You Are My Mine

You Are My Mine
Extra Part 39.


__ADS_3

"Pa, Ma ...," seru Serly memanggil kedua orang tuanya setelah kepergian Dido bersama Tuan Malik. Hadi, Lia beserta Rasya baru saja masuk kembali ke dalam rumah setelah mengantar kepergian mobil Dido hingga tanpa terlihat.


"Ada apa, sayang?" jawab Lia lembut menatap putrinya yang seperti akan menyampaikan sesuatu kepada dirinya.


Sementara Hadi menatap putrinya dengan senyuman.


"Ma, Pa. Aku mau nemuin si kembar ya," Rasya memilih untuk meninggalkan adiknya yang akan berbicara dengan kedua orang tuanya.


Hadi mengangguk beserta Lia sebagai merespon ucapan Rasya.


Lia kini mendekati putrinya yang masih terdiam berdiri di tempatnya.


"Sayang, ada apa?" Lia mengulangi pertanyaan nya seraya tangannya terulur membelai pipi mulus anak gadisnya.


Serly menghela nafas dengan perlahan, "Ma, Pa ... aku tidak mau menikah dalam waktu dekat ini,"


Hadi masih tersenyum, kini kakinya melangkah mendekati anak gadisnya beserta istrinya.


"Menikah masih lama, Nak. Yang akan di adakan seminggu lagi itu adalah pertunangan kamu dengan Nak Dido. Kamu menurut saja, apa keputusan Papa dengan Pak Malik." Hadi menegaskan ucapannya seakan Serly tidak harus lagi membantah.


"Iya sayang ... bahkan Mama ingin kamu segera menikah. Pacaran lama-lama tidak baik. Tidak apa-apa kalian menikah muda. Yang terpenting kamu tidak harus mencemaskan masa depan. Masa Depanmu menikah dengan Dido itu adalah hal yang paling harus kamu syukuri," Lia ikut menimpali ucapan suaminya. Lia pribadi pun senang jika anak gadisnya menikah cepat-cepat. Karena, pria yang akan mempersuntingnya sungguh jelas asal usulnya, bahkan dalam segi kekayaan yang pria itu punya yaitu sebagai pewaris tunggal kekayaan Tuan Malik.


Serly bungkam. Percuma dirinya protes kepada Mama Papanya. Ternyata yang ia dapat malah penegasan yang tak boleh terbantahkan.


"Sudahlah. Jangan sampai kamu protes atau menolak. Toh kalian berdua sudah menjalin hubungan pacaran. Seharusnya kamu senang, hubungan kamu dengan Nak Dido, Papa restui," Hadi berbicara seraya mengusap kepala anak gadisnya.


"Papa mau ke ruang kerja. Beristirahatlah, jangan banyak pikiran!" tambah Hadi dengan berlalu.


Kini tinggal Lia dan Serly.


Lia tersenyum menatap anak gadisnya yang begitu cantik.


"Mama, sangat senang jika kamu benar-benar akan menikah dengan Dido. Mama melihat dari tatapan Dido, dirinya sangat mencintai kamu. Mama yakin Dido adalah pria yang tepat untuk masa depan kamu,"


Serly seketika berhambur memeluk Lia. Ingin rasanya ia menceritakan hal yang sebenarnya telah terjadi, sehingga ia tidak bisa menolak untuk menikah dengan Dido. Dan menceritakan bahwa cintanya bukan untuk Dido, melainkan untuk Aldi. Namun, nyalinya tak besar. Serly takut Mamanya tersebut kecewa dan marah besar kepada dirinya. Biarlah, Serly memilih untuk memendam rasa tersebut. Dan akan menemui Aldi secara diam-diam di belakang keluarganya.


"Kamu nangis nak?" Lia mengernyit merasakan ada getaran dari tubuh Serly. Lia paham bahwa anak gadisnya sedang menangis di tambah isakan yang kini memperjelasnya.


"Maaf, Ma. Aku belum bisa membahagiakan Mama.. Aku masih jadi anak yang belum bisa Mama banggakan," isak Serly dengan berbicara. Serly kini merenggangkan pelukannya, dan menatap sayu ke arah Lia.


Lia menggeleng, dengan jarinya mengusap air mata yang membasahi pipi anak gadisnya.

__ADS_1


"Jangan berbicara seperti itu sayang ... justru mama sangat bangga memiliki putri secantik kamu. Secerdas kamu. Putri mama yang selalu menurut. Mama tidak pernah ada rasa kecewa sedikitpun dari tingkah mu sayang," kata Lia.


'Tidak Ma. Mama pasti akan kecewa jika tahu keadaan yang sebenarnya, bahwa anak gadis mama kenyataan nya sudah tidak suci lagi,' batin Serly berbicara.


