You Are My Mine

You Are My Mine
Episode 243.


__ADS_3

Esok Harinya di Rumah Sakit...


Semalaman tidur Rasya begitu pulas. Hingga Lia sang Mama menatapnya sinis karena melihat Adelia yang terbaring seperti tidak nyaman. Mungkin akibat tempat yang sempit dan kehamilannya yang sudah membesar.


"Rasya," pekik Lia membangunkan Rasya dengan mengguncangkan bahunya. Rasyapun perlahan menggeliat, dan mengerjapkan kedua matanya.


"Eh, Mama ada apa?" tanyanya seraya mendudukkan tubuhnya.


"Cepat bersiap-siap. Papa tadi mengirim pesan untuk mengajakmu ke kantor polisi," ujar Lia menyampaikan isi pesan Hadi.


Rasya mengernyit heran, tentu ia belum tahu apa-apa.


"Cepetan Sya ... kamu lelet banget sih?!" gemas Lia yang memperhatikan Rasya malah terduduk santai.


"Iya, Ma bentar" Rasya lalu beralih menatap sang istri yang duduk di sampingnya. Dengan bibir tersenyum dan tangan mengelus perutnya.


"Pagi Sayang ...," sapanya kemudian mengecup bibir Adelia sekilas tanpa malu walau di tatap sang Mama yang sedang menggeram kesal.


"Mas," Adelia melotot sebagai protes.


"Apa sayang? kurang ya? maaf, ada kanjeng Mami sedang ngelihat. Nanti kanjeng Mami kepengen, padahal Papa sedang di rumah," ucapnya santai.


Lia menggeleng-gelengkan kepala, sudah merasa gemas sedari tadi kini tangannya sudah melintir telinga Rasya hingga, Rasya memekik kesakitan.


"Auw, Mama sakit!" pekiknya.


"Cepetan turun dari ranjang, dan bersihkan badan. Lalu datang ke kantor polisi yang di jalan kenanga," Lia masih memilintir telinga Rasya sampai Rasya turun dari ranjang.


"Mau apa sih ke kantor polisi?" tanyanya acuh.


"Mama juga mau ke sana Sya, dan mama mau melihat penjahat itu!" ujar Lia yang membuat Rasya seketika terdiam. Mengingat penjahat yang di ujarkan Mamanya, membuat Rasya teringat pada kejahatan Ariyanti yang sudah merencanakan penabrakan Adelia.


"Iya, Ma." Rasya dengan cepat masuk ke dalam toilet yang berada di ruangan itu.


Kini tinggal Adelia, Lia, dan Rara. Serly sudah pergi karena ada acara di sekolahnya.


Lia menghampiri Adelia yang duduk terdiam.


"Sayang, bagaimana sekarang sudah merasa enakan badannya?" tanya Lia ingin memastikan keadaan Adelia.


"Enakan sih Ma ... hanya badan pegel-pegel aja. Mungkin karena tidurnya kurang leluasa, jadi susah gerak," Adelia mengatakan yang sebenarnya tanpa mengatakan bahwa karena ada Rasya yang tidur di sampingnya.


Tapi beda dengan Lia, ia menggeram kesal. "Ini semua ulah anak nakal Mama. Sudah tahu ranjang pasien itu sempit, dan keadaan perut kamu besar. Masih saja ingin tidur bersampingan. Aneh deh Mama ... padahal sofa kosong. Bisakan, semalam dua malam tidur terpisah?!" cicit Lia memaki anaknya tanpa Rasya tahu.

__ADS_1


"Sudah Ma ... mungkin Mas Rasya semalam takut aku kenapa-kenapa," Adelia mencoba memberikan pengertiannya untuk Rasya kepada Lia.


"Tetap salah. Bukan begitu caranya. Ini sih udah terlalu bucin kalau kata anak jaman sekarang," pungkas Lia.


Rasya yang di bicarakan baru saja keluar dari dalam toilet. Dengan wajah yang sudah terlihat segar, walau pakaian yang ia pakai adalah pakaian hari kemarin. Tetap saja tidak mengurangi ketampanan wajah Rasya.


"Sepertinya nanti kita USG sayang ... aku ingin tahu bagaimana perkembangan si baby," Rasya dengan berjalan mendekati Adelia.


"Ayo, Sya ... Papa sudah menunggu di kantor polisi bersama Bowo, dan Tuan Albi," ujar Lia mengatakan pesan Hadi yang baru saja ia baca.


"Albi?" Rasya yang belum tahu apa-apa, merasa kaget tentunya nama Albi di sebut-sebut oleh Lia.


"Iya Tuan Albi. Yang sudah menolong Istrimu, dan memerintahkan bodyguard untuk menjaga ruangan ini. Dan kata Papa juga, ia sudah membantu penangkapan musuh Papa," tutur Lia seraya menjinjing tas sedang yang berisi pakaian bekas semalam.


Rasya terdiam, lalu matanya beralih menatap Adelia yang sedang menatapnya sedari tadi.


"Jadi si pebinor yang sudah nolong kamu?"


