
"Bagaimana?" tanya Maharani dengan serius. Tidak dengan Aldi yang kini wajahnya berubah dingin dan datar. Seolah pertanyaan Maharani seperti lelucon bagi Aldi.
"Habiskan sarapannya!" Aldi tanpa merespon pertanyaan Maharani yang di anggapnya sebagai lelucon.
"Al--"
"Aldi," panggil ibu Aldi dengan suara lirih. Membuat ucapan Maharani terhenti. Karena dengan cepat Aldi menghampiri ibunya dan menanyakan keadaannya.
"Ibu? apakah keadaan ibu sekarang mulai mendingan?" tanya Aldi dengan wajah yang masih penuh ke khawatiran.
Ibu Aldi tersenyum, sebelah tangannya yang tidak merasakan apa-apa membelai wajah putranya.
"Tidak Nak. Ibu sekarang bisa berbicara. Mungkin ini berkat do'a anak shaleh ibu," kata Ibu Aldi dengan mengukir senyum di bibirnya.
Aldi membalas senyuman sang ibu. Dengan wajah yang penuh syukur, akhirnya keadaan ibunya cepat membaik. Hanya saja sepertinya terlihat sebelah badan nya tidak bisa bergerak. Beruntung saja, mulut dan wajah tidak terjadi apa-apa.
Maharani yang sudah membereskan bekas makan nya, kini menatap ke arah Aldi dan Ibunya yang terbaring.
"Ibu mau sarapan sekarang?" Maharani mencoba memberikan perhatian kepada Ibu Aldi.
Aldi menoleh menatap wajah Maharani. Terlihat pertanyaan itu tulus terlontarkan.
Ibu Aldi tersenyum. Kemudian mengangguk.
Lalu Maharani meraih mangkuk yang berisikan bubur di atas nakas sebelah ranjang ibu Aldi terbaring. Sepertinya perawat menaruh bubur tersebut di saat Maharani berada di dalam toilet.
"Biar, aku yang suapin ya bu. Dan ini ibu minum dulu!" ucap Maharani dengan tangan nya membantu meminumkan air dengan menggunakan sedotan yang sudah tersedia. Kemudian setelah itu Maharani mulai menyendoki bubur untuk menyuapi ibu Aldi.
Ibu Aldi menerima semua perhatian yang Maharani berikan. Merasa senang jika ada seorang gadis yang kini Aldi bawa. Ibu Aldi bahkan beranggapan jika Maharani itu adalah pacarnya Aldi. Kebetulan Ibu Aldi sudah lama menginginkan Aldi untuk berpacaran. Dan sekarang Ibu Aldi, sungguh merasa senang.
Dengan telaten Maharani menyuapi bubur ke mulut ibu. Dengan sabar menunggu ibu Aldi mengunyah. Dan semua gerakan Maharani dan Ibu begitu di perhatikan oleh Aldi. Membuat Aldi berpikir, apakah ia harus membuka hatinya untuk Maharani?
"Neng sudah sarapan?" tanya ibu kepada Maharani dengan lirih.
"Sudah bu. Tadi Aldi yang membelinya," jawab Maharani tanpa sungkan.
Ibu tersenyum. Kemudian melirik putra sulungnya.
"Nak, kenapa tidak cerita sama ibu? kalau kamu sekarang mempunyai pacar, bahkan pacarnya sangat cantik sekali."
Aldi menatap ibunya dengan wajah bingung. Bingung harus menjelaskannya seperti apa. Tidak mungkin jika dirinya mengatakan yang sebenarnya, sementara keadaan ibunya baru saja pulih. Dan sekarang terlihat ada guratan kebahagiaan di wajah sang ibu. Sehingga Aldi tak mungkin meredupkan, dengan cara mengatakan yang sesungguhnya.
Maharani sendiri tercengang. Walau di dasar hati ada rasa senang, jika ibunya Aldi menganggap dirinya adalah pacarnya Aldi. Maharani pun hanya terdiam, ingin mendengar bagaimana tanggapan Aldi.
__ADS_1
"Hei, bujangnya ibu malah bengong," kata Ibu Aldi menegur Aldi yang kini terdiam.
"Ibu sudah bangun?" Suara Alma menyapa. Membuat Aldi merasa terselamatkan untuk mencari kata-kata agar bisa menjawab pertanyaan ibunya.
"Ibu kira, kamu kuliah nak?" jawab Ibu kepada Alma.
Alma kini duduk di sebelah Maharani yang masih menyuapi ibunya.
"Gak mungkin aku kuliah jika keadaan ibu seperti ini?" kata Alma dengan menatap wajah sang ibu.
"Ibu tidak apa-apa nak. Hanya seperti ini. Mungkin, nanti juga sembuh sendiri," ucap Ibu menenangkan putrinya yang terlihat mengkhawatirkannya.
"Aamiin bu." Alma mengamini ucapan ibunya, yang Alma tahu adalah ucapan penenang untuk dirinya.
"Bahkan ibu sekarang rasanya ingin pulang saja." Ibu berucap seperti itu membuat Aldi langsung membuka suara.