"Kalau sama putra mama. Apa mama bangga seperti kepada putri mama?" tiba-tiba Rasya bersuara. Rasya mendekat ke arah Mamanya serta adiknya seraya tangannya memangku baby Daffa.


Lia tersenyum menatap putranya, yang ternyata mendengar apa yang ia katakan kepada Serly.


"Tentu Mama bangga. Mama bangga punya kalian berdua. Di tambah, ada generasi baru dalam keluarga kita," imbuh Lia seraya menatap gemas kepada baby Daffa.


"Terima kasih Ma. Mama selau menyayangi ku walau aku sudah tumbuh dewasa. Bahkan sekalipun sudah mempunyai anak," kata Rasya dengan netra matanya berkaca-kaca.


Kini Mama dan dua anaknya saling berpelukan.


"Cacak ... cacak," celoteh baby Daffa membuyarkan rasa haru diantara ketiganya.


Lia, Serly dan Rasya seketika tergelak. Menatap baby Daffa yang telunjuknya menunjuk ke arah dinding.


"Ada cicak ya?" kata Rasya bertanya kepada Baby Daffa. Lalu Baby Daffa menjawab dengan mengangguk. Semakin tambah gemas saja yang melihatnya.


"Sini sayang, Oma gendong!" Lia seraya mengambil alih baby Daffa dari gendongan Rasya.


"Baby Daffa. Kamu ganteng banget sih?!" Serly dengan tangannya akan mencubit pipi gembul milik baby Daffa. Namun, tangannya seketika di tarik oleh Rasya.


"Jangan di cubit!" protes Rasya.


Serly langsung mendelik. Dengan memanyunkan bibirnya.


"Ma, aku ke kamar ya," ucapnya kemudian.


"Iya sayang," jawab Lia.


Serly menoleh ke arah Rasya dengan tatapan memicing.


"Ada apa?" tanya Rasya yang merasa bingung di tatap oleh adiknya seperti itu.


Serly menggeleng. Namun dengan gerak cepat. Serly berhasil mencubit kedua pipi kakaknya dengan gemas.


"Yess, itu adalah pembalasan ku," kata Serly dengan berlalu.


"Auw, kamu ya!" geram Rasya yang kesakitan di area kedua pipinya.

__ADS_1


Serly menoleh dengan memeletkan lidahnya, "Dua-satu," ucapnya dengan berlalu meninggalkan Rasya dan Lia di ruang tamu.


Rasya menggeleng-gelengkan kepala, "Oh, gitu? ok. Lihat pembalasan ku!" ujarnya. Mengundang keheranan bagi Lia.


"Apaan sih Sya? tadi saat di ruang makan kamu yang cubit pipi adikmu. Dan barusan adikmu yang cubit pipi kamu. Apa sih maksudnya?" Lia merasa tidak mengerti dengan tingkah dua anaknya.


Rasya nyengir lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Itu, Ma ... karena sebenarnya, aku gak ijinin Serly untuk mencubit anak-anak ku. Jadi saat tadi sore, Serly yang duluan mencubit pipi ku," terang Rasya.


Lia menggelengkan kepalanya dengan samar. "Kamu sih, jadi Ayah posesif banget,"


"Aku bukan posesif, Ma. Hanya, aku melindungi anak-anak ku dari kejahatan," jelas Rasya menerangkan.


"Susah sih ngomong sama kamu. Harusnya sama Adel baru kamu jinak!" gerutu Lia yang merasa aneh dengan pola fikir putranya.


Rasya akhirnya menyengir menampilkan deretan gigi putihnya yang rapih.


"Daffa, Oma antar ke kamar ya!" Lia menatap Baby Daffa yang anteng dalam gendongannya. Dengan berlalu begitu saja meninggalkan Rasya.


***


Serly membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tangannya memegang ponsel, dan menatap nanar pada pesan yang di terimanya.


Kak Aldi


Good night Sweety ...


Semoga besok kita bisa bertemu lagi!


Serly menggigit bibir bawahnya, merasakan kegundahan dalam hatinya. Namun, jarinya terulur untuk membalas pesan tersebut.


Serly


Iya kak, besok kita bisa bertemu kembali.


Setelah mengetik pesan balasan untuk Aldi. Serly menaruh ponselnya di atas nakas. Kemudian berbaring terlentang menatap langit-langit kamar.


"Bagaimana ini? hatiku sakit serta sesak untuk mengahadapi masalah ini. Apakah aku harus kehilangan orang yang aku cintai? dan memilih orang yang telah melakukan dosa bersama denganku?" monolog Serly lirih.


"Ya Tuhan, maafkan semua kekhilafan ku. Dan berikan jalan yang mudah untuk aku lalui," lanjut Serly berdoa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2