"Mas jangan begitu. Aku sudah dua kali berhutang nyawa sama dia. Dia bagiku seperti malaikat penyelamat hidupku," Adelia menyanjung nama Albi di hadapan Rasya. Tanpa melihat raut wajah Rasya yang sudah berubah masam.


"Kamu ya, berani-beraninya memuji pria itu di depan suamimu," ujarnya dengan wajah memberengut.


"Rasya sudah. Harusnya kamu bersyukur karena pertolongan orang itu. Istrimu tidak celaka. Wajarlah Adelia memuji. Karena Adelia sudah merasa berhutang budi kepadanya," sahut Lia menimpali.


Rasya mengangguk. Dan pergi berlalu begitu saja tanpa berpamitan kepada sang istri. Adeliapun paham mungkin Rasya seperti itu karena merasa kesal kepadanya.


Di Kantor Polisi...


Rasya dan Lia sudah turun dari dalam mobil. Keduanya bisa melihat bahwa Hadi, Bowo, dan Albi masih berada di luar sedang menunggu kedatangannya.


"Pa," sapa Lia dan Rasya bersamaan kepada Hadi.


"Loh, kita pernah bertemu ya, Nak. Saat waktu itu," Lia menunjuk Albi dengan tatapan mengingat-ingat kejadian saat Adelia pingsan lalu di tolong oleh Albi bersama dua temannya.


"Eh, iya bu." Albi menghampiri dengan menyalami tangan Lia. Membuat Lia merasa yakin bahwa anak yang seumuran dengan putranya itu adalah anak baik-baik.


Hadi tersenyum, "Ma. Ini Tuan Albi yang Papa katakan di chat," ucap Hadi memperkenalkan.


Lia mengangguk dengan tersenyum, beda dengan Rasya yang menatap Albi dengan datar tanpa menyapanya.


"Mari Bu, Rasya ... kita masuk. Kita temui orang-orang itu" ajak Albi kepada Lia dan Rasya.


Albi berjalan lebih dulu. Di ikuti Hadi dan Bowo, lalu Lia dan Rasya.

__ADS_1


Albi, Lia, Hadi duduk di depan meja yang berhadapan dengan Seorang polisi yang semalam bertugas menyelidik. Yaitu Sanjaya.


"Pak Sanjaya. Bagaimana, apa kita boleh melihat tersangka semalam?" tanya Albi langsung.


"Boleh. Silahkan tunggu di tempat besuk!" titahnya.


Sanjaya pun menelepon polisi jaga, sel tahanan wanita dan tahanan pria.


Alin dan Ariyanti masih tertidur nyenyak. Hingga polisi wanita membangunkannya dengan sedikit kasar. Alin dan Ariyanti mengerjap. Lalu keduanya terbelalak kaget. Karena mereka berdua berada di dalam sel tahanan.


"Mama, kenapa kita ada di sini?" pekik Ariyanti dengan wajah terkejut.


"Iya sayang ... semalam Mama dan Papa masih di Restauran. Tapi--" Alin mencoba mengingat-ingat, namun ingatannya tidak berfungsi.


"Ayo kalian temui dulu tamu yang membesuk kalian!" ujar polisi wanita tersebut yang tidak mau lama-lama menunggu ocehan keduanya yang dalam kebingungan.


Alin dan Ariyanti pun menurut. Dengan tangan di borgol terlebih dahulu. Mereka keluar.


Di tempat sel tahanan Pria. Rony masih tertidur juga seperti Alin dan Ariyanti tadi. Polisi penjaga membangunkan dengan kasar. Hingga Rony langsung terperanjat kaget.


"Dimana saya?" tanyanya dengan mata mengelilingi tempat tersebut. Dan ia kemudian melotot kaget saat tahu ada di tempat apa, dan yang lebih-lebih kaget, saat matanya menatap Didin yang sedang tersenyum menatapnya.


"Kau?" pekik Rony.


"Sudah. Sekarang anda temui dulu tamu yang sudah menunggu anda di ruang besuk," polisi jaga itu langsung memasang borgol pada kedua tangan Rony.


Lalu Rony di giring menuju ruangan besuk. Dan saat di lorong Rony bertemu dengan anak dan istrinya.


"Mama, Yanti"


"Papa," ucap Alin dan Ariyanti bersamaan.


Ketiganya kini sudah mulai masuk ke dalam ruangan besuk dengan pikiran yang masih kebingungan atas apa yang terjadi sehingga mereka sekeluarga bisa berada di tempat tersebut.


Lia yang penasaran dengan penjahat yang Hadi katakan, ia terus menatap ke arah ambang pintu. Dan matanya melotot kaget saat melihat kedatangan keluarga sahabat suaminya yang kini perlahan mendekat ke arahnya. Begitupun Rasya. Ia benar-benar terkejut. Dengan cepatnya sekeluarga itu di penjara dengan bantuan Albi. Membuat Rasya lagi-lagi merasa tidak senang karena upayanya terkalahkan oleh upaya Albi yang lebih dulu bertindak.


"Kalian?" pekik Alin dan Rony. Ariyanti hanya menatap sendu.


"Bagaimana tidur di dalam penjara, Tuan Rony dan Nyonya Alin. Nyenyak sekali sepertinya?" ejek Albi dengan tersenyum menyeringai.


...***...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2