"Tidak bu. Ibu harus di rawat dulu. Setelah stroke ringan yang ibu alami ini sembuh, baru ibu bisa pulang,"
Ibu pun beralih menatap putranya, "Tapi, ibu ingin di rumah saja, ibu kesal jika harus di sini," balasnya.
"Ibu ... mohon menurutlah sama Aldi. Apa yang di sampaikan Aldi benar. Dan Aldi ingin yang terbaik buat ibu. Agar ibu tidak kenapa-kenapa. Dan selama ibu di sini, biar aku yang nemenin ibu," Maharani menimpali membujuk ibu Aldi agar mau di rawat.
Ibu Aldi tersenyum, terlihat ada binar mata bahagia saat mendengar, dan menatap Maharani.
"Beneran neng geulis mau nemenin ibu di sini?" Ibu memastikan kembali bertanya kepada Maharani.
Maharani tersenyum dengan mengangguk, "Iya bu. Aku akan nemenin ibu di sini sampai ibu pulih. Ibu mau 'kan, di temenin sama aku di sini?" kata Maharani dengan bertanya memastikan jika ibunya Aldi mau di temani selama di rumah sakit.
Ibu Aldi tersenyum serta mengangguk, "Tentu ibu mau nak. Terima kasih sudah mau mengorbankan waktu untuk mau menemani ibu di sini," ungkap Ibu Aldi.
Maharani kini menggenggam tangan ibu Aldi, "Sama-sama bu. Yang penting ibu cepat pulih ya, jangan banyak pikiran agar cepat sembuh," kata Maharani memberikan perhatian.
"Pasti ibu akan cepat sembuh neng. Apalagi, ibu akan di temenin sama calon menantu," kata Ibu dengan wajah berseri.
Aldi sontak terbatuk setelah mendengar ibunya mengatakan kata 'menantu' membuat Alma sang adik langsung meraih air botol mineral kepada kakaknya itu.
"Di minum bang!" ucapnya.
Aldi menerima dan menurut. Walau di dalam hatinya Aldi terus berpikir bagaimana cara mengatakan hal yang sebenarnya kepada sang ibu yang telah beranggapan lebih terhadap Maharani.
"Aldi bujang ibu. Loh kenapa?" tanya ibu dengan penuh khawatir.
Aldi menggeleng, "Tidak bu. Em ... ibu lanjut saja sarapan. Aku mau keluar dulu sebentar," kata Aldi seraya berdiri dan berjalan keluar dari ruangan inap ibunya.
__ADS_1
Aldi terus berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit. Hingga langkahnya terhenti di bangku Taman Rumah Sakit yang lumayan tidak terlalu luas, namun terlihat sejuk dan tenang.
"Kenapa jadi begini sih?" monolog Aldi seraya tangannya mengacak rambutnya.
Aldi tidak berpikir jika membawa Maharani akan membuat ibunya beranggapan lain. Mau mengatakan yang sebenarnya Aldi tidak tega untuk melihat wajah sang ibu yang penuh binar bahagia harus berubah redup dan sendu.
"Tapi, bagaimana dengan Nona Maharani?"
Aldi akan berbicara kepada Maharani mengenai masalah ini. Aldi takut Maharani keberatan atas anggapan sang ibu yang seakan Maharani adalah calon menantunya.
Aldi memutuskan untuk kembali ke ruangan inap sang ibu. Di sana terlihat ibu sudah meminum obat. Dan berbaring kembali.
"Eh iya Al. Apa aku boleh meminta Alma untuk mengantar aku?" tanya Maharani saat tahu Aldi sudah duduk di sofa.
"Biar saya saja yang antar," jawabnya tanpa menanyakan mau di antar kemana.
"Ish ... abang bucin ya. Gak mau jauh sama teteh geulis?!" celetuk Alma.
Aldi langsung menatap adiknya dengan tajam.
"Sudah. Kalian jangan dulu ribut!" kata Ibu menengahi.
"Sekarang sudah antar dulu si eneng ini. Kasihan, mungkin ada yang di perlukan," kata ibu menatap Aldi dengan lembut.
Aldi mengangguk, "Aku tinggal dulu ya bu. Apa ada yang ibu mau? biar sekalian aku belikan," tanya Aldi menanyakan keinginan ibunya.
Ibu menggeleng, "Tidak ada Al," jawabnya.
"Ih ada satu keinginan ibu yang belum terpenuhi," timpal Alma.
Aldi dan Ibu pun sontak menatap ke arah Alma saat ini. Seolah menanyakan perihal apa yang di ucapkan Alma mengenai keinginan ibu yang belum di penuhi.
"Apa itu de?" Maharani bersuara seolah mewakili suara Aldi dan Ibu.
Aldi dan Ibu menanti jawaban Alma. Begitupun Maharani ikut penasaran.
"Bang Aldi Nikah. Itu keinginan ibu yang belum terwujud," jawab Alma dengan menyengir setelahnya.
Aldi tiba-tiba menelan ludah. Mendengar keinginan itu entah kenapa, begitu berat Aldi terima. Apalagi sekarang kesalah pahaman telah terjadi kepada dirinya.
"Ya Tuhan bagaimana ini?" batin Aldi menjerit.
...***...
__ADS_1