You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 240.


__ADS_3

Rasya yang baru saja di beritahu oleh Aldi, tentang apa yang ia dengar dan mendengarkan hasil rekaman Aldi. Sontak naik pitam. Dengan mata memerah, rahang mengeras, dan tangan mengepal kuat.


"Al, kamu tuntasin kerjaan di sini. Saya gak bisa tenang!" Rasya memerintahkan Aldi agar tetap stay di tempat.


"Tapi, Pak Rasya. Pak Rasya, jangan pulang sendiri dengan mengendarai mobil. Apalagi Pak Rasya dalam tidak tenang. Saya takut, terjadi sesuatu dengan anda," Aldi khawatir dengan menyarankan agar Rasya tidak pulang dalam keadaan menyetir.


Rasya menggelengkan kepala, "Kamu tak perlu khawatir, Al. Saya yakin, saya akan baik-baik saja. Saya sangat mencemaskan istri saya, walaupun saya belum tahu bagaimana keadaannya," ya memang benar Rasya belum tahu dengan keadaan Adelia. Ia berusaha bertanya kepada kedua orang tuanya, mereka mengatakan bahwa Adelia dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, semenjak mendengar rekaman Ariyanti yang sedang berbicara pada Alin Mamanya, Rasya sudah yakin bahwa Adelia dalam keadaan tidak baik.


Di saat Aldi dan Rasya bersitegang dalam keadaan cemas. Arman dan Rio datang dengan Ariyanti di belakang mereka, yang baru saja dari arah lantai tiga.


"Pak Rasya, sepertinya ada sesuatu?" tanya Rio yang melihat wajah Rasya dalam keadaan panik.


Rasya langsung menoleh kepada mereka.


"Mohon maaf apa sudah selesai semuanya?" Rasya bertanya tanpa menjawab pertanyaan Rio.


"Kami serahkan kepada anda, Pak Rasya. Apa Pak Rasya sudah merasa puas dan pas dengan kinerja kami? karena, menurut kami. Hasilnya tidak ada yang mengecewakan dari setiap lantai, ruangan, sudah kami lihat. Tentang design, dan setiap interiornya. Tapi kami belum tahu, menurut anda bagaimana?" ujar Arman bersuara mewakili Albi.


Rasya yang memang ingin segera pergi meninggalkan tempat itu, tidak ingin memberikan komentar lagi. "Sudah cukup menurut saya. Terima kasih atas kerja samanya. Kalau begitu, bisa kami langsung pergi?" ucap Rasya yang ingin segera pergi.


"Apa tidak ada makan-makan dulu? sebagai perayaan kerja sama kita," tanya Arman dengan terkekeh.


"Mohon maaf. Saya ada urusan lain lagi. Soal itu, kita bisa lakukan di lain waktu. Bagaimana?" Rasya tidak ingin mengatakan langsung apa yang membuatnya panik saat ini.


"Oh, ya? baiklah, tidak masalah. Kalau, begitu mari kita pulang kembali ke kota J." Arman akhirnya menyetujui. Kini tatapan Arman tertuju kepada Ariyanti.


"Apakah Nona bersedia ikut dengan mobil saya?" tanya Arman kepada Ariyanti.


Ariyanti yang di tanya, menoleh terlebih dahulu kepada Rasya. "Pak Rasya--"


"Saya ijinkan kamu untuk ikut bersama Pak Arman. Saya ada kepentingan lain," sela Rasya langsung memotong ucapan Ariyanti yang tahu akan bertanya kepada dirinya terlebih dahulu.


Ariyanti seketika merasa kecewa. Karena Rasya membiarkan dirinya untuk pulang bersama orang lain.


"Kami duluan. Permisi!" ujar Aldi mewakili Rasya.

__ADS_1


Arman dan Rio mengangguk. Kini di sana tinggallah Arman, Rio, dan Ariyanti.


"Mari, Nona!" ajak Arman.


Ariyanti dengan tersenyum mengikuti langkah Arman. Ini adalah kedua kalinya, Ariyanti akan semobil dengan Arman. Saat itu, Arman membawanya setelah menolong karena ulahnya sendiri, yang menjatuhkan dirinya hingga lututnya yang berdarah berharap Rasya yang menolong. Namun, malah Arman.


"Tidak buruk. Pria ini tampan juga, dan terlihat kaya. Tapi. Tetap hatiku tidak merasa bergetar. Hanya pada Rasyalah hatiku merasakan getaran cinta," gumam Ariyanti di dalam hati memberikan penilaian kepada Arman.


Keduanya kini sudah duduk berdampingan dalam mobil. Dengan Rio yang menyetir.


"Rio, kita ke Resto dulu. Saya merasa lapar. Dan kita makan terlebih dahulu," ujar Arman memerintahkan agar Rio membawa mobilnya ke Restaurant.


"Baik Pak." sahut Rio.


"Oh, iya Rio. Tolong ke apotek dulu deh. Saya mau membeli obat pusing," Arman kembali memberikan. perintah.


"Baik,"


Arman tersenyum kepada Ariyanti. Dengan hatinya merasa bertanya-tanya.


"Kenapa si bos, nyuruh aku untuk memberikan obat tidur pada gadis ini? apa yang sedang di rencanakannya?" batin Arman.


"Apa mungkin si bos, naksir ini gadis? tapi ... enggak deh rasanya." Arman kembali berbicara di dalam hatinya.


"Pak, sudah sampai di apotik" Rio berbicara, membuat Arman terperanjat dari lamunannya.


"Oh ya?, duuh ... saking terpananya dekat gadis cantik, saya sampai lupa tujuan saya," Arman sengaja sedikit becanda. Dan berhasil membuat Ariyanti tersipu malu.


"Nona, mohon maaf saya tinggal dulu," Arman berpamitan sebelum keluar dari dalam mobil. Ariyanti hanya menganggukkan kepala dengan tersenyum.


Seperginya Arman, Ariyanti mengirimkan pesan kepada Alin, Mamanya. Menanyakan bagaimana dengan rencananya yang gagal itu, lalu Ariyanti menanyakan apa ada yang mencurigainya atau tidak.


Namun pesan itu tidak mendapat balasan. Karena Alin kini tengah sibuk membeli sebuah gaun di sebuah butiq untuk mengikuti acara makan malam yang akan di selenggarakan di sebuah Restauran mewah yang di ajak oleh Rony suaminya. Acara makan malam dengan salah satu pengusaha muda yang sudah terkenal banyak aset dan saham-sahamnya. Dan Alin kini akan berusaha merencanakan perjodohan antara Ariyanti dengan Albian.


"Ya Tuhan, aku sudah gak sabar bagaimana acara makan malam nanti malam dengan pengusaha muda itu. Yang katanya tampan dan tajir. Aku ingin sekali Ariyanti bisa menikah dengannya," gumam Alin yang kini sudah membawa paperbag berisi gaun yang baru saja ia beli. Kini ia sedang melangkah menuju mobilnya.

__ADS_1


Di tempat lain...


Albi sedang menugaskan anak buahnya, untuk menjaga ruangan Adelia. Yang belum sadarkan diri. Dan Albi takut ada seseorang yang ingin mencelakai Adelia kembali. Albi menugaskan dua bodyguard untuk berjaga-jaga di depan ruangan Adelia.


Albi setelah itu langsung menuju Restauran miliknya yang nanti akan di jadikan tempat pertemuan antara dirinya dengan keluarga Rony. Albi memerintahkan para pelayan untuk membuat hidangan unggulan Restauran tersebut. Dan Albi akan menghidangkan minuman beralkohol untuk memancing kejujuran Rony.


Albi tersenyum menyeringai membayangkan bahwa sebentar lagi Rony akan mengungkapkan rahasia besarnya.


Di sisi lain Hadi tengah menunggu kedatangan Bowo sang detektif suruhannya. Di ruang kerja yang sudah di duduki Rasya. Dan Bowo datang bersama seorang pria yang seumuran dengannya. Membuat Hadi langsung bertanya.


"Siapa dia, Bowo?" tanya Hadi langsung.


"Maaf Pak Hadi. Saya melakukan tugas dengan waktu lama. Karena saya mencari orang yang telah membunuh adik Anda. Dan ini orangnya, bernama Didin!" Bowo menjelaskan perihal tugas yang memakan waktu karena harus mencari pembunuh adiknya Hadi.


Hadi menatap tajam kepada orang yang di bawa Bowo, "Jadi kamu yang telah membunuh adik saya?!" pekik Hadi. Ia ingin sekali menghajar orang tersebut. Namun, di tahan karena saat ini bukan kekerasan yang harus ia lakukan, melainkan mendengar semua penjelasan.


Orang tersebut menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Penyesalan dan ketakutan yang tengah ia rasakan saat ini bahkan setelah pembunuhan itu terjadi, "Maaf Tuan ... sa-saya waktu itu hanya di suruh. Saya di bayar dengan imbalan besar, karena waktu itu saya sedang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan istri saya, dan saya sempat di suruh juga untuk membunuh seseorang kembali, Namun orang itu sudah mati lebih dulu dalam kecelakaan sebelum saya bunuh," pria itu menjelaskan langsung perihal yang membuatnya nekad membunuh adiknya Hadi dan mengatakan sempat di suruh kembali untuk membunuh Wira Atmaja, ayahnya Adelia. Membuat Hadi mengerti siapa orang yang di maksud.


"Orang itu karena sempat mendengar saya berbicara dengan orang yang menyuruh saya. Jadi orang yang menyuruh saya, memberikan perintah untuk membunuhnya, karena takut rahasianya terbongkar," ungkap pria itu kembali.


Hadi mengepalkan tangan, menahan sesak di dada. Teringat kembali bagaimana dirinya menemukan sang adik yang sudah bersimpah darah di sebuah taman. Dengan luka tusukan di perutnya. Dan sorenya, ia mendapatkan kabar bahwa salah satu sahabatnya meninggal dalam kecelakaan.


"Siapa yang sudah menyuruhmu, katakan!" titah Hadi.


"Sesuai dugaan kita, Pak Hadi. Rony yang telah menyuruhnya. Dan Didin kala itu kerja sebagai Satpam komplek perumahan Rony. Setelah berhasil adik anda di bunuh. Didin di asingkan oleh Rony ke sebuah pulau terpencil," jelas Bowo menjelaskan tentang yang ia dapat dari Didin.


Hadi manggut-manggut paham.


"Dan sekarang saya akan menyerahkan diri. Karena hidup saya selama ini tidak tenang. Apalagi setelah kepergian istri saya," ujar Didin dengan rasa penyesalan.


"Nanti kita akan datang ke sebuah acara untuk mempertemukan mu dengan Rony. Saya ingin melihat kehancuran Rony," Hadi dengan tersenyum menyeringai membayangkan rencana dirinya dengan Albi nanti berhasil.


Bahkan Albi dan Hadi sudah melaporkan Alin sebagai penabrak Adelia, dan melaporkan Ariyanti juga yang sudah menyuruhnya. Dengan bukti rekaman cctv dan rekaman suara Ariyanti yang berhasil di rekam Aldi.


"Tunggu, kedatangan ku kawan!"

__ADS_1


...***...


...Bersambung....


__ADS_2