengan mengusap-usap punggung Albi.


"Tidak Arumi, mungkin aku hanya keselek saja," ujar Albi beralasan.

__ADS_1


Alina tersenyum kepada Albi, "Nanti Kakak, akan memberikan hadiah tiket bulan madu untuk kalian. Mumpung Arumi hamilnya masih kecil,"


"Bulan madu?" pekik Albi dengan menatap Alina.


"Iya bulan madu," sahut Alina dengan santai.


Albi menggeleng-gelengkan kepala, "Tidak Kak, aku tidak mau. Lagian pula untuk apa aku bulan madu, Arumi saja sudah hamil. Kecuali belum, aku akan bersusah payah untuk membuat istriku hamil," ucap Albi memberikan alasan penolakannya.


Sontak Adelia memilih menunduk dengan pipi yang sudah merona, karena penuturan Albi yang menjurus ke arah proses untuk membuat dirinya hamil.


"Ya, Kakak juga setuju. Lebih baik kamu jaga baik-baik istrimu, tidak usah bepergian kemana-mana," ujar Luky membela Albi.


"Ok deh, Kakak urungkan!" sahut Alina mengalah.


"Ayo, antarkan Mama dan Kakak mu ke depan, Kita pulang sekarang," titah Hera kepada Albi untuk mengantar kepergiannya.


"Tentu Mama, Ayo!" ucap Adelia dengan menggandeng lengan Hera.


Mereka pun berjalan melangkah menuju pintu utama. Albi ,dan Adelia bersalaman kepada Hera, Alina, dan Luky. Kemudian Albi dan Adelia menatap kepergian mereka.


Setelah mobil yang mereka tumpangi keluar dari gerbang pagar, Adelia dan Albi pun kembali masuk ke dalam rumah.


"Mas, mau makan apa nanti malam? biar aku buatkan," ucap Adelia saat sudah berada di dalam rumah.


"Apa saja, Aku akan memakannya!" sahut Albi dengan mantap. Karena sekarang Albi sudah tidak meragukan lagi keahlian masak Adelia.


Albi memilih duduk di sofa ruang tengah. Ia akan menunggu kedatangan Arman dan Dirga. Albi sudah tidak sabar ingin menceritakan hal tadi kepada kedua temannya, dan ia ingin meminta saran untuk rencana selanjutnya.


Tak lama terdengar suara pintu utama di buka. Ternyata yang membuka adalah Arman dan Dirga. Mereka berjalan dengan beriringan. Kemudian langkah mereka terhenti saat melihat Albi duduk di sofa ruang tengah.


"Bos, enak ya Lu di rumah santai. Sedangkan di kantor kerjaan menumpuk," ledek Arman seraya mendudukan tubuhnya disofa sebrang Albi, bersamaan dengan Dirga.


"Apa gunanya ada Asisten dan Sekretaris," sahut Albi sengit.


"Lu Bos sengaja bolos, atau emang Lu kesiangan bangun?" cerca Dirga yang merasa Albi tidak suka bolos bekerja.


"Sebenarnya emang gue kesiangan, tapi ya sudah gue bolos saja," sahut Albi mengatakan yang sebenernya.


"Anget kali, selimut berdua. Hingga tidur nya nyenyak," goda Arman.


Albi hanya terkekeh, "Bisa aja loh!. Tapi iya sih," ucap Albi dengan di susul tergelak.


"Tuh kan, benar?!. Eh, bos elu beneran cinta kan, sama si Arumi?" tanya Dirga dan dapat anggukan dari Albi.


"Sana mandi!, entar gue ada sesuatu yang akan di bicarakan," titah Albi kepada kedua temannya untuk mandi dahulu, dan mengatakan akan ada yang Albi bicarakan setelahnya.

__ADS_1


"Siap!!" ucap mereka kompak. Mereka pun akhirnya menaiki anak tangga untuk menuju kamar mereka masing-masing, dan membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Setelah kedua temannya pergi. Albi memilih ke dapur untuk melihat Adelia yang sedang memasak.


"Mas," pekik Adelia kaget saat melihat sebuah tangan melingkar di perutnya. Albi memeluk Adelia dari belakang.


"Apa?" sahut Albi dengan sengaja dagunya ia sandarkan di bahu Adelia.


"Aku sedang masak. Kamu jangan ganggu!"


"Aku gak ganggu. Aku hanya peluk kamu,"


Adelia pun memilih diam. Ia dengan gerakan terbatas mengaduk masakan yang berada di atas kompor yang menyala.


"Cumi asam pedas?" tanya Albi saat melihat masakan Adelia yang di dalam wajan.


"Iya. Mas suka gak?" tanya Adelia seraya mencicipi hasil masakannya itu.


"Suka" jawab Albi.


"Kalau ayam teriyaki?" tanya Adelia lagi.


"Suka juga. Aku suka semua apa yang kamu masak," sahut Albi dengan sengaja ia mengecup tengkuk Adelia dan di tambah Albi mel**atnya. Albi tergoda akan leher Adelia yang jenjang dan mulus, apalagi rambut panjang Adelia yang kini di ikat cepol.


"Ah ... Mas, geli" Adelia mendesah merasa geli dengan kecupan Albi.


"Apa?" sahut Albi dengan santai. Ia sengaja ingin menggoda Adelia.


Adelia memilih mematikan kompornya. Dan Adelia yang seakan terpancing hasratnya, kini menatap Albi dengan nafas yang memburu.


"Mas sengaja menggoda?" tanya Adelia.


Albi tersenyum, "Kalau iya, kenapa? hmm" ucap Albi seraya menarik pinggang Adelia.


Kini jarak Adelia dan Albi begitu dekat. Hingga membuat Adelia menegang, bercampur gugup. Albi mulai menekan tengkuk Adelia, kemudian Albi mulai mendekati bibir Adelia lewat bibirnya. Seketika Adelia memejamkan kedua matanya, pasrah apa yang akan Albi lakukan.


Albi baru saja hidungnya bersentuhan, namun seketika terhenti kala ada suara yang berdehem.


"Ekhemmm"


Suara deheman seseorang membuat Adelia membuka matanya, dan mendorong dada Albi untuk menjauh. Adelia langsung tertunduk merasa malu, sedangkan Albi dengan kikuk menoleh ke arah sumber deheman.


Astaga gagal lagi?


Umpat Albi di dalam hatinya.

__ADS_1


...Bersambung....


Kasihan si Albi gagal terus mau kiss istri orang 😆😆


__ADS_2