
Rasya dan Adelia sudah memasuki ruang makan. Di sambut oleh senyuman dari Lia, Serly, dan juga Rara. Namun, hanya Hadi yang menatap tak berkedip, tidak percaya bahwa Adelia masih hidup. Hadi belum di beritahu oleh Lia. Hanya di beritahu ada Rasya pulang.
"Adel," sapa Hadi dengan wajah berbinar. Bagaimanapun Hadi senang melihat menantunya masih hidup.
Adelia hanya tersenyum, dan mengangguk kepada Hadi.
"Ayo Sayang, duduk!" kata Rasya setelah menarik kursi untuk Adelia duduk. Dan Adelia pun tersenyum dengan menurut.
"Apakabar Pa?" kini Rasya menyapa Hadi.
"Papa baik. Jadi kamu sebulan lebih ini hilang, mencari istrimu?" tanya Hadi yang penasaran.
Rasya tersenyum dan mengangguk. "Aku mau kasih tahu sama kalian semua. Bahwa Adelia saat ini sedang amnesia," ujar Rasya menginformasikan kepada seluruh penghuni rumah.
"Amnesia??" pekik mereka dengan bersamaan.
Rasya mengangguk. "Iya. Jadi dugaan kita benar Pa, saat menemukan sandal Adel di pinggir sungai. Adel terjatuh hingga hanyut ke dalam sungai. Dan ketika malamnya, ada yang menolong Adel. Namun, sang penolong malah memanfaatkan amnesia Adel," tutur Rasya dengan mulai memasukkan beberapa makanan ke atas piringnya.
Sedangkan Adelia hanya diam saja menanggapi pembicaraan Rasya bersama Papanya.
Hadi menautkan kedua alisnya, "Memanfaatkan bagaimana?," tanya nya belum mengerti.
Rasya menghela nafas, "Sebenarnya aku tahu dari Beni. Beni tahu dari salah satu Dokter di kota B, saat Beni mencari keberadaan Adelia lewat unit-unit kesehatan,"
"Ya. Terus di manfaatkan oleh sang penolong nya bagaimana, maksudnya?" Hadi belum mengerti.
Rasya menatap Adelia. Adelia menggeleng agar Rasya tidak menceritakan tentang orang yang menolongnya tersebut. Bagaimana pun bagi Adelia, Albi adalah penolongnya yang baik. Walaupun di balik itu semua ada kebohongan yang Albi ciptakan.
Rasya dengan menatap terus ke Adelia, "Adelia di bohongi. Bahkan si penolong mengakui dirinya suami Adel," kata Rasya tanpa mengatakan nama sang penolong.
Hadi menggeleng-gelengkan kepala merasa aneh dengan orang yang membohongi Adelia. Bahkan Lia, Serly, dan Rara juga nampak sama. Merasa aneh, namun bersyukur Adelia bisa kembali lagi.
"Ya sudah. Kalian lanjut makan," titah Hadi.
Dan akhirnya mereka makan dalam keadaan hening tanpa ada pembicaraan. Setelah selesai semuanya. Lia kini tersenyum menatap Adelia.
"Sayang, bagaimana kamu percaya bahwa Rasya adalah suami kamu?" Lia bertanya ingin tahu bagaimana respon Adelia.
Adelia tersenyum, "Saya yakin. Karena Mas Rasya selalu ada dalam bayangan ingatan saya. Namun, saat saya berusaha berpikir keras. Kepala saya selalu sakit. Dan di tambah Mas Rasya selalu saya mimpikan," tutur Adelia menceritakan.
Lia tersenyum hangat, ia berpikir bahwa cinta Adelia dan Rasya begitu kuat.
"Begitu ya. Oh iya, Mama mau menceritakan bahwa saat kamu belum ketemu. Rasya terus mengidam yang aneh-aneh," tuturnya. Membuat Adelia menoleh ke samping dimana Rasya duduk.
__ADS_1
"Benar begitu, Mas?" tanya Adelia memastikan.
"Enggak tahu Sayang ... Ma, aku emang ngidam apa?" tanya Rasya yang tidak mengerti dirinya waktu kemarin-kemarin mengidam.
Lia menggelengkan kepalanya. "Itu kamu gak suka wangi parfum wanita, di tambah kamu mau makanan yang aneh-aneh yang tidak ada di rumah. Terus maunya pagi-pagi sekali. Ayo ingat-ingat!!" ucap Lia memberitahukan, dan menyuruh Rasya agar mengingat keanehan nya.
Rasya tersenyum, "Oh itu bagian dari ngidam juga?," kata Rasya bertanya kembali.
"Iya. Mama pernah kepikiran ke sana. Tapi, Mama tepiskan. Karena mengingat istrimu yang tiada,"
Rasya tersenyum kemudian menatap Adelia. "Sayang, yang penting kamu sehat dan baby kita. Emang aku ngerasa banyak ke anehan pada diriku, saat-saat ini. Kadang aku juga berpikir begitu. Namun, saat bertemu kamu kembali aku yakin bahwa aku yang ngidamnya," tutur Rasya.
Adelia membalas senyuman Rasya lalu mengangguk. "Mas ... maaf ya, gara-gara aku hamil, kamu yang ngerasain ngidamnya," ucap Adelia kini mengusap tangan Rasya di bawah meja.
Rasya tersenyum begitu hangat, "Gak apa-apa. Aku ikhlas kok, walaupun nanti setelah bayi ini lahir, dan kamu mengandung lagi. Aku siap morning sikness serta ngidamnya juga!" ucap Rasya dengan mengerlingkan mata.
Membuat kedua orang tuanya melotot bersamaan.
"Rasya?" pekik Lia dan Hadi bersamaan.
"Loh, kenapa Ma ... Pa?" tanya Rasya.
"Menurut kamu, mengandung dan melahirkan itu emang mudah?!!, tak sebanding dengan rasa ngidam dan mual-mual. Enak saja kamu, ya!!" Hardik Lia menggerutu kepada anaknya.
"Gak tahu Mas," jawab Adelia dengan tersenyum.
Sedangkan Rara dan Serly melihat antara Rasya dan Adelia dengan terus senyuman tersungging di bibir mereka berdua.
Kediaman Rasya kembali hangat. Dengan kepulangannya Adelia dan Rasya. Apalagi beberapa bulan lagi akan ada kehadiran seorang bayi. Bertambahlah kebahagiaan di kediaman Rasya.
"Ma ... Pa ... aku dan istriku ke kamar dulu, ya!" kata Rasya pamit saat semua hendak meninggalkan ruang makan.
Lia dan Hadi hanya menjawab dengan mengangguk. Lalu Rasya merangkul bahu Adelia dengan berjalan beriringan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Saat Adelia akan masuk. Rasya mencegatnya.
"Mas, ada apa?" tanya Adelia bingung.
"Sebentar Sayang, em ... kamu tunggu dulu di sini! aku mau masuk dulu, dan mau berteriak dari dalam. Terus kamu dengar, suara ku dari dalam," titah Rasya.
Membuat Adelia mengangguk menurut dengan rasa bingung bercampur aneh.
Rasya pun masuk lalu menutup pintu, kemudian bersuara erotis sesuai apa yang di lakukan bersama istrinya.
__ADS_1
Hah ... aku lupa kamar ini pakai peredam atau tidak. Yang jelas aku tidak mau, suara-suara nikmat dari mulut istriku terdengar sampai keluar. batin Rasya.
Ternyata Rasya ingin memastikan suara dari dalam kamar terdengar ke luar atau tidak. Hingga ia menirukan suara yang selalu keluar dari mulut istrinya dan juga dirinya jika sedang bergelut di atas ranjang.
Setelah selesai. Rasya pun keluar, dan menanyakan langsung kepada Adelia yang tadi ia perintah untuk mendengar.
"Sayang, kamu tadi dengar suara aku gak, dari dalam kamar?" tanya nya.
"Enggak Mas. Emang ada apa sih?" jawab Adelia dengan bertanya karena penasaran.
"Eng-enggak. Gak ada apa-apa. Ayo masuk!"
Adelia masuk terlebih dahulu. Kemudian di susul Rasya dari belakang dengan sudah menyunggingkan senyuman nakalnya.
"Eh, Sayang ... aku lupa gak bawa baju kamu. Sebentar ya, aku pinjam punya Mama atau Serly," kata Rasya dengan cepat keluar kamar menmui Lia dan Serly.
"Ma, Serly ... aku pinjam baju buat Adel. Tadi aku lupa gak bawa baju buat ganti," ucap Rasya setelah di hadapan Lia dan Serly yang sedang duduk menonton tv.
"Nanti Mama antarkan ke kamar kamu," sahut Lia.
"Kalau punya aku. Takut gak muat di kak Adel, secara aku kecil," timpal Serly.
"Ya sudah. Punya Mama saja," sahut Rasya.
"Eh iya. Aku lupa lagi ... beliin susu hamil ya, ke Mini market depan," titah Rasya kepada Serly.
Serly mengangguk, "Susu hamilnya, merk apa, Kak?" tanyanya.
"Pre***en. Ini uangnya," ucap Rasya seraya menyerahkan uang berwarna merah tiga lembar.
"Ya sudah aku ke kamar lagi," ucap Rasya dengan langsung berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
Namun, saat masuk ke dalam kamar. Rasya tidak menemukan istrinya. Membuat Rasya mencarinya ke dalam kamar mandi. Dan tidak ada Adelia di sana. Lalu mata Rasya tertuju pada pintu yang mengarah ke balkon kamarnya terbuka. Sehingga Rasya melangkah menuju Balkon. Dan terlihat Adelia sedang berdiri menatap langit malam yang cerah bertabur bintang.
"Sayang, ternyata kamu di sini. Aku tadi panik tahu," ucap Rasya seraya memeluk Adelia dari arah belakang.
"Aku ingin menatap bintang Mas," sahut Adelia dengan wajahnya menatap langit.
Rasya tersenyum dengan hati tenang. Kehilangan Adelia membuat ia trauma saat tadi tidak menemukan keberadaan Adelia di dalam kamarnya. Dan Rasya tidak mau hal itu terjadi lagi. Ia berniat dari sekarang akan berusaha menjaga Istrinya itu dengan baik.
...***...
...Bersambung....
__ADS